Siang itu aku terbaring di kasur, dan mencoba untuk tidur. Tetapi aku tak bisa tidur, pikiranku melayang-layang bagaikan burung yang terbang di langit tak tentu arah. Entah kenapa dua hari ini aku selalu teringat kepada kedua orangtuaku.
Karena tidak bisa tidur, aku pun duduk. Aku teringat kepada buku yang diberikan ayah kepadaku. Buku itu merupakan karya ayahku sendiri yang ia tulis beberapa bulan lalu.
Aku pun mengambil buku itu di dalam tas, dan melihat sampulnya berjudul Pusara Berbunga. Buku itu mengingatkanku pada kakakku yang telah meninggal dua belas tahun lalu.
Aku membuka halaman awal yang berisi kata pengantar dari orang Malaysia. Aku baca kata pengantar itu dengan pelan-pelan. Maklum berbahasa Malaysia. Setelah itu aku pun lanjut membuka halaman berikut berisi nama-nama yang dikhususkan alias didedikasikan, terkhusus kepada putra-putriku: di sana tertera nama kakakku, aku dan adik-adikku.
Ketika membaca itu, aku terkejut, ternyata ayah begitu sayang kepada kami.
Biasanya aku selalu kontra atau tidak setuju kepada ayah. Itu kulakukan mungkin karena ia selalu memarahi bunda alias surgaku. Ayah marah tak memilih tempat, baik itu di depan kami maupun di tempat umum. Ya, itu yang membuatku selalu kontra dengannya.
Aku melanjutkan membaca halaman berikutnya yang berisi daftar isi judul-judul cerpen yang ia kumpulkan. Di situ aku melihat satu judul yang tidak asing di benakku yang berjudul “Ada Pelangi di Kacamata Ayahku”. Aku berpikir sejenak, dan mendapati bahwa judul itu adalah kata-kata yang dahulu pernah aku ucapkan pada ayah. Dan aku pun membaca cerpen itu sampai tuntas.
Di awal cerita, aku langsung mendapati penyakit kakakku yang menyebabkan ia meninggal, yaitu tifus dan DBD.
Biasanya, jika ada seseorang bertanya kepada ayah tentang penyebab kematian kakakku, ayah langsung menjawab, “Karena sakit, Pak,” dan ia tidak menyebutkan penyakitnya apa.
Setelah itu aku melanjutkan membaca cerpen tersebut. “Sedang asyik menangkap kupu-kupu, kudengar raungan keras bunda dari kamar kakak terbaring. Lalu nenek dan tante-tanteku pun meracau tak tentu buah butir dalam tangisnya. Kemudian kulihat ayah keluar dengan kepala menunduk. Lalu ia menghampiriku, dan menggendongku menuju tempat parkir. Ayah mendudukkanku di sampingnya. Ayah diam sepanjang jalan. Aku bertanya, “Ada apa, Yah?”
Ayah hanya diam sambil terus menyetir mobil pick-upnya. Aku tak tahu apakah ayah tak mendengar pertanyaanku atau karena ada sesuatu yang dipikirkannya. Yang jelas, ayah tak menangis dan meracau seperti bunda dan nenek serta tante-tanteku. Tapi muka ayah murung sekali. Ia tampak sangat letih.
Tak lama kami sampai di rumah. Kudengar sirine ambulance meraung-raung. Aku heran. Aku mendekat ke mobil ambulance. Kulihat sopir dan beberapa orang sibuk membuka pintu belakang ambulance. Bunda keluar dari mobil ambulance dan langsung memelukku ,kuat-kuat sambil menangis dan mencium pipi serta keningku berkali-kali.
“Kakak sudah pulang, Nak. Kakak sudah pergi, Nak,” katanya.
Aku tak mengerti, kakak pulang kemana, kakak pergi kemana? Karena umurku baru empat tahun saat itu.
***
Dan saat aku membaca cerpen tersebut, aku menangis sejadi-jadinya karena mengenang masa lalu yang terbayang di benakku. Di sana aku berhenti membaca. Aku menangis terus menerus. Banyak sekali airmataku terbuang.
Di tengah menangis, aku terpikir kenapa ya, kakak cepat sekali pergi? Padahal baru berumur enam tahun. Cepat sekali dipanggil Tuhan, dan hanya meninggalkan kenangan saja.
Oh Tuhan… Aku rindu kakak. Aku rindu bermain dan tertawa bersamanya. Aku merindukan kakak yang sering mengusikku, dan sebaliknya. Aku rindu melihat wajahnya yang cantik serta imut. Aku rindu senyuman kakak.
Seperti apa kakak sekarang ya? Aku bertanya dalam hatiku sambil menangis. Andai kakak masih hidup sampai sekarang tentulah hidup keluarga kami lebih berwarna karena ada sosok perempuan kedua yang bisa dijadikan tempat bercerita, tempat mengadu, dan banyak lagi yang bisa dilakukan.
Ternyata, cerpen ayahku yang tampak sepele itu bisa membuat aku mengenang masa lalu tentang keluarga kami.
Aku menyesal telah meremehkan ayahku.
***
Payakumbuh, 16 Desember 2024
Fikraneil H Nouran merupakan siswa kelas XI SMA IT Insan Cendekia Borading School (ICBS) Payakumbuh Sumatera Barat.