Serendipity: Cerpen Deswita Namira Salsabilla

Senyumannya, tawanya, parasnya, semua yang ada pada dirinya terlihat sempurna di mataku. Aku ingat sekali bagaimana kami menghabiskan waktu bersama di pantai pada sore hari. Kami bermain ombak dan melihat matahari terbenam bersama. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan jatuh cinta dengan laki-laki ini.
Aku bertemu laki-laki ini secara tidak sengaja saat aku sedang berjalan-jalan di koridor dekat perpustakaan SMA. Pada waktu itu ia merupakan murid pindahan dari Bandung. Pantas saja aku tidak pernah melihatnya.
Sejak saat pertama kali aku melihatnya ada rasa yang berbeda yang aku rasakan pada dirinya dan rasa itu belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ada sesuatu dari dalam dirinya yang membuatku tertarik kepadanya,yang tak pernah aku temukan sebelumnya.
Aku mulai menyukainya. Aku terlalu menyukainya dan akhirnya aku sampai di fase mencintainya. Aku mencintainya lebih dari yang ia tahu, meskipun ia tak pernah tahu.
Awalnya aku dan dia dulu hanya sekedar berteman. Kami berteman karena kami sering kali bertemu di perpustakaan sekolah. Tetapi, itu sudah beberapa tahun yang lalu saat aku masih SMA. Aku tidak dapat menyatakan perasaanku kepadanya karena aku takut ia akan menghindar dan sikapnya berubah. Aku mencoba untuk melupakannya, tetapi entah mengapa rasa itu masih ada hingga sekarang.
Saat ini, aku sudah bekerja. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah ibu kota Jakarta. Biasanya setelah pulang dari kantor tempatku bekerja, aku sering singgah ke sebuah café yang letaknya dekat dengan kantorku. Aku suka melihat pemandangan kota Jakarta di sore hari di café ini. Rasanya begitu tenang melihat langit yang berubah warna dari warna biru ke warna jingga.
Aku melangkahkan kaki ku untuk masuk ke dalam cafe itu. Saat ingin pergi ke kasir untuk memesan minumanku, betapa terkejutnya aku, Aku melihatnya. Dia yang aku ceritakan. Dia ada di cafe ini. Sungguh takdir yang tak terduga.
Saat aku melihatnya, memori memori lama yang dulu pernah aku habiskan dengan dia tiba tiba teringat kembali. Aku penasaran apakah dia masih mengingat aku yang dulu. Aku coba memanggil namanya. Ia menoleh dan tersenyum kepadaku. Ternyata ia masih ingat.
Kami memutuskan untuk duduk di salah satu meja dekat jendela. Pancaran sinar jingga mengenai tepat wajahnya. Ia masih terlihat sama. Tidak banyak yang berubah pada dirinya. Setelah kami bertemu, kami mengobrol sebentar. Kami membahas banyak hal. Mulai dari karir, kuliah dan pasangan. Untungnya dia belum ada seseorang dan aku juga tidak memiliki seseorang, jadi kupikir ini adalah kesempatan yang pas untukku
Keasyikan berbincang,aku tidak sadar bahwa langit sudah mulai gelap. Aku memutuskan untuk pamit kepadanya. Untung saja kami sudah bertukar kontak. Sebenarnya aku masih ingin menghabiskan waktu dengannya tapi mengingat ada pekerjaan yang perlu disiapkan untuk meeting besok, aku memutuskan untuk Langsung pulang ke rumah.
Pagi hari, saat sedang dalam perjalan ke kantor, aku di telfon oleh rekanku, bahwa meeting siang ini akan dimajukan menjadi pukul 09:30 . Meeting yang awalnya akan dilakukan pada pukul 13.00 dimajukan menjadi pukul 9.30. Betapa terkejutnya aku karena saat ini aku masih terjebak di tengah macetnya ibu kota. Aku kalang kabut, pasalnya ada beberapa bahan meeting yang harus aku siapkan.
Setelah beberapa menit aku terjebak di tengah macet ibu kota. Akhirnya aku sampai di kantor pada jam 09:24 dimana, aku hanya memiliki waktu sekitar 6 menit untuk menyiapkan bahan yang yang diperlukan untuk presentasiku.
Akhirnya, pada pukul 09.30 meeting pun dimulai. Namun, ada satu kursi di depan ku yang kosong. Detik itu juga, pintu ruangan meeting terbuka. Aku dibuat terkejut dengan apa yang aku lihat. Itu dia. Ya, dia yang kemarin kutemui di cafe. Ia terseyum kepadaku. Sungguh takdir memiliki caranya tersendiri.
Tak terasa, meeting pun selesai hingga pukul 12.45 . Saat akan keluar dari ruangan meeting, beberapa rekan kantorku mengajakku untuk makan siang di sekitar kantor karena kebetulan ada rumah makan yang baru buka. Tapi, aku menolak ajakan mereka karena aku merasa belum lapar. Lagi pula aku sudah makan roti di tengah meeting tadi.
Saat akan kembali ke ruangan kerjaku, tiba tiba ponselku berbunyi. Dia mengirimi aku pesan untuk bertemu di café tempat sebelumnya kami [ernah bertemu.
Aku memutuskan untuk pergi ke cafe tersebut. Langkah demi langkah aku ambil, hingga tiba di cafe tersebut. Kini aku dan dia duduk berhadapan. Aku dan dia berbincang mengenai meeting tadi. la mengatakan kami akan sering bertemu untuk membahas tentang pekerjaan. Setelah berbincang dengannya, aku memutuskan untuk kembali ke kantor.
Tepat pukul 18.14 aku sampai di rumah. Sebenarnya jam kerjaku berakhir pada pukul 17.00 namun lagi-lagi nasibku tinggal di ibu kota adalah harus terjebak macet saat jam berangkat kerja dan pulang kerja. Aku menghabiskan waktu sekitar 1 jam 14 menit di jalan, karena terjebak macet.
Sekarang sudah pukul 21.45. Aku belum bisa memejamkan mata ku untuk pergi ke alam bawah sadarku. Aku seketika teringat dengan ucapannya saat di cafe tadi bahwa kami akan sering bertemu membahas mengenai pekerjaan. Ada perasaan senang dan takut yang aku rasakan. Aku senang karena dengan pekerjaan itu, kami bisa sering bertemu dan takut jika dia lebih menyukaiku sebagai teman dan rekan kerjanya saja tidak lebih dari itu. Karena bisa saja rasa sukaku akan bertambah seiring berjalannya waktu karena aku akan bertemu terus dengannya. Tapi, apakah dia memiliki perasaan yang sama kepadaku?. Entahlah, aku tidak tahu. Aku akan mengikuti bagaimana takdir membawa cerita kami.
Hari demi hari, waktu demi waktu aku lalui. Hampir setiap hari kami bertemu. Tak terasa sudah berjalan 3 bulan kami bertemu sejak pertemuan singkat di cafe itu. Tapi, ada yang beda pada hari ini. Entah mengapa ia mengajakku makan malam bersama di sebuah restoran ternama di ibu kota Jakarta. Situasi ini membuatku senang karena dulu aku hanya bisa membayangkannya saja. Namun, sekarang aku makan malam dengannya. Laki-laki ini adalah penyebab euforiaku.
Setelah sampai di restoran tersebut, aku diantar ke tempat duduk oleh pegawai restoran tersebut. Alunan lagu “Can’t help falling in love with you” terputar di restoran dan pas sekali suasananya sedang hujan. Sungguh momen yang menyenangkan.
Beberapa hari kemudian, aku mendapat pesan dari dirinya. la memintaku untuk bertemu dengannya. Tetapi, ia mengajakku bertemu di pantai yang pernah kami kunjungi bersama. Setelah membaca pesan darinya,aku memutuskan untuk segera bersiap-siap untuk menemuinya. Aku menaiki taksi dan radio memutar sebuah lagu yang membuatku teringat akan dirinya.

Say yes to heaven, say yes to me
I’ve got my mind on you

Lagu yang dinyanyikan oleh Lana Del Rey ini membuatku teringat kepadanya karena dulu saat kami terpisah, pikiran dan hatiku hanya tetap untuk dia.
Tak terasa aku sudah sampai di tempat yang ia katakan. Aku mencarinya dan aku melihatnya di tempat yang sama. Aku menghampirinya dan duduk di depannya. Kami mengobrol banyak sampai akhirnya ia bertanya, “Apakah kamu ingat tempat ini?” Aku mengangguk. Apakah dia berpikir aku akan melupakan tempat ini? Tentu saja tidak. Seperti cerita Romeo dan Juliet yang meninggalkan banyak kenangan, sama halnya tentang tempat ini. Setiap hal kecil yang ia lakukan untukku, itu mengingatkanku mengapa aku masih mencintainya.
Kami mengobrol panjang lebar sampai akhirnya ia menceritakan tentang perempuan yang ia suka pada saat SMA. Saat aku mendengamya, aku tertegun. la masih memikirkannya sampai sekarang. Aku termenung sesaat lalu aku mendengar suaranya lagi yang mengatakan bahwa ia sudah bertemu kembali dengan perempuan tersebut.
Aku menatapnya dan mata kami bertemu, lalu ia mengatakan “Perempuan itu kamu”. Aku menatapnya kaget, aku terdiam, masih tidak menyangka. Apakah benar? Apakah ini mimpi? Seseorang tolong cubit pipiku. la menceritakan lagi bahwa ia sadar diperhatikan olehku saat SMA dan ia juga melakukan hal yang sama.
Wah, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Ini seperti kebetulan yang sangat indah atau yang biasa disebut dengan serendipity.

Deswita Namira Salsabilla, siswa SMA Cendana Pekanbaru

Comments (0)
Add Comment