Dodoi Emak: Cerpen Suci Rahmadani

Buah hatiku
Junjungan jiwa
Buah hatiku
Junjungan jiwa
Tidurlah tidur ya anak
Mak dodoikan ya sayang
Tidurlah tidur ya anak
Mak dodoikan ya sayang
Dodoi si dodoi
*

Terngiang selalu emak menyanyikan dodoi, sejuk rasanya telinga mendengar emak mendodoikan. Bila emak tak mendodoikan mata tak pejam. Isapan jempol tangan pun tak mampu membuat mata terkantuk. Emak mendodoi penuh cinta dan sayang. Bagiku dodoi emak bak senandung surga yang melelapkan. Semua kenangan berkelebat di kepala.
“Inoy….” Suara emak begitu ranum dan empuk ditelingaku, emak keluar dari kamar sambil membawakan tas ransel yang berisi baju-bajuku.
“Ya Mak…” sambil menyeruput teh hangat buatan emak yang dicampur gula aren, khas sekali aromanya.
“Mak harap coba kau pikir ulang untuk kerja di kota.” Suara parau emak kembali terdengar, sepertinya emak sangat payah untuk melepasku.
“Emak tenanglah, Inoy janji sekali dalam sebulan akan pulang lihat emak.” Aku memeluk emak dari belakang.
“Do’akan anak gadismu ini ya, Mak.”
“Noy, emak akan selalu mendoakan mu sayang, balek ya nak lihat emak dan adik-adikmu.” Suara Mak semakin tercekat, pelukan emak terasa hangat. Lambaian tangan emak meneteskan bulir air dari sudut mata.
Sukses memang tidak memandang nasib dan nasab. Di kota aku mendapatkan pekerjaan yang layak, bisa dibilang ini pekerjaan yang sangat mapan. Dari semua kawan-kawan di kampung, hanya akulah yang berhasil. Selebihnya bekerja di ladang, ada yang jadi pemanggul ikan dan sayur, paling hebat jadi toke ayam. Ada yang tak tamat sekolah langsung nikah. Ekonomi membuat masyarakat di kampung tak ada pilihan, selain menikahkan anak gadisnya.
Pekajang, ya itulah nama kampungku. Sebuah desa terluar dari Kabupaten Lingga. Berbatasan dengan Belinyu, Bangka di Selatan. Secara historis Pekajang tetap berada di bawah Lingga. Kampung ini dinamai Pekajang karena dulu alat transportasi menggunakan kajang. Yaitu sejenis tikar dari daun nipah yang dianyam untuk atap di atas perahu atau sampan.

Tidurlah tidur ya anak
mak dodoikan ya sayang
Dodoi si dodoi

Terngiang kembali lantunan suara emak menidurkan anaknya. Kembali aku buka secarik kertas berisikan surat dari emak.
“Pulanglah Nak, emak sangat merindukan engkau. Adik-adikmu dah sangat ingin berjumpa dengan kakaknya.” Begitulah isi surat emak memintaku untuk pulang.
Emak begitu banyak jasanya dalam merawat dan membesarkanku. Tapi apa iya emak begitu menyayangiku seperti adik-adikku yang lain. Sebab aku bukan anak kandung emak. Ibu meninggal saat melahirkan aku, kemudian disusul bapak pun pergi meninggalkan karena ibu tak ada. Akhirnya bapak menikah lagi dengan perempuan lain. Emak adalah bidan di kampung yang membantu persalinan, dikenal sebagai dukun beranak di kampung.
Emaklah yang menjagaku, sebab bapak dan ibu tiri tak mau mengasuhku. Padahal bapak adalah satu-satunya tempat aku menaruh harapan. Bahkan sampai kini aku tak tahu seperti apa wajah bapak kandungku.
Sudah hampir lima bulan di kota orang, tak juga ada hasrat ingin balik ke desa, entah kenapa semakin ke sini aku menganggap bahwa cintanya emak hanyalah sebatas anak angkat. Bahkan aku merasa emak ingin dibalas segala jasanya karena sudah mengasuhku, emak tahu kalau kini aku sudah berhasil. Pikiran ini semakin berkelindan di kepalaku. Tak mungkin ada orang yang mau merawat kalau tak ada imbalan atau jasanya.
“Teh Inoy, saya bisa izin hari ini, ibu saya sakit keras.” Salah satu karyawan pabrik minta izin. Aku bekerja sebagai direktur di perusahaan pabrik kertas.
“Kalau kamu izin, siapa yang akan mengolah barang-barang ini?”
“Teh, ibu saya sekarang harus dibawa ke rumah sakit, walaupun ibu bukanlah ibu kandung saya, tapi ibu adalah orang yang merawat saya dari kecil.” Aku tersentak, rasa penasaranku semakin menjadi.
“Ngapain kamu mau merawat ibumu, kan dia bukan ibu kandungmu?”
“Perlukah saya menjelaskannya, Teh? Saya harus buru-buru membawa ibu saya.” Karyawanku sepertinya sudah sangat khawatir dengan kondisi ibunya. Lamunanku langsung mengarah kepada emak.
“Teh… Teh Inoy, apakah saya boleh izin? Saya tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu saya. Teh Inoy sangat beruntung ibunya masih sehat, dan menyayangi Teh Inoy. Sementara ibu saya sudah sakit-sakitan dan tidak ada yang mengurusnya.
“Ya, pergilah. Urus ibumu sampai pulih.”
“Terima kasih banyak Teh Inoy.”
Dodoi emak kembali mengalun merdu di telinga, pikiranku menjadi kacau. Seketika aku menjadi rindu sama emak. Rindu itu semakin berkelebat, masih terkenang dan terbayang sujudnya emak, doa-doa emak, dan semburat wajah emak yang semakin tua. Rasanya aku ingin memeluk emak sekarang juga.
Ku buka kembali surat dari emak, sesak rasanya hati ini. Emak meminta aku pulang, sudah hampir setahun aku tak ketemu emak.
“Kring ….. Kring….” Hp ku berdering berkali-kali.
“Kak Inoy ini Yunus, Emak Kak.” Suara Yunus, adik angkatku terdengar begitu sedih.
“Emak dah meninggal Kak, emak dah tak ada lagi Kak Inoy.”
“Kenapa kau baru menelponku Yunus.”
“Hp Kak Inoy tak diangkat-angkat sejak tadi, kami semua sudah panik, mak terus menyebut-nyebut Kak Inoy.” Kulihat hp, ternyata benar sudah 11 kali panggilan tak terjawab dari Yunus. Ternyata Yunus menelpon sejak karyawanku meminta izin tadi. Ya Allah tubuhku rasanya lunglai, jantungku serasa berhenti berdetak.
“Yunus, kakak segera pulang.”
Aku segera menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, hatiku remuk redam rasanya, disaat ingin bertemu emak, emak malah pergi meninggalkanku.

Tidurlah tidur ya anak
mak dodoikan ya sayang
Tidurlah tidur ya anak
mak dodoikan ya sayang
Dodoi si dodoi

Dodoi emak terus memacu ingatanku. Duniaku seakan runtuh. Pacuan mobil sudah tidak bisa terkendalikan lagi. Berharap bisa melihat emak untuk yang terakhir kalinya. Setiba di rumah ternyata benar, sudah ramai orang di rumah, berhamburan tubuh mungil Yunus memelukku dengan erat.
“Emak dah tak ada, Kak.” Isak Yunus begitu deras.
Aku tak sanggup menyembunyikan rasa perih di hati. Kupeluk erat Yunus, adik mungilku yang masih berusia 10 tahun. Emak begitu cantik di peraduannya, senyumnya begitu teduh, wajah emak bagaikan rembulan dimalam kelam.
Astaghfirullah…. Astaghfirullah, apa yang sudah kulakukan pada emak, teringat kembali kenangan indah bersama emak, lembutnya tangan emak membelai rambutku, suara emak bagaikan melodi terindah yang kudengar. Hatiku semakin getir, rasanya tak kuasa mengenang kebersamaan bersama emak.
“Inoy mencintai emak, maafkan Inoy Mak.” Kukecup lembut kening emak. Inilah pertemuan terakhir bersama emak.
“Inoy berjanji akan merawat dan menjaga adik-adik Mak. Tak kan kutinggalkan kampung ini lagi.”
Pada akhirnya aku membuka pabrik kertas yang ada di Desa Pekajang. Seluruh karyawannya dari masyarakat yang ada di Desa Pekajang, Lingga. Emak akan kutunaikan janjiku padamu. Dodoi emak menjadi melodi terindah dalam hidupku.

*Lirik lagu Dodoi si Dodoi.

Suci Rahmadani. Guru di Abdurrab Islamic School. Penulis merupakan penerima beasiswa LPDP dan KEMENAG RI untuk program certified digital teacher. Motivasi terbesar dari penulis adalah bisa memberikan banyak kebermanfaatan untuk ummat setidaknya melalui tulisan

Comments (0)
Add Comment