Cerpen Ratu Ayu Sihombing: Mahkota

MAHKOTA


Aku termenung di suatu ruangan. Kumelihat ke luar jendela, berbagai makhluk yang beragam. Lalu, ku mendengar berbagai suara dari setiap makhluk hidup. Kumelihat jam. Kutak tahu mengapa waktu cepat berlalu. Lalu, secara tak sengaja, kumengingat kembali masa laluku.

“Hei, segeralah mengambil buku itu. Aku sudah lelah”, ucap Arya. “Ya ya, aku akan cepat.” Ucapku.

Saat itu kami sedang berada di sekolah. Kami akan segera belajar kelompok di luar kelas saat di luar jam belajar.

     Kami adalah dua orang sahabat yang tak akan bisa di pisahkan. Saat istirahat sekolah, kami akan pergi ke kantin bersama. Bahkan saat liburan, kami akan berlibur bersama. Rumah kami juga saling berdekatan. Hubungan kami seperti tidak persahabatan lagi, hubungan kami sudah seperti hubungan persaudaraan.

     Semua orang menganggap kami adalah sepasang kekasih. Tetapi, kami berdua tidak peduli. Dunia ini seperti hanya milik kami berdua. Kami adalah orang yang keras kepala dan tak peka. Tapi kami tetap bisa menjalani kehidupan sehari hari bersama. Kami selalu bahagia. Lalu… terjadilah sesuatu yang tidak di inginkan.

     Hari itu, aku dan Arya pergi liburan ke Pantai Surai. Kami sangat suka melihat laut disitu. Di sana juga terlihat gunung yang hijau, terlihat juga kapal-kapal yang berlayar sangat indah. Hanya kami berdua saja yang pergi ke pantai tersebut. Kami sangat menikmati liburan tersebut. Menyenangkan sekali. Kami membeli es krim, kami membuat istana pasir, bermain air, dan kesenangan lainnya. Aku suka saat kami hanya berdua saja. Tak ada yang mengganggu.

     Lalu Arya berkata kepadaku “Aku beli sesuatu sebentar ya.”

“Beli apa?” kataku kepada Arya.

“Rahasia dong, hehe..” Ucap Arya.

“Baiklah, tapi jangan lama ya. Jangan sampai kamu menemukan hal yang bersifat merah, hehe.” Kata ku pada Arya.

“Apa sih”, Arya berkata dengan ekspresi marah.

“Canda canda, hihi”, lalu kata ku kepada Arya.

     Arya adalah orang yang takut kepada hal-hal yang mempunyai unsur darah. Dia mempunyai kakak yang sangat dia sayangi. Kakaknya juga sangat menyayangi dia. Karena sangat sayang sekali, mereka sampai menjaga satu sama lain. Itulah yang ku kagumi dari persaudaraan mereka. Saling menghargai, menghormati, dan menyayangi. Itulah yang memotivasiku untuk menjaga Arya. Arya juga mempunyai cita-cita yang tinggi, yaitu menjadi polisi agar dia bisa menjaga kakaknya.

     Namun, semua cita-cita itu hancur seketika. Hanya dalam tiga detik, impiannya hancur berkeping-keping. Arya menemukan kakaknya terkapar di lantai, dengan luka yang cukup parah di bagian leher dan kepalanya. Arya masih bisa mendengar dan melihat kakaknya bernapas. Namun, hanya sebentar saja. Hanya beberapa detik saja. Dia melihat langsung kematian kakaknya yang penuh tragedi itu. Sejak saat itulah Arya trauma dengan darah. Sejak saat itu juga, Arya kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

     “Beban yang di miliki Arya sampai hari ini, pasti sangat berat”, ucapku dalam hati. Lalu, setelah berjam-jam lamanya aku menunggu Arya, akhirnya aku segera mencarinya. Aku mengelilingi pantai tersebut, bertanya pada orang-orang, dan juga aku melaporkannya kepada penjaga pantai saat itu. Tapi, tak ada seorangpun yang melihatnya.

     Lalu, secara tak sengaja, aku menemukan Arya yang memiliki beberapa luka lebam di sekujur tubuhnya. Beberapa luka yang sangat parah di bagian leher. Saat itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku berdiri diam tanpa bergerak. Bahkan saat itu, jantung ku juga seperti ingin berhenti, paru-paruku seperti ingin berhenti bernapas, serta organ-organ tubuhku seperti ingin berhenti bekerja.

     Aku berpikir, “Apa yang terjadi? Aku sedang bermimpi kan? Ini hanya halusinasi kan? Iya, ini pasti halusinasi saja. Aku kurang tidur pasti aku berhalusinasi.” Lalu aku menampar diriku sendiri, ternyata itu bukanlah sebuah mimpi. Itu adalah kejadian nyata. Di depan mataku, terdapat Arya yang terkapar yang tak lagi bernapas, tak bergerak sama sekali. Di depan mataku, Arya mati.

     Lalu, kakiku tidak bisa kukontrol. Kaki ku berlari secara otomatis, aku langsung memanggil orang-orang agar membantu. Lalu, orang-orang tersebut memanggil pihak rumah sakit, agar bisa di makamkan. Lalu, aku masih berdiri sendirian di tempat dimana Arya mati. Dalam hati aku berkata bahwa aku gagal melindungi sahabatku satu-satunya. Tidak, keluargaku satu-satunya.

     Semua pikiran tersebut langsung terpikirkan olehku di kepalaku. “Apakah ini salahku? Apa aku gagal menjadi sahabat yang tak bisa menjaganya?”

     Sampai sekarang, pikiran-pikiran tersebut masih tinggal di pikiranku. Aku masih takut melangkah dan aku tak ingin lagi bergantung pada orang lain. Aku takut mereka akan meninggalkanku sendirian lagi.

     Aku juga teringat kata-kata yang di berikan Arya kepadaku sebelum dia pergi, “Setiap manusia itu harus mempunyai mahkota agar kekuatan mereka bertambah.” Akhirnya, aku paham kata-kata itu saat aku melihat sebuah peninggalan dari kakek Arya, seperti sebuah arloji. Makna dari kata-kata Arya itu adalah setiap manusia itu mempunyai pasti mempunyai beban yang sangat berat di hidupnya. Semakin banyak beban yang mereka punya, mereka akan semakin bertambah kuat. Arya melambangkan mahkota seperti beban yang harus di tanggung setiap manusia. Mungkin, itu yang ingin Arya sampaikan kepadaku.

     Aku sekarang tahu, betapa kuatnya sahabatku itu. Aku berharap, dia selalu ada di sampingku setiap saat.

  • Ratu Ayu Sihombing, dari SMPS Santo Yosef. Kelahiran Duri, 16 Agustus 2008. Kelas 8. Memiliki hobi yaitu membaca buku, menonton film dan mendengarkan musik. Bercita-cita menjadi seorang pembuat komik yang sukses dan menjadi pencipta buku yang memotivasi banyak orang. No. WA : 082288860795 

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:

redaksi.tirastimes@gmail.com

cerpensastra
Comments (3)
Add Comment
  • florenc

    KEREEEEN AYU 🔥🔥🔥

  • Angelina Tesa

    Bagusss bangettttt😍😍😍😍

  • Ervides

    Keren Ratu Ayu. Sukses dan teruslah berkarya.