[Kak, uang belanja ibu habis]
[Kak, minta duit untuk beli beras]
Kalimat-kalimat permintaan rutin seperti itu selalu masuk ke Whatsapp setiap akhir bulan. Tanggal tua di saat isi dompet dominan lembar dua ribuan yang terkadang terlihat mirip seperti uang dua puluh ribuan. Namun sebisa mungkin aku membalasnya dengan kalimat yang membuat si pengirim chat senang, meskipun aku sendiri rasanya ingin berang.
[Baik, nanti pulang kerja kakak antar ke rumah]
Aku membalas chat adik perempuan bungsu yang sekarang tinggal dengan ibu. Dia sudah menikah dan punya tiga orang anak, suaminya berjualan minuman dingin sachet di pinggir jalan menuju pasar yang tidak jauh dari rumah. Mereka sekeluarga tinggal di rumah ibu dan bapak, sementara kebutuhan hidup sehari-hari ibu dari uang pensiun bapak yang tidak lagi utuh diterima. Tiap bulan dipotong bank untuk melunasi pinjaman pembelian rumah yang sekarang mereka tempati bersama.
[Siap Magrib jemput ke rumah!]
Aku membalas chat adik laki-lakiku. Alasannya selalu sama, untuk membeli beras. Meskipun sedikit kesal ditodong saat keuangan menipis, tetap saja aku penuhi permintaannya karena alasan tersebut.
“Selalu saja minta duit, pada nggak tahu apa? kalau akhir bulan gini kita juga ngos-ngosan?” ujarku sedikit teriak sekaligus melepaskan sesak dan bengkak yang terasa di rongga dada.
“Kalau ada dikasih aja, nggak usah bilang begitu. Jatuhnya sia-sia, nggak jadi bernilai ibadah,” timpal suami yang paling hafal kalau aku sudah ngedumel seperti itu di rumah.
Aku anak pertama. Di antara anak ibu dan bapak, hanya aku yang bisa dikatakan cukup mapan. Aku juga satu-satunya yang sarjana dan bekerja. Meskipun masih honorer di Dinas Pekerjaan Umum, pendapatan selain gaji yang diterima tiap bulan bisa dikatakan lumayan. Apalagi kalau tergabung dalam tim sebuah proyek.
Adik nomor dua hanya tamat SMK, itu pun kami sangat bersyukur dia bisa selesai sekolah. Pernah mengalami step berulang-ulang waktu kecil dan dirawat di rumah sakit membuat kemampuan akademiknya sangat rendah, meskipun ia berusaha keras untuk belajar. Pelajaran yang diterima hari ini akan susah sekali diingatnya kembali sampai besok, alahasil ketika SD sempat dua kali tinggal kelas. Keterampilannya di SMK jurusan sepeda motor hanya bisa mengantarnya bekerja di bengkel milik orang lain. Sudah pasti pendapatannya jauh dari cukup apalagi saat ini dia sudah berkeluarga dan memiliki sepasang anak yang masih kecil-kecil.
Kadang ibu suka curhat ketika aku ke rumah mengantar uang bulanan yang rutin kuberikan setiap habis gajian. Aku sengaja menyisihkan sebagian gaji, meskipun baru bisa kasih lima ratus ribu saja. Ketika ibu hanya tinggal berdua sama bapak di rumah, uang segitu cukup membantu di samping uang pensiun yang mereka terima. Namun sejak ada si bungsu, tiap akhir bulan aku selalu mendapat chat untuk memberi tambahan uang belanja.
Bersyukur aku punya suami yang bisa menjinakkan pikiran liarku. Kadang setan membisikkan kalau aku seolah-olah seperti ATM bagi keluarga. Setiap diminta harus ada, kalau lagi kosong kas terpaksa ngutang yang penting keluarga tahunya aku senang.
“Bermuka dua dong aku, Bang?” jawabku setiap kali suami mengingatkan agar aku harus tetap tersenyum saat memberi, meskipun lagi gondok hati.
“Lebih baik begitu, daripada hubungan keluarga retak oleh sikap sesaat yang sebenarnya bisa dikendalikan dengan hati dan pikiran yang tenang. Coba kamu ingat lagi, saat kesal ke orang lain, kamu masih bisa bicara lemah lembut dan tersenyum sama mereka. Mengapa dengan keluarga sendiri harus bersikap sebaliknya?” ujar Bang Kamil memberi pandangan.
Kalau sudah diingatkan begitu, aku pun jadi manggut-manggut dan segera beristigfar.
“Cuma enggak tahu kenapa ya, Bang. Aku tuh kalau ngasih karena inisiatif sendiri, sebenarnya legowo aja, tapi kalau sudah diminta, kok jadinya nggak suka. Rada kesel.”
Aku menyampaikan apa yang aku rasakan dan bingung sendiri mengapa bisa muncul perasaan seperti itu.
“Wajar, karena kita bukan orang berada yang punya stok uang dingin di tabungan. Jadi ketika diminta pas lagi seret, jadinya muncul perasaan ingin dimengerti juga. Doakan Abang murah rezeki dan sehat selalu, agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga kecil kita dan saudara yang lainnya.” Kata-kata Bang Kamil selalu mampu membuat aku tenang.
“Assalamualaikum, Kak.”
Terdengar suara adik laki-lakiku dari pintu depan. Dia datang untuk menjemput uang yang dimintanya siang tadi lewat Whatsapp.
“Habis betul beras di rumah?” tanyaku ketika dia sudah masuk dan duduk di kursi tamu.
Kalau sudah melihat raut wajah adikku yang satu ini, hatiku langsung luluh. Emosi yang menggebu saat membaca chat-nya, padam sudah. Wajah yang dulu bersih, kini terlihat sekali kurang terurus. Pekerjaannya di bengkel, membuat jari dan kukunya hitam kena oli. Berbeda sekali penampilannya jika dibandingkan sebelum menikah.
Kasihan sekali, gumamku dalam hati.
Teriknya matahari tak kupedulikan, sepeda motorku melaju cukup kencang. Aku fokus pada satu tujuan, Rumah Sakit Umum Daerah. Aku mengerahkan seluruh kekuatan agar bisa tiba di rumah sakit segera. Beberapa menit yang lalu seluruh tubuh ini lemas tak berdaya. Guru Raffa memberi kabar kalau anakku mengalami kecelakaan ketika menuju pulang dari sekolah. Bang Kamil sudah aku kabari, tetapi dia butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa segera sampai karena lokasi kantornya di kecamatan yang berbeda dengan tempat tinggal kami.
Di balik ujian ini, aku bersyukur karena cedera yang dialami Raffa tidak terlalu serius. Meskipun begitu, masih perlu penanganan intensif sehingga Raffa harus menginap di rumah sakit. Saat-saat seperti ini, terasa betul kalau harus punya tabungan untuk hal-hal yang tak terduga. Namun, dengan kondisi keuangan tiap bulan, uang mana yang akan ditabung? Bersyukur masih bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Aku dan Bang Kamil sama-sama mengupayakan biaya pengobatan dengan meminjam ke sana kemari. Alhamdulillah, aku masih bisa meminjam ke bendahara kantor, begitupun dengan Bang Kamil. Padahal baru beberapa minggu yang lalu ia mengirimkan uang yang tidak sedikit untuk adik perempuannya yang akan melahirkan.
Ya, begitulah kami. Sama-sama anak sulung dan dianggap berkecukupan, sehingga menjadi ATM keluarga. Bang Kamil selalu bilang, “Aminkan saja anggapan keluarga kalau kita selalu punya uang.”
[Kak, uang air sudah nunggak tujuh bulan. Petugas PDAM datang tadi pagi dan bilang minggu depan sudah harus dibayar.]
[Berapa jumlah yang harus dibayar?]
[2 juta, kak.]
[Apa? Bisa mikir nggak, Dek. Kakak baru saja habiskan uang tidak sedikit untuk pengobatan Raffa. Sekarang dengan mudahnya kamu minta uang sebanyak itu?]
[Kalau nggak sama kakak, sama siapa kami minta tolong?]
[Terserah kalian mau minta tolong sama siapa!]
Seketika aku lemas tak sanggup berdiri. Aku jatuhkan tubuhku dengan kasar di atas kursi kerja sambil memandang ponsel. Percakapan yang baru saja terjadi lewat Whatsapp benar-benar membuatku marah.
Ya Allah, masih engkau uji kesabaranku, Aku membatin.
Ingin rasanya teriak dan menangis sekeras-kerasnya. Sayangnya aku masih di kantor. Semua sesak kutahan dalam diam, hingga dada ini rasanya ingin meledak.
Terhitung baru seminggu Raffa keluar dari rumah sakit. Baru seminggu pula rasanya aku bisa bernapas lega. Aku ingin sekali bisa membantu kapan saja, tapi ketika tidak bisa berbuat apa-apa, rasanya nelangsa.
Kuraih kembali ponsel, kulihat ada chat balasan dari adik perempuanku itu.
[Maaf, kalau kami selalu merepotkan Kakak.]
Astagfirullahal’adziim. Ampuni hamba, ya Allah. Lembutkan hati ini, jauhkan dari amarah dan benci. Bukakanlah selalu pintu rezeki, agar hamba bisa membantu orang-orang yang hamba sayangi, Aamiin. Aku berdoa dalam gumam.
Air mata yang sedari tadi menggenang, tumpah bersama rasa sesal yang teramat dalam atas kata-kata kasar yang sempat terkirim lewat chat tadi.
Lama aku termenung, mengingat pinjaman sebelumnya belum dibayar dan sekarang malah menambah pinjaman lagi. Kutarik napas panjang dan embuskan perlahan. Kulakukan berulang-ulang hingga hati dan pikiranku menjadi tenang.
Bismillah. Mantap aku melangkah menuju ruangan bendahara proyek untuk memohon pinjaman. Jaminannya honor yang akan aku terima, karena aku terlibat dalam proyek tersebut sebagai asisten bendahara. Ketika pintu akan dibuka, ternyata Pak Rusdi membuka pintu dari dalam.
“Ups!” ujarku sambil menutup mulut yang sudah membulat saking kagetnya.
“Eh, kamu Diana. Kebetulan sekali, saya baru saja akan menemui kamu.”
Pak Rusdi juga setengah terkejut melihat aku yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya saat dibuka.
Setelah masuk kembali ke ruangan beliau, kami duduk berhadapan dibatasi meja kerjanya yang cukup lebar. Alas meja bermotif batik dan gorden berwarna gold menambah apik suasana di dalam ruangan tersebut.
Pak Rusdi menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna coklat untuk aku terima.
“Ini honor kamu. Alhamdulillah proyek terakhir yang kita kerjakan sudah selesai. Insyaallah, di proyek selanjutnya nama kamu sudah saya masukkan dalam tim. Terima kasih sudah banyak membantu saya selama ini dalam membuat laporan keuangan. Kerja kamu bagus sekali dan rapi. Semoga kamu bisa dipromosikan tahun depan. Selamat, ya,” ujar Pak Rusdi mengakhiri penjelasannya.
Aku terpana dengan semua kalimat yang disampaikan Pak Rusdi. Alhamdulillah kerja keras aku selama ini mendapat apresiasi.
“Terima kasih sudah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya, Pak. Saya sangat senang sekali bisa tergabung dalam setiap proyek yang dijalankan di kantor ini,” jawabku senang.
Kaki kupaksa melangkah lebih tenang, karena ingin sekali rasanya berlari keluar dan membuka amplop yang baru saja aku terima. Terasa sangat tebal dari biasanya. Jujur, kalau sudah selesai proyek, nominal yang aku terima bisa tiga sampai empat kali lipat gaji aku sebulan sebagai tenaga honorer.
“Alhamdulillah ya Allah,” gumamku terharu melihat lembaran berwarna merah dan biru dari amplop yang baru saja aku buka. Jumlahnya sangat cukup untuk diberikan pada ibu. Kemudian aku berinisiatif untuk langsung saja ke kantor PDAM membayarkan semua tunggakan air. Tak sabar membayangkan wajah lega ibu dan bapak ketika mengetahui tunggakan mereka sudah dibayar lunas.
Nenny Litania, bertugas sebagai tenaga pengajar di SD Muhammadiyah 019 Bangkinang Kota kab. Kampar-Riau. Menjadi Penulis adalah cita-citanya, agar bisa berbagi tulisan sederhana untuk meninggalkan jejak kebaikan dan kebermanfaatan bagi pembacanya. Facebook: Nenny Litania.