Permainan: Cerpen Malin Batuah

Setiap pasangan memiliki hobinya masing-masing. Namun, hobi yang ditekuni oleh Surya sangat tidak kusuka. Dia melakukan hobinya sepulang dari kantor hingga pagi menjelang, tidur sebentar kemudian berangkat kembali ke kantor, kecuali Sabtu dan Ahad. Itulah permainan daring.
Dahulu akupun suka bermain sambil menunggu saat antri, bermain pada waktu luang lainnya, yakni permainan onet. Namun, tidak menghabiskan waktu dari malam sampai pagi hingga kurang waktu untuk istirahat yang layak.
Tubuh kita setidaknya membutuhkan waktu untuk tidur lebih kurang enam sampai delapan jam sehari. Suatu malam aku bertanya,
“Tak sakit itu ya kepala?”
“Tidak.”
“Tak bosan apa main terus?”
“Tidak.”
“Sudahlah mainnya, Bang. Yuk tidur kita!”
“Jangan kacaulah, sedang seru ini.”
Ketimbang mendebatnya, yang pastinya mustahil aku menangkan, kuputuskan untuk tidur duluan.
Sungguh kekuatan kepala yang luar biasa, melakukan kebiasaan itu setiap malam. Kalau kepalaku itu sudah sakit, pusing dan bahkan terasa kunang-kunang apabila kurang tidur, apalagi kurang dari sejam. Tapi tetap kutanya hal yang sama setiap malam, berharap di dengar walau hanya satu malam. Akupun harus segera tidur karena setiap pagi ada jadwal di sekolah.
Padahal kami adalah pasangan pengantin baru. Surya lebih memilih permainan daringnya daripada untuk tidur istirahat walaupun besok paginya akan kembali bekerja.
Malam ini, kami kedatangan tamu dari kantor Surya. Dia menceritakan kebiasaan lelakiku saat tiba waktu tengah hari. Ternyata selama ini, abang saat jam istirahat di kantornya dia tidur siang pada ruangan rapat. Wajarlah kepalanya tahan untuk tidak mengantuk pada malam hari karena dia mendapat tenaga penuh saat tidur siang.
Malam ini merupakan malam Jumat yang ketiga.
“Abang, malam ini Sinta ingin cerita,” kataku memohon agar didengar.
“Banyak kali cerita! Besok pagi kau mesti ke sekolah, tidur sana! Jangan kacaulah. Aku sedang sibuk ini, main daring.”
“Tolonglah dengar ceritaku, Bang! Berhenti mainnya dulu,” bujukku lembut.
“Bisinglah! Aku main keluarlah!” sepertinya dia sedang mengalami kekalahan dalam permainan daringnya. Benar saja, suamiku pun pergi keluar rumah lalu duduk depan teras melanjutkan permainannya. Hal yang wajar saja, kalah marah. Namun, tidak seperti itu juga bicaranya denganku. Lalu aku ini kau anggap apa Surya? Permainan?
Kemarahan sepekan lalu membuatku paham bahwa ia jauh lebih cinta dengan permainan daringnya daripada kepadaku. Lalu untuk apa menikah? Aku hanya inginkan cinta bukan dijadikan mainan. Aku berharap, abang untuk langsung berhenti main daringnya, apakah itu sangat bermanfaat sehingga menomorduakan diriku? Hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, harus segera dihentikan kecintaan terhadap permainan. Baiklah. Aku tahu kebiasaannya, setelah salat Subuh ia akan tidur sejam kemudian bergegas untuk segera berangkat ke kantor. Akan kumanfaatkan kesempatan itu menghapus semua permainan daring yang ada di dalam telepon genggam lelakiku tercinta, lalu memblokirnya.
Apa yang telah kurencanakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Surya masih tetap dengan kebiasaan mainnya. Dia datang ke kamar dan marah-marah.
“Kau yang hapus permainan aku di telepon ini ya?” katanya menunjukkan permainan yang telah berhasil diunggahnya dan menghilangkan blokir yang ada padanya, belum sempat kumenjawab dan menyampaikan curhat hatiku padanya dilanjutkan dengan kalimat yang membuatku hening.
“Ini merupakan percobaan pertama dan terakhir ya! buat lagi kau akan jadi janda. Paham?”
Pagi ini Surya telah selesai sholat subuh tidak tidur lagi sebagaimana biasanya, dia bahkan melanjutkan dengan tilawah dan menulis. Hal yang baru pertama kali kusaksikan selama beberapa pekan terakhir aku bersamanya. Beberapa malam kemudian, aku tidur duluan dan memang seperti itu terus. Hatiku pun tak senang rasanya bila tidak menyampaikan, ”Jangan tidur lama-lama.” Ia menanggapinya dengan diam. Mempertahankan pernikahanku jauh lebih penting daripada harus berpisah. Malu. Aku belum kuat untuk itu. Belum ada seumur jagung sudah balik kanan. Aku lebih memilih untuk melakukan tugas terbaikku sebagai pasangannya dan tetap memberikan suaraku setiap malam, “Boleh main, tapi jangan lama-lama.” Kulakukan secara lemah lembut agar suatu malam ia mau mendengarkanku. Karena aku cinta dia.
Cuaca malam ini sangat cerah hingga bulan purnama menampakkan dirinya secara sempurna. Ada undangan makan malam dari kantor Surya acara apresiasi karyawan. Keluarga boleh dibawa dan Surya dengan bangga membawaku ke acara kantornya karena dia akan menyampaikan kata sambutan sebagai ketua pelaksana. Di akhir kata sambutannya Surya berkata, ”Bermain daring, mari kita hentikan!” hadirin pun memberikan tepuk tangan yang luar biasa.
Pulang dari acara makan malam, aku sama sekali tidak memiliki hajat untuk bertanya, kenapa akhir kata sambutannya justru melarang permainan daring sedangkan dia sendiri adalah tokoh utamanya. Ironi.
Kembali lagi aku keliru, Surya menatapku, menjelaskan bahwa pernyataan itu disampaikannya karena dia telah benar-benar berhenti bermain daring. Ternyata, dia telah berubah. Tiga malam terakhir saat aku tidur, dia pun menyusul untuk beristirahat. Kemudian berterima kasih atas kesabaranku dalam menasehatinya perihal permainan daring. Tidak lupa lelakiku meminta maaf lalu memeluk ku atas kata janda yang keluar dari mulutnya di malam itu. Semua perimanan daring di telpon telah dihapus dan berjanji tidak akan bermain daring lagi. Aku pun penasaran dan bertanya, ”Apa yang telah terjadi?”
“Teman sepermainan daringku mati ditikam istrinya dari belakang.

Malin Batuah merupakan nama pena dari Rachmat Hidayat. Dia sehari-hari bekerja di salah satu perusahaan swasta industri keuangan non bank. Dia juga merupakan bagian dari FLP Cabang Pekanbaru. rachmat.hidayat.tripa@gmail.com dan whatsapp: +6285374069650

Comments (0)
Add Comment