Rintik hujan yang halus menyapu debu yang ada di jalanan. Rerumputan itu menari-nari dihembus oleh angin. Perempuan kecil itu berjalan di pinggir sawah, senyum manis tergambar di wajahnya. Tak peduli dengan bajunya yang basah ataupun ‘ingus’ nya yang meleleh. Ia berjalan- berlari kecil dengan riang, hingga akhirnya ia berhenti. Senyum manis di wajahnya kini berubah menjadi takut. Banyak orang yang berkerumun di depan rumahnya. Ia berjalan menghampiri kerumunan tersebut, wajah orang-orang dewasa di sana terlihat tidak suka, menunjuk ke arah pria paruh baya dan wanita muda yang sedang berdiri di depan rumah itu. Itu adalah ayah dan ibunya. Bocah itu berlari dan memeluk ibunya.
“Ibu, kenapa ramai sekali?” Tanya anak itu di gendongan Sang Ibu. “Diam sebentar, Arum.” Balas Sang Ibu lalu kembali berargumen dengan kerumunan orang-orang itu. Setelah kerusuhan itu berakhir, mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Untuk di wilayah yang dikelilingi sawah, rumah itu cukup mewah dan sudah menggunakan bata-bata sebagai bahan bakunya.
“Arum, kamu sama Mas Gema dulu ya. Masuk ke kamar, Ibu sama Bapak perlu bicara.” Sang Ibu menurunkan Arum dari gendongannya. Arum kecil menggeleng. Untuk bocah seumurnya, Arum termasuk anak yang peka terhadap sekitar.
“Gamau bu, Arum mau sama Ibu.” Sang Ibu memasang wajah tegasnya dan dibalas anggukan kecil dari Arum. Arum masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Bocah laki-laki berusia 10 tahun menghampiri Arum sambil menggelengkan kepalanya.
“Kamu basah kuyup gini, nanti bisa sakit lho. Ayo Mas mandiin.” Mas Gema, kakak laki-laki Arum yang terpaut 5 tahun itu mengacak pucuk rambut Arum. “Maaf, Mamas. Tadi Arum main sama teman.” Gema mengangguk dan mengangkat Arum ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya. Setelah mandi dan memakai pakaian, Gema menyisir rambut Arum, sedangkan Arum sendiri sibuk bermain dengan bonekanya.
“Mamas, tadi mamas lihat kan banyak orang di depan rumah? Kenapa mereka marah sama Ibu dan Bapak?” Pertanyaan dari Arum membuat Gema terdiam lalu mencubit pipi Arum. “Ih Mamas, sakit tau!” Gema tertawa melihat reaksi Arum, adiknya yang menggemaskan. “Kamu masih kecil. Nanti kalau sudah gede, Mas kasih tahu dek.” Arum cemberut dan berlipat tangan. “Janji ya?!”
Nyatanya, hingga Arum berusia 10 tahun, Gema tidak memberi tahu apa pun tentang hal itu. Bahkan Arum mengetahui dengan sendirinya. Saat mereka tiba-tiba pindah ke daerah yang jauh. Hidup serba kekurangan dan Ibu yang tak kunjung pulang ke rumah. Pasalnya, Sang Ibu kabur di tengah malam dan meninggalkan secarik surat untuk suami dan kedua anaknya.
Teruntuk Mas Wira, Suamiku
Maafkan aku, aku tak sanggup lagi membantumu membersihkan segala kesalahan yang telah kau perbuat. Aku pamit.
Teruntuk putriku, Arum
Maafkan Ibu meninggalkanmu, Ibu berjanji akan pulang. Jika Ibu tak kunjung pulang, cari Ibu ya, nak?
Teruntuk pangeranku, Gema
Mas Gema jagain Arum sama Bapak ya? Kalau Arum kesusahan buat PR dan Bapak pulang mabok, temenin ya Mas? Ibu sayang dan percaya sama Mas. Jaga diri Mas, ya?
Arumlah yang pertama kali menemukan dan membaca surat itu. Arum yang saat itu 11 tahun langsung membangunkan Gema sambil menangis. Semenjak saat itu, banyak pria jahat yang selalu mencari Ayahnya. Tetapi mereka berdua memilih untuk diam dan kabur dari rumah, meninggalkan Sang Ayah seorang diri.
“Mamas, ga kangen Ibu sama Bapak?” Tanya Arum yang sedang membaca buku di atas kasur. Mereka berdua kini tinggal di kost yang cukup murah. Berbekal harta dan perhiasan peninggalan sang Ibu, cukup untuk memenuhi hidup mereka hingga Arum SMA dan Gema yang sudah bekerja.
“Kangen. Tapi Mas ga suka sama Bapak dan Ibu yang ninggalin kita.” Gema yang awalnya berbaring itu kini terduduk.
“Iya sih, Mas. Tapi kan mereka orang tua kita. Oh iya, Mamas masih gamau ngasih tahu hal itu ke Arum? Arum sekarang sudah 17 tahun lho.” Ucap Arum menagih janji Kakaknya. Gema tertawa ringan. “Kamu masih inget saja? Hm… waktu itu Mamas baru saja pulang sekolah. Tiba-tiba gerombolan warga desa gedor-gedor pintu rumah kita. Mas takut, dan akhirnya disuruh Bapak diem dikamar. Yang Mas tahu, Bapak nipu warga desa, Rum.” Arum mengangguk.
“Kalau itu mah, Arum sudah tahu dari 7 tahun yang lalu, Mas. Maksud Arum, memangnya Bapak nipu apaan ke warga desa sampai bisa ngehancurin keluarga dan rumah yang Arum punya?” Gema terdiam, ia paham betul apa yang dirasakan adik satu-satunya itu. Gema mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
12 Tahun yang lalu…
“Kalau warga semua memilih saya sebagai Bupati, saya jamin akan sejahterakan dan mengantarkan warga-warga sekalian ke kenyamanan. Saya akan membuka tabungan masyarakat dan jika warga-warga menabung dengan saya, saya jamin kembalinya dua kali lipat!” Ucap Wira, kepala desa saat itu. Karena janji tersebut, banyak warga yang memilih Wira menjadi Bupati dan menabung dengannya.
Setelah pemilihan, Wira pun resmi menjadi Bupati di daerah tersebut. Semenjak saat itu pula hidup Arum dan Gema berubah drastis. Dari yang awalnya serba cukup, kini berlebih. Arum dan Gema yang masih kecil tak tahu bahwa Sang Ayah menggunakan uang tabungan warga desa. Sepulang bekerja, Wira selalu membelikan putri dan putranya mainan mahal. Tetapi diiringi pula dengan Wira yang mulai tempramental. Ia stres memikirkan tuntutan warga desa sedangkan uang itu sudah habis ia gunakan. Rumah yang Arum dan Gema sayang, selalu menjadi titik munculnya kebahagiaan mereka kini lenyap. Wira selalu berdebat dengan istrinya dan tak jarang pula menggunakan kekerasan, fisik maupun mental.
Puncaknya adalah malam di mana Arum tidur bersama Gema, saat setelah warga pulang ke rumah masing-masing. Gema yang terbangun karena suara barang pecah melepaskan pelukannya dari Sang adik. Untung saja Arum tipikal anak yang susah dibangunkan jika sudah tertidur lelap. Malam itu Gema menyaksikan Sang Ayah dipukuli habis-habisan oleh warga sedangkan Sang Ibu menangis dari kejauhan. Keadaan rumahnya berantakan. Semenjak Wira yang gila akan harta dan jabatan muncul, rumah itu tidak lagi me-rumah.
Setelah mengetahui hal itu, Arum memeluk Sang kakak sambil menangis. Gema menghela napas dan tersenyum lembut. “Kok malah nangis sih? Kan sudah lama banget ceritanya.” Arum menggeleng dan menyeka air matanya.
“Maafin Arum ya, Mamas. Pasti Arum ngebebanin Mamas banget. Mamas hebat sudah bisa bertahan sama Arum. Mamas jangan pergi kaya Ibu sama Bapak, ya? Cuma Mamas rumah Arum sekarang.”
Kini Gema dihujani rasa sedih dan haru. Tak sadar, air matanya pun kini mengalir satu-persatu menuruni pipinya. Gema mengangguk. “Mamas janji. Arum juga janji sama Mamas, ya? Sama kaya Arum, Mas Cuma punya Arum sekarang. Kita kuat-kuat bareng ya?”
Malam itu, hujan dan petir kuat menjadi saksi pahitnya kehidupan yang Arum dan Gema jalani. Pada akhirnya, mereka hanya memiliki satu sama lain sebagai tempat pulang. Enggan mencari Ibu dan Bapaknya kembali, karena rasa kecewa yang sudah menumpuk di dalam diri.
Selesai
30 September 2024.
Temui karya Yansi Aresta Camila lainnya di: https://medium.com/@aressTawithoutT
Jangan lupa follow dan apploud :D!