Kacamata Min Plus
Oleh: Mohd. Nasir
Kacamata itu dibeli Basyir di optic terkenal di kota B. Harganya tidak mahal untuk orang sekelas Bupati. Tapi bagi Basyir, cukup menguras penghasilannya. Ia harus menyisihkan uang belanja setiap bulan dengan cara menghemat pengeluaran untuk kebutuhan pokok.
Basyir memang sudah harus berkacamata. Matanya mulai bermasalah begitu ia memasuki usia 40 tahun. Awalnya, ia tidak tahu bahwa matanya sudah bermasalah bila mau membaca. Waktu pertama kali tahu, yaitu sewaktu ia mau membaca koran. Tulisan di koran itu terlihat agak kabur dan sulit untuk dibaca. Namun ketika jarak antara koran dan matanya agak dijauhkan sedikit, koran itu bisa dibacanya seperti biasa.
Basyir heran, kenapa matanya seperti itu.
Untuk mengetahui masalah penglihatannya itu, Basyir pergi ke optic terkenal di kota B, kota tempat tinggalnya. Di situ ia memeriksa matanya dengan peralatan sederhana dan canggih yang ada di optic itu. Hasilnya, mata Basyir min 1,0, dan plus 0,5.
“Bapak mau kaca min saja, atau kaca min plus?” tanya pelayan di optic itu.
“Maksudnya?” Basyir balik bertanya.
“Kalau min saja, mata Bapak terbantu untuk pandangan dekat. Bapak bisa membaca seperti mata normal. Kekurangan daya pandang 1,0 tadi diselamatkan oleh kaca min itu. Tapi pandangan jauh bermasalah sedikit,” jelas pelayan itu.
“Kalau begitu, pasang yang min plus,” kata Basyir.
Kacamata min plus itu kini sudah terpasang. Ke mana-mana dan di mana-mana tetap terpasang, kecuali waktu tidur dan mandi, serta berwudhu. Itu anjuran pelayan optic ketika Basyir membeli kacamata itu. Katanya, dengan cara selalu dipakai, akan membantu kerusakan pandangan mata.
Kini Basyir sdh bisa membaca koran dan majalah seperti normal. Ia tak perlu menjauh dan mendekatkan bacaannya ketika sedang membaca, seperti yang dilakukannya sebelum kacamata itu ada.
Sewaktu berkendaraan, ia sudah bisa melihat dengan jelas kenderaan yang jauh di depan. Plat kenderaan itu bisa terbaca dengan baik.
Dulu sebelum kacamata itu ada, ia sering tak menyapa orang-orang yang sebetulnya dia kenal. Tapi karena wajah orang itu tak begitu jelas, Basyir jadi ragu untuk menyapanya.
Kacamata itu terus dipakai Basyir. Kini sudah masuk tahun yang kedua ia berkacamata min plus. Basyir tidak merasakan perubahan baik pada matanya setelah setahun memakai kacamata itu secara terus-menerus, kecuali pada saat-saat tertentu. Bila kacamata itu dibuka, ia merasakan matanya semakin kabur bila dibandingkan dengan sebelum memakai kacamata itu.
Akhir-akhir ini, Basyir tak bisa menanggalkan kacamata walaikum tidur. Sebab, begitu terbangun ia melihat di sekelilingnya agak kabur. Kadang-kadang bukan hanya kabur. Tetapi pandangannya agak berubah, dan kadang-kadang ada pandangan menakutkan.
Suatu malam, Basyir hampir menjerit ketakutan. Begitu terbangun, dilihatnya ada pandangan amat menakutkan berbaring di sampingnya. Untung cepat ia memasang kacamata. Rupanya,. yang dilihatnya amat menakutkan itu adalah istrinya.
“Ada apa, Bang?’ tanya istrinya terbangun karena mendengar suara nafas Basyir berbunyi seperti orang dalam ketakutan.
“Astaghfirullah,”.Basyir mengucap dan mengurut dada.
Basyir menatap wajah istrinya lama-lama setelah kacamata terpasang. Diingatnya kembali wajah yang dilihatnya ketika terbangun tanpa kacamata. Sepertinya tak mirip sedikitpun dengan wajah istrinya yang ditatapnya pakai kacamata min plus itu.
Istri Basyir cantik. Kulitnya memang tidak seputih kulit orang Cina. Tapi lebih putih dari rata-rata kulit orang Indonesia yang disebut sawo matang. Hidung istrinya taklah semancung hidung orang Barat. Tapi bukanlah seperti rata-rata bentuk hidung orang Indonesia, yang kebanyakan mirip seperti buah jambu air. Mulut Mirna, istri Basyir, mungil dengan bibir yang kemerahan. Akan tetapi, kenapa terlihat begitu menakutkan malam itu? Apakah karena mata Basyir sudah begitu parah rusaknya? Sehingga, bila tanpa kacamata, semua yang bagus-bagus terlihat begitu jeleknya?
“Kenapa, Bang?” tanya istrinya heran, karena belum pernah Basyir menatapnya selama itu.
“Hehe …!”
“Abang ada apa?” tanya istrinya lagi.
“Tak ada apa-apa,” jawab Basyir merasa serba salah.
Basyir rasanya ingin menceritakan pada istrinya tentang apa yang dilihatnya malam itu. Tapi ia takut istrinya akan berpikir macam-macam setelah itu.
Basyir mengalihkan pembicaraan kepada hal lain agar istrinya tidak lagi bertanya tentang apa yang sedang dipikirkannya saat itu. Namun, dalam pikiran Basyir tak berkurang tentang yang dipikirkannya itu.
Kini kacamata min plus itu terpasang kapan pun, dalam situasi apa pun. Dulu, waktu mandi dan berwudhu, pasti dilepas. Sekarang sudah tidak bisa. Bukan saja membuat pandangan Basyir jadi kabur atau gelap jika tidak berkacamata, tapi sesuatu yang dilihatnya jadi berubah. Istrinya yang secantik itu, bisa terlihat amat menakutkan.
Namun, lama-lama Basyir jadi ragu. Ragu, manakah yang sesungguhnya? Apa yang dilihatnya pakai kacamata min plus, atau yang terlihat ketika tidak pakai kacamata? Bukankah kacamata itu membuat yang tidak terlihat jelas menjadi jelas? Yang tak nampak jadi nampak?
Yang paling diragukannya adalah istrinya.
Agar hatinya tak macam-macam ketika melihat istrinya, dia membeli kacamata baru. Kacamata yang bila dipakai, terlihat istrinya seperti bidadari.