Daffodil In Canada: Cerpen Yansi Aresta Camila

Melanjutkan sekolah ke luar negara dan memasuki universitas ternama adalah hal yang dinantikan oleh para remaja di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan Indonesia, banyak remaja yang berbondong-bondong melanjutkan sekolah ke luar negara. Beralaskan keinginan menempuh ilmu untuk bangsa ataupun hanya ingin keluar dari negara itu sendiri. Bulan Februari, bulan dimana para siswa kelas XII sibuk mempersiapkan diri menuju jenjang selanjutnya. Dibulan itulah mereka sibuk ujian, ujian, dan ujian. Masa inilah yang sedang dirasakan oleh Isabella atau yang kerap disapa Abel.
Isabella Ararya, anak remaja berusia 17 tahun yang mempunyai darah campuran didalam dirinya. Abel saat ini sedang bersekolah di SMA Swasta di Indonesia. Abel cukup berprestasi disekolahnya. Memenangkan Olimpiade Matematika sudah menjadi passion nya sejak sekolah dasar. Abel berharap semua piagam dan piala nya bisa membawanya pergi dari negara yang sedang ia tinggali sekarang.
“Boleh minta waktunya sebentar? Kakak dari Yayasan Indoemas ingin mensosialisasikan bahwa kami membuka Beasiswa untuk siswa-siswi berprestasi yang ingin masuk ke Universitas di Eropa.” Kelas yang awalnya sedang fokus dengan tugas akhirnya memberi perhatian kepada kakak tersebut.
“Jika berminat, langsung saja hubungi nomor yang ada di selebaran ya adik-adik. Kakak pamit undur diri, terimakasih atas perhatiannya.” Kelas kini mulai ribut membicarakan selebaran tersebut. Banyak Universitas yang mereka impikan disana, termasuk Abel.
“Abel, kamu kan pinter tuh, join aja.” Ucap Jeje, teman sebangku Abel sekaligus sahabat nya.
“Pake nanya, jelas join lah. Aku udah muak disini.” Abel menjawab sambil tertawa, begitupula Jeje.
“Bareng yuk Je, biar aku ada temen. Kamu udah muak juga kan disini?” Ajak Abel sembari merapikan barangnya karena bel pulang sudah berbunyi.
“Gimana yah, tergantung sih Bel. Kalau ada money nya gas aja mah. Lah ini ngasi makan anaknya aja susah. Aku juga ga pernah menang Olimpiade sampe nasional.” Abel menatap raut wajah Jeje lalu menepuk bahu nya pelan.
“Aku bantu deh, aman aja.” Abel tersenyum cerah, menyemangati.
“Jangan deh Bel, kamu udah banyak bantuin aku. Masuk Univ negri aja udah syukur.” Jeje menghela napas dan menggeleng. Abel tau betul bagaimana keadaan Jeje sekarang.
Masa SMA tidak seindah kehidupan SMA yang ada di film dan novel romansa. Abel dan Jeje juga mejadi teman karena mereka senasib saat MOS (Masa Orientasi Sekolah) berlangsung, Abel yang merupakan anak blasteran di bully oleh senior mereka hanya karena gaya berbicara dan rambutnya yang berwarna coklat dan curly, sedangkan Jeje di bully karena keadaannya. Abel tak mengerti dengan negara ini, walaupun banyak ras dan beragam suku bangsa, sesama masyarakatnya masih sering menghina perbedaan tersebut. Itu salah satu hal yang ia tidak suka di negara ini sejak sekolah dasar.
Jeje masuk kesekolah ini dibantu oleh pasangan kaya yang baik hati. Bahkan mereka ingin memelihara Jeje sepenuhnya, tetapi orang tua Jeje bersikeras bahwa mereka bisa mengurusinya. Tetapi tetap saja, memiliki ayah seorang penjudi dan ibu yang temperament tidaklah mudah. Ditambah ia anak pertama perempuan yang memiliki 4 adik laki-laki. Jeje tak tau apa yang orang tuanya pikirkan. Sudahlah susah, malah nambah anak. Itulah yang Jeje katakan jika ia kesal dan bercerita dengan Abel. Pada akhirnya, pasangan itu selalu membayar uang sekolah serta uang saku Jeje secara diam-diam agar tak dimintai oleh Ayahnya.
“Makasih udah nganterin Jeje pulang, hati-hati dijalan ya Bel, Tante.” Jeje turun dari mobil dan tersenyum. Abel melambaikan tangan kepada Jeje sebelum Sang Ibu melajukan mobilnya.
“Mom, tadi disekolah ada orang dari Yayasan Beasiswa dateng, terus ngasi selebaran ini.” Abel membuka pembicaraan dan memberi selebaran itu pada ibunya. Mobil berhenti karena jalanan di Jakarta macet saat jam pulang sekolah.
Sang Ibu mengambil selebaran tersebut dan membacannya. “Abel mau nyusul Dad ke Canada ya?” Tepat sasaran. Abel sebenarnya tak bermaksud membuat sang Ibu mengingat tentang Ayahnya, tetapi apa boleh buat.
“Rencana nya sih gitu, tapi Momma harus ikut ya?” Kini senyum sang ibu memudar. Nayanika Ararya, itulah nama Ibunya Abel. Nayanika berasal dari keluarga yang berada dan itu membuat ia bersekolah di France hingga bertemu dengan Ayah Abel. Tetapi hubungan mereka tak berlangsung lama, setelah Abel lahir dan berumur 4 tahun, Nayanika ingin kembali ke Indonesia, tetapi Ayah Abel tak mau ikut dengan nya, maka saat itu mereka pun berpisah. Walaupun begitu, Sang Ayah masih sering menghubungi Abel dan sesekali datang ke Indonesia untuk mengunjunginya.
Melihat raut wajah Sang Ibu, Abel menunduk lesu. “Gamau ya?” Ibunya tersenyum dan menggeleng, lalu mengelus bahunya.
Semenjak saat itu, ambisi nya meningkat. Abel selalu serius mengikuti pelajaran, bahkan ia sampai meminta jam belajar tambahan di tempat les. Sore itu, angin berhembus kencang dan tumbuhan menari-nari dibuatnya. Abel memutuskan untuk berjalan kaki setelah les selesai. Jalanan itu sepi, cahaya oranye menyinari pucuk kepalanya.
“Abel, long time no see.” Suara itu membuat Abel termangu. Ia hampir saja menjatuhkan botol minum yang ada ditangannya. Orang yang selama ini dia rindukan sekarang tepat di depan rumahnya, memegang buket bunga Daffodil. Abel tau alasan sang ayah selalu membawa bunga Daffodil setiap kali mengunjunginya. Daffodil memiliki makna kelahiran kembali saat musim semi yang membangkitkan semangat. Abel berlari ke arah Sang Ayah dan melompat ke pelukannya. Tak peduli jika dilihat orang di sekitarnya, ia hanya sangat rindu dengan Ayahnya.
“Kamu semakin besar saja, where did my little princess go?” Ucap sang ayah lagi masih memeluk putrinya erat. Abel menangis di pelukannya. Sedangkan Sang Ibu tersenyum, tubuhnya bersandar di ambang pintu. Hatinya luluh setelah sekian lama melihat putrinya bersama Ayahnya.
“Why you didn’t tell me that you come?” Abel terisak dan melepaskan pelukannya dari sang ayah. Ia mengelap pipinya yang basah. Sang Ayah mengangkat kedua tangan dan bahunya dan tersenyum.
“Surprise…? Dad here to pick you up.” Manik coklat itu membesar. Menjemputnya? Apa maksud ibunya?
“To pick me up?” Tanya Abel sekali lagi, tak percaya. Ia juga tak tega meninggalkan Sang Ibu sendirian di Indonesia. Momma mengangguk dan berjalan menuju mereka berdua di halaman depan rumah. Momma merangkulku dan Dad untuk masuk ke dalam rumah. Momma menceritakan semua nya kepada Abel. Sang Ayah sudah mendaftarkannya di Universitas Toronto. Universitas itu adalah impiannya. Abel tak menyangka jika ia sudah diterima di sana, jadi Ayahnya kemari untuk menjemput.
Ayahnya berdiam selama sebulan di rumahnya. Ayah dan Ibunya berlagak seperti orang tua pada umunya selama sebulan dan itu membuat semangat Abel bertambah. Setelah Ujian Nasional selesai dan Ijazah sudah diberikan, Abel dan Ayahnya segera berangkat ke Canada, sedangkan Sang Ibu tetap tinggal di Indonesia. Momma berjanji akan sering bermain ke Canada untuk menghapuskan rasa rindu pada putri satu-satunya. Saat pesawat sudah mendarat di Canada, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan mobil Ayahnya. Lagu Forever Young dari Aphaville mengalun di dalam mobil. Abel hafal betul dengan lagu itu, lagu favorit ayahnya. Mobil itu melaju dan melewati Universitas Toronto, Sang Ayah sengaja melewati kawasan itu agar putrinya tak penasaran lagi dengan indahnya suasana di Universitas Toronto. Terlihat jelas dari manik coklat putri kesayangannya yang berbinar dan sangat senang melihat ke jendela mobil. Untuk sang putri, ia akan melakukan apa pun asal putrinya bahagia.
Sesampai di depan rumah ayahnya, Bunga Daffodil bermekaran indah di bawah jendela kamarnya. Bahkan dekorasi kamar Abel masih sama seperti dulu, bernuansa klasik dan dominan dengan warna kuning pastel. Seminggu kemudian, hari yang Abel tunggu tiba. Kini ia sudah resmi menjadi mahasiswa Universitas Toronto, Ia berdiri didepan gedung klasik berwarna coklat batu tersebut. Senyum nya merekah, usaha yang selama ini dia lakukan akhirnya membuahkan hasil. Ia pun masuk ke dalam gedung dan di situlah hidup baru Abel sebagai mahasiswa Toronto dimulai.
Tamat

1 Agustus 2024.

Comments (0)
Add Comment