Si Anak Mahal: Cerpen Ruslina

Lathifah Mardiyah Hakim adalah anak keempat. Aku mengatakan Dia adalah anakku yang termahal dibandingkan dengan yang lain, karena lahirnya dengan cara operasi. Tepat pada Senin 12 Januari 2004 pukul 08.00 pagi, dia lahir ke dunia ini dalam keadaan sehat, normal cantik dan sempurna, tidak ada kekurangan sedikit pun. Namun, dia harus pergi untuk selamanya.
Hari berganti, minggu berlalu berganti bulan kita bersama melewati dengan penuh suka cita. Namun, ketika di bulan ketiga anakku mengalami demam, aku beri perawatan untuk pertolongan pertama dengan obat‐obat herbal sebelum dibawa berobat ke dokter.
“Gimana ni, Bang, badannya semakin panas.”
“Kita bawa periksa aja ya?” tanyaku penuh kerisauan.
“Ia, Dek, kita bawa berobat saja, sepertinya tidak turun juga panasnya. “
Kami saling menatap dengan wajah penuh kesedihan. Kami pun bergegas membawanya untuk berobat ke dokter. Setelah antri lama dan cukup melelahkan, kami pun dipanggil untuk diperiksa, diberi obat dan konsultasi.
“Gimana kondisi anak kami, Dok?”
“Apa penyakitnya?” Aku bertanya penuh rasa penasaran.
“Tidak apa‐apa ibu, hanya demam biasa,” ucap sang dokter.
“Oh ya Dok, terima kasih,” jawabku dengan hati lega.
Akhirnya kami pulang, berharap setelah minum obat nanti bayi mungil kami bisa segera sembuh. Setelah sampai di rumah dan minum obat, kondisinya mulai membaik selama tiga hari. Namun, dia tetap rewel, hampir setiap malam kami bergantian menjaganya.

Ini adalah malam untuk yang kesekian kalinya. Menghadapi kondisi anakku yang tidak bisa tidur karena kesakitan.
“Bang gantian ya jaganya, adek capek ni.” Akupun membangunkan suamiku dengan kondisi badan yang letih dan rasa kantuk yang tidak bisa kutahan lagi.
“He em, sebentar ya.” Dalam keadaan setengan sadar suamiku berusaha untuk bangun. Sambil menahan rasa kantuknya suamiku mencari sarung yang bisa dijadikan buaian. Mulailah edisi bergadang untuk menjaganya dan akupun mulai merebahkan badan karena tak sanggup lagi untuk berdiri. Kejadian seperti ini berlangsung hampir setiap malam. Kami ayun pakai buaian, masih juga menangis, dibuai pakai sarung digantung di leher suamiku, masih juga rewel. Letih, lelah dan kondisi kami semakin tak berdaya. Itulah yang kami rasakan setiap malamnya. Pada waktu siang hari kondisinya bisa sedikit tenang, walaupun ada juga rewel.
Suatu ketika di pagi hari, aku keluar rumah untuk mencari udara segar sambil menggendongnya. Menyusuri gang kecil depan rumah kontrakanku. Kami berpapasan dengan tetangga yang lalu lalang. Salah seorang menghampiri dan bertanya kepadaku.
“Apa kabar debay?” sapanya.
“Iya, Bu. Alhamdulillah agak mendingan,” jawabku.
“Masih panas ni badannya,” sambil ia memegang kepala anakku.
“Coba bawa aja ke tukang urut, Mi.” Ia menyarankan agar bayi kecil kami dibawa saja ke tukang urut atau pijat, karena mungkin masuk angin atau kecapekan.
“Oh ya, Bu, “ucapku.
Keesokan harinya kami ikuti saran tetanggaku untuk dibawa ke tukang urut atau pijat. Penuh rasa cemas dan seksama aku perhatikan cara pengobatannya. Terlihat seperti biasa diurut sambil membaca doa-doa yang menurutku tidak menyalahi syariat. Setelah selesai diurut diberilah kami daun jarak sebagai obatnya. Kami menurutinya dengan memberikan obat itu, berharap dengan cara ini Allah akan mengangkat penyakit anakku dan bisa sehat kembali.

Malam kembali datang, suara tangisan anakku mulai terdengar, kembali kami bergadang untuk menjaganya. Walaupun sudah diberi obat dan diurut, tapi Dia tetap juga rewel dan panasnya pun tidak mau turun. Aku mulai putus asa, dan merasa tidak sanggup untuk menjalaninya.
“Ya Allah aku nggak kuat.” Gemuruh hatiku menyatakan ketidaksanggupanku menghadapi ujian ini.
“Sabar ya, Dek,” ucap suamiku sambil menghampiri dan memelukku. Kami pun saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ya Allah kuatkan kami dalam mengahadapi ujian ini,” gumamku dalam hati.
Suatu ketika anak kami diperiksa oleh Dokter Aisyah, ini adalah agenda berobat untuk yang kesekian kalinya, setelah aku ceritakan tentang kondisinya, dokter mulai memeriksa dengan saksama, dilihat bagian kuku dan kelopak matanya.
“Anak ini pucat dan kurang darah,” ucapnya.
“Sakit apa anak kami, Dok?” tanyaku.
“Gimana kalau anak ibu dilakukan cek darah?” tanpa menjawab pertanyaanku dokter langsung menyarankan cek darah.
“Haah! Cek darah?” responku penuh kaget.
“Ia, Bu. Karena di Bangkinang tidak ada, jadi harus dibawa ke Pekanbaru di Lab Prodia,” jawab dokter sembari memberi penjelasan.
Resep obat sementara diberikan jelang cek darah. Kamipun pulang sambil memikirkan persiapan ke Pekanbaru. Sementara kondisi anakku semakin memprihatinkan. Jika harus dirawat inap, butuh biaya, waktu, dan tenaga. Namun, demi kesembuhan anakku segala usaha dan ikhtiar kulakukan. Sehari setelah berobat itu kamipun berangkat ke rumah sakit di Pekanbaru untuk rawat inap. Sesampainya di rumah sakit aku dan suami segera menuju tempat pendaftaran. Para tim medis sudah mulai bersiaga. Saat pengecekan untuk perawatan terjadi kesulitan mencari pembuluh darah.
“Tolong ya Bu dibantu pegang anaknya.”
“Baik….baik”
“Bismillah,” ucapku.
“Tenang ya debay cantik,” suara perawat berusaha menenangkannya
Salah seorang dari perawat menyapaku, meminta bantuan karena dia rewel dan terus menangis. Aku menyaksikan proses perawat kesulitan mencari pembuluh darahnya. Dia sudah menangis terus, akupun tak sanggup melihatnya. Saat perawat mulai menusukkan jarum ketangan anakku.
Setelah berhasil diinfus dan juga transfusi darah, dia mulai bisa tertawa, wajahnya cerah dan sehat. Sambil menunggu hasil tes darah dari Prodia, kami dikunjungi sama saudara dan tetangga. Setelah beberapa hari dirawat, kondisi sudah mulai membaik dan hasil tes tidak menunjukkan hal yang aneh, maka diperbolehkan untuk pulang. Selang beberapa hari di rumah, gejala yang sama muncul kembali, demam, panas naik turun dan perutnya membesar.
“Ya Allah sembuhkanlah anakku, angkatlah penyakitnya,” gumamku sambil terisak menahan tangis. Aku terus berdoa dan berharap agar anakku bisa sehat kembali. Hari demi hari kami lalui dengan kesabaran. Banyak teman yang menyarankan untuk dibawa saja ke Kota Padang.
“Coba ibu bawa saja berobat ke Padang,” saran temanku
“Haah Padang?”
“Iya, di sana lengkap fasilitasnya.”
“Oh ya.”
Suamiku kebetulan kuliahnya di Kota Padang, jadi ada kenalan di sana. Kami kenal dengan Dokter Cici yang tinggal di Sumbar, kami diminta menginap di rumahnya sebelum Si kecil dibawa ke Rumah Sakit M. Jamil Padang. Beliau dan keluarganya baik sekali. Kami sebagai tamu sangat dimuliakan dan dimudahkan semua urusan kami. Kebetulan suami Ibu Cici juga sebagai dokter di rumah sakit tersebut. Mulai dari perawatan di rumah sakit, pelayanan yang sangat baik dan menyenangkan. Separuh penyembuhan untuk anakku sudah kami rasakan.
Waktu berlalu hari berganti, perawatan terus dilakukan, tetapi tidak ada hasil yang menggembirakan. Sementara kondisiku juga kurang sehat karena anakku tidak bisa minum ASI lagi. Aku juga demam karena barah susu, harus bolak‐balik ke kamar kecil untuk memompa ASI. Hampir satu pekan anakku dirawat namun tidak menunjukkan hasil yang baik dan semakin memburuk. Bahkan semua badannya membiru, bekas suntikan.

Suatu ketika ada kunjungan rutin dari para dokter senior untuk memeriksa kondisi anakku. Dengan teliti dan sangat cermat anakku diperiksa.
Sembuhkanlah anakku, angkat penyakitnya, sehatkan kembali seperti sedia kala, doaku dalam hati, dan sesekali kucermati saat dokter memeriksa anakku. Aku terus berharap dia akan baik‐baik saja. Semua keluarga terutama mbah putrinya terus menghubungi untuk mengetahui kondisinya. Mbahnya tidak bisa ikut karena harus menjaga abang dan kakaknya. Karena kejadian waktu itu memang pada saat hari efektif sekolah.
Setelah selesai pemeriksaan, kami pun dipanggil oleh dokter spesialis, ada hal penting yang mau disampaikan. Hatiku deg‐degan, harap cemas, khawatir semua rasa bercampur dalam benakku. Kemudian dokter itu menyampaikan dengan penuh hati‐hati dan tenang supaya kami tidak kaget.
“Bapak dan Ibu… anak Bapak dan Ibu…,” dokter terdiam sejenak.
“Hmmm…”
“Gimana Dok dengan anak kami?”
Dokter itu menghela napas panjang sebelum memberikan keterangannya. Terlihat mereka berusaha maksimal supaya anak kami bisa sembuh. Dokter menyampaikan bahwa kondisi anak kami terlalu banyak memproduksi sel darah putih dan kekurangan sel darah merahnya. Tindakan selanjutnya adalah merawat Dia agar kondisinya stabil terlebih dahulu.
“Jadi, anak kami sakit apa, Dok?”
“Anak ibu, anak ibu, terkena penyakit leukemia atau kanker darah.”
“Apa Dok?” jawabku kaget.
Serasa tidak bertulang badan ini. Aku dan suami saling berpandangan, bingung harus berkata apa dan tak tahu harus bagaimana. Dengan perasaan sedih aku berusaha bertahan. Tidak mungkin rasanya anakku kena penyakit itu. Semua anggota keluarga tidak ada yang mengidap kanker.
“Tolong ya Dokter gimana caranya supaya anak kami bisa sembuh,” ucapku sambil menahan air mata.
“Iya Ibu, kami akan usahakan, karena dia masih kecil, kami usahakan agar kondisinya stabil dan tidak demam dulu, supaya bisa masuk obatnya.” Dokter tersebut menjelaskan dengan kesabaran.
“Baik Dokter, terima kasih ya, Dok,” ujar suamiku dengan nada lemah tidak bertenaga.
Setelah beberapa jam kondisinya terus demam, suhu tubuhnya naik terus. Kami berusaha untuk memberi kompres dibantu oleh perawat. Sampai menggunakan batu es supaya badannya tidak panas. Waktu Magrib pun tiba, kami segera shalat bergantian. Karena harus menjaganya. Seperti biasa kami baca Al‐Quran di sampingnya sambil sesekali melihat dia dengan kondisi banyak alat dan jarum yang menempel di badannya. Aku terus berdoa dan yakin akan kesembuhannya.
Saya usap kening dan pipinya yang mungil, sepertinya dia sehat, badannya gemuk pipinya menul‐menul. Tapi tak lama kemudian dia mengeluarkan air mata. Aku terus menatapnya. Si kecil pun kemudian napasnya agak sesak, kami langsung panik. Sesaknya semakin parah dan perlahan hilang.
“Ya Allah !! Dokter, tolong panggilkan Dokter,” teriakku panik.
“Ia Bu, ada apa?”
“Anakku, tolong anakku.”
“Sabar ya Bu,” jawab perawat. Tidak lama kemudian dokter pun bergegas datang.
“Kita cek dulu,” ucap dokter.
Saat itu suasana panik, semua perawat dan dokter yang ada di ruang itu berkumpul. Salah satu dari dokter senior mengecek nadi dan detak jantungnya. Akupun mulai merasa gelisah dan tidak tenang. Semua mata memandang kearah anakku apa gerangan yang akan terjadi.
“Alat pacu jantung,” ucap dokter kepada perawat.
“Siap Dok.“ Seorang perawat langsung memberi kan alat pacu jantung.
“Bagaimana?” dokter yang lain bertanya dengan lirih. Dokter senior itu pun menggelengkan kepala.
“Ibu dan Bapak yang sabar ya, tangis kami pun pecah seketika.
“Innalillahi wa innailaihirajiuun,” ucapku dan orang-orang yang ada di ruang itu.
Akhirnya anakku Lathifah wafat, pergi untuk selamanya meninggalkan kami selepas Magrib pukul 18.45 WIB pada Selasa 15 Juni 2004. Allah ambil kembali anak yang dititipkan kepada kami selama enam bulan membersamai kami dalam suka dan duka, perjuangan dan pengorbanan yang sudah banyak kami berikan, ternyata ia harus pergi untuk selamanya.

Allah Maha Mengetahui semua rahasia yang terkandung di dalamnya. Akhirnya kami menerima dengan tabah bahwa kematian itu tidak pandang usia. Siapapun jika sudah tiba masanya, maka ia akan menghampiri tidak bisa dimajukan dan diundur walaupun sedetik.
Waktu pun terus berlalu, tanpa keceriaan dan kelucuannya lagi. Kami berusaha untuk ikhlas dan kembali menjalani kehidupan ini dengan sabar menerima takdir dan semangat beraktifitas kembali. Selama tiga tahun berlalu, keajaiban pun datang seolah dia hidup kembali dengan lahirnya seorang bayi mungil persis seperti dia, Lathifah Si Anak Mahal.

Ruslina. Kini ia mengabdi sebagai guru di UPT SMPN 1 Bangkinang Kampar dan mengajar ngaji di1 rumahnya setiap malam. Selain mengajar, dia aktif di organisasi perempuan Salimah Kampar. Dia juga aktif membina rohis dan majlis taklim. Menulis menjadi sarana menyampaikan kebaikan.

Comments (0)
Add Comment