Hentaman air hujan yang turun ke bumi, seolah sedang meledekku. Bersamaan sayup suara-suara gemuruh yang niatnya ingin menakut-nakutiku sedari tadi. Tak ada cicitan burung-burung yang setiap pagi menyapa dengan manis kearahku, bermaksud menghibur setelah panjangnya mimpi buruk pada malam hari.
“Aku benar-benar tak layak dicintai …,” nafas berat kembali terhela, aku putus asa.
Beberapa orang tampak lalu lalang dengan payung hitam mereka, seakan memilih warna yang senada dengan langit hari ini. Aku menatap mereka satu persatu dengan mata merah yang lingkar hitam disekitarnya tak mampu lagi ku sembunyikan, meski dengan riasan.
“Mereka hidup dengan baik, sementara aku … di sini …sendirian …tanpa cinta …”
Aku menengadah pada rintik yang kian deras membasahiku sejak sepuluh menit yang lalu. Mencoba mencari sesuatu yang mungkin saja tuhan ingin sampaikan pada manusia lemah sepertiku. Nihil, tak ada apa pun di sana. Aku semakin putus asa. Kalut.
Kembali, kepalaku tertunduk lesu, sama seperti hari-hari sebelumnya. Hari-hari gagal yang lain, yang menemani gadis depresi ini setiap hari.
Detik berikutnya, terasa sesuatu sedang menaungiku. Sesuatu yang ku duga adalah pohon birch yang bisa saja berjalan sendiri karena merasa iba pada insan rapuh seperti aku. Saat aku menoleh, pupil mata keabu-abuanku melebar. Terkejut dengan apa yang baru saja ku lihat.
Tidak, itu bukan pohon birch atau pohon cemara yang ditanam disekitar taman ini. Itu adalah manusia, seorang pria.
Wajahnya dingin, namun juga memberikan kehangatan diwaktu yang bersamaan. Ada apa ini?, jantungku mendadak saja berdetak lebih cepat.
Ia hanya berdiri disana, memayungiku, dengan stelan coat berwarna hitamnya. Memang hari ini lebih dingin, dan sialnya aku hanya memakai cardingan yang bahannya sungguh membuat badanku meriang sejak tadi.
Tanpa berkata lebih banyak, ia melepaskan coat-nya lalu meletakkannya di atas pangkuanku. Aku sedikit terkejut, tubuhku juga ikut bergetar. Sudah lama aku tak berinteraksi dengan orang sejak nenekku meninggal. Ia tak berekspresi, kemudian pergi meninggalkanku dengan payung yang ia gunakan untuk melindungi kami dari air hujan yang sedikit keterlaluan hari ini.
Ia pergi tanpa suara, seolah yang datang padaku baru saja adalah bayangan yang berhasil menghipnotisku beberapa menit. Aku sedikit …, terpesona.
Aku memilih pulang, tak tahan dengan angin yang sampai menembus tulang. Aku berjalan di antara bangunan-bangunan vintage yang terlihat masih layak untuk dihuni. Tak jauh, rumahku hanya berjarak beberapa blok dari taman itu. Tapi tetap saja, melewati banyaknya toko yang masih buka, bagaikan berjalan diatas tumpukan pecahan kaca. Seolah orang-orang didalamnya sedang mengutuk keras diriku dengan sumpah serapah yang tak terampuni.
Bunyi handle pintu memenuhi gendang telingaku. Bahkan suara engsel pintu yang sedikit berkarat seakan sedang menghakimi gadis gagal ini. Aku menghirup oksigen sekitar, mencoba mengambil bagian yang masih tuhan sisihkan untukku. Semakin sunyi dirumah ini, berbeda jika malam, kepalaku seakan penuh dengan suara-suara menyeramkan yang memintaku untuk segera mati. Membuatku terjaga semalaman, takut jika monster dibawah tempat tidurku yang ku percayai saat kecil kembali datang dan menikam tubuhku hingga hancur.
“Apa yang bisa aku lakukan?, agar sisa hidup ini tidak sia-sia?,” lirihku entah pada siapa.
Kakiku memilih dapur untuk disinggahi. Mendadak, tanpa ada yang menyuruhku, otak ini meminta tubuhku untuk membuat sesuatu yang bisa menenangkan jiwa yang semakin gelisah. Membuat sesuatu yang hangat. Tanpa sadar dengan gerakan yang tak biasa, aku mengambil sekotak teh aroma terapi yang beberapa waktu lalu sempat dibeli oleh pembantu rumah nenek. Dan anehnya coat yang pria asing itu berikan padaku tak lepas dari tangan kiriku sejak aku masuk ke rumah ini.
Aneh
Dingin
Bingung
Itu yang kurasakan saat sadar coat itu masih mendekap ditanganku.
“Siapa dia?” lagi-lagi aku berdialog sendiri. Rutinitas yang sudah menjadi hal wajib sejak kepergian nenek.
Kepulan uap panas mengudara. Air yang ku masak mendidih, tak segera ku tuang pada mug yang sudah ku isi teh aroma terapi itu. Dan akhirnya, kembali dingin tanpa arti.
Aku masih berdiri didapur. Coat hangat itu ku remas lemah. Siluet kepergian pria yang ku temui pagi ini mendadak bergentayangan dalam kepalaku.
Wajahnya datar, tapi tidak dengan sikapnya.
“Akan ku kembalikan coat ini besok,” kataku lagi.
Dan kembali, ku lewati hari ini dengan rasa tekanan yang tak berujung.
Pagi ini tidak hujan, burung-burung masih berbaik hati untuk menyapaku dengan siulan khas mereka. Aku berterima kasih, tapi dalam hati. Burung-burung itu tidak perlu tau. Cukup aku nikmati nyanyian mereka, dan membebaskan sayap mereka untuk terbang tanpa takut ditangkap dan dipatahkan.
Mantel berwarna cream membalut sempurna tubuh kurusku. Bersama dengan syal biru buatan nenek. Itu hadiah ulang tahunku. Hangat dan aku rindu. Rindu senyuman nenek saat melihat aku memakainya. Rindu yang menyiksa tak kenal ampun. Rindu yang cukup membuat aku harus meminum obat penenang setiap hari.
“Aku tau kau akan datang.”
Sebuah suara menghentikan aku untuk mengenang nenek. Suara berat dan terasa sangat asing.
Aku berdiri, menghadap padanya.
Dia tinggi, aku perlu menengadah untuk melihat wajahnya. Dan tentu saja, dengan jarak kami yang terlalu dekat, aku baru menyadari jika dia tampan dan juga …, wangi.
Sedikit rasa gugup menghampiriku, “aku hanya ingin mengembalikan milikmu,” ujarku setelahnya.
Dia melihat bungkusan ditanganku, dan langsung tau apa yang ku maksud.
“kau bahkan tak memakainya kemarin,” katanya dengan nada yang cukup santai, seolah kami adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu.
Aku menautkan alisku. Bagaimana bisa ia tahu?
Diam, aku bingung harus menjawab apa lagi. Sorot mata birunya mengatup rapat mulutku.
“Aku selalu melihatmu duduk di taman ini setiap pagi. Dan aku penasaran, apa yang kau lakukan.”
Mendengar dia mengatakan itu, aku kembali menelisik matanya, mencari sebuah jawaban yang mungkin saja ku butuhkan.
“Melihatku setiap pagi?, untuk apa?, tak ada yang menarik,” aku membatin, tak percaya.
“Aku tinggal di apartemen itu,” tunjuknya pada bangunan diseberang jalan, “Dan aku bisa melihatmu setiap hari dari balik kaca jendela apartemenku.”
Aku melotot ke arahnya, dan ia hanya tersenyum, lalu terkekeh sebentar.
“Terima kasih,” lanjutnya.
Alisku sepertinya mulai lelah karena terus saja ku kerutkan, wajahku pun sudah tak mampu ku kondisikan. Ia tersenyum lembut menatapku. Aku tertegun.
Sudah berapa lama aku tak merasa hangat atas perlakuan seseorang selain dari pembantu rumah yang selalu datang pada ujung minggu? Entahlah, aku tak ingat, dan itu tidak penting.
“Terima kasih sudah meminjamkanku ini,” kataku memberikannya bungkusan yang tak kunjung ia ambil dari tanganku.
“Dan terima kasih untuk… payungmu” ucapku kian lirih.
Ia hanya mengangguk. Aku kembali menunduk. Jantungku semakin melaju kencang, dan aku takut ia mendengar detaknya. Kacau, kenapa kepalaku kosong hanya karena tatapannya?, aneh, ini sungguh aneh.
“Kau tau, pemilik apartemenku memiliki caffe kecil disekitar sini, ku rasa kau harus mencoba secangkir kopi disana,” pungkasnya, terkesan seperti ajakan perkenalan.
Aku ingin menolak, ini terlalu berbahaya. Sudah lama sekali sejak terakhir aku datang ke tempat-tempat seperti itu. Tak kunjung ku berikan jawaban karena terlalu sibuk dengan ketakutanku, pria itu langsung menarikku tanpa tau aku setuju atau tidak.
Aku ikuti langkahnya yang cukup lebar, dengan tangan kami yang masih bertautan satu sama lain. Ini gila, pria ini sangat gila. Kami tak saling mengenal dan ia sangat berani menyentuh gadis asing sepertiku.
Nafasku tersengal. Oh tuhan, aku bahkan juga lupa kapan terakhir kali aku berolah raga, ini cukup melelahkan. Dan pada akhirnya, kami sampai pada pintu sebuah toko kecil yang cukup redup pencahayaannya. Tempat ini lebih seperti kios buku rongsokan ketimbang caffe. Ya, setidaknya itu opiniku.
Aku sempat ragu untuk lanjut mengikutinya. Namun rasa ragu itu ternyata tak cukup besar dari rasa aku ingin melepaskan diri dari pria asing ini. Rasa aneh saat tangan besarnya menangkup hangat tangan kecil milikku.
Tiba-tiba seorang wanita tua keluar dari caffe itu sambil menenteng plastik sampah, bajunya terlihat kusut dengan apron lusuh yang ia kenakan. Ia tersenyum kearah kami.
“Oh Fyodor, apa itu kau?” katanya melepaskan plastik sampah ditangannya dan memperbaiki letak kacamatanya.
Pria yang masih menggenggam tanganku ikut membalas senyuman wanita tua itu, sambil tangan satunya memeluk hangat punggung yang sudah sedikit bungkuk tersebut.
“Aku merindukanmu…” lanjut wanita tua itu dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Aku juga sangat merindukanmu Margaret.”
Baiklah, aku sepertinya sudah tau siapa Fyodor yang wanita tua itu panggil. Benar juga, kami belum sempat berkenalan.
“Kau akhirnya membawa kekasihmu.”
Mata wanita itu bergulir ke arahku. Menandaiku sebagai seorang kekasih dari pria yang sedang berdiri tepat disebelahku. Ia tersenyum begitu lebar, seakan senyuman itu mampu membuat seluruh kepenatan hilang bersama awan yang ditiup angin kencang.
Pria yang baru ku tau namanya adalah Fyodor itu melirik ke arahku, dan pandangan kami kembali bertemu. Sampai di beberapa detik setelahnya, kami saling tersadar mengapa wanita tua itu menyebut aku adalah kekasih pria asing ini.
Aku langsung menarik tanganku dan membuang muka, malu saat tatapan wanita itu seakan tersenyum penuh makna atas apa yang ia lihat baru saja.
Sementara Fyodor hanya tersenyum tanpa menjelaskan yang sebenarnya. Seolah apa yang kami lakukan tadi adalah sebuah kewajaran. Bagaimana aku harus menghadapi ini?, bagaimana aku bisa terbiasa denga hal semacam ini?.
“Masuklah, akan ku buatkan sesuatu yang hangat untuk kalian,” titahnya, aku tertegun dengan orang-orang yang baru ku temui ini. Mereka sangat ramah.
Fyodor tak banyak protes, ia hanya mengisyaratkanku dengan kepalanya, dan aku sangat mengerti. Sepertinya perkiraanku salah, dari luar caffe ini sangat tidak menarik. Namun nyatanya setelah masuk dan melihat lebih dalam, tempat ini sangat membuat hatiku merasa nyaman dan aku seperti … pulang ke rumah.
Aku berdiri mematung tepat setelah pintu dibelakangku tertutup rapat, disusul suara lonceng dari atas pintu tersebut.
Hangat. Itu opiniku yang kedua, aku meralat penilaian pertamaku. Dan juga tempat ini sangat tenang.
“Silakan duduk, kau pasti lelah berdiri sejak tadi,” ujar Fyodor menarik salah satu bangku tak jauh dari kaca utama toko itu.
Aku menurut, dan duduk dengan tenang di bangku yang ia persilakan untukku tadi. Sementara ia memutari meja itu, dan duduk diseberangku.
“Aku Fyodor, dan kau?” ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Aku menoleh padanya, sedikit gemetar lalu menyambut jabat tangan itu sambil berujar, “Dasha,” kataku.
Fyodor menelengkan kepalanya, lalu kembali terkekeh.
“Kita punya arti nama yang sama, hadiah dari tuhan.”
Aku hanya mengangguk, dan baru menyadari hal itu. Benar juga, kebetulan yang tak biasa. Ternyata pria ini juga terlalu peka, tak sepertiku, kehilangan semua rasa peduli itu. Yang tinggal hanya kewaspadaan yang begitu menyulitkan.
“Kau ternyata lebih pemurung dari yang ku kira,” katanya lagi, masih mempertahankan senyum itu.
Seketika aku merasa bersalah, apakah aku sudah melukainya dengan sikapku?, apakah aku keterlaluan?. Dia pasti tak akan mau lagi bertemu denganku setelah ini. Dan aku akan memahami hal itu jika dia memilih untuk tidak melanjutkan perkenalan ini.
Aku tidak tahu harus membalas apa. Suaranya tadi terdengar ringan, tapi ada sesuatu yang tertinggal di sela-sela kata-katanya. Sesuatu yang membuat dadaku sedikit sesak dan tersinggung. Tapi Fyodor tak salah, ia hanya berpendapat dan kebetulan itu benar.
“Melihatmu setiap pagi duduk sendirian di taman itu, membuatku berpikir, kau pasti sangat suka menyendiri.” Ucapnya lagi dengan nada lebih lembut.
Aku hanya bisa mengangguk, lalu mengalihkan pandangan ke langit yang mataharinya mulai meninggi. Terik, namun suhu cukup dingin. Seolah cuaca hari ini ingin membuat kami tetap tersembunyi dari dunia luar.
“Aku juga begitu,” gumamnya. “Tapi tidak ada yang benar-benar sendiri, hanya saja… kadang kita merasa tidak ada yang benar-benar ingin tinggal.”
Aku menoleh cepat, mencoba membaca ekspresi di wajahnya. Tapi Fyodor hanya tersenyum lagi, senyum yang tak menjelaskan apa pun.
“Kau tau Dasha,” lanjutnya, suaranya sedikit lebih berat, “beberapa orang datang hanya untuk sebentar. Tapi itu cukup untuk mengubah segalanya.”
Aku melihat ia menatap lurus tapi bukan ke arahku. Dan baru saja aku ingin membuka mulut, wanita tua yang Fyodor panggil Margaret datang menghampiri, membawa dua cangkir minuman hangat yang ia janjikan.
“Maaf membuatmu lama menunggu, silakan cicipi ini. Fyodor bilang aku pembuat coklat panas terenak di kota ini,” katanya menyodorkan salah satu cangkir itu dan selembar tisu. Aku tersenyum sedikit, lalu mulai mengangkat gelas.
Tatapanku tiba-tiba saja mengarah pada Fyodor, sebelum bibirku menyentuh bibir gelas itu. Ia hanya mengangguk, mempersilahkan aku untuk meminum hidangan itu duluan. Dengan ragu-ragu dan sedikit gugup karena dipandang oleh mereka, aku perlahan mulai meminumannya.
Hangat.
Lega sekali.
Ada rasa yang lepas dari dadaku dan itu sungguh membuat tubuhku menjadi ringan. Atau ini hanya perasaanku saja? Entahlah, coklat panas ini semakin membuat rinduku pada nenek menjadi lebih besar, lebih banyak.
“Terima kasih, ini enak sekali,” kataku memuji. Ini pujian tulus, tak ada kepalsuan, tapi aku aku tak tau bagaimana tanggapan mereka mendengar kalimat biasa itu.
“Margaret selalu tau apa yang dibutuhkan orang-orang seperti kita,” ujar Fyodor pula sembari meyesap coklat panas miliknya.
“Dan kau selalu tau, bagaiman menghibur seorang pemurung,” Margaret berlalu setelah mengatakan hal itu sambil mengedipkan matanya. Fyodor hanya tertawa.
“Kalian tampak akrab,” kataku setelah kepergian Margaret.
“Sangat,” ucap Fyodor, “Sebelum waktu tak lagi punya izin untuk itu.”
Keningku berkerut, “Maksudmu?” tanyaku penasaran.
Fyodor melepas mantelnya, akupun melakukan hal yang sama.
“Tak ada yang tau mengenai waktu. Kau, aku, atau jam di dinding itu”
Fyodor mulai serius dalam perkataanya. Aku tau, karena nada bicaranya berbeda kali ini.
“Jam di dinding itu berputar sesuai aturan dari orang yang mengaturnya. Tentu saja itu berjalan dengan baik,” kataku lagi, memberi sedikit argumentasi.
“Benar, tapi apakah orang yang mengaturnya tau jam itu sudah berada di angka yang benar?, atau hanya sekedar mengikuti jam-jam lain di kota ini?” Fyodor memberikan tatapan yang membingungkan, aku tak bisa menebak isi kepalanya dari tatapan itu.
Aku membisu. Ingin menjawab dengan lantang, pastilah angka di jam itu sudah benar. Kalau tidak, tak mungkin Margaret memajangnya untuk mengingat pada pengunjung yang datang, sudah berapa lama mereka berada di dalam cafe unik ini.
Melihat aku tak lagi bergeming, Fyodor kembali berujar, “Kita tak mungkin bertengkar hanya karena membahas jam dinding, kan?” dan terkekeh setelahnya.
Aku pun ikut tertawa kecil, Fyodor kembali menguasai suasana. Tak membiarkannya mati hanya karena perseteruan tak bermakna.
“Kau dan Margaret…,” suaraku menggantung, “…kalian saling merasa aman satu sama lain, tanpa takut kehilangan. Setidaknya itu yang kulihat sejak tadi,” ucapku lirih, tak benar-benar tau apa yang sebenarnya aku katakana. Hanya saja, aku seperti tak rela hanya berdiam diri menghabiskan waktu dengan pria menyenangkan ini.
Fyodor hanya tertawa kecil, aku melihat bagaimana mata itu tertutup lalu kembali menampilkan mata biru safirnya. Mata yang cantik.
“Bukankah tak ada yang perlu ditakutkan? Jika memang waktunya untuk tidak saling bertemu lagi, maka aku, Margaret dan juga coklat panas ini hanya akan menjadi cerita singkat saja. Sebuah kenangan kecil.”
Aku tak melihat beban apa pun saat mendengar Fyodor mengatakan kalimat itu. Seolah ia sudah sangat siap jika harus melewatkan pertemuan dengan orang yang sangat berarti untuknya. Apakah semudah itu menerima takdir yang jelas-jelas akan menyakitinya? Yang benar saja.
“Apakah menurutmu pertemuan hanya sebatas itu saja?” tanyaku, lupa bahwa aku adalah orang yang irit bicara setelah kematian nenek.
Fyodor menggeleng, lalu menatap manik keabu-abuanku, “Tidak,” jawabnya singkat.
“Seharusnya lebih dari pada itu,” lanjutnya. Mengubah posisi duduknya sambil kedua tangan ia tangkup diatas meja. Benar-benar posisi yang menuju kearahku tanpa berniat melihat ke arah lain lagi.
“Pertemuan adalah momen paling berarti bagiku, dan ku rasa bagimu juga,” katanya.
Mata kami masih saling beradu.
“Tapi apa yang bisa kita lakukan, jika tuhan hanya memberikan sedikit waktu untuk pertemuan itu. Tak ada yang bisa mengubahnya.”
Aku tertegun, mataku mulai berkaca-kaca. Kepalaku seolah baru menagkap satu kata yang sudah lama aku salahkan. Tuhan.
Sudah berapa lama aku melakukan demo kepada tuhan?, sampai menyebutnya saja aku sudah tak ingat kapan terakhir kali.
“Aku juga dulu protes pada takdir yang tuhan berikan. Berpikir jika aku membuat kesalahan sehingga ia membalasku sampai semenderita ini. Tapi aku ternyata salah, ia hanya ingin mengujiku. Apakah aku bisa mengandalkannya disaat semua hal baik menjauhiku.”
Setetes air turun meluncur dari pipi tirusku, tanpa sadar, dan aku tak berusaha untuk menahannya seperti biasa. Namun kali ini tenggorokanku tak tercekat, seolah air mata ini adalah air mata keikhlasan yang baru saja aku keluarkan.
“Kau tak perlu menyalahkan tuhan apa lagi dirimu karena sesuatu yang buruk terjadi. Tugasmu hanya menerima, dan mengandalkan pertolongannya,” Fyodor sedikit berdiri, dan mencoba mengusap air mataku yang jatuh. Meja diantara kami tak menghalanginya. Hatiku kembali menghangat.
“Bagaimana denganmu, apa kau pernah menyalahkan tuhan karena sesuatu?,” aku lanjut bertanya, setelah beberapa saat terjeda.
Fyodor hanya mengangguk, “Pernah, tapi tak lama. Aku tau Tuhan punya alasan untuk itu. Ia pasti akan memberikanku payung pelindungnya.”
Diam lagi. Namun kali ini diam penuh makna. Aku kembali menata pikiranku, mencoba menerjemahkan segala hal yang terlewatkan dalam hidupku setelah kepergian nenek. Ini semua bukanlah kebetulan, ini semua sudah pasti menjadi ketentuan. Dan tuhan memilih aku untuk merasakan rasa sakit itu.
Ya tuhan, sudah berapa lama aku menyombongkan diriku, seolah bisa terus hidup tanpa pertolongan dari tuhan?. Aku keterlaluan, aku jahat karena berpikir bahwa aku tak layak dicintai. Padahal tuhanlah yang selalu bersamaku, bahkan tak meninggalkanku sendirian.
“Menangislah, tuhan tak melarangmu untuk itu,” ucap Fyodor lagi.
Aku mengangguk dan mulai menangis lagi, namun kini terdengar suara yang keluar dari bibirku. Tak ada siapa pun di toko ini, jadi aku semakin berani menumpahkan rasa kesal dan bersalahku pada tuhan.
Cukup lama, Fyodor hanya memperhatikanku tanpa intrupsi. Ia memberikan banyak waktu untuk aku berdamai dengan diriku sendiri. Setelahnya aku berhenti dan mengusap lembut sisa-sisa bulir air mata dipipiku. Fyodor tersenyum melihat aku akhirnya selesai dengan kegiatan menangis itu.
“Merasa lebih baik?.”
“Sangat.”
Dan akhirnya kami terkekeh bersama. Hingga beberapa saat Fyodor menyentuh tanganku yang menganggur di atas meja. Aku sangat terkejut dengan perlakuan itu.
”Dasha…,” suaranya sangat rendah saat menyebut namaku.
Aku menelan ludah. Ia kembali melanjutkan.
“Jika dunia ini terlalu keras, dan tuhan sedikit terlambat menolongmu dengan payungnya, berjanjilah padaku untuk tetap bertahan, meski tanpa aku. Jangan jadi sepertiku.”
Mataku terbelalak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Fyodor. Aku belum sempat bertanya maksudnya, ketika tiba-tiba angin berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan di sekitar luar toko ini. Fyodor berdiri, menatapku lama sebelum berkata,
“Terima kasih… sudah menjabat tanganku tadi.”
“Apa maksudmu?” tanyaku, mulai panik.
Namun Fyodor hanya membungkuk sedikit, seperti memberi salam perpisahan.
“Aku harus pergi. Dan… aku tak yakin bisa kembali.”
Aku berdiri, langkahku ragu. “Kau akan pergi ke mana?”
Ia hanya menggeleng, lalu berbalik meninggalkan bangku didepanku kosong begitu saja. Aku ingin berlari mengejarnya, memintanya menjelaskan, memohon agar ia tetap tinggal, tapi langkahku terasa berat, seolah dunia ikut menahanku.
Lonceng di atas pintu yang Fyodor lewati tiba-tiba saja membuatku seperti pindah ke dimensi lain. Aku tersadar jika ini sudah bukan lagi di toko. Tapi di ranjang kamar tidurku.
“Kau sudah bangun?”
Sebuah suara yang begitu ku kenal. Itu suara pembantu rumah nenek. Jadi saat ini aku benar-benar berada di rumah.
“Demammu cukup tinggi tadi malam, dokter memberikanmu suntikan dan kau tertidur,” lanjutnya menjelaskan sambil membersihkan beberapa area kamarku.
“Aku sudah membuat bubur, makanlah selagi masih panas. Aku ada diluar jika kau butuh sesuatu,” ia keluar, menutup pintu kamarku dengan pelan.
Aku mendesah, kepalaku masih di penuhi oleh Fyodor yang memberikanku coat miliknya dan kami menjadi sangat akrab. Aku harus bertemu dengannya lagi besok. Setidaknya untuk mempertanyakan maksudnya untuk pergi.
Hari berikutnya, Fyodor tak pernah terlihat lagi.
Desas-desus mengenai pria bernama Fyodor tak kudapati. Sampai aku harus bertanya dengan beberapa pemilik toko di dekat Apartemen yang Fyodor tinggali. Anehnya, tak ada yang tahu siapa pria bernama Fyodor di kota ini. Dan lagi seolah bangunan pun bungkam mengenai kepergian Fyodor.
Namun aku tahu… aku yakin. Hari itu, saat aku berjalan sendiri di taman tempat kami bertemu pertama kali, aku menemukan sehelai kertas kecil terselip di bangku.
Tinta itu pudar, seperti hampir hilang. Tapi kata-katanya membekas. Dan sejak saat itu, aku menyimpan namanya bukan hanya dalam ingatan, tapi juga dalam doa.
“Dunia ini terlalu indah untuk gadis pemilik mata mutiara sepertimu Dasha. Bangkitlah, Tuhan sedang tersenyum ke arahmu”
Fyodor, si pemberi salam singkat, yang datang hanya sebentar—namun cukup untuk membuatku merasa kehilangan yang tak pernah kumiliki sepenuhnya. Dan setiap kalimat yang ia berikan padaku, cukup menggoyangkan hatiku untu terus marah pada takdir tuhan.
Beberapa minggu berlalu, dan bayangannya masih belum lepas dari kepalaku. Aku mulai mencarinya diam-diam—masih di taman kota tempat pertama kali kami mengobrol, dan tak ada jejak Fyodor yang tertinggal. Seolah nama
“Fyodor” tak pernah tercatat di mana pun.
Aku juga sempat mencari cafe yang pemiliknya bernama Margaret. Dan lagi keanehan terjadi. Tak ada caffe apa pun ditempat itu. Hanya lorong tanpa ujung dan juga gelap tanpa penerangan. Ini semakin menambah kebingungan dalam diriku. Apa yang sebenarnya terjadi?, bahkan Margaret pun menghilangkan jejak keberadaanya.
Darahku seperti berhenti mengalir. Itu berarti… Fyodor bukan benar-benar nyata? Tapi aku menyentuh tangannya. Aku mendengar tawanya. Aku bahkan merasakan kehangatan dari tubuhnya waktu kami bersalaman.
Aku meremas mantelku, menolak percaya.
Tapi semakin aku mencari, semakin aku menemukan kepingan-kepingan aneh. Salah satu guru psikologi di kota itu yang sudah pensiun bahkan sempat menulis jurnal pribadi yang terselip di antara buku lamanya di perpustakaan kota. Tulisannya samar, tapi jelas.
“Anak itu muncul kembali setiap lima tahun sekali, hanya bagi orang-orang tertentu. Biasanya yang sedang berada di ambang kehancuran.”
Air mataku jatuh.
Apakah aku… selama ini begitu rapuh, hingga aku layak melihat Fyodor?
Malam itu aku kembali ke taman.
Kursi yang biasa kami duduki basah, namun aku tetap duduk di sana. Lalu aku berbisik.
“Fyodor… Kalau kau masih bisa mendengar, aku tidak akan pergi. Aku akan bertahan, seperti janjiku. Tapi kau… benarkah kau tak bisa kembali?”
Angin malam berhembus pelan. Dan sesaat… aku mencium wangi samar mask dan amber, aroma yang selalu melekat pada bajunya.
Aku tersenyum dalam isak tangis.
Lalu pergi.
Bertahun-tahun kemudian, saat aku sudah menjadi salah satu guru privat, masih di kota ini, seorang anak perempaun baru datang padaku dengan wajah kebingungan.
“Permisi, apa kau melihatnya? Tadi ada anak laki-laki di kursi taman itu. Katanya namanya Fyodor. Dia minta agar aku jangan merasa sendiri,” ujarnya dengan wajah polos dan penasaran. Tangannya penuh dengan bunga musim gugur.
Aku tak menjawab. Hanya tersenyum getir sambil menatap kursi taman yang anak kecil itu maksud.
Dia kembali.
Tapi tidak pernah untukku lagi.
Aprillia Putri Kadiah atau biasa di sebut April. Ia lahir di Sungai kayu ara, desa kecil yang banyak menyimpan kisah. Tepat pada hari lelucon sedunia, tanggal 1 April 2002. Gemar melihat tanaman dan ikan hias. Ia juga suka melukis, membaca, dan menonton gambar 2D yang sering disebut anime.
kerenn kak piaa ,, next di tunggu versi novel ny wkwk
Insyaallah, kalau tak kena writer’s blok kak😂🙏