Cinta Ayah: Cerpen Chindy Aptika

Pagi yang sangat cerah telah berhasil membumbui senyumku dan ayah yang tak kalah cerah pula. Pagi ini seperti biasa ayah mengantarku kesekolah menggunakan sepeda yang menemani hari-harinya mencari rupiah untuk diri dan anak semata wayangnya.
“Siap berangkat cintanya ayah!!??”
“Siap ayahnya cinta!!”
“Berangkattt!!”
Begitulah kelakuan kami setiap pagi kala aku akan berangkat sekolah. Rutinitas ini membuat hatiku senang karena bisa menghirup udara pagi dengan ayah menggunakan sepeda yang selalu menemani perjalanan kami.
Ayah selalu memanggilku dengan sebutan “cintanya ayah” memang kedengaran lebay, tapi panggilan itu bergitu bermakna bagi ayah. Namaku memang cinta, namun dibalik sebutan Itu, aku yakin bukan hanya nama tapi tak terhitung betapa besar cinta ayah kepadaku.
“Udah sampai, belajar yang pinter ya Cintanya ayah!” Kata ayah menyemangatiku.
“Iya ayah, pasti. Ayah hati-hati ya kerjanya, Cinta sayang ayah” ujar Cinta sembari mencium punggung tangan ayahnya. Keduanya pun saling melambaikan tangan diiringi dengan senyuman ceria keduanya.
Aku seringkali dihina oleh teman-teman di sekolahku karena pekerjaan ayahku menjadi seorang kuli panggul di pasar daerah rumahku.
Terkadang aku sedih, namun aku selalu ingat ucapan ibuku enam tahun lalu sebelum ibuku meninggal. Ibu pernah berkata, “Ayahmu mencari uang bukan dengan cara yang dilarang Tuhan, selagi halal tidak ada salahnya kan, Nak?” Aku selalu ingat ucapan ibu pada saat itu yang membuat aku tidak merasa malu dengan pekerjaan ayahku.
Aku rindu ibu. Kini aku dibesarkan oleh ayahku sendiri tanpa sosok ibu. Aku bahagia menjalani hari-hariku dengan ayah. Hanya terkadang aku sedih jika mengingat kenangan-kenangan indah bersama ibu, begitu juga dengan ayah. Terkadang ayah bercerita tentang kisah-kisah manis dengan kekasihnya yang kini sudah berada di pelukan Tuhan. Tetapi kenangan biarlah menjadi kenangan, aku yakin ibu sudah bahagia di sana.
Tringgg….tringg….
Bel berbunyi, jam pelajaran pertama dimulai.
“Selamat pagi anak anak!!”
“Selamat pagi Buuu!” Sapa Bu Riska guru Bahasa Indonesia dan disambut hangat oleh 29 muridnya termasuk Cinta.
“Hari ini ibu akan memberikan tugas untuk menceritakan sosok ayah kita masing-masing. Tiga hari lagi bakal ada lomba membuat karya tulis. Siapa yang ceritanya menarik akan ibu pilih untuk mewakili sekolah kita”. Ucap Bu Riska.
“Kalau ceritanya tentang ayah yang kerjanya jadi kuli panggul di pasar emng bisa ikut lomba, Bu? tanya seorang siswi bernama Ola menyindirku dan diikuti dengan tawa siswa yang lain.
Aku hanya menunduk dan mendengarkan Bu Riska memarahi Ola karena kata-katanya yang merendahkan perkerjaan ayahku. Aku tidak marah, sudah biasa rasanya telingaku mendengarkan teman-teman merendahkan keluarga kecilku. Bel istirahat berbunyi menandakan jam pelajaran Bahasa Indonesia telah usai.
“Cinta” Bu Riska memanggilku sebelum ia meninggalkan kelas. Akupun menghampirinya.
“Ibu tertarik dengan cerita kamu, Nak, Ibu memilih kamu mewakili sekolah kita untuk mengikuti lomba. Waktu kita tinggal tiga hari.
Lagipula, ibu percaya kamu pasti bisa menang. Belajar terus ya di rumah”. Ucap Bu Riska begitu membuat hatiku senang. Aku yakin ayah pasti bangga jika aku bisa memenangkan lomba ini.
“Apaa?? Cinta yang ikut lomba menulis? Cerita dia itu hanya cerita ayah miskin yang kerja di pasar Bu. Padahal cerita saya bagus loh bukan cerita murahan seperti dia.” Ucap Ola yang mendengar percakapanku dengan Bu Riska.
“Tidak boleh bicara seperti itu Ola, lain kali kamu juga bisa ikut lomba. Karena kita hanya perlu satu perwakilan, ibu memilih Ola dahulu ya.” Bu Riska menanggapi perkataan Ola.
Kalender di dinding menunjukkan tanggal 5, di mana hari ini adalah hari perlombaan menulis bagi Cinta untuk mewakili sekolahnya. Seperti biasa cinta diantarkan ke sekolah dengan ayahnya.
“Kalau nanti Cintanya ayah menang lomba ayah akan ajak Cinta jalan-jalan di pinggir pasar beli gula-gula yang banyakk untuk Cinta”. Ucap ayah menyemangati di tengah perjalanan bersepeda dengan anak kesayangannya.
Cinta dibesarkan dengan keluarga yang sangat sederhana, jalan-jalan di pinggir pasar untuk membeli satu permen kapas saja sudah membuat Cinta senang karena kesederhanaannya.
Sesampainya di sekolah Cinta pun menaiki tangga menuju kelasnya dengan sedikit senyuman manis menghiasi paginya. Sedikit lagi anak tangga yang akan dinaiki Cinta. Tiba-tiba saja Ola yang berpapasan dengan cinta jatuh karena menabrak tubuh Cinta. Terlihat tubuh Ola menggelinding membuat darah keluar dari kepalanya. Cinta pun lari melewati tangga menolong Ola yang sudah pingsan di bawah tangga.
Warga sekolah pun langsung mengerumuni tempat kejadian tersebut. “Kamu gila yaa? Tega ya kamu mendorong Ola teman kelas kamu sendiri sampai pingsan begini”. Ucap seorang teman Ola kepadaku diikuti hinaan teman yang lain kepada diriku.
“Aku tidak mendorong dia”
“Halahh, mana ada orang jahat mau ngaku, dasar anak kuli!” ucap teman Ola lagi.
Aku sangat bingung dan takut. Aku sama sekali tidak mendorong Ola tetapi mengapa tidak ada yang percaya padaku.
Beberapa menit kemudian, aku dipanggil ke ruang guru. Guru-guru begitu kecewa kepadaku. Begitu sakit hatiku ketika para guru memutuskan untuk menggantikan aku dengan siswa lain sebagai perwakilan lomba. Lebih sakitnya lagi aku diberi sanksi skors selama dua minggu. Aku sangat takut mengecewakan ayah karena semua masalahku hari ini. Sungguh hari yang pahit.
Sesampainya dirumah aku menangis dipelukan ayah menceritakan semua kejadian yang menimpahku. Sedih rasanya telah mengecewakan hati ayah yang sangat menyayangiku.
“Ayah percaya kamu, Nak. Fitnah seringkali membuat banyak hati membenci. Tapi percayalah Tuhan akan menunjukkan kebenaran pada waktunya”. Ucap ayah semakin membuat tangisku pecah.
Hari-hari kulalui dengan membantu ayah mengangkat barang orang di pasar. Walaupun aku sedih karena berhari hari tak sekolah, namun tingkah ayah selalu saja membuatku tertawa kembali.

Sore hari setelah kami selesai melakukan kegiatan, ayah mengajakku duduk di pinggir pasar untuk membeli sebuah permen kapas kesukaanku. Aku melihat orang berlalu-lalang di pasar sembari menunggu ayah membelikanku permen kapas. Tiba-tiba saja Ola dan teman-temannya datang lalu memelukku. Aku sangat terkejut.
“Maafkan aku Cinta. Maafkan aku”. Tangis Ola dipelukanku.
Semua sudah terbongkar. Aku memang tidak mendorong Ola. Ola menjatuhkan dirinya dari tangga agar aku dituduh mendorongnya. Ola melakukan itu karena tak suka melihatku ikut lomba untuk mewakili sekolah.
Aku tidak marah. Aku memang sudah memaafkan Ola sebelum ia meminta maaf kepadaku. Mulai saat ini kami pun berteman.
Ayah yang sedari tadi kutunggu datang membawa permen kapas untukku yang membuat semakin cair suasana.
Ayah mengucapkan terima kasih kepada Ola dan teman-teman yang lain. Ternyata selama ini ayahlah yang mencari kebenaran dengan mencari orang yang melihat kejadian di tangga waktu itu. Dan kabar baiknya lagi besok aku sudah bisa mulai bersekolah kembali seperti sebelumnya.
Terima kasih ayah. Kau tak pernah gagal melukis senyum dibibirku. Kau tetap jadi cinta pertamaku. Aku akan selalu menjadi Cinta yang selalu mencintaimu.

Chindy Aptika, siswa SMA Cendana Pekanbaru

Comments (0)
Add Comment