Senyulong | Cerpen : Qonitah Rifda Zahirah

Senyulong

Nama ku Senyulong, mereka mengenalku sebagai buaya yang menguasai perairan rimbunnya belantara Sumatera. Aku amat ditakuti, acap kali kutimbulkan mataku di permukaan air, mereka berlari sembari menjerit gelisah. Jangan samakan aku dengan buaya lainnya, aku berbeda dari mereka. Moncongku pipih dengan gigi sangat tajam yang berjejer rapi menghiasi. Namun itu dulu, dulu sekali, jauh sebelum manusia datang membawa alat besar berbentuk aneh mengalahkan tatapan tajamku di keheningan malam yang mencekam, menggulingkan satu persatu tunggak-tunggak rimbun lalu meratakannya dengan tanah, menimbun inci demi inci sungai yang menjadi pelataranku. Aku takut, memilih berlari menyusuri sisa-sisa sungai dangkal yang kian sempit. Mencari sisa-sisa harapan hidup yang sedari kemarin ku elu-elukan.

Siang berganti malam, dan malam berganti siang. Itu siklus yang selalu terjadi setiap harinya. Rumahku berubah menjadi tanah lapang nan gersang, air yang biasanya menyembunyikan keberadaanku telah hilang. Kuperhatikan manusia-manusia itu menaburinya dengan bibit-bibit yang diatur sedemikian rupa. Seiring berjalannya waktu, bibit-bibit itu tumbuh menjadi tanaman berdaun hijau dengan batang utama lurus menjulang ke atas. Aku bahagia melihat pemandangan itu. Hijau, epik sekali dilihat oleh mata ini. Kudengar… mereka menamakannya Jati. Seiring menyingsingnya fajar, tidak hanya Jati yang berada disana, banyak tumbuhan lainnya yang tumbuh di lahan bekas rumahku itu. Acap kali ketika aku berjalan di tepian demi menikmati pemandangan baru ini, tumbuh-tumbuhan itu menyapaku. Satu-dua memuji moncongku, beberapa bergidik takut namun mencoba berteman. Tumbuh-tumbuhan ini kini menjadi teman yang menemani setiap hariku di hutan ini, aku sudah mulai merasa tidak kesepian.

Waktu terus berjalan. Susah sekali rasanya kubuka mataku, namun ku paksa karena dari tadi sesuatu terus berjatuhan mengenai moncongku.

“Long, segera bangun! Kau dalam bahaya!” teriak si Jati yang tetap berusaha membangunkanku.

“Heh? Bahaya apa Ti? Kau ini, mengganggu tidurku saja ah. O ya, berhenti melempari aku dengan buah kecil-kecilmu itu,” kataku pada Jati dengan sedikit kesal.

“Bangun! Lihat mesin-mesin kuning itu! Bukankah sebelumnya mesin-mesin itu yang menghancurkan rumahmu?” panik Jati dan masih mencoba membangunkanku.

Mesin?

Kuning?

Mesin kuning?

Mesin Kuning!

Mendengar kata ‘mesin’ itu membuat mataku langsung terbuka. Instingku menajam. Moncongku siap menerkam. Aku melihat puluhan mesin kuning itu berjejer rapi dengan kepulan asap yang menyeruak dari corongnya itu. Orang-orang berpakaian lusuh dengan sepatu karet dan juga cerutu atau sigaret di mulutnya berjalan mendekati masing-masing mesin kuning itu. Aku panik, kutatap Jati dan sekawanannya.

Apakah ini akhir bagi kita?

Tidak, jangan, kumohon…

Ya Tuhan, itu mengerikan sekali…

Aku tidak mau ditebang! Siapapun tolong selamatkan aku!

Suara-suara menggema seantero hutan. Dapat kurasakan hawa-hawa mencekam yang berpadu dengan kepanikan, rasa takut, dan juga pasrah. Aku mengarahkan mataku ke atas, melihat Jati yang diam membisu menatap mesin-mesin yang mulai bergerak itu.

“Jati…” Panggilku parau.

“Senyulong, apakah aku akan masih melihat mu besok?” taya Jati dengan nada suara pasrah. Seakan ada sengatan tajam di telingaku. Ku tatap mesin-mesin yang bergerak membabi buta itu.

“Tidak Jati, kita masih aku bertemu besok! Mari kita lari bersama, aku, ak.. aku bias memapahmu! Aku bisa mencabutmu dengan ekor kuat ku ini! Kita akan selamat bersama, berhenti melihat mesin-mesinitu Jati!” Aku berusaha menenangkannya, menghentakkan ekorku di sekitar tanahnya, berharap akar Jati keluar dan ia tumbang di atasku, kemudian kami lari. Itu rencanaku. Mesin-mesin itu sudah semkain dekat dengan keberadaanku, desingan mesinnya seakan menjadi ultimatum bahwa tiada siapa mampu melawan mereka.

“Lari ulong! Sekarang! Lupakan rencana kau itu!” bentak Jati kepadaku. Aku terperangah. Menatapnya, meminta kepastian dari kata-katanya. Ia meranggaskan daunnya, pertanda iya. Aku mulai memutar tubuhku, berlari sekencang yang aku bisa, tanpa menoleh ke belakang, tanpa tahu apakah jati temanku itu bernasib seperti apa.

            Selamat tinggal, Senyulong, Jati senang menjadi temanmu…

Suara itu, suara itu seakan menjadi penjelas bagiku bahwa Jati telah tiada. Aku terhenti, napasku tersengal. Kubuka moncongku untuk menghirup udara lebih banyak. Aku melihat sekeliling. Kosong, lengang, lembab. Tak dapat kutahan air mata ini, butiran-butirannya jatuh melalui ekor mataku, Jati…

Aku terbangun ketika tempias hujan dari dedaunan menerpa wajahku. Dari kejauhan kulihat kelap-kelip lampu rumah penduduk manusia. Segala macam pertanyaan, interupsi, dan protes berkecamuk dalam kepalaku. Ku pikir, para manusia itu ingin memperbaiki hutan, makanya mereka menanam Jati. Tetapi, sepertinya aku keliru. Tidak, tidak sepertinya. Aku benar-benar keliru. Mereka tidak menghijaukanya, mereka mengubah nya menjadi lahan-lahan korporasi yang menguntungkan bagi kantong-kantong mereka. Manusia terus mengubah rumahku  dengan keserakahan mereka menjadi lahan-lahan perkebunan yang  luas, mempersempit aku untuk bergerak. Aku terdesak di tanah yang seharusnya tak membuat aku sesak.

Sedikit kisah masa lalu ku. Dulu, sebelum tank-tank atau mesin besar meratakan hutan dengan tanah, aku dan manusia hidup berdampingan tanpa mengusik satu sama lain. Manusia-manusia itu menghormatiku, karena kata mereka, akulah satu-satunya jenis buaya yang tidak ada di belahan bumi lainnya.  Aku selalu dibangga-banggakan, sebagai hewan paling ganas di belantara. Akan tetapi, itu dulu, kini taringku tak lagi ditakuti, tatapan tajam mataku tak membuat mereka gentar. Senjata berapi mereka jauh lebih gagah, serakah, dan mematikan. Aku takut, kehilangan keperkasaanku saat bulir-bulir tajam itu menembus badan gagahku. Lebih baik aku bersembunyi saja, iyakan? Di sisa rumahku yang terjepit, aku berusaha bertahan.

Perut ini lapar, namun alam ku tak lagi mencukupi kebutuhanku. Kini dengan rumah yang semakin sempit, dan  makanan yang terbatas. Aku memutuskan untuk keluar hutan, mencari makanan yang ku jumpai. Jati, aku lapar… omongku pada kesemuan. Langkah semakin jauh, namun makanan tak kunjung diperoleh, lantas aku tersesat dalam perkampungan manusia.  Aku yang tersesat terus melangkahkan kaki. Entah kemana, ikuti saja. Entah bagaimana nasibku, terima saja. Perut ini lapar. Sesekali kuteguk air-air coklat yang berkubang di tanah becekan, tidak enak memang rasanya, tapi lebih baik ketimbang perjalananku sia-sia karena mati kehausan.

Di akhir tenagaku. Aku mendapatkan makanan yang diinginkan, seekor ayam gemuk sedang berjalan tanpa arah. Langsung kujadikan incaran saja ayam itu. Bunyi kokokannya yang berisik,membuat ku takut malah menarik perhatian para manusia, sehingga aku menariknya ke pinggir hutan dan melahap habis tanpa sisa. Kini rutinitasku berubah, berburu-menariknya ke tepi hutan-lalu melahapnya tanpa sisa. Sesekali kulihat manusia-manusia itu kebingungan dan panik mencari hewan ternak mereka yang hilang. Hei, hewan ternak kalian itu, makananku tahu.

Hingga suatu ketika aku kembali ke perkampungan tersebut guna kembali mendapatkan makanan yang cukup. Tetapi, para manusia yang menemukan keberadaanku beramai-ramai mengikat sembari membopongku kesuatu tempat yang tidak aku kenal. Aku panik, berusaha melepaskan ikatan dengan gigi-gigiku. Namun aku tak sengaja mengenai salah seorang diantara mereka, kulihat luka sayat menganga di lengan kanannya. Ia meringis dan histeris, sedangkan manusia lainnya tampak semakin marah, aku benar-benar tersudut. Aku masih terus mencoba untuk lari, namun usahaku sia-sia. Sayangnya, aku harus meregang nyawa dengan senjata laras panjang yang menembus beberapa bagian tubuhku.  Sedikit demi sedikit kesadaranku mulai hilang, mereka menambak ku karena aku memakan ternaknya. Mereka menembak ku karena sudah berani masuk ke pemukimannya. Mereka tidak mengerti, para manusia seakan menjadi yang paling menderita ketika aku atau hewan lainnya masuk dan mengusik pemukiman mereka, padahal… para manusia itu lebih bengis daripada kami.

Nafasku tersengal, mataku memutih. Aku ingin tetap dibanggakan oleh Indonesia, sebagai satu-satunya spesies buaya yang hanya ada di Indonesia, sebagai penguasa Sungai Sumatera, bukan hanya sebagai cerita bergambar untuk generasi Indonesia. Aku ingin tetap dibangakan oleh Indonesia, tetap ada di alam bebas hingga generasi mereka menyaksikan dan mengenal ku, bukan sekedar cerita bergambar yang mereka saksikan. Tapi akhir dari cerita ini, aku, Senyulong, mati ditembak selaras panjang oleh beberapa manusia yang tak tahu diri atas keegoisan mereka merusak alam.

cerpensastra
Comments (0)
Add Comment