Kampung kami yang berada di ujung pulau tiba-tiba dilanda kegemparan yang sangat luarbiasa. Kegemparannya bukan karena adanya erupsi gunung merapi. Bukan pula karena tertangkap tangannya koruptor yang hobi mengembat uang rakyat. Bukan sama sekali.
Erupsi kegemparannya adalah pengumuman dari Pak Kepala Kampung lewat corong pengeras suara masjid bahwa Kampung Kami akan didatangi Pak Presiden.
“Bapak Presiden akan melakukan kunjungan kerja ke kampung kita ini minggu depan,” demikian bunyi pengumuman yang disampaikan Pak Kepala Kampung lewat pengeras suara masjid.
” Presiden ke Kampung kita?” ucap para warga Kampung Kami dengan sejuta tanya.
” Apa tidak salah ucap?” sahut warga yang lainnya dengan nada suara bingung.
Bagi kami penghuni warga Kampung, kedatangan Pak Presiden tentunya berharap akan membawa dampak besar bagi derajat kehidupan kami. Setidaknya itu yang mengemuka di ruang publik.
” Semoga kehadiran Pak Presiden membawa berkah bagi masyarakat Kampung ini,” demikian harapan yang beredar di ruang publik Kampung Kami.
Kampung kami yang terletak diujung negeri ini memang tak pernah tersentuh pembangunan. Kalau pun ada pembangunan yang diciptakan di Kampung kami hanyalah janji yang disampaikan para pengejar jabatan pada waktu pemilihan Legislatif dan pemilihan kepala daerah.
” Insya Allah, kalau saya terpilih sebagai pemimpin daerah ini, saya akan membangun fasilitas umum di Kampung ini,” demikian kira-kira narasi para kandidat Kepala Daerah.
” Saya, akan membalas pilihan Bapak dan Ibu sekalian kepada saya sebagai calon legislatif dengan memajukan Kampung ini,” begitu narasi yang diucapkan para Calon legislatif saat berkampanye di kampung Kami.
Dan seperti biasanya, usai perhelatan demokrasi itu para pengejar ambisi kekuasaan itu pun lari tunggang langgang entah kemana.
Baru kembali nampak batang hidungnya kalau Pileg dan Pilkada kembali akan digelar. Dan sebagai rakyat kecil yang berdiam di kampung kecil bahkan tak ada dalam peta negara, kami hanya berdiam diri. Tak ada upaya untuk melawan. Tak ada kuasa untuk melawan mereka kaum cerdik pandai itu.
Tak pelak narasi yang disampaikan Pak kepala Kampung disambut dengan nada sukacita oleh kami penghuni Kampung. Setiap hari para warga selalu bernarasi tentang rencana kedatangan pak Presiden. Tak ada diksi lain selain kedatangan Pak Presiden.
” Semoga kehadiran Pak Presiden akan membawa dampak bagi kehidupan kita,” ujar Hasan.
” Iya. Saya berharap demikian,” sela Mang No.
” Ngomong-ngomong, kalau Presiden datang ke Kampung kita ini, apakah kita masih lapar?,” tanya Ali.
Semua terdiam. Tak ada yang menjawab. Semua terdiam. Membisu bak terdakwa korupsi yang disangkakan para aparat hukum.
Kampung kami adalah Kampung nelayan. Kehidupan kami hanya dari laut yang ada disekitar Kampung.
Warga Kampung Kami bangga dengan kekayaan alam laut ini. Bisa menghidupi kami. Bisa membuat kami sejahtera. Soal ada tidaknya perhatian negara bagi kami soal lain. Yang penting kami bisa mencari ikan di laut.
Lautan adalah segalanya bagi para warga Kampung Kami. Segala yang terjadi selalu dihubungkan dengan pasang surut air laut. Termasuk menikah.
Sehari menjelang kedatangan Pak Presiden kesibukan di kampung Kami tampak super sibuk. Para aparatur negara sibuk mengatur dan membereskan sesuatu yang dianggap kurang baik. Jalanan menuju kampung pun sudah diaspal. Dikerjakan siang dan malam.
Demikian pula dengan Sekolah Dasar ( SD) yang merupakan satu-satunya rumah pengetahuan yang ada di kampung Kami, direnovasi dan diberi warna cerah sehingga tampak mentereng seolah-olah pembangunan sukses.
Setali uang dengan kantor Pak Kepala Kampung. Dipercantik dengan pot bunga yang bagus dan berharga mahal.
Kesibukan para aparat negara hanya menjadi tontonan para warga Kampung kami. Para warga Kampung Kami tampak antusias menyaksikan kesibukan para aparatur negara itu yang bekerja siang dan malam tanpa henti seolah-olah ada tenaga baru yang mereka lahirkan dalam tubuh mereka.
Penghuni Kampung tampak bahagia menyaksikan kerja keras para aparatur negara bekerja keras. Sesuatu yang jarang mereka temui selama ini kalau para warga berurusan di kantor.
” Mestinya mereka melayani kita sebagai warga Kampung juga seperti ini,” ujar seorang warga Kampung Kami.
” Iya. Selama ini kalau kita berurusan dengan Kantor Desa selalu ribet. Banyak meja. Banyak tanda tangan,” sela warga Kampung Kami yang lainnya.
Hari yang dinantikan telah tiba. Pak Presiden datang dengan helikopter karena jauhnya jarak tempuh menuju kampung kami.
Di lapangan sepakbola Kampung Kami yang rumputnya tidak ada, Pak Presiden disambut para Menteri, Gubernur, Bupati dan para perangkat Kampung yang tampak bahagia. Bisa bersalaman dengan Pak Presiden dan fotonya bisa dipasang di kantor. Bahkan di media sosial.
Pak Presiden tampak celingukan. Ada sesuatu yang ganjil dalam pandangan matanya. Ada sesuatu yang tak pernah dijumpainya kalau berkunjung ke suatu daerah. Yakni masyarakat yang biasanya antusias menyambut kehadirannya yang selama ini menjadi trade mark dirinya sebagai pemimpin rakyat.
” Lho, kok tak ada masyarakatnya. Kemana mereka?,” tanya Pak Presiden.
Semua aparatur negara yang hadir tak ada yang bisa menjawab. Para pejabat Daerah dan Menteri yang mendampingi Pak Presiden hanya terdiam membisu. Tak ada narasi apologi yang keluar dari mulut mereka. Semua terdiam mendengar pertanyaan dari Pak Presiden.
Dengan ditemani ajudan, Pak Presiden langsung menuju pantai dengan berjalan kaki. Seorang warga tampak sibuk memikul hasil ikan yang baru ditangkapnya. Pak Presiden langsung menghampirinya.
” Kok tidak menyambut kehadiran Presiden?,” tanyanya.
” Kalau kami menyambut Presiden, maka keluarga kami akan kelaparan Pak. Kami hidup hanya dari laut. Kalau kami tak kelaut apa yang bisa keluarga kami makan hari ini? Dan siapa yang akan memberi makan keluarga kami di rumah,” jawab lelaki itu sambil ngeloyor pergi bersama hasil tangkapannya.
Pak Presiden tersenyum sembari mengangguk-angguk.
Jawaban yang sama juga diperoleh Presiden saat menanyakan kepada para Ibu-ibu yang sedang berada di pantai menunggu suaminya datang dari pertarungan melawan ganasnya ombak di laut lepas.
” Iya, Pak. Kalau kami menyambut Presiden, siapa yang akan menjual ikan hasil tangkapan suami kami. Kalau ikan tak laku kami bisa kelaparan. Kasian anak-anak kami,” jawab para Ibu-ibu secara kompak.
Pak Presiden tampaknya makin mengerti dengan kondisi riil masyarakatnya. Makin paham arti sebuah kunjungan. Makin tahu tentang kondisi nyata yang dialami para warga negeri ini. Dan makin memahami bahwa rakyat butuh makan untuk hidup.
Ombak dipantai makin mengganas. Air pasangnya hingga ke pantai. Semilir angin sepoi-sepoi hantarkan perahu nelayan Kampung menuju pantai.
Di pantai, para istri mereka telah menunggu hasil tangkapan mereka untuk makan hari ini. Terbayang di kelopak mata mereka, hasil tangkapan para suami mereka untuk membeli beras, sayur dan kebutuhan lainnya. Tidak terkecuali untuk biaya sekolah anak mereka.
Sementara dari kejauhan, helikopter yang membawa Presiden dan rombongan telah mengudara. Meninggalkan Kampung Kami.
Ya, meninggalkan Kampung Kami dengan membawa sejuta pertanyaan dalam hatinya sebagai pemimpin.
Toboali Juli 2025
Rusmin Sopian adalah Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Kabupaten Bangka Selatan.
FB @RusminToboali
Ig @RusminToboali
Cerpennya tersebar di berbagai media lokal dan luar Bangka Belitung. Saat ini tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik dan kakek seorang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna.