Topi Pet Kania | Cerpen: Firdaus Herliansyah

Oleh: Firdaus Herliansyah

Gadis manis berkulit kuning langsat dengan rambut dikuncir ekor kuda itu hanyut dalam lamunan dengan wajah sedikit sayu di halte bus Trans Jakarta Salemba. Seolah ada segunung beban di pundaknya, membikin bibir mungilnya terkadang sedikit manyun. Dengan mengenakan kemeja warna hijau tosca berlengan panjang, celana jeans abu-abu, dan sebuah topi pet hitam di kepalanya ia tampak gelisah seolah ada sesuatu yang mengusik mengganggu relung hatinya. Sesekali mata bulatnya yang berbulu lentik dan cantik melirik monitor pantau di halte itu untuk sekadar menyelidiki apakah bus Trans Jakarta tujuan akhir halte Harmoni sudah datang ataukah belum.

Namanya Kania, gadis 23 tahun yang merantau ke Jakarta dari kota asalnya Semarang. Seperti kebanyakan manusia lainnya yang coba mengadukan nasibnya di bawah langit Jakarta -tentu saja bukan untuk pelesiran dan membunuh waktu belaka- namun demi mencari peluang dan mengejar mimpi-mimpi yang secara menggoda kerap dijanjikan Ibukota. Tak melulu soal cari uang, alasan Kania pindah ke Jakarta juga supaya bisa lebih dekat mengejar cita-cita yang sudah lama dia idam-idamkan, kuliah di luar negeri. 

Gajinya tidak besar untuk ukuran biaya hidup di Jakarta yang relatif tinggi. Tapi masih mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari. Ditemani semilir lembut angin siang itu, dia teringat pada satu kenangan sedih tentang percakapan bersama mendiang ibunya sewaktu masih di Semarang.

“Ibu, aku ingin lanjut kuliah lagi … Ke luar negeri …. ”

“Kau yakin?” Tanya ibunya tersenyum miris. Wanita yang sudah hidup separo abad itu melanjutkan ucapannya “Kau tahu bukan, bagaimana kehidupan kita saat ini?”

Ya. Kania faham betul kondisi ekonomi keluarga mereka yang kembang kempis. Ibunya cuma bekerja mengambil upah cuci dan menyetrika serabutan. Dengan cara itulah ibunya menyambung hidup mereka sejak ayahnya meninggal sewaktu Kania kecil, dia tak ingat kapan persisnya itu.

“Aku yakin, Bu. Tak usah cemas soal biaya, aku pasti akan mendapatkan beasiswa,” jawab Kania optimis.

Ibunya menghela nafas berat, ada segumpal mendung pada wajahnya “Sudah kau pikirkan matang-matang, Nduk?” Kali ini kening wanita itu mengkerut “Anak perempuan tidak perlu kuliah tinggi-tinggi, ke luar negeri pula. Makin susah nanti dapat jodohnya. Coba kau tengok, teman seusiamu sudah pada menikah, sedangkan kau malah kepikiran ke luar negeri. Pikirkanlah kembali, Nduk …. “

Kania masih terngiang akan percakapan dengan mendiang ibunya itu. Rasa sedih akibat meninggalnya sang ibu bercampur aduk dengan kekecewaan akibat ketidaksetujuan sang ibunda soal cita-citanya. Dia tahu betul ibunya sama sekali tidak berniat buruk padanya, beliau cuma ingin yang terbaik buat anaknya. Akan tetapi Kania juga punya mimpi sendiri, dia ingin menapakkan kaki di ujung dunia yang lain, melihat kota-kota di penjuru bumi yang cuma pernah ia lihat dalam cerita dan gambar. Ah … Seperti apa rasanya membuat boneka di musim salju? Bagaimana cantiknya daun Maple di musim gugur? Semua itu cuma ada dalam tidur siangnya yang cantik.

Di belantara mimpinya Kania berandai-andai jika kelak dia ditakdirkan memiliki seorang anak perempuan, akan dia dukung sang malaikat kecil mengejar cita-citanya. Kania ingin menunjukkan pada dunia, terlahir sebagai perempuan bukan kutukan atau kesialan. Kultur masyarakat lah yang selalu membikin wanita jadi penghuni semesta kelas dua, dianggap tak perlu berpendidikan tinggi, tak perlu bercita-cita besar, harus bisa masak untuk menyenangkan suami, dan sebagainya. Ini bukan cuma soal impian, tetapi merawat kemanusiaan.

Kania membuka dompet mungil merah jambu bermotif Hello Kitty miliknya. Dia tengok masih ada lembaran-lembaran yang jika ditotalkan jumlahnya 350 ribu rupiah. Cuma itu harta dia saat ini. Kania bahkan tidak tahu bulan ini akan membayar kost dengan uang dari mana. Ada sedikit beras dan mie instan untuk mengganjal perut bulan ini. Entah cukup ataukah tidak, namun makanan seperti itu jelas tidak baik buat maag nya. Kania menabung mengumpulkan sedikit demi sedikit uang hasil kerjaannya bukan tanpa alasan, semua demi bisa mengikuti kursus dan tes IELTS yang biayanya lumayan mahal untuk orang seperti dia. Yah, mau tidak mau itu salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki untuk mendaftar dan mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Uang di dompetnya bagaimanapun harus dicukup-cukupkan sampai akhir bulan. Ada dilema pada pikirannya, sisa uang ini akan dipakai buat makan ataukah ditabung untuk kursus IELTS? Bagaimanapun Kania butuh asupan makanan yang baik untuk dapat belajar dengan baik, tapi uangnya jelas tidak memadai. Sementara kalau tidak menabung untuk kursus IELTS kapan lagi dia dapat uang lebih dengan pendapatannya yang di bawah UMR?

Enam bulan sudah Kania di Jakarta. Mimpi untuk kuliah di luar negeri ternyata bukan seperti cerita indah motivator dalam seminar-seminar motivasi. Hidup di matanya tidak pernah adil sejak awal, tidak seindah dongeng Cinderella atau Rapunzel yang berawal derita dan berakhir happily ever after. Lahir sebagai manusia dari keluarga menengah ke bawah, jelas dia tidak sedang berada pada garis start yang sejajar dengan anak-anak keluarga berada. Terbayang betapa dia mesti berhemat memilih kost paling murah berbau apek dan lembab di lingkungan padat yang mesti berbagi kamar mandi pesing dengan banyak penghuni kost lainnya. Sangat jauh dari kesan kenyamanan, lingkungan yang sehat, kamar dengan penyejuk ruangan, atau fasilitas belajar yang lengkap.

Bus tujuan Harmoni akhirnya datang, bergegas Kania masuk mencari tempat duduk yang paling nyaman buatnya di area khusus wanita. Setelah membuat dirinya merasa santai, Kania memasang headset dan menghubungkannya ke ponsel android miliknya. Dihiasnya semua kepenatan siang itu dengan untaian lagu Maroon 5 yang berjudul She Will be Loved sambil menikmati sejuknya pendingin udara bus Trans Jakarta yang berjalan dengan laju pada koridornya. Mencoba lupakan sejenak kegundahan dan beban pikirannya.

Bus yang ditumpanginya sepi, cuma ada dua penumpang wanita di bus tersebut.  Seorang perempuan tua dengan alat bantu dengar pada telinganya, sibuk berkomat-kamit tak jelas. Satunya lagi gadis muda dan cantik berambut ikal, berkulit sawo matang, mengenakan blazer dan rok bahan yang sewarna, nampak macam wanita kantoran -setidaknya seperti gaya wanita karir yang dia tahu- pikir Kania dalam hati. 

Kania duduk tepat di depan gadis cantik itu. Gadis itu tersenyum ramah padanya. Dia pun membalas dengan senyuman yang tak kalah ramah.

“Sendirian saja, Mbak?” Sebuah pertanyaan ramah tiba-tiba memecah keheningan.

“O, iya, Mbak,” jawab Kania sedikit kaget. Agak kikuk memang, karena Kania termasuk gadis yang canggung memulai pembicaraan.

“Maaf kalau mengganggu, aku tiba-tiba tertarik melihat map bertuliskan IELTS yang Mbak bawa. Apakah sedang berencana kuliah ke luar negeri?”

“Iya. Aku sedang mengajukan beasiswa S2,” Kania berujar malu-malu.

“Wah, bagus itu. Sekarang itu merupakan hal yang wajar kalau wanita memiliki mimpi yang setara dengan pria, dan dapat berdiri sejajar dalam berkontribusi untuk negaranya,” ucap si gadis memuji menyemangati Kania “Kalau boleh tahu beasiswa apa yang rencananya mau dicoba? LPDP…? BidikMisi…?” Gadis itu mengejar Kania dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“StuNed, Mbak,” Kania menjawab pelan “Aku berencana kuliah ke Belanda”

“Sungguh? Wah, kebetulan aku bekerja di Nuffic Neso Indonesia. Kalau mbaknya daftar StuNed pasti dokumennya dikirim ke Neso kan?”

Mata Kania berbinar “Wah, beneran mbaknya kerja di Neso? Aduh kebetulan sekali, aku masih deg-degan nih menunggu hasil seleksi beasiswa S2 StuNed. Aku dengar pengumumannya akan keluar hari ini ya, Mbak?” 

“Iya, benar sekali,” Alicia tersenyum ramah, menjawab tanya Kania yang penuh semangat itu. Suasana semakin cair.

Kania mengulurkan tangannya “Perkenalkan, Mbak, namaku Kania. Aku dari Semarang, sengaja pindah ke Jakarta untuk bekerja dan ikut kelas IELTS Preparation. Yah, apalagi kalau bukan karena mencoba peluang kuliah di luar negeri,” ujar Kania berseri-seri sampai kelihatan lesung pipinya.

Alicia menyambut uluran tangan Kania “Namaku Alicia. Baiklah kalau begitu Kania, semoga saja kamu mendapatkan hasil yang terbaik di seleksi beasiswa ini, ya …. ” ujarnya tulus.

“Iya Mbak Alicia … Terima kasih, aku tidak akan pernah menyerah mengejar mimpiku,” Kania menjawab penuh semangat.

Halte Harmoni sudah mulai kelihatan dari kejauhan. Sebentar lagi mereka berdua akan berpisah dan menuju tujuannya masing-masing. Alicia akan menyambung perjalanan menuju arah Jalan Rasuna Said, sedangkan Kania melanjutkan perjalanan ke arah Kalideres. Mereka bersiap-siap akan turun dan tidak ada kelanjutan pembicaraan lagi diantara keduanya.

Alicia menghela napas berat. Ya, dia adalah salah satu panitia seleksi beasiswa. Alicia ingat betul dalam berkas yang paling terakhir dia periksa, salah satu peserta yang dinyatakan gagal menerima beasiswa di berkas tersebut bernama Kania Ayu Putri. Alicia gamang pada perasaannya sendiri mengingat betapa besar mimpi dan asa gadis muda itu, ada rasa sedih di hatinya. Tiba-tiba sebuah notifikasi surel berbunyi pada ponsel Kania memecah kesepian. Kania melihat isi notifikasi tersebut.

“Pengumuman hasil seleksi beasiswa StuNed, Mbak” ucap Kania pada Alicia.

“Coba buka surelnya,” Alicia berkata tenang mengatur perasaannya, sebab dia sudah lebih dahulu mengetahui hasilnya. “Apa hasilnya?” Alicia lanjut bertanya.

Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Kania, dia bergeming beberapa saat. Dipandangnya Alicia, ada dialog ketika dua bola mata mereka bertemu. Butiran-butiran bening muncul dari pinggiran mata Kania, namun dia paksakan diri tersenyum sambil sedikit menggigit bibirnya, lalu menggelengkan kepalanya, sebuah isyarat jawaban yang sudah diketahui Alicia. Gadis itu gagal kali ini.

“Tidak apa-apa, Mbak. Aku adalah wanita berhati baja, mana boleh persoalan kecil begini bikin aku lemah,” Kania bertutur sambil mengusap matanya yang sembap.

Ditengoknya wajah cantik Kania yang kini mengalihkan pandangan matanya keluar bus. Gadis itu masih berusaha tersenyum sumringah dibalik topi pet hitamnya meski butiran-butiran bening makin deras membasahi pipinya. Dinikmatinya pemandangan Jakarta dari balik jendela, dia kirimkan sejuta harapan pada marka jalan, trotoar, dan lampu-lampu taman (*)

Pekanbaru, 21 November 2020

***

Cerpen ini dimuat dalam buku Antologi Cerpen “Naray – Ketika Asa Berpendar”, Penerbit Elfa Mediatama, Cikarang Baru, 2020.

Firdaus Herliansyah, seorang peminat dunia literasi yang saat ini berdomisili di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Penulis berprofesi sebagai ASN dan beberapa karyanya telah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram: @firdausherliansyah dan Surel: firdaus.herliansyah@gmail.com

Blog penulis: firdausherliansyah.wordpress.com

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

cerpensastra
Comments (0)
Add Comment