Belakangan ini suara azan di surau begitu memekakan telinga. Ketenanganmu seolah diusik begitu sang muazin mulai menyerukan nama-Nya. Suaranya begitu kasar dan tajam. Seketika telingamu seperti disogrok-sogrok oleh suara itu.
Adalah Pak Rahmat dalang itu semua. Dia yang belakangan ini menjadi muazin di surau kecil itu. Surau lapuk yang sudah reot. Hampir roboh malah. Kenapa tidak roboh sekalian? Biar tidak bikin gaduh lima kali dalam sehari!
Sebelum Pak Rahmat yang menjadi muazin, surau itu hanya berbunyi tiga kali sehari. Subuh, Maghrib, Isya. Coba Maghrib diganti Zuhur, pasti sudah seperti alarm yang mengingatkan orang untuk minum obat. Persis!
Namun, Pak Rahmat yang meguasai mikrofon masjid itu sekarang. Dengan suara seraknya yang parau, dia berteriak-teriak. Tentu saja bukan hanya aku yang terganggu. Orang-orang juga terganggu. Bayangkan saja, kami yang muslim ini saja tertanggun, bagaimana jika azan itu didengar oleh non muslim? Kacau sudah.
Azan seharusnya disuarakan dengan merdu. Itu merupakan panggilan sakral agar kita mau berangkat beribadah dan salat berjamaah. Bagaimana jadinya jika disuarakan dengan parau dan kacau seperti yang dilakukan oleh Pak Rahmat itu? Tentu saja bukannya menyejukkan, malah bikin naik darah!
Entah apa yang membuat Pak Rahmat memutuskan untuk menjadi muaazin di surau itu. Sebelumnya dia sempat tak terlihat selama beberapa bulan. Kata orang-orang, beliau sakit. Namun, ketika kembali, dia sudah bikin onar dengan membuat gaduh seisi kampung lewat suara azannya yang kacau. Kacau! Benar-benar kacau!
Karena gangguan polusi suara ini sudah berjalan hampir dua minggu, kami memutuskan untuk lapor ke Pak RT agar ada tindakan. Tentu saja kami tak mungkin datang ke surau itu dan menegur langsung Pak Rahmat. Waktu kami terlalu berharga untuk hal semacam itu. Biar itu menjadi urusan Pak RT saja.
Meskipun awalnya Pak RT agak keberatan untuk menegur Pak Rahmat atas suara azannya yang parau, akhirnya kami bisa mendesaknya. Pak RT pun berjanji akan mengingatkan Pak Rahmat.
Betapa bahagia kami mendengar keputusan Pak RT.
“Sekalian Pak Rahmat jangan boleh ke surau lagi agar tidak kangen buat azan!” seru salah satu dari kami.
Kami tertawa.
“Benar! Beliau sudah tua! Sudah saatnya istirahat di rumah saja!”
“Urus cucu!” sahut yang lain.
“Merenungi hidup!” sahut lainnya lagi.
Pak RT menenangkan kami. Dia berjanji sore ini akan mendatangi Pak Rahmat untuk bicara dengannya.
Selang beberapa hari, kami tak kunjung mendapatkan kabar dari Pak RT. Suara parau Pak Rahmat masih menggelegar di seantero kampung. Ketenangan kami masih terusik. Sekali lagi kami kembali menemui Pak RT untuk meminta penjelasan.
“Saya sudah menemui Pak Rahmat. Namun, bergitu saya menjelaskan, beliau berpesan agar warga langsung mendatangi beliaau dan bicara sendiri,” terang Pak RT.
Kami kembali dengan ngedumel. Ternyata Pak RT saja tak sanggup menumbangkan Pak Rahmat. Hari-hari tenang kami harus tetap terusik oleh suara sumbang nan parau itu.
Bahkan aku yang tak biasa bangun subuh pun harus terusik ketika azan Pak Rahmat mulai bekumandang. Mengganggu benar. Tidurku jadi tak nyaman. Suara azan itu seolah langsung menusuk telingaku. Membuat mimpiku langsung buyar begitu Pak Rahmat azan.
Akhirnya, kami mengadakan rapat. Kami mencari cara agar bisa menghentikan polusi suara yang disebabkan oleh ulah Pak Rahmat ini.
“Kita datangi saja! Kita seret pulang!” usul salah satu dari kami.
“Kita tutup saja suraunya khusus Pak Rahmat!” usul lainnya.
“Kita robohkan saja suraunya!”
Kami salng pandang.
“Toh, surau itu memang sudah lapuk! Tak layak pakai!”
“Benar! Uang infaknya tak jelas dipakai buat apa!”
“Tak pernah diumumkan!” sahut salah satunya.
“Memangnya tak pernah, ya? Sampean pernah ke surau?”
“Ya tidak! Tapi kan sudah jelas tak pernah diumumkan! Kita saja tak tahu! Lagian untuk azan saja pakai mikrofon! Masak buat mengumumkan hal penting seperti itu tidak bisa?”
“Benar!” sahut lainnya.
Akhirnya kami sepakat untuk mendatangi langsung surau tersebut ketika Pak Rahmat hendak azan. Kami berencana medatangi beliau saat asar. Itu saat di mana kami seharusnya mendapatkan ketenangan, tetapi dirusak oleh suara parau Pak Rahmat!
Kami sudah berkumpul sebelum Pak Rahmat mengumandangkan azan. Sudah siap segala cercaan dan hinaan kami untuk menyerangnya. Pak Rahmat harus jera! Pak Rahmat harus tahu diri! Kami terus menggunjing segala keburukannya agar hati kami puas. Tak hanya perkara suara sumbangnya yang kami gunjing, kehidupan pribadinya pun turut kami kunyah mentah-mentah.
“iya, anaknya Pak Rahmat kan pernah tidak naik kelas semasa sekolah!”
“Iya, benar! Pantas saja! Bapaknya seperti itu!”
“Tak tahu adab!”
“Benar!”
Kami puas membicarakan segala keburukan dan kekurangannya.
Menunggu Pak Rahmat azan seperti ini, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Lama sekali menunggu Pak Rahmat menyuarakan azannya.
“Sudah asar?”
“Belum. Sebentar lagi.”
Kami menunggu lagi.
Beberapa orang membawa camilan dan minuman untuk kudapan kami selama menunggu. Kami sampai berbicara ngalor-ngidul saking lamanya menunggu azan Pak Rahmat. Tak lama kemudian, Pak RT lewat, dari setelan yang dipakainya, dia hendak ke surau.
“Wah, pada kumpul di sini,” sapa Pak RT.
Kami membalas senyumnya.
“Iya, Pak RT. Kami mau mendatangi Pak Rahmat!”
“Senang kalau melihat warga akur begini,” ujar Pak RT.
Kami agak bingung dengan jawaban Pak RT.
“Pak RT mau ke surau?”
“Iya. Ayo, duluan!” jawabnya.
Semakin heran kami. Pasalnya Pak Rahmat belum mengumandangkan azan. Sepertinya, sejak berjanji untuk bicara dengan Pak Rahmat, beliau jadi lebih rajin ke surau. Mungkin Cuma perasaanku saja.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara mikrofon surau dinyalakan. Kami semangat. Jika biasanya kami geram karena terganggu, kali ini suara itu sengaja kami tunggu-tunggu. Pak Rahmat mulai menyerukan azan. Tetap dengan suara parau dan mengganggu seperti biasa.
Kami tertawa terbahak-bahak.
“Dengar! Suaranya benar-benar buruk!” gelak salah satu dari kami.
“Benar! Kacau sekali! Begini kok bisa jadi muazin!”
Kami tertawa lagi.
Sepanjang azan yang dikumandangkan Pak Rahmat, kami terus mencerca kualitas suaranya yang begitu mengganggu. Senang rasanya ada kawan untuk menggunjing suara Pak Rahman.
Setelah azan selesai, kami langsung berangkat ke surau untuk mendatangi Pak Rahmat. Tentunya kami sudah siap mencercanya dengan berbagai umpatan dan keberatan atas gangguan yang beliau perbuat.
Rasanya sudah lama tak jalan-jalan di lingkungan sekitar. Banyak yang sudah berubah. Ketika sampai surau, kami heran melihat kondisinya sekarang. Surau yang lapuk itu kini terlihat elegan dengan desain natural. Banyak tanaman dan bunga-bunga tumbuh di halamannya.
Melihat kami terbengong di halaman, Pak Rahmat menyambut kedatangan kami dengan rasa syukur.
“Alhamdulillah. Akhirnya ramai lagi suraunya! Ayo, masuk dulu!” Suara Pak Rahmat tak separau ketika azan.
Kami yang masih bengong, lantas mengambil wudu. Ketika masuk ke dalam surau, kami merasakan rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan. Pak RT tersenyum menyambut kami. Kami duduk mengambil saf. Nuansa surau ini benar-benar berbeda dari yang kami bayangkan. Seingatku, terakhir kali ke surau ini, kondisinya benar-benar mengenaskan. Namun sekarang, segalanya sudah terawat dengan baik. Bersih dan rapi.
Kami salat Asar berjamaah. Pak Rahmat menjadi imamnya. Suaranya begitu merdu. Tak seperti ketika azan.
“Alhamdulillah, hari ini bisa sampai tiga saf,” ujar Pak Rahmat selesai salat.
“Sebenarnya, ada tujuan lain kami datang kemari,” ujar salah satu dari kami.
“Iya, Pak RT juga sudah menyampaikannya.”
“Saya lihat, Pak Rahmat bisa menjadi imam dengan suara merdu. Kami harap Pak Rahmat tidak azan dengan serampangan seperti itu!”
Pak Rahmat tertawa. “Kalian ini …,” ujarnya, “kita ini seperti anak-anak yang harus ditegur dulu baru sadar. Harus diusik dulu baru bergerak. Kalian terganggu, jadi kalian datang ke surau ini. Kalau tidak begitu? Kapan kalian kemari?”
Kami semua tertampar.
“Tidak semuanya harus yang indah-indah. Ibarat anak sudah balig, harus dipukul kalau tk mau salat. Kalian masak mau dipukul seperti anak-anak?”
Kami semua terdiam. Benar-benar seperti anak-anak yang sedang dimarahi.
“Kami juga mau tanya soal penggunaan uang infak, Pak!” salah satu dari kami masih tak mau kalah.
Pak Rahmat tertawa lagi. “Sebelum saya kemari, uang infak itu utuh. Lalu saya usul untuk digunakan memberdayakan surau ini. Sebagian dipakai untuk membantu warga yang kesulitan. Kalian pasti tak sadar. Kalian terlalu sibuk bekerja sampai tak tahu banyak yang berubah.”
“Menurut Pak Rahmat, jamaah akan lebih nyaman bila surau dipugar. Tak banyak. Hanya dirapikan saja. Jadinya seperti yang kalian lihat ini,” tambah Pak RT.
Kami tak punya alasan lagi untuk menyerang Pak Rahmat. Setelah mendapatkan penjelasan seperti itu, kami pamit pulang dan meminta maaf. Pak Rahmat juga meminta maaf jika selama ini suara azannya mengganggu.
Ketika masuk maghrib, suara azan Pak Rahmat terdengar begitu merdu. Tak seperti biasa. Surau ramai. Pak Rahmat membukakan mata kami bahwa kesejahteraan surau ini ada di tangan kita.
Seusai salat, aku tak pulang. Sengaja ingin berdiam lebih lama. Nuansa alami surau itu membuatku betah. Ternyata Pak Rahmat juga tak pulang. Dia biasa menunggu sampai isya.
Iseng, kutanya, apa yang membuat Pak Rahmat mau merawat surau itu?
Dia lantas bercerita, beberapa bulan ketika dia sakit, kondisinya begtu parah. Dia sudah hampir di ambang maut. Waktu itu, Pak Rahmat sudah pasrah jika ajalnya dijemput. Namun, suatu kali, dia bermimpi diajak ke surau ini oleh sosok yang teraang menyerupai cahaya. Pak Rahmat tak tahu benar siapa sosok itu. Namun, bersamanya, dia merasa begitu tenang dan nyaman.
“Tugasmu belum selesai. Kamu mulai dari sini. Rawat baik-baik,” ujar sosok itu.
Pak Rahmat ditinggal sendiri. Dia tahu bahwa tempat itu adalah surau di kampungnya. Namun pemandangannya jauh lebih indah dan lebih rindang. Begitu menenangkan. Banyak tanaman di halamannya. Bunga-bunga bermekaran. Aroma wangi semerbak. Kupu dan capung beterbangan. Ada suara azan merdu berkumandang.
Begitu bangun dari mimpi itu, Pak Rahmat merasa kondisinya semakin membaik. Dia bergegas mendatangi surau di kampungnya. Benar saja, kondisinya begitu memprihatinkan. Pak Rahmat masuk ke dalam. Dia meminta izin untuk mulai mengumandangkan azan. Itu kali pertamanya dia menjadi seorang muazin.
—oOo—
Achmad Fauzi, FLP Sidoarjo, 081230404046