Jujur Itu Penting: Cerpen Mira Ariyanti

“Tak ada kuterima kok, Bu,” ucapku meyakinkan Bunda Ammar. Tapi sepertinya Bunda Ammar tidak yakin dengan ucapanku tersebut. Beliau mendatangi kelasku dan mohon ijin ke Bu Guru untuk menyelesaikan masalah ini. Masalah ini mengenai uang komite yang harusnya Ammar titipkan padaku karena Bundaku sendiri merupakan bendahara komite di kelas u. Ya…sekarang aku duduk di kelas V tingkat Sekolah Dasar Negeri di daerahku.
Akhirnya bertemulah kami yang di antaranya aku sendiri, Ammar, Bunda Ammar dan ibu guru kelasku.
“Coba ingat-ingat lagi, Nak!” ucap bu guru kepadaku.
“Sudah Bu … tak ada Ammar menitipkan uang kas padaku, aku yakin sekali kok, Bu!” jawabku yang mulai agak sedikit kesal dengan penyelidikan ini.
“Aku ingat sekali kok Bu, waktu itu aku setorkan ke Faruq di pojok baca kelas. Ada saksinya juga, cobalah ibu tanya ke teman-teman di kelas kita,” ujar Ammar yang akhirnya diiyakan oleh bu guru.
Kemudian dipanggillah teman-temanku yang lain diantaranya ada Kevin, Kharel, Talita, Abyan dan Farhan.
“Aku lihat Faruq megang duit banyak Bu,”ucap Abyan.
“Aku lihat Ammar ngasih uang ke Faruq sebelum bel masuk berbunyi, Bu.” ujar Kevin dan diiyakan juga oleh teman-temanku yang lain. Aku pun masih mengelak kesaksian dari teman-teman ku tersebut. Bu Guru belum kehabisan cara, beliau menelpon Bundaku untuk segera datang ke sekolah demi mencari solusi pemecahan masalah ini. Tak lama bundaku tiba di kelasku. Berdiskusilah kami kembali yaitu antara aku dan bundaku, Ammar bersama bundanya dan wali kelasku.
“Begini Nak, Bunda Ammar cuman butuh pengakuanmu mengenai uang yang disetor Ammar ada atau tidak, Bunda cuma butuh kejujuran. Hanya itu. Karena bunda menanamkan nilai kejujuran kepada anak bunda ini. Bunda yakin Ammar sudah bunda titipi uang tersebut dan bunda berharap kamu juga jujur betul atau tidak menerima uang tersebut, Nak,” ucap Bunda Ammar panjang lebar.
Sementara aku masih tetap dengan pendirianku kalau Ammar tidak pernah memberikan uang titipan dari bundanya itu.
“Faruq kan sudah bilang Bun, biasanya kalau dia terima langsung kasih ke saya kok Bun,” timpal bundaku yang dari tadi menyimak omelan Bunda Ammar kepadaku. Pastinya sebagai seorang ibu tak akan rela anaknya diomelin, walaupun sendirinya saya sering kena omelan di rumah olehnya. Bunda Ammar sangat kecewa sekali mendengar pembelaan dari bundaku tersebut. Akhirnya ada sedikit adu mulut antara mereka berdua yang segera direlai oleh guru kelasku yang sedari tadi menyimak perbincangan kami.
Nampak sekali kekecewaan dari muka Bunda Ammar, dia tak menyangka selama ini anaknya berani tidak jujur kepadanya. Dia tak menyangka amanahnya tak tersampaikan. Ammar menangis terisak isak sambil berkata “Ammar jujur bunda…hiks..hiks.. uangnya betul sudah Ammar setorkan ke Faruq Bun,” ujar Ammar kepada bundanya.
“Terus kenapa kata Faruq tidak ada Ammar, kalau kamu bohong berarti kamu ingin melihat bundamu ini mati ya kan Nak! Apa guna bunda melahirkan anak yang suka berbohong!” ujar Bunda Ammar yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Isak tangis Ammar makin menjadi – jadi mendengar keluh kesah dan amarah bundanya.
“Sabar Bunda Ammar,” ucap bu guru dan Bunda Faruq.
“Saya mencatat uang yang dibawa Faruq ke rumah Bun, dan untuk uang Ammar tidak ada saya terima dari Faruq, makanya tidak saya catat, Bun,” ucap Bunda Faruq.
Walaupun dengan beberapa saksi dari teman-temanku dan konfirmasi dari bundaku tetap Bunda Ammar belum tenang. Beliau meminta kepada bu guru untuk menyelesaikan masalah ini di Kantor Majelis Guru bersama guru piket yang sedang bertugas di hari ini.
Sesampainya di ruang majelis guru. Bu guru langsung mengabari guru piket yang bertugas kemudian mempersilahkan kami untuk duduk bersama bermusyawarah dengan kepala dingin agar masalah ini terselesaikan dengan baik. Bu guru juga memanggil kembali teman-teman yang menjadi saksi yang melihat kejadian perkara di waktu Ammar menyetorkan uang titipan nya kepadaku guna penyelidikan lebih lanjut.
Aku masih bersikeras juga dengan ceritaku dari awal. Ammar juga masih tetap keukeh dengan omongannya. Dia meyakinkan bundanya bahwasanya dia betul betul telah bersikap jujur sesuai ajaran kedua orangtuanya. Bu guru juga selalu berkata kalau kejujuran itu merupakan kunci sukses paling utama dalam kehidupan kita.
Setelah pembicaraan selesai, sepertinya Bunda Ammar yakin jika anaknya betul betul berkata jujur.
“Baik Bu Guru, terima kasih sudah membantu mencari solusi untuk masalah ini. Saya sangat lega sekali. Sekarang saya yakin bahwa anak saya betul sudah sangat jujur sekali. Saya tidak marah kok Bu, tak apa kalau Bunda Faruq tak mencatat di buku setorannya, yang jelas saya sudah bisa menilai yang mana anak jujur dan tidak. Saya yakin anak saya sudah jujur,” ucap Bunda Ammar dengan yakin dan lega.
“Bunda Faruq, uang tak masalah bagi saya. Hal terpenting sekarang saya sudah sangat yakin kalau anak saya sudah berkata jujur,” kemudian Bunda Ammar minta izin pamit dari sekolah karena ada keperluan lain yang sedang menantinya.
Bundaku menatap tajam ke arahku. Mungkin dia mulai menyelidikku. Aku merasakan hal tersebut dari tatapan matanya. Tapi ya sudahlah, ini sudah terlanjur terjadi. Aku tak mungkin mengakui perbuatanku secepat ini. Aku hanya bisa pasrah dan berharap semua akan baik-baik saja. Walaupun aku sudah berbuat tak jujur dalam hal ini.
Bundaku pun pamit karena ada keperluan yang akhirnya tinggalah aku sendiri bersama guru piket. Karena Bu Guru kelasku juga harus mengajari teman-teman ku yang berada di kelas.
“Nak, sekarang kita hanya berdua lho, Nak. Nggak apa apa sama ibu ceritakan gimana kejadiannya, dan uangnya dimana sekarang?” ujar guru piket yang sedari tadi berada di sampingku. Aku masih diam membisu. Sepertinya beliau sangat yakin sekali kalau uang itu sudah disetor Ammar dan ada padaku.
Sudah setengah jam guru piket menasihatiku, banyak hal yang beliau ceritakan kepadaku. Sampai ke sebuah kisah yang disebutkannya yaitu tentang seorang anak pendusta yang mencuri di kelas. Kemudian anak tersebut merasa jiwanya tak tentram, hatinya dihantui rasa bersalah. Tak ada satupun yang bisa dia lakukan dengan fokus dan konsentrasi. hanya terngiang-ngiang akan dosa yang telah dia lakukan. Keesokan paginya anak tersebut mengakui kesalahan kesalahan yang dia perbuat, serta akhirnya anak tersebut minta maaf atas perbuatannya. Berharap maaf dari guru kelas, teman-teman dan orang-orang yang pernah dirugikan atas sikapnya tersebut.
Aku masih mendengarnya dengan diam. Kusimak cerita Bu Guru tersebut dengan baik. Walaupun begitu aku masih tetap teguh dengan pendirianku. Aku tak menerima duit yang disetorkan Ammar. Tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi. Tak berasa aku berada di kantor majelis guru mulai pukul 08.00 Wib sampai jam pelajaran usai. Sedikitpun tak tergerak hatiku untuk mengakui uang tersebut yang sudah di setor Ammar. Aku masih diam sampai Ibu Guru kelas menjemputku.
“Baiklah Nak, sekarang sudah waktunya pulang,” kata guru kelasku. Kujemput tas dan perlengkapan belajarku yang sedari tadi tinggal di dalam kelas. Entah apa yang ada di pikiran guru piket dan guru kelasku sekarang. Mungkin mereka nanti akan bertanya lagi kepadaku, atau ntah nanti dirumah bundaku yang akan bertanya kembali mengenai uang tersebut.
Setiba di rumah aku bersikap seperti biasa. Kami makan siang bersama. Ada bunda, adek dan nenekku.
“Ada acara apa di sekolah, Nak?” tanya nenekku.
“Tak ada apa apa, Nek,” jawabku seadanya. Sepertinya nenek sudah tahu kejadian yang menimpa aku dan bundaku seharian ini disekolah. Kutatap wajah Bunda yang sedari tadi hanya diam mematung. Di situ hatiku mulai merasa gundah gelisah. Masih terngiang -ngiang cerita yang disampaikan oleh ibu guru piket saat kami di ruang majelis guru tadi.
Apakah hal yang sama bisa terjadi padaku. Ahhh…semoga tidak. Pikirku dalam hati. Selera makanku pun mulai berkurang. Rasa lapar sepulang sekolah pun lenyap seketika. Seandainya bunda tahu jika uang itu ada padaku. Seandainya dari kemarin aku jujur menyetorkan uang itu kepada bunda. Seandainya aku tak membelanjakannya. Seandainya aku jujur. Mungkin sekarang aku bisa menikmati masakan bunda yang sangat lezat ini.
Apalagi setelah seharian ini aku diinterogasi oleh Bunda Ammar, Bu Guru dan guru piket di sekolah. Sungguh aku sangat lelah. Tapi apa boleh buat. Aku harus bertahan sementara ini. Semoga kegelisahanku ini akan segera berakhir.
Nenek memperhatikan tingkah anehku.
“Kenapa tak dimakan, Nak?” tanya nenek.
“Udah kenyang, Nek,” jawabku singkat dan beranjak pergi dari meja makan menuju kamarku. Kucoba menenangkan hatiku yang sudah mulai tidak tenang. Kucoba pejamkan mata, tetapi tak bisa. Aku masih memikirkan kejadian tersebut.
Saat itu sebelum bel masuk berbunyi. Di pojok baca kelasku Ammar menyetorkan uang sebanyak 60ribu kepadaku. Setan dalam hatiku berbisik. Akhirnya aku khilaf. Kubelanjakan sebagian uang tersebut dan selebihnya ku simpan di dalam tasku. Kupaksakan mataku untuk terpejam siang ini. Tapi tetap tak bisa. Aku heran, kenapa jadi susah begini. biasanya sepulang sekolah pasti aku kecapean dan tertidur sangat mudah.
Kegelisahanku ini tercium oleh nenekku yang ternyata sedari tadi melihat gelagat aneh pada diriku. Nenek masuk kekamarku. Kemudian mengusap rambutku. Aku tak tahan lagi, kutumpahkan semua kegelisahan di hatiku, kuceritakan semua yang terjadi pada hari ini ke nenek. Nenek hanya mendengarnya dengan tenang. Nenek tidak seperti bunda yang selalu memandangku dengan pandangan aneh yang sangat mencurigakan.
“Nek, aku membelanjakan uang setoran komite Ammar, Nek,” ujarku jujur.
“Dibelikan apa aja, Far?” tanya nenek masih dengan nada yang lembut.
“Kubelikan mainan dan makanan tadi di sekolah, Nek,” ujarku dengan jujur. Kukeluarkan sisanya dari dalam tasku. Kuperlihatkan kepada nenek bahwa uangnya tidak kuhabiskan semuanya. Aku merasa lebih tenang setelah bercerita kepada nenek.
Ternyata di balik pintu kamarku. Sedari tadi bundaku memperhatikan dan menyimak pembicaraan kami. Setelah dia mengetahui hal tersebut, dia masuk kekamarku dan berkata “Nak, coba dari tadi kamu jujur di depan Bunda Ammar, pastinya kamu tak akan merasa bersalah seperti ini, atau coba kamu amanah dan langsung menyetorkan ke bunda, mungkin kamu nggak akan segelisah ini, Nak,” ucap bunda yang mulai tenang dan dengan wajah lembutnya yang manis.
Rasa takutku semakin menghilang, yang tinggal sekarang hanyalah rasa penyesalan pada diri sendiri. Kenapa tak menjadi anak yang jujur baik dari tingkah laku dan perbuatan. Karena jujur itu ternyata sangat penting.

Mira Ariyanti. Menulis merupakan mimpinya, agar bisa bermanfaat dan memberi mamfaat bagi para pembaca. Walaupun masih sangat minim kulitas karya. Facebook: Mira_Yanti, instragram: miraariyanti29, email: miraariyanti93@guru.sd.belajar.id

Comments (0)
Add Comment