RANGGI PARAS
Namaku Aida. Ketika jemariku menulis cerita ini, sesungguhnya aku sedang jatuh cinta. Cinta kepada seorang lelaki yang memukauku dengan lembut bahasa, sopan bicara dan perhatiannya tanpa batas. Namun tidaklah berlebihan dan masih terlihat pantas. Disebabkan hal demikianlah aku ingin sejarah mengingatnya sebagai kisah cinta terindah dalam perjalanan kisah kasih aku dan Awang, nama lelaki itu.
Berkenan hati ini mengupas tuntas. Awang lelaki Melayu yang memiliki ranggi paras. Benar-benar telah membuatku bangga menjadi seorang perempuan. Bagaimana tidak? Aku bahkan sanggup menolak beberapa lelaki yang masuk meminang karena berharap dialah yang menjadi kekasih halalku. Berbadan gagah perkasa pandai bersilat dengan menguasai gerakan yang sangat tangkas, sopan bertutur perangai baik telah membekas di hatiku. Kalau dia menghadiri sebuah acara, kebetulan aku juga hadir, tampilannya segak bergaya mengenakan baju kurung cekak musang pertanda paham adat dan menjunjung budaya. Tubuhnya menjulang tinggi jangkung umpama gunung dan aku hanya berada di setengah badannya saja, dia ramah kepada semua orang dengan lesung pipit manis ketika tersenyum. Kalau sudah seperti itu aku yakin dia bukanlah lelaki yang mudah marah dan tersinggung. Satu lagi nilai tambah yang membuat aku enggan menerima kehadiran lelaki lain adalah keistiqomahan Awang dalam menjalankan ibadah. Dia memegang teguh syari’at menjunjungnya selama hayat dikandung.
Sesungguhnya aku bukan sekadar sanjung mengharap puji. Kabar yang tersiar dia bukan orang sembarang. Lulusan Universitas Riau jurusan Sastra dan Bahasa di Pekanbaru. Pandai berpantun gemar bersyair fasih melantunkan gurindam dan merdu mendayu bercengkok lagu Melayu. Pengetahuannya tentang lembar sejarah Melayu sudah dikaji dan teruji dengan banyaknya tulisan-tulisan kemelayuan yang tersebar di media masa. Pemikirannya tentang konsep tamadun terasah teruji. Satu lagi dia pintar bersurah ranji.
Selain ranggi paras, Awang sangat kuat menjaga marwah. Pernah ada seorang gadis yang hendak berjabatan tangan dengannya, dia menolak halus.
“Jangan mencoba sembarang jamah dan mengajak larut dalam kemaruk nafsu, Awang tidak tergerak walau selangkah” cerita Naila, kawanku tentang Awang.
Suatu hari aku bertemu dengan Awang pada pawai budaya Hari jadi Bengkalis ke-507. Pesonanya memukau, kami bertembung jeling tatapan berdesau angin pikiran menjelma igau berujung khayalan. Tentu saja sebagai gadis aku memiliki harapan tinggi sampai teringin Awang masuk meminang dan bertahta di pelaminan.
Awang sangat segak hari itu. Kepalanya tertutup tanjak. Aku yakin dia bukan bermaksud hendak berlagak, tidaklah pula menganggap dirinya bijak melainkan niat menjunjung budaya supaya berdiri tegak.
“Siapakah gadis yang bertuah mendapatkan Awang, ya?” tanya Naila kepadaku. Aku terkejut mendengarnya. Bukan apa? Aku termasuk gadis yang berharap Awang mau meminangku dan aku pernah bercerita tentang itu kepada Naila
“Tentu saja sesuai suratan takdir, Naila! Lelaki seperti dia tentu ramai yang suka. Tetapi biarlah takdir mengalir menemui muaranya” aku mencoba bijak mengeluarkan kata meski terbungkus hasrat terpendam.
“Apakah kau tak mau berikhtiar mendapatkannya?” Naila berjujai tanya kepadaku. Aku merasakan nada cemburu sebalik bicaranya.
“Aku belum sanggup seperti bunda Siti Khadijah yang menyatakan cinta kepada baginda Nabi walaupun hanya lewat perantara” Kataku menahan getar yang kian menggelepar.
“Aku pernah dengar cerita kalau Awang sudah bertunang dengan gadis kampung sebelah,” Naila menggebu-gebu berkata kepadaku. Belum sempat aku bertanya tiba-tiba wajah ranggi itu lewat di depanku sambil menawarkan segelas laksemana mengamuk kepadaku. Aku mengambil tanpa berani memandang ke arah wajahnya. Terlihat jemarinya kokoh dan aku harus terus menundukkan pandanganku.
“Ini buat Naila juga” Awang mengulurkan minuman dan serempak kami berdua mengucapkan terima kasih kepadanya.
Pawai berbusana Melayu lengkap petang itu ditutup dengan bait-bait syair yang dilantunkan oleh penyair dari atas panggung.
Wahai sekalian penduduk buana
Pemuda Melayu menyapa sempena
Kulit cokelat bening berwarna
Berbaju kurung sepasang celana
Wajah terserlah bagai purnama
Senyum bersahabat tulus menjelma
Berjabat tangan seiring bersama
Bersatu dalam dendang irama
Aku pulang berjalan kaki karena rumahku hanya berjarak lebih kurang 1 KM saja. Ekor mataku menangkap kalau Awang juga sudah pulang dulu. Ranggi paras Awang terus membayang. Sebelum sampai ke rumah aku membelokkan kaki untuk singgah sekejap di pelabuhan pasar Terubuk. Kata-kata Naila yang mengatakan bahwa Awang sudah bertunang membuat hatiku terasa kecewa. Aku berada dalam kondisi benar-benar nelangsa. Mau marah tak tahu kepada siapa? Terbersit sesal menggumpal mengapa beberapa lelaki yang jelas masih sendiri, aku tolak sedang Awang yang sudah bertunang malah aku harapkan lebih.
Sambil bermain air laut selat Bengkalis, aku menyanyikan lagu Melayu klasik yang mewakili perasaanku saat ini.
Patah hatiku membawa derita
Merajuklah diri
Merajuk diri
Tak tentu haluan (Patah hati Nyanyian Datok Siti Nurhaliza.
Belum lagi masuk bait kedua, sebuah suara menyapaku lembut.
“Merdu sekali suaramu, Aida! Mendengar penghayatannya seakan-akan mewakili perasaanmu saat ini, benarkah?” aku gugup. Paras ranggi milik Awang hanya beberapa meter berada di belakangku. Tak tahu harus bicara apa, terbata-bata aku menjawabnya.
“Ti..ti..dak, Awang! Hanya saja kalau menyanyi dengan perasaan terasa lebih nikmat” aku menyembunyikan suasana hati dengan berdalih demikian.
“Benarkah? Tapi aku malah tidak berpikir begitu. Sejak tadi aku melihatmu gembira namun setelah bicara dengan Naila aku menangkap ada sesuatu yang terjadi denganmu. Apakah itu tentang aku? Sebab setelah aku memberikan minuman, ekor mataku menangkap Naila menyampaikan sesuatu kepadamu.”
“Memang benar, tetapi tak perlu menyalahkan Naila, dia hanya menyampaikan apa yang dia dengar tentangmu,” aku menjadi serba salah.
“Aku paham sekarang. Maukah engkau berjanji jika aku sampaikan kepadamu tentang perkara sebenarnya, kita saling menjaga rahasia supaya tak ada orang yang tahu termasuk Naila?” Awang menekan kata ‘Naila’. Aku heran dan tak paham.
“Maksudnya apa, Awang?” rasa keingintahuanku muncul begitu saja.
“Aku pernah bertanya kepada Naila, tentangmu. Aku katakan kepadanya bahwa aku menyukaimu. Di luar dugaanku Naila berkata bahwa engkau sudah bertunang dengan seorang lelaki. Aku mundur teratur. Sebagai seorang muslim aku tak boleh mengganggu perempuan yang sudah dipinang. Lama aku larut dalam kecewa. Setelah kejadian itu aku percaya bahwa Allah sudah menyiapkan takdir terbaik bagiku. Tinggal menunggu hikmahnya saja. Sepekan setelah aku bertanya kepada Naila, sebuah surat datang kepadaku. Surat dari Naila yang mengungkapkan perasaannya kepadaku. Dia memendam perasaan cinta sudah sekian lama. Tetapi aku menolaknya dengan baik karena aku memang tidak pernah terlintas memikirkannya”. Aku sekilas melihat jelingan mesra dari mata Awang. Sebongkah cinta singgah menggelora. Lembut ucapan jujur dalam madah bicara dan aku terpukau tiada tara.
“Naila juga mengatakan yang sama kepadaku tadi bahwa Awang sudah bertunang dengan perempuan kampung sebelah,” bukan bermaksud hendak menjatuhkan Naila di hadapan Awang. Aku hanya sekadar membandingkan cerita Awang dengan kejadian yang sama dengan yang aku alami.
“Sudahlah! Yang berlalu biarkan berlalu. Tiada insan yang sempurna. Aku juga salah mengapa harus mengatakan perasaaku kepadamu melalui dia. Seharusnya aku bertanya langsung. Aida, Insya Allah pekan depan rombongan keluargaku akan merisik. Sudikah engkau menjadi kekasih halalku,?” aku terdiam lama. Adakah lelaki Melayu seromantis Awang. Tanpa melutut dengan setangkai bunga atau sebentuk cincin, cukup dengan suara lembut mampu membuatku mengangguk malu. Tanda setuju.
Begitulah kisahku. Ketika pujuk halus mendayu berbalas pantun hasrat merayu dan syair beralun selembut bayu, aku khusuk mengucapkan syukur, Awang lelaki Melayu berparas ranggi itu akan merisik dan mengusik kisah perjalanan cintaku menjadi bertambah asik.
Bengkalis, 26 Desember 2021
- Muhammad Rizal Ical, lahir di Desa Lukit-Kepulauan Meranti, 10 Juni 1980, bekerja sebagai PNS di MAN 1 Plus Keterampilan Bengkalis dan Dosen Budaya Melayu di STAIN Bengkalis. Sudah setahun menulis syair di Tiras Times. Penggemar sastra Melayu klasik ini tinggal di Jl Kelapapati Laut di Bengkalis.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com