One of the fundamental aspects for every Muslim, especially for teachers (asatidz) and preachers (du’aat), is environmental awareness. This refers to being aware of one’s surroundings and everything related to them. In traditional terms, this awareness is known as being aware of the situation and condition around them.
The Prophet Muhammad (SAW) was a figure who was always aware of his surroundings. In other words, he always considered the situation and condition around him in every decision he made. This applied to both individual and collective levels.
There was an instance where a young man approached the Prophet Muhammad (SAW) and, without hesitation, expressed his desire to ask for permission to commit a heinous act (adultery). The young man’s attitude was excessive, as if he thought the Prophet had the authority to decide what was permissible or not.
The Prophet’s response was not anger or overreaction. Instead, he saw the positive value in the young man’s actions. The young man had faith and was honest about his struggles. This honesty led him to approach the Prophet and open up about his inner turmoil.
The Prophet asked the young man if he had a mother, sister, or aunt. After the young man replied that he did, the Prophet asked him if he would be willing to allow another man to commit such an act with his mother, sister, or aunt. The young man replied that he would not.
The Prophet understood that the young man knew deep down that such an act was wrong. He wanted to emphasize the positive aspects of the young man’s life and help him overcome his struggles. The Prophet placed his hand on the young man’s chest and prayed for him, saying, “O Allah, cleanse his heart, for You are the best to purify hearts.”
After this incident, the young man became one of the most obedient companions. This story illustrates the Prophet’s awareness of his surroundings and his ability to respond accordingly.
The Prophet’s approach varied depending on the individual and their circumstances. He treated Abu Bakr (RA) differently from Umar (RA). When asked about the best deed in Islam, the Prophet’s response varied depending on the person asking the question.
Sometimes he said it was jihad in the way of Allah, while other times he said it was treating one’s parents with kindness. On another occasion, he said it was performing Hajj. The Prophet’s varied responses demonstrate his awareness of the individual’s circumstances and his ability to provide guidance tailored to their needs.
Environmental awareness is crucial in communicating the truth. If one is unaware of their surroundings, their communication may come across as insensitive and even hurtful. In the context of da’wah (inviting others to Islam), being unaware of one’s surroundings can lead to communication that is more likely to push people away from the truth rather than attract them to it.
The Prophet was sent from among his people
The importance of environmental awareness is also reflected in the fact that every prophet was sent from among their own people. The Prophet Muhammad (SAW), as the final prophet sent to all humanity, was also raised from among his own people.
As stated in the Quran, “He (Allah) sent among the unlettered people a messenger from among themselves.” The phrase “minhum” (from among themselves) highlights the importance of the prophet being from the same community as those he was sent to guide.
This is relevant today, as it emphasizes the need for Muslims to integrate positively (not assimilating) into their communities. This integration does not mean losing one’s identity or values but rather being an active and contributing member of society while maintaining one’s faith and principles.
The relationship between religion and culture
Islam does not aim to change the cultural practices of a community as long as they do not contradict Islamic principles, values and universal human ethics. In fact, Islam respects all human cultural practices, as long as they align with Islamic principles.
However, it is essential to distinguish between religious practices and cultural traditions. In many Muslim communities, cultural practices are often mistaken for religious obligations and practices.
For example, in some communities, wearing a specific type of clothing, such as a jubah (Middle Eastern cloth) or shalwar kameez (South Asian cloth) is seen as a religious requirement. However, this is not the case. The Islamic requirement is to dress modestly and cover one’s aurah (private parts).
A Simple yet True Story
In our community in New York, I recall a simple yet true story. One dawn (fajar) after a brief lecture following prayers, a congregant approached me, tearful. That particular fajar, I had discussed the latent dangers threatening the future of Muslims in America. I asked him what was wrong, and he replied, “My son. Please help me.”
I inquired about his son, and he explained that his son no longer wanted to attend the mosque. This congregant was known for his piety, rarely missing fajar prayers at the mosque. With tears streaming down his face, he said, “He doesn’t want to come to the mosque anymore.”
I sought to understand why his son had lost interest in attending the mosque. However, the father himself admitted to being unsure. A few days later, I visited their home and invited the son to join me at a restaurant. Over tea, I asked him, “Why don’t you want to come to the mosque anymore?”
He appeared calm, even chuckling slightly, and replied, “It’s not that I don’t want to go to the mosque. I enjoy attending prayers there. However, every time I go, my father always judges my clothing as un-Islamic.”
I soon understood what was happening. The father, despite being deeply religious, struggled to distinguish between religious teachings and cultural practices. As a result, he inadvertently made his son feel unwelcome at the mosque, simply because of his attire.
This phenomenon is not unique to our community; it occurs throughout the Muslim world. I do not diminish the good intentions of those who wear traditional attire, such as jubah or shalwar kameez, as a means of following the Sunnah. However, measuring one’s commitment to faith and the Sunnah based on clothing is misguided.
The Prophet Muhammad (peace be upon him) wore a jubah, but so did Abu Lahab. How, then, can we determine whether wearing a jubah is truly following the Sunnah? The answer lies with Allah, who judges our intentions. While clothing that covers our aurah (private parts) is indeed in line with the Sunnah, other aspects of attire should be understood as part of human cultural practices.
Director, Jamaica Muslim Center & President, Nusantara Foundation
Pentingnya Kesadaran Lingkungan dalam Da’wah: oleh Imam Shamsi Ali*
Salah satu aspek fundamental bagi setiap Muslim, terutama bagi para guru (asatidz) dan pendakwah (du’aat), adalah kesadaran lingkungan. Ini merujuk pada kesadaran akan lingkungan sekitar dan segala sesuatu yang terkait dengannya. Dalam istilah tradisional, kesadaran ini dikenal sebagai menyadari situasi dan kondisi di sekitar mereka.
Nabi Muhammad (SAW) adalah sosok yang selalu menyadari lingkungannya. Dengan kata lain, dia selalu mempertimbangkan situasi dan kondisi di sekitarnya dalam setiap keputusan yang dia buat. Ini berlaku baik untuk tingkat individu maupun kolektif.
Ada suatu ketika seorang pemuda mendekati Nabi Muhammad (SAW) dan, tanpa ragu, mengungkapkan keinginannya untuk meminta izin melakukan perbuatan keji (zina). Sikap pemuda itu berlebihan, seolah-olah dia berpikir bahwa Nabi memiliki wewenang untuk memutuskan apa yang diperbolehkan atau tidak.
Tanggapan Nabi bukanlah kemarahan atau reaksi berlebihan. Sebaliknya, dia melihat nilai positif dalam tindakan pemuda itu. Pemuda itu memiliki iman dan jujur tentang perjuangannya. Kejujuran ini membawanya untuk mendekati Nabi dan membuka diri tentang pergolakan batinnya.
Nabi bertanya kepada pemuda itu apakah dia memiliki ibu, saudara perempuan, atau bibi. Setelah pemuda itu menjawab bahwa dia memiliki, Nabi bertanya kepadanya apakah dia bersedia membiarkan pria lain melakukan tindakan seperti itu dengan ibunya, saudarinya, atau bibinya. Pemuda itu menjawab bahwa dia tidak mau.
Nabi memahami bahwa pemuda itu tahu di dalam hatinya bahwa tindakan seperti itu salah. Dia ingin menekankan aspek-aspek positif dalam hidup pemuda itu dan membantunya mengatasi perjuangannya. Nabi meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa untuknya, berkata, “Ya Allah, bersihkanlah hatinya, karena Engkaulah yang terbaik dalam menyucikan hati.”
Setelah kejadian ini, pemuda itu menjadi salah satu sahabat yang paling taat. Kisah ini menggambarkan kesadaran Nabi terhadap lingkungannya dan kemampuannya untuk merespons dengan tepat.
Pendekatan Nabi bervariasi tergantung pada individu dan keadaan mereka. Dia memperlakukan Abu Bakr (RA) berbeda dari Umar (RA). Ketika ditanya tentang amal terbaik dalam Islam, jawaban Nabi berbeda tergantung pada orang yang bertanya.
Terkadang dia mengatakan itu adalah jihad di jalan Allah, sementara di lain waktu dia mengatakan itu adalah berbuat baik kepada orang tua. Pada kesempatan lain, dia berkata itu adalah melaksanakan Haji. Tanggapan beragam Nabi menunjukkan kesadarannya terhadap keadaan individu dan kemampuannya untuk memberikan bimbingan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Kesadaran lingkungan sangat penting dalam menyampaikan kebenaran. Jika seseorang tidak menyadari lingkungan mereka, komunikasi mereka mungkin terkesan tidak peka dan bahkan menyakitkan. Dalam konteks da’wah (mengajak orang lain kepada Islam), ketidaksadaran terhadap lingkungan sekitar dapat menyebabkan komunikasi yang lebih mungkin menjauhkan orang dari kebenaran daripada menarik mereka ke dalamnya.
Nabi Diutus dari Kalangan Kaumnya
Pentingnya kesadaran lingkungan juga tercermin dalam fakta bahwa setiap nabi diutus dari kalangan mereka sendiri. Nabi Muhammad (SAW), sebagai nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia, juga dibesarkan dari kalangan kaumnya sendiri.
Seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Dia (Allah) mengutus di antara orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis seorang rasul dari kalangan mereka sendiri.” Frasa “minhum” (dari kalangan mereka sendiri) menyoroti pentingnya nabi berasal dari komunitas yang sama dengan orang-orang yang dia diutus untuk membimbing mereka.
Ini relevan hari ini, karena menekankan perlunya umat Muslim untuk berintegrasi secara positif (bukan berasimilasi) ke dalam komunitas mereka. Integrasi ini tidak berarti kehilangan identitas atau nilai-nilai seseorang, melainkan menjadi anggota masyarakat yang aktif dan berkontribusi sambil tetap mempertahankan iman dan prinsip-prinsip seseorang.
Hubungan antara Agama dan Budaya
Islam tidak bertujuan untuk mengubah praktik budaya suatu komunitas selama praktik tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, nilai-nilai, dan etika manusia universal. Faktanya, Islam menghormati semua praktik budaya manusia, selama praktik tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip Islam.
Namun, penting untuk membedakan antara praktik keagamaan dan tradisi budaya. Di banyak komunitas Muslim, praktik budaya sering kali disalahartikan sebagai kewajiban dan praktik agama.
Misalnya, di beberapa komunitas, mengenakan jenis pakaian tertentu, seperti jubah (kain Timur Tengah) atau shalwar kameez (kain Asia Selatan) dianggap sebagai kewajiban agama. Namun, ini tidaklah benar. Persyaratan Islam adalah berpakaian dengan sopan dan menutupi aurah (bagian tubuh yang harus ditutupi).
Sebuah Kisah Sederhana Namun Nyata
Di komunitas kami di New York, saya teringat sebuah cerita sederhana namun nyata. Suatu fajar setelah ceramah singkat usai shalat, seorang jamaah mendekati saya dengan air mata. Fajar tersebut, saya telah membahas bahaya laten yang mengancam masa depan umat Muslim di Amerika. Saya bertanya padanya ada apa, dan dia menjawab, “Anakku.” Tolong bantu saya.
Saya menanyakan tentang putranya, dan dia menjelaskan bahwa putranya tidak lagi ingin pergi ke masjid. Jamaah ini dikenal karena kesalehannya, jarang melewatkan shalat fajar di masjid. Dengan air mata mengalir di wajahnya, dia berkata, “Dia tidak mau datang ke masjid lagi.”
Saya berusaha memahami mengapa putranya kehilangan minat untuk pergi ke masjid. Namun, ayahnya sendiri mengaku tidak yakin. Beberapa hari kemudian, saya mengunjungi rumah mereka dan mengundang putranya untuk bergabung dengan saya di sebuah restoran. Sambil minum teh, saya bertanya padanya, “Kenapa kamu tidak mau lagi datang ke masjid?”
Dia tampak tenang, bahkan sedikit tertawa, dan menjawab, “Bukan berarti saya tidak ingin pergi ke masjid.” Saya menikmati menghadiri doa di sana. Namun, setiap kali saya pergi, ayah saya selalu menilai pakaian saya tidak Islami.
Saya segera mengerti apa yang sedang terjadi. Ayahnya, meskipun sangat religius, kesulitan membedakan antara ajaran agama dan praktik budaya. Akibatnya, dia secara tidak sengaja membuat putranya merasa tidak diterima di masjid, hanya karena pakaiannya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di komunitas kita; hal ini terjadi di seluruh dunia Muslim. Saya tidak meremehkan niat baik mereka yang mengenakan pakaian tradisional, seperti jubah atau shalwar kameez, sebagai cara untuk mengikuti Sunnah. Namun, mengukur komitmen seseorang terhadap iman dan Sunnah berdasarkan pakaian adalah salah arah.
Nabi Muhammad (saw) mengenakan jubah, tetapi Abu Lahab juga melakukannya. Bagaimana, lalu, kita dapat menentukan apakah mengenakan jubah benar-benar mengikuti Sunnah? Jawabannya terletak pada Allah, yang menilai niat kita. Sementara pakaian yang menutupi aurah kita memang sesuai dengan Sunnah, aspek-aspek lain dari pakaian harus dipahami sebagai bagian dari praktik budaya manusia.
Direktur, Jamaica Muslim Center & Presiden, Nusantara Foundation