Piano and Venice: Cerpen Yansi Aresta Camila

Cahaya rembulan bersinar cerah menembus jendela studio. Langit gelap yang mendominasi membuat suasana sepi semakin menenangkan, cocok untuk membersihkan pikiran. Malam ini, seorang pemuda bersurai cokelat hazel dan manik hitam itu sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Mencari jawaban atas keputusan yang sangat sulit, antara melanjutkan usaha sang Ayah atau menentang dan melanjutkan hobinya. Ia menekan tuts piano klasik berwarna hitam itu dengan asal, membuat nada acak menggunakan jarinya yang panjang khas pianis. Ia benar-benar kalah telak berargumen dengan sang Ayah, kepalanya terasa sakit mengingat perdebatan di tengah makan malam tadi.

“Coba sekali saja kamu nurut permintaan saya. Ini semua juga untuk masa depan kamu sendiri,” sang Ayah mulai meninggikan suaranya dan berhenti makan. Pasalnya anak laki-laki satu-satunya itu berniat untuk melanjutkan sekolah ke Italia, yaitu Kota Venesia.

“Pa, bukannya Harsa ga nurut, tapi…”

“Harsa Danantya! Kamu itu lebih baik meneruskan usaha yang sudah saya kembangkan selama ini! Desain grafis itu sangat populer sekarang. Peminat musik klasik itu bisa di hitung jari, sudah termakan zaman. Terlebih lagi piano!” Harsa tak habis pikir dengan apa yang baru saja Ayahnya katakan. Ia benar-benar sudah naik pitam. Harsa berdiri dari kursinya.

“Aku bisa raih masa depan aku sendiri, Pa. Lagi pula peminat musik klasik itu orang-orang terpandang dan termasuk seni mahal. Mama juga setuju sama Harsa. Ayolah, Pa…” pemuda berusia 18 tahun itu memohon dengan lembut.

“Hah…fine. Saya akan memperbolehkan kamu lanjut sekolah di Venesia, dengan syarat. Dalam 4 tahun, kamu sudah harus bisa tampil di Festival Musik Dunia. Jika tidak, kamu harus kembali ke Indonesia dan meneruskan studio desain grafis saya. Bagaimana?” ujar sang Ayah dengan tegas. Sang Ibu hanya menggeleng dan mengelus punggung suaminya, berharap suaminya berubah pikiran. Sang Ayah sepertinya sudah terlalu keras pada putranya.

Pemuda bersurai cokelat hazel itu mengacak rambutnya dan menghela napas dengan kasar. Ia mulai membuka partitur musik, beriringan dengan suara ketukan dari metronom yang mengalun dalam kesunyian. Tangannya terhenti ke halaman partitur ‘Moonlight Sonata by Beethoven’. Ia mulai menekan tuts piano dan memainkannya. Angin malam yang masuk melewati jendela menusuk hingga menembus kulitnya. Suara dari tuts piano yang ia tekan mengeluarkan alunan yang lembut nan indah, tangan panjangnya bergerak dengan halus bagaikan burung surga yang mengepakkan sayapnya. Benar-benar permainan pianis tulen. ‘Moonlight Sonata’ mengalun malam itu, bersamaan dengan kegelisahan dan kebingungan yang ada di pikirannya.

Sepekan setelah argumen panjang yang membuat hubungan Ayah dan anak itu mulai renggang, akhirnya sang Ibu memutuskan untuk membujuk suaminya agar menurunkan tuntutannya. Awalnya sang Ayah keberatan, tetapi setelah berpikir panjang, sang Ayah pun memutuskan untuk membiarkan anaknya terbang lebih tinggi sesuai keinginannya. Saat pasangan suami istri itu masuk ke dalam kamar putranya dan berbincang, sang Ayah semakin bersemangat karena keputusan yang diambil oleh putranya.

“Harsa, saya mau berbicara sesuatu,” sang Ayah berdiri di depan putranya yang sedang duduk di tepi kasur. Si pemilik nama itu mengangkat wajahnya dan menatap sang Ayah.

“Harsa juga, Pa. Tentang pilihan yang Papa beri ke Harsa… Harsa memilih untuk melanjutkan sekolah ke Venesia dan akan memenuhi permintaan Papa untuk tampil di Festival Musik Dunia,” mendengar keputusan tersebut, garis bibir di wajah orang tuanya naik, tersenyum bangga.

Tepat saat Harsa berumur 19 tahun, ia langsung diberangkatkan oleh orang tuanya ke Venesia, Italia. Harsa bingung harus menangis atau tertawa bahagia, ia senang mimpinya di dukung oleh orang tuanya, terlebih lagi Ayahnya. Tetapi ia juga sedih harus meninggalkan mereka di Indonesia, sedangkan Harsa anak satu-satunya yang mereka punya.

Kesan pertama yang timbul di benak Harsa saat menginjakkan kaki di Venesia adalah Kota ini sangat majestic. Bentuk dan struktur bangunan, gedung, hingga rumah-rumah serta tata kota yang sangat rapi layaknya sedang berada di dunia dongeng zaman victoria. Setelah meletakkan barang-barangnya ke dalam asrama sekolah, ia mulai menjelajahi setiap ruangan. Sekolah musik yang ia tempati sekarang adalah sekolah musik terbaik di dunia dan Harsa termasuk orang yang beruntung bisa menginjakkan kaki dan menempuh ilmu baru di sekolah ini.

Ketika Harsa sedang memanjakan matanya dengan pemandangan klasik di gedung sekolah barunya, ia tak sengaja mendengar lagu ‘Fantasia in F minor’ mengalun di tengah kesunyian. Semakin Harsa berjalan, semakin jelas alunan indah dari piano klasik yang ia kenal jenisnya. Karena penasaran siapa pianis yang memainkan lagu ini dengan indah, Harsa berhenti di depan pintu nomor 109. Pintu itu sedikit terbuka, Harsa memegang ganggang pintu dan membukanya dengan perlahan.

Terlihat seorang gadis remaja duduk membelakanginya, menghadap ke piano klasik berwarna putih mengkilap. Harsa tertegun dengan permainan gadis itu, seolah-olah menyerap Harsa untuk masuk dan merasakan apa yang ia rasakan saat menekan tuts piano itu, hingga Harsa tak sadar bahwa lagu ‘Fantasia in F minor’ selesai dimainkan.

“Denk niet aan mijn slechte spell. Ik voel me gekwest,” Harsa terbangun dari lamunannya.

Jangan pikirkan permainan burukku. Saya merasa terluka, katanya? Padahal yang tadi saja membuatku terserap ke dalam permainannya dan melupakan dunia nyata. Harsa kini tersenyum kepada gadis itu, untung saja dia paham bahasa Belanda karena Ibunya merupakan gadis Belanda yang jatuh cinta pada Ayahnya.

“Het spjit me, ik ben echt verbaasd over je spel,” maaf, saya sangat kagum dengan permainan Anda. Harsa berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Het is neit mijn bedoeling om je gevoelens te kwesten,” Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Mata biru terang milik gadis berambut blonde itu membesar lalu tersenyum.

“Nederlanders?” orang Belanda?, tanya gadis itu. Mungkin karena Harsa mempunyai rambut berwarna cokelat hazel.

“Nee, ik ben Indonesisch. Het is alleen dat mijn moeder van oorsprong Nederlandse is,” tidak, saya Indonesia. Hanya saja Ibu saya asli Belanda. Mendengar hal tersebut, gadis itu semakin bersemangat dan berdiri dari kursinya, menghampiri Harsa yang masih termangu di ambang pintu. Harsa akhirnya mengetahui nama gadis itu, Dorothea Durkhov. Gadis asal Belanda yang usianya satu tahun lebih muda daripada Harsa.

Semenjak saat itu, Harsa dan Dorothea menjadi teman dekat bahkan sering menampilkan permainan duo mereka. Dimulai dari lagu tingkat dasar, ‘Fur Elise by Beethoven’ hingga lagu ‘Schumann’s Symphony No. 2 in C major op 61’. Permainan duo mereka selalu menjadi favorit para murid di sekolah musik itu jika mereka mengadakan festival musik tahunan. Kabar tersebut terdengar ke seluruh sekolah musik yang ada di dunia hingga sampai ke telinga orang tua Harsa. Sang Ayah semakin yakin bahwa putranya akan sukses dan ia benar-benar tidak sabar menunggu putranya untuk tampil di Festival Musik Dunia bulan depan.

Terhitung 3 tahun 11 bulan Harsa sudah menempuh ilmu dan meningkatkan permainan pianonya di sana, angin malam Venesia kini terasa seperti jarum yang menusuk ke kulit dan menembus pembuluh darahnya. Harsa sangat benci musim dingin, tetapi ia menyukainya jika salju turun. Setiap malam ia selalu berlatih di ruangan nomor 109, memaksimalkan lagu ‘Dukas, The Sorcerrer’s Appretince’. Karena lagu ini akan dia persembahkan untuk Ayahnya nanti di Festival Musik Dunia. Harsa ingin membuktikan bahwa dia bisa. Bukan hanya bermain piano, di waktu senggang, Harsa juga mempelajari sedikit demi sedikit tentang desain grafis. Karena suatu saat, mau tidak mau dia akan meneruskan usaha Ayahnya.

Ia malam ini memutuskan untuk beristirahat dari latihannya, karena jika ia terlalu keras latihan, bisa saja tangannya mati rasa. Menikmati Venesia di malam hari adalah salah satunya. Harsa mendongakkan kepalanya, menatap langit malam Venesia yang terang akan rembulan. Ia menutup matanya, membiarkan angin malam mengambil alih. Aku harap besok semuanya akan berjalan dengan lancar. Harsa pun kembali berjalan menyusuri jalan di kota itu dan kembali ke asrama sebelum tengah malam.

Pagi ini, Stadion Pier Luigi Penzo dipenuhi banyak turis serta warga lokal. Sorak-sorai para penonton setelah mendengar penampilan peserta nomor 9 memenuhi stadion. Berbagai macam bunga dilemparkan ke atas panggung. Peserta nomor 10 kini dipanggil, itu giliran Harsa. Awalnya ia sangat gugup, setelah menaiki panggung dan duduk di depan piano klasik, kini ia merasa tenang sebab Ayah dan Ibunya sudah ada di kursi penonton khusus. Harsa tersenyum dan mulai menekan tuts piano tanpa melihat partitur, memainkan lagu ‘Dukas Sorcerrer’s Appretince’ yang selama ini ia persiapkan.

Setelah selesai bermain, penonton yang awalnya terdiam beberapa detik kini bersorak dan melemparkan banyak bunga ke atas panggung. Permainan Harsa tadi sangat mengagumkan dan sukses membagikan emosinya lewat lagu kepada para penonton. Ia berhasil membuktikannya. Harsa tersenyum dan membungkuk, memberi penghormatan kepada para penonton. Ayah dan Ibunya yang sedari tadi menunggu di belakang panggung kini memeluk putranya. Sekarang Harsa menjadi pemusik terkenal. Tetapi ia lebih memilih pulang ke Indonesia dan meneruskan usaha Ayahnya, yaitu desain grafis.

Di sela-sela kesibukannya, Harsa menyempatkan diri untuk bermain piano agar permainannya tidak hilang begitu saja lalu mengunggahnya di sosial media. Walaupun ia kini tak lagi tampil di acara-acara musik dunia, ia tetap dikenang sebagai pemusik legenda yang berasal dari Indonesia. Melalui unggahannya bermain piano, kini semua orang mengenal dirinya. Harsa benar-benar bersyukur dia bisa membuktikan dirinya, walau tak lagi di Venesia. Dan Venesia kini menjadi kenangan terindah dan saksi jerih payahnya Harsa. If he want, he would.

Selesai, 23 Oktober 2024.

Temui karya Yansi Aresta Camila lainnya di: https://medium.com/@aressTawithoutT
Jangan lupa follow dan apploud :D!

 

Comments (0)
Add Comment