Tampak dari kejauhan sosok tegap yang aktif menjinjing karung plastik di tangan kirinya. Sedangkan sebatang besi bengkok berada di tangan kanannya. Sosok yang menyita perhatianku untuk ke sekian kalinya kulihat berjalan tergesa-gesa. Apa gerangan yang terjadi?
Kesesokan harinya aku mengamati semua gerak geriknya. Sengaja ku ikuti perjalanannya sepulang sekolah. Entah mengapa hatiku merasa berontak ketika melihat pemandangan yang sudah beberapa hari menyita perhatian. Walau tanpa sengaja pemandangan itu kujumpai, tetapi hati kecilku terlanjur jatuh padanya.
“Astagfirullah, sepertinya aku kenal, Pa. Postur tubuhnya tak asing lagi. Yakin sekali kalau dia itu Modi, murid Mama yang sekarang di kelas 8, Pa,” ujarku pada suamiku.
“Ah, jangan menebak-nebak, Ma. Paling mirip aja. Lagi pula mana ada anak zaman sekarang yang mau bekerja seperti itu sepulang sekolah, Ma.”
“Iya juga ya, Pa. Mungkin hanya mirip saja,” jawabku menghibur diri sekenanya.
Sejak saat itu hatiku bergejolak dan penasaran. Rasa ingin tahu ini tak bisa kubendung lagi. Ingin segera waktu berjalan dengan cepatnya hingga sudah siang lagi.
Sepulang sekolah siang itu, kuputuskan untuk mencari tahu. Dengan motor kesayangan yang selalu menemani setiap saat, aku sengaja berhenti di depan Apotek. Di mana ya, anak yang mirip Modi itu, sudah jam segini kok belum nampak juga? Padahal biasanya jam setengah tiga sore dia selalu ada di jalan ini, memilah sampah kertas dan plastik yang dibuang karyawan foto copy dan Apotek ini.
Akhirnya sosok yang kutunggu muncul juga. Dengan sebo yang menutupi wajah, jaket lusuh yang selalu dipakainya dan sebatang besi bengkok yang menemani ia mulai beraksi. Matanya liar melihat ke arah keramaian. Sesegera mungkin aku masuk ke Indomaret yang tidak jauh dari Apotek agar tak terlihat olehnya. Takutnya kalau memang benar sosok itu adalah Modi, pasti dia akan segera menghindari jika berpapasan langsung denganku. Sembari membeli roti dan minuman, mataku tak berkedip dan terus saja memperhatikan semua gerak gerik anak lelaki itu.
Kalau dilihat dari postur tubuhnya dan gayanya berjalan, tak salah lagi dia itu anak didikku. Yaa Allah…hatiku makin bergetar dan trenyuh manakala dia menyeka keringat yang mengalir masuk ke dalam matanya. Tanpa disadarinya penutup muka itu pun terbuka. Masya Allah, benar itu Modi anak didikku. Tak ku sangka anak yang begitu periang dan selalu perhatian. Pandai bergaul bahkan sering membuat teman lain tertawa dengan banyolan-banyolannya. Sampai-sampai kalau dia tertawa seakan kedua matanya hilang karena saking sipitnya itu berada diantara sampah-sampah.
Tanpa ada keraguan lagi di hati, aku keluar dari Indomaret lalu kudekati lelaki yang sudah mencuri hatiku beberapa hari ini. Dengan lembut ku pegang pundaknya.
“Hai, Modi, lagi ngapain?
Sambil membenarkan posisi penutup mukanya dia menoleh ke arah suara. Alangkah terkejutnya saat dia melihat kalau aku yang menyapanya dari belakang. Spontan dia menjawab, “Eh, Yaa Allah…Bu Yana? Maaf…maafin Modi, ya, Bu,” jawabnya terbata-bata. Dia sama sekali nggak menyangka jika aku bisa mengenalinya.
“Lho, kenapa jadi minta maaf, Di, kamu nggak punya salah kok sama Ibu, Nak.”
Kemudian dia memutar tubuhnya 360 derajat, ia membuka sarung tangannya untuk menyalamiku serta memcium tanganku seperti yang biasa ia lakukan di sekolah.
“Bu Guru, a…a…anu Bu, saya harus kerja Bu. Karena sudah sebulan ayah sakit.”
“Lho, Ayahmu sakit apa lagi, Di?” tanyaku ingin tahu.
“Ayah sekarang stroke, Bu. Awalnya jatuh saat kerja bangunan tempo hari itu, Bu. Dan sekarang malah nggak bisa bangun sama sekali.”
“Innalilahi, jadi sakit yang sejak saat itu belum sembuh, Di? Kami kira sudah mendingan. Karena Ibu bertanya sama Rahmat kemarin, katanya Ayah Modi sudah pulang dari Rumah Sakit dan sudah di rawat di rumah, ternyata makin parah ya?” aku membelai kepala Modi sambil memberikan dia sebotol air mineral yang kubeli tadi. “Jadi siapa teman ayahmu kalau ibumu harus jualan keliling?”
“Adik saya yang masih SD Bu, dia kan masuk siang. Ibu pulang jualan jam 11.00 dan saya pulang jam setengah dua. Habis sholat saya langsung keliling Bu.
“Jadi sudah berapa lama kamu kerja seperti ini?”
“Sudah hampir dua bulan Bu.”
“Apa cukup buat jajan kalian?”
“Alhamdulillah, Bu. uangnya lumayan buat jajan saya dan Mona,” jawabnya penuh semangat.
“Ibu bangga sama kamu, Nak. Ibu salut sama kamu, di zaman sekarang masih ada anak yang berjuang keras seperti kamu. Membantu ayah dan ibunya sepulang sekolah dengan pekerjaan seperti ini.
“Terima kasih, Bu. Tapi ibu jangan bilang sama guru lain dan teman saya ya, Bu. Nanti saya diejek mereka. Saya nggak mau kalau pekerjaan saya sebagai pemulung jadi bahan ejekan kawan, Bu,” imbuhnya seraya memohon padaku.
“Nggak mungkin ada yang menghina kamu, justru Ibu akan banggakan kamu di depan teman-temanmu nanti. Jika ada anak SMP kita yang berbakti kepada kedua orang tuanya dengan mencari rezeki yang halal dengan bekerja tanpa mengenal lelah dan malu.”
“Modi memang nggak malu, Bu. Modi hanya nggak mau ada teman yang malu berteman dengan seorang pemulung, itu saja, Bu,” ujarnya lagi.
“Insya Allah, Allah akan mudahkan rezekimu, Modi. Jangan putus asa ya, Nak. Hari sudah sore, nanti penghasilan kamu berkurang gara-gara kita ngobrol nih, lanjutkanlah Nak, ibu pulang dulu ya.”
“Nggak apa-apa Ibu. Terima kasih doanya, ya, Bu.”
“Ya, sama-sama Modi. Semoga ayah cepat sembuh ya.”
“Aamiin Yaa Robbal Alamin…”
Sambil menyalami Modi, aku menyelipkan beberapa lembar uang yang ada di kantomg tas. “Ini sedikit untuk beli obat ayahmu ya, Nak. Insya Allah lusa kami ke rumahmu bersama para guru. Jangan sedih ya. Terus semangat, terus berjuang dan belajar yang rajin, ya.”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak Ibu,” ujarnya berkali-kali. “Hati-hati di jalan Bu.”
Kutinggalkan Modi yang sedang dalam pikirannya sendiri. Tanpa menoleh lagi ke arahnya. Aku melaju dengan motorku. Tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi berusaha kubendung. Sepanjang perjalanan pulang aku menangis. Untung saja aku pakai helm yang menutup muka, kalau tidak mungkin sepanjang jalan akulah yang akan jadi perhatian orang-orang. Memang hatiku mudah sekali tersentuh, mungkin karena penderitaan Modi pernah kualami walaupun tak seberat itu. Makanya aku mudah sekali mengeluarkan air mata.
Keesokan harinya, seperti biasa aku melakukan aktivitas sebagai seorang guru seni musik di sebuah SMPN. Tidak seperti hari sebelumnya, aku tidak pernah memprioritaskan apa pun selain pekerjaan. Akan tetapi kali ini aku kembali kepikiran pada Modi.
Ooh, apa kabar ya Modi hari ini? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana pula dengan kabar ayahnya yang sedang sakit keras? Banyak sekali tanya di kepalaku yang tak terjawab.
Dengan langkah pasti aku menuju kantor ruang guru. Kali ini prioritas pertamaku adalah wali kelas Modi, kelas 8.1. Alhamdulillah, Bu Fatma sudah ada di dalam ruang guru. Beliau sedang sibuk dengan tugasnya sebagai wakil kepala sekolah bidang Sapras. Karena minggu ini akan ada pemeriksaan aset oleh petugas Aset.
“Pagi Bu Fatma,” sapaku sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya.
“Eh, Bu Yana…Pagi juga Bu. Tumben nih, pagi-pagi nyari saya. Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
“Oooh, ini ada sedikit yang mau saya tanyakan sama Bu Fatma. Apa Bu Fatma sudah tahu kabar terbary ayahnya Modi anak kelas 8.1?”
“Eh, Modi, ya? Kabar terakhir saya dengar dari Rahmat, katanya sudah pulang dari rumah sakit, sih Bu? Emang ada kabar lain ya, Bu Yan?” tanyanya serius sambil merapikan buku-buku yang sejak tadi masih disambilnya melanjutkan pekerjaan yang rumit itu.
“Bu Fatma tau nggak, kalau sekarang ayah Modi terkena stroke dan tidak bisa sama sekali bergerak. Bahkan Modi harus bekerja sebagai pemulung sepulang sekolah.”
“Astagfirullah, kasihan kamu Modi,” ujar Bu Fatma tertumduk lesu.
Setelah panjang lebar Bu Yana menceritakan semua pertemuannya dengan Modi kemarin, akhirnya kami para guru akan melakukan galang dana untuk keluarga Modi. Serta membantu agar Modi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sepulang sekolah. Aku bersyukur masih bisa menjadi perantara untuk dapat membantu anak didikku. Akhirnya Modi sekarang bisa bekerja di foto copy tempat dia mengumpulkan sampah.
Sih Yuliawati, lahir tanggal 24 Juli 1972 di Kota Jakarta. Saat ini tinggal di Kabupaten Pelalawan. Bekerja sebagai Guru SDN 006 Pangkalan Kerinci. Telah menerbitkan beberapa buku solo, kumpulan cerpen, antologi cerpen dan puisi. Menjalankan kegiatan di taman bacaan yang didirikannya adalah kegiatan setiap minggunya. Motto hidupnya adalah ” Indahnya Hidup Dengan Saling Berbagi.”