LUKA WAKTU
Aku menatap gundukan tanah merah di depanku. Kilasan kejadian-kejadian masalalu menari menambah perih luka yang menjamah hati. Begitu perkasa rasa sakit memeluk dan menarikku pada lingkaran penyesalan. Lelaki yang terbaring dalam tanah merah itu aku panggil Ayah. Sejak aku mengenal rasa benci, dialah orang pertama yang mendapat rasa itu dariku. Kebencian yang dengan sengaja aku pupuk selama belasan tahun.
“Rohim, cepatlah sikit!” perintahnya tanpa menoleh padaku.
Yah, namaku Rohim, dan karena nama itu pula aku sering diejek kawan-kawanku. Tidak keren, kampungan. Itu alasan pertama aku mulai kesal pada lelaki itu. Ketika usiaku dua belas tahun, kelas 6 SD, pernah protes dengan nama itu.
“Yah, kenapa namaku Rohim?”
“Kenapa rupanya?”
“Itu seperti nama orang tua, Yah, tidak gaul.”
Ayah berhenti membelah kayu yang tinggal separuh. Kami memang setiap akhir pekan menjual kayu bakar ke pasar minggu.
“Jadi nama yang bagus menurut kau apa?” Ayah melap keringatnya di dahi. Aku berpikir sambil mengetuk-ngetuk kepala dengan jari mencari ide.
“Rahul, Vijay, Cris Jhon atau Robert, atau Cristiano?”
Penuh semangat aku membeberkan semua nama yang menurutku bagus, dan itu adalah nama-nama di film yang pernah aku tonton di rumah Rudi.
Ayah langsung berdecih. Dari raut mukanya aku sangat tahu kalau tidak ada satupun nama yang ia setujui menjadi namaku.
“Rohim saja nama kau, nama yang kau sebut tadi ‘tak satupun yang bagus.”
“Itu bagus, Yah, nama bintang pilem India sama bintang pilem Barat.”
Penuh semangat aku mempertahankan pendapatku, semoga Ayah luluh dengan nama-nama yang aku sebut. Yang penting bukan Rohim!
“Kau tahu Rohim itu artinya apa?”
“Tau, Yah.”
Dan keluarlah ceramah-ceramah Ayah yang sudah aku hapal luar kepala, dan aku bisa menirukan gayanya sama persis.
Yang kedua, Ayah sering memerintahku dengan kata cepat. Waktu itu berharga katanya. Tidak semua orang bisa memiliki waktu yang Allah berikan kepada kita.
“Setiap detik itu berarti.”
Kalimat ini yang paling sering diulang-ulang ketika menasehatiku. Kalimat yang aku ingat hingga saat ini, meski dengan rasa yang berbeda antara dulu dan sekarang. Selebihnya, apapun yang dia lakukan aku sangat membencinya.
“Him, ‘tak bisakah kau cepat sikit?”
”Ini sudah cepat, Yah.” Aku menahan kesal dalam hatiku.
“Pelan kali jalan kau, macam siput Ayah tengok.”
Ingin rasanya aku membuang rotan yang ada di bahuku, bagaimana mungkin aku bisa berjalan cepat dengan beban seberat ini.
“Maaf, Ayah.”
Itulah kalimat yang sering aku ucapkan, sangat berbeda dengan isi hatiku yang saat ini ingin sekali memakinya. Aku tidak seberani itu.
***
“Bang Rohim, sudah-sudahlah tu, jangan diperturutkan juga sedih tu. Nanti setan menjadikan itu ladang untuk menyesatkan kita.”
Suara Fatimah lembut menyentuh telingaku, memutuskan ingatan masa lalu yang penuh kebencian pada Ayah. Kebencian yang baru aku sesali beberapa detik sebelum kepergiannya menghadap Sang Pencipta.
“Bang, ayolah kita pulang. Mana tahu banyak handai taulan yang datang.”
“Sebentar lagi, Fat, Abang mau sama Ayah dulu.” Aku mengelus tanah merah yang masih basah itu.
Fatimah diam, aku tahu dia masih di belakangku. Gadis berlesung pipi itu adalah adikku. Anak perempuan yang paling Ayah sayang juga adik yang paling aku kasihi. Satu-satunya hal yang tidak membuatku sakit hati pada Ayah, karena lebih menyayanginya. Aku tidak pernah iri.
“Fat, bagaimana Ayah pergi?”
Aku mendengar helaan napas adikku. Hening. Tidak ada tanda-tanda kalau dia akan menjawab pertanyaanku. Aku menoleh padanya, dia sedang menetap ke arah lain. Sebulir bening jatuh dari matanya yang indah. Adikku memang cantik, paling cantik di kampung kami. Banyak penuda yang ingin mendekatinya.
“Fat, …,”
“Ayah rindukan Abang. Ayah selalu bercerita tentang Abang sejak kepergian Abang lima tahun lalu. Ifat sering lihat Ayah menangis ketika salat malam.”
Fatimah memotong pembicaraanku sekaligus seperti memotong jantungku dengan jawabannya.
“Ayah tahu kalau Abang membencinya.”
“Fat, Abang masih muda saat itu. Abang menyesal.”
“Abang masih ingat ini?” Fatimah menunjukkan benda yang paling aku benci dulu.
Jam tangan warna kuning, talinya seperti rantai merk rolex. Benda itu adalah alat Ayah ketika menyuruhku atau menghitung setiap detik keterlambatanku. Sebelum pergi dari rumah aku sempat membantingnya. Pecah berantakan.
Aku berbalik dan mengambil jam tangan Ayah itu dari tangan Fatimah. Aku perhatikan ternyata tidak ada lagi kacanya. Jarum yang paling panjang sedikit bengkok dan terkelupas, tapi masih bergerak menandakan jam tangan itu masih bagus.
“Ini jam tangan Ayah?”
Fatimah mengangguk, “iya, dan yang membuatnya rusak Abangkan?” Aku mengangguk.
Aku ingat jelas alasan aku pergi dari rumah ini. Hari itu minggu sore, saat aku pulang lewat Magrib. Waktu yang selalu Ayah ingatkan jangan sampai terlewatkan karena waktunya sempit. Akan tetapi waktu itu kami final main bola kaki. Dan aku adalah bintang lapangan. Dengan bangga aku pulang ke rumah membawa piala yang kami raih.
Awalnya aku mengira Ayah akan memaafkanku karena membawa piala dan uang pembinaan yang kami peroleh. Tentu saja sudah kami bagi rata sebelumnya. Tetapi prediksiku salah, Ayah sudah menunggu di depan pintu lengkap dengan ekspresinya yang membuat nyaliku ciut.
“Rohim, jam berapa sekarang?”
“Tujuh, Ayah.” Aku menunduk tidak berani melihat wajah Ayah.
“Bagus kalau kau masih ingat, kenapa tidak pulang cepat? Kau pikir waktu itu kawan kau, hah?”
“Rohim telat karena ada final, Yah.” Aku menyodorkan piala itu ke Ayah. Tanpa ku duga, Ayah membanting piala itu hingga berkeping sama dengan hatiku saat itu. Ada sengatan dalam hatiku yang menyuruhku mengangkat kepala dan menentang Ayah. Hal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan.
“Tundukkan kepala kau, Ahmad Rohim!” bentaknya.
“Kenapa, Ayah?”
“Kau ‘tak tau salah kau?” berang Ayah.
“Tidak, aku tidak tahu dimana letak salahku.”
Ayah mengangkat tangannya, aku tahu pipiku adalah sasaran tamparan Ayah. Aku memejamkan mata, tapi ternyata tangn Ayah tidak kunjung sampai.
“Rohim, kau ‘tak tau salahmu? Kau sudah salat magrib?” Suara Ayah bergetar menahan marah.
“Belum, sebentar lagi. Aku mandi dulu.”
“Setiap detik itu berarti, Rohim. ‘Takkan kau tak tau. Suatu saat kau akan mengerti kenapa kita harus memanfaatkan setiap detik yang masih Allah kasih untuk kita. Ayah tahu kau selama ini kesal pada Ayah, tapi percayalah piala kau ini tidak akan bisa menyelamatkan kau kelak di padang mahsyar. Saat setiap detik yang kau pakai dipertanyakan untuk apa. Dan ingatlah, banyak orang yang menyesal dalam hidupnya karena beberapa detik yang ia lewati?”
Ayah berbalik dan pergi membawa kemarahannya. Begitu juga denganku, aku menumpulkan kepingan-kepingan piala itu dengan kemarahan yang memenuhi hatiku.
***
“Bang, Ayah tidak pernah membenci Abang. Ayah hanya ingin melihat Abang tumbuh menjadi orang yang tidak lalai.”
Lagi-lagi suara Fatimah mengembalikanku dari masa lalu. Aku menarik napas panjang. Aku tahu, sangat tahu. Dua jam sebelum kepulanganku, aku bertemu dengan Pak Ngah, secara tidak sengaja. Beliau berkunjung ke Pekanbaru dan kami bertemu di salah satu rumah makan di Panam. Beliau bercerita banyak tentang Ayah. Lelaki yang membesarkanku itu, yah, hanya membesarkan karena pada kenyataannya dia bukanlah orang tua kandungku. Dia hanya suami Ibuku. Ayah kandungku tidak tahu rimbanya, pergi melepas semua tanggug jawab pada ibuku yang ketika itu masih terlalu muda. Ayahlah yang menopang hidup kami.
“Abang tahu, Dik, sangat tahu. Abang sudah mendengar semuanya dari Pak Ngah. Abang hanya ingin minta maaf, akan tetapi semua sudah terlambat.”
“Ayah sudah memaafkan Abang.” Fatimah meyakinkanku. Aku tidak lagi menolak saat Fatimah membawaku pulang. Ayah, aku akan menjadi orang yang menghargai waktu.
- Reni Juniarti, akrab di sapa Kak Rhe lahir di Lubuk Soting 1 Juni 1983. Menyukai dunia tulis menulis sejak di bangku kuliah. Saat ini aktif sebagai pendidik salah satu sekolah menengah atas di Rokan Hulu, Riau.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com
Assalaamu’alaykum Bu.
Apa arti dari gambarnya itu Bu.
Kalau kami bilang itu Gajambang