Hari ini adalah hari ketiga puluh sejak aku terpaksa harus melepaskan semua mimpi-mimpiku. Meski nyatanya mimpi-mimpi itu tleah lama beranjak dari hidupku. Lalu pagi ini, aku sangat berharap ketika aku membuka mataku, aku tak lagi dalam jeruji-jeruji besi yang memasungku bahkan untuk sekedar melihat dunia. Aku teramat malu.
Lelaki berseragam yang belakangan tak asing bagiku, kali ini membuka gemboknya.
“Ada keluargamu.”
Aku berkerut kening. Keluarga? Kata-kata itu pun sebenarnya telah lama hilang dari ingatanku. Aku mengikuti maunya lelaki berseragam itu. Dibawanya aku ke ruangan khusus. Di sana, telah menunggu seorang wanita dan ditemani seorang pria. Lelaki berseragam meninggalkanku.
“Kamu terlihat semakin kurus, Nak,” wanita itu membuka pembicaraan.
“Nak?”
Aku membuang muka. Aku terlanjur menaruh benci pada keduanya. Wanita itu ringan saja memanggilku dengan sapaan ‘nak.’ Pria di sampingnya pun tampak acuh tak acuh.
“Ini salah Ibu. Ini semua salah Ibu,” air matanya mulai menetes satu per satu. “Tapi itu juga salah Ayahmu ini,” tambah wanita itu.
“Apa kau bilang? Salahku?”
Pria di sampingnya berdiri hendak menampar.
“Iya, kalau kau juga turut membantu menjaga anakmu. Tak membiarkanku sendiri, maka ini semua takkan terjadi,” wanita itu kini turut berdiri.
“Kau,” tangan pria itu mendarat di pipi sang wanita.
“Kau berhenti!” teriakku. “Jika kalian datang kesini hanya untuk bertengkar, kumohon agar kalian segera meninggalkan tempat ini. Omong kosong dengan mulut kalian,”
Pria itu benar-benar pergi meninggalkan ruangan. Selangkah ia pergi, ia membalikkan tubuhnya sambil menunjuk ke arahku.
“Kau perlu tahu. Aku dan wanita ini sudah tidak ada hubungan lagi.”
Pria itu sekarang benar-benar pergi. Wanita yang wajahnya tak lagi mulus itu terduduk kembali. Tangisnya semakin menjadi.
“Bukan ini yang kuinginkan. Sungguh. Aku tak mengerti mengapa niat baikku justru menjadi bumerang bagi keluargaku. Kini, kau pun tak sudi menganggapku sebagai ibumu. Lengkap sudah penderitaanku.”
Wanita itu menghantuk-hantukkan kepalanya ke meja di depannya. Aku masih duduk di hadapannya. Berkali ia menghantukkan kepalanya, aku pun tak sanggup. Kuangkat kepalanya dan kubiarkan keadaan tetap sama. Lama kami berdiam pada keadaan yang mungkin sama-sama bingung. Lelaki berseragam sudah masuk satu kali mengingatkanku bahwa jadwal berkunjung sudah hampir selesai. Aku meminta penangguhan waktu.
“Aku ingat, waktu aku kecil kalian selalu memintaku untuk menjadi juara. Agar dapat membanggakan kalian di depan umum. Aku turuti itu. Aku pun tak ada beban untuk menjadi juara. Aku justru senang dapat membahagiakan kalian dengan melihatku menjadi juara.
Sejak saat itu, aku pun semakin bertekad untuk terus memberikan yang terbaik agar kalian bahagia. Tak ada yang lebih indah dan berharga daripada memberikan kebahagiaan bagi kalian berdua. Aku pun tahu diri. Aku adalah anak satu-satunya. Aku harus memberikan yang terbaik.
Bahkan aku tak pernah memikirkan apakah itu adalah sebuah tuntutan dari kalian saat teman-temanku mengatakan, ‘Itu hanya keinginan orang tuamu saja.’ Itu pembicaraan anak-anak SMA. Yang kutahu hanyalah membahagiakan kalian adalah salah satu caraku untuk membalas jasa-jasa kalian yang telah melahirkan, merawat, membesarkan dan menyekolahkanku hingga aku tamat SMA. Sudah cukup modal bagi seorang anak lelaki menjelang dewasa sepertiku saat itu untuk bertarung di dunia nyata.
Tapi ternyata kalian jauh lebih baik dari yang aku bayangkan. Kalian sekolahkan aku hingga sarjana. Aku pun menurut saat kalian yang memilihkan jurusan yang cocok untukku dan aman untuk masa depanku.
“Mudah-mudahan masa depanmu lebih baik.”
Tak ada pemberontakan sedikitpun dariku. Bahkan sampai aku diolok-olok ‘Anak Mami’ oleh teman-teman sekelasku di kampus. Kalian datang sekedar membawakan makan siang untukku khawatir aku tak sempat makan siang dikarenakan praktikum yang padat.
Saat teman-temanku berkunjung ke rumah, dengan senang hati kalian duduk bersama kami. Mendengarkan pembicaraan kami, mengiyakan mimpi-mimpi kami. Tapi apa yang terjadi? Selesainya aku menjadi seorang sarjana, justru ‘tuntutan kalian’ semakin menjadi-jadi.
Yah, pria itu aku tak terlalu menghiraukannya. Tapi kau wanita, memintaku ke sana kemari menemui sesiapa demi sesuap nasi. Tak ada tempat untukku. Kau pun terus memintaku untuk pergi dan pergilah keluar. Temui siapa saja. Tanyakan pekerjaan. Apa sajalah.
“Zaman sekarang kerja kok ya milih-milih. Sarjana ya sarjana. Apa yang ada kerja ya udah dikerjakan saja yang penting halal. Sarjana juga banyak yang jadi kuli bangunan atau cleaning service. Masa kamu masih milih-milih.”
Kata-katamu menyanyat hati. Aku sudah kelilingi seluruh kota ini. Ke sana ke sini. Tapi jika harus jadi kuli, aku tak sanggup. Daripada membebani diri demi sesuap nasi namun akhirnya hutang ke sana ke sini untuk berobat. Sama dengan menyusahkan diri. Mendingan berada di dalam rumah dan menunggu nasib berpihak baik.
“Kok ya jadi anak gak mikirin orang tuanya.”
Semakin sakit hati ini. Kenapa tak henti-henti tuntutan demi tuntutan ditimpakan padaku. Baru saja selangkah aku keluar rumah, orang-orang semua sudah berbisik-bisik.
“Kok ya maksa. Kalau tak sanggup jangan dipaksa. Menyekolahkan anak kok sampai hutang berjuta-juta. Mau bayar pakai apa?” Aku tak sanggup.
Lagi dalam usia yang sudah dewasa, aku terpaksa berbohong karena aku pun telah terjebak di dalamnya. Saat para rentenir datang menangih hutang, aku berbohong dengan mengatakan kalian tidak ada. Padahal kalian bersembunyi di dalam rumah. Esoknya lagi dan esoknya lagi sampai-sampai para rentenir mengancam akan mengambil hak milik rumah jika saat kedatangan mereka sekali lagi kalian masih belum bisa menutupi hutang.
Aku masih menjadi anak kecil kalian dulu meski usiaku tlah dewasa. Kalian terus bertengkar. Aku tak pernah tahu siapa sebenarnya yang terlalu ngotot pada gengsi. Miskin ya miskin. Maksa jadi orang kaya itu ribet.
Pikiranku kalut. Aku merasa bersalah atas semua harta yang kugunakan selama ini. Aku pun menginginkan cara pintas untuk mendapatkan uang. Aku main perempuan, aku minum, aku merampok dan paling parah, aku membunuh seorang wanita yang perhiasannya aku rampok terlebih dahulu bersama uang dan mobilnya yang terparkir di depan sebuah atm.
Namanya perampok tak kan pernah mujur. Aku ditangkap oleh lelaki berseragam itu dan dijebloskan ke penjara. Kalian, tak menghiraukanku.
“Itu yang kau masih sanggup memanggilku, Nak?” suaraku meninggi. Kukepalkan tanganku dan kulepaskan tinju ke meja.
“Maafkan aku yang tak datang di hari pertama kau tinggal di sini. Aku harus mengurus semua hutangku,” suaranya terhenti. Seperti tak sanggup lagi menelan air ludahnya. “Aku juga harus mengurus perceraianku dengan lelaki itu. Dia masih menuntut harta gono gini,” wanita itu kini terdiam.
Brengsek.
Sempat-sempatnya lelaki itu memikirkan harta pembagian. Harta mana yang hendak dibagi jika hutang melilit leher dan mencekik lalu mati.
“Dengan apa kutebus kesalahanku?”
Wanita itu merintih.
“Pergilah temui Penciptamu. Temui Dia di tempat suci yang tak pernah kau kunjungi sejak aku menjadi juara.”
“Maksudmu?”
“Taubatlah. Dunia ini singkat. Aku pun telah tobat.”
Lelaki berseragam masuk ke ruangan lagi. Waktu berkunjung sudah habis. Bahkan sudah terlalu lama penangguhan waktu yang ia berikan. Kuambil tangan wanita itu. Kuciumi. Ada bulir-bulir hangat jatuh ke tangannya. Kutatap wajahnya lamat-lamat. Wajahnya yang mulai keriput terlihat jelas saat aku menatapnya. Matanya berkaca-kaca. Aku pun diantar kembali ke jeruji-jeruji besi gedung ini.
Kavita Siregar Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia Kemdikbudristek. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Wilayah Riau Kepri. Senang menulis cerita dan pengalaman. Sebagian tersimpan di www.kavitasiregar.com dan instagram @kavita_siregar.