“Kak, mau beli tisu?”
Aku sudah hapal suara bocah SD yang hampir setiap sore menawariku membeli tisu yang ia jajakan di sekitar mini market ini. Aku tak menoleh, tidak juga menjawab. Aku tengah asyik membaca buku Ensiklopedi Kesehatan yang baru saja kubeli di toko buku yang bersebelahan dengan mini market ini.
“Sesekali beli tisuku, Kak” harap bocah tersebut.
“Kenapa kamu menjual tisu di sekitar mini market ini? Mini market ini kan juga menjual tisu, kamu akan kalah saing”. Aku memberikan pandangan kepada bocah tersebut sembari menoleh ke arahnya.
“Eh, siapa namamu?”
“Raya, Kak.” Jawabnya sembari melempar senyum manisnya kepadaku.
“Kalau aku jualan di toko seberang atau di toko sebelah, aku takut, Kak. Di sana banyak abang-abang yang duduk-duduk dan kadang sambil merokok juga,” jelasnya.
“Bukannya di sekitar sini ada juga yang duduk-duduk dan merokok?” tanyaku.
“Tapi tidak sebanyak yang di sana, Kak.” jawab Raya.
Kupikir kekhawatiran Raya tentang hal tersebut ada benarnya. Sepertinya sekarang kejahatan terhadap anak-anak tetap marak. Ada perundungan, pelecehan, pemalakan, dan tidak tertutup kemungkinan penganiayaan. Aku pun lebih nyaman menunggu abangku menjemputku di dekat mini market ini karena alasan keamanan dan kenyamanan.
Di sini tidak terlalu ramai dan juga tidak terlalu sepi. Ada juga kamera pemantau terpasang di beberapa titik. Di depan mini market disediakan beberapa kursi untuk pengunjung yang ingin rehat sejenak. Dan yang penting, aku bisa jajan makanan.
Pada akhirnya kubeli juga tisu yang dijajakan Raya ini. Bukan karena butuh tetapi lebih karena tak enak saja, selalu menolak membeli tisu yang ia tawarkan. Kali ini kusempatkan ngobrol dengan Raya, bertanya tentang kesehariannya.
“Raya sekolah ndak? kelas berapa?”
“Sekolah kak, kelas tiga.”
“Kenapa jualan?” tanyaku lagi.
“Membantu ibu, Kak.” Raya menjawab tanyaku sembari wajahnya tengadah ke langit.
Aku melihat Raya seperti ingin menyembunyikan matanya yang berembun. Mungkin pertanyaan tadi membuatnya sedih. Kalau benar, berarti ada sesuatu tentang ibunya, atau tentang berjualan itu sendiri yang membuatnya sedih.
“Tapi Kakak ndak pernah lihat ada ibu-ibu yang jualan tisu di sini.”
“Ibuku memang tidak jualan tisu, Kak. Ibu bekerja di loundry pakaian, menyetrika. Karena itu aku harus membantu ibu mencari uang. Upah menyetrika pakaian yang didapat ibu tidak cukup untuk kami.” Raya menjelaskan sambil menunduk dalam.
Kalau melihat penampilan Raya, menurutku dia memang terlahir dari keluarga sederhana lebih tepatnya keluarga kurang mampu. Pakaian yang ia kenakan tampak sangat lusuh dan itu ke itu saja. Begitu juga sandal yang ia pakai, sangat kumal.
“Memangnya ayah Raya tidak bekerja?” aku jadi kepo juga.
“Ayah sudah lama ndak ada, kak. Pergi.”
“Oh, maaf kalau kamu tidak suka pertanyaan kakak.” aku berusaha menunjukkan bahwa aku hanya sekedar ingin tahu.
“Tet.., te tet…” Abangku membunyikan klakson motornya.
“Raya, abang kakak sudah datang. Kakak pulang dulu.” aku bergegas menyusul abangku seraya melambaikan tangan ke Raya.
Bang Aidil memang selalu tepat waktu menjemputku. Syukurnya jam pulang sekolahku lebih dulu dari jam pulang sekolah abangku. Jadi abangku selalu bisa menjemputku, walaupun aku harus menunggu sekitar satu jam. Ibuku seorang pegawai bank dengan kesibukan pekerjaan yang tinggi sehingga tidak bisa antar jemput aku. Sedangkan ayahku sudah lama meninggal dunia. Aku sangat bersyukur punya abang seperti bang Aidil. Ia baik, penyayang dan juga pintar.
*****
Seperti biasa hari ini aku menunggu Bang Aidil menjemputku di depan mini market. Tapi aku tidak melihat Raya. Tidak seperti biasanya. Padahal aku semakin penasaran ingin tahu banyak tentang Raya. Aku sebenarnya hari ini ingin tahu seperti apa Raya membagi waktunya untuk belajar. Kemarin saat kami ngobrol, Raya memberitahuku bahwa ia sudah hapal Alquran juz 30. Aku saja yang sudah kelas 8 SMP ini masih belum tuntas menghapal juz 30. Masih tersangkut di surat An Naziat dan An Naba.
Raya juga sempat menyampaikan keinginannya untuk tahu lebih banyak tentang ilmu Ekologi. Menurutnya lingkungan kita perlu diselamatkan karena sumber daya alam semakin menipis. Gerakan 3R, Reduce, Reuse, Recycle harus selalu digaungkan.
Aku menghampiri anak kecil penjual onde-onde yang kuperkirakan kenal Raya, karena anak tersebut juga sering mangkal di mini market ini.
“Dik, lihat Raya, ndak?”
“Kayaknya sakit, Kak.”
“Sakit apa? rumahmu dan rumah Raya berdekatankah?” aku merasa khawatir dengan kondisi Raya.
“Kata ibunya, panasnya tinggi sekali, Kak. Sampai mengigau. Rumahku tidak terlalu dekat dari rumah Raya. Tapi setiap hari lewat di depan rumahnya.” si adik menjelaskan kepadaku keadaan Raya.
“Sudah di bawa ke dokter belum ya?”
Adik kecil tersebut hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
***
“Raya…!” aku melambaikan tangan sembari memanggil Raya kulihat ia ada di depan mini market, dua hari setelah kutahu ia sakit.
Raya hanya senyum tipis. Aku berlari kecil ke arah Raya.
“Kamu pucat sekali, Raya.” kuamati Raya lebih dalam lagi.
“Katanya kamu demam tinggi kemarin. Kalau masih sakit jangan jualan dulu. Lebih baik kamu istirahat.” aku menasehatinya.
Kupegang tangan Raya. Aku merasakan tangannya sudah tidak panas lagi, tetapi sangat dingin. Aku merasa aneh dengan kondisi Raya. Kalau kemarin demam tinggi, mengapa bisa pulih dalam dua hari, pikirku. Terus mengapa tangannya dingin, tidak seperti suhu normal. Aku bertanya-tanya dalam hati.
“Aku sudah agak mendingan kok, Kak. Sudah tidak panas lagi. Tapi tadi pagi gusiku berdarah. Kata Ibu, aku mungkin sariawan.” Raya memberitahuku tentang kondisinya.
“Kamu ndak periksa ke dokter?”
“Ndak, Kak, Kemarin Ibu memberiku obat penurun panas. Sekarang memang agak lemas, mual juga. Tapi syukurnya tidak demam lagi.” Raya memaksakan senyum padaku.
“Mudah-mudahan kamu bisa segera pulih sempurna ya, Raya.” harapanku kepada Raya tulus.
“Bagaimana hapalan Quranmu?”
“Aku lanjut menhapal juz 27 dulu, Kak.”
“Kenapa juz 27? tidak juz 29 saja?!”
“Aku suka juz 27 kak, di juz 27 ada surat Ar Rahman. Aku sangat suka surat itu karena di dalam surat Ar Rahman itu Allah berkali-kali bilang nikmat yang mana yang kamu dustakan? Menurutku walaupun aku harus membantu Ibu dengan berjualan, Ibu juga harus kerja di loundri sambil juga momong adikku yang katanya anak ABK, kami harus tetap bersyukur. Kadang ada orang baik yang tiba-tiba memberi kami bantuan, misalnya bantuan beras. Kalau sekolahku gratis, Kak. Kata ibu, ada orang yang menanggung biayanya, termasuk membelikanku buku pelajaran.”
Aku tertegun mendengar penjelasan Raya, anak sekecilnya bisa berpikir melebihi orang dewasa. Betapa aku sangat kecil jika dibandingkan dengan pola pikir Raya.
“Nanti sambil menunggu jemputan, Kakak murojaah hapalan juz 30 sama kamu ya, jangan khawatir nanti kakak akan borong tisumu hahaha?!” aku mengakhiri pembicaraan karena Bang Aidil sudah datang.
***
Aku bergegas menuju kursi duduk mini market agar tak ditempati orang lain. Hari ini aku akan murojaah hapalanku bersama Raya. Tapi sampai pukul 16.50, Raya tak juga tampak. Kucari-cari adik lelaki tetangga Raya. Tapi tak tampak juga. Bang Aidil datang tepat pukul 17.00. Sejurus kulihat adik lelaki penjaja onde-onde.
“Bang bentar ya, ada yang ketinggalan!” aku meminta Bang Aidil menunggu sebentar.
“Dik, lihat Raya?”
Adik penjaja onde-onde menggelengkan kepalanya. Tapi sekilas ia bergumam.
“Raya mungkin sudah di syurga.” ucapnya.
“Maksudnya, Dik, kalau bicara yang jelas. Apa tadi yang kamu bilang?!” aku mencecarnya dengan pertanyaan.
“Tadi pagi Ibunya Raya menangis setengah teriak, Kak. Raya katanya sudah tidak sadar, tidak bergerak lagi. Terus di bawa ke Rumah Sakit. Aku belum tahu kabarnya lagi karena aku tidak pulang ke rumah, langsung jualan.”
Aku tak dapat berkata-kata lagi. Aku ingin menangis. Ingin meneriakkan nama Raya supaya ia mendengarku, bangun dan menemuiku. Apakah benar Raya sudah pergi? Apa sesungguhnya sakitnya? Apakah demam biasa dan sariawan? Banyak tanda tanya berkecamuk di kepalaku. Aku akan mencari dan menemui Raya. Tunggu kakak Raya.***
Fitrisma Rais. Seorang pendidik menyukai sastra, tinggal di Pekanbaru.