Surat Wasiat: Cerpen Mohd. Nasir

Mungkin sudah hampir tiga minggu Marsudi menutup rapat mulutnya, kecuali ketika sedang memasukkan makanan. Itu pun terbuka seadanya. Begitu makanan itu sampai di dalam mulutnya, cepat-cepat ia merapatkan bibirnya.

Lelaki lansia itu benar-benar membungkam mulutnya. Untuk menyampai sesuatu pada orang ia menggunakan bahasa isyarat. Kadang-kadang hanya lewat gerakan mulut atau gelengan kepala. Sekali-sekali ia menggunakan tangannya untuk memanggil atau meminta sesuatu pada seseorang.

“Bicaralah, Bang!” pinta Saidah, istrinya.

Permintaan seperti itu sudah entah berapa puluh kali diucapkan Saidah.
Marsudi tetap diam. Bila Saidah banyak bicara dan memintanya agar mau berbicara, mata Marsudi terlihat memancarkan rasa marah. Bila sudah seperti itu, Saidah memilih diam.

Perempuan keturunan Minang itu paham, jika dia terus berbicara, salah-salah sikap Marsudi bisa menakutkan. Suaminya itu akan menghentak-hentakkan kakinya atau meninju-ninju dinding beberapa kali.

Saidah tahu kenapa suaminya mengunci mulut sejak tiga minggu yang lalu. Ada andil Saidah yang menyebabkan suaminya seperti itu. Tapi bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur. Ibarat nasi, nasi sudah jadi bubur. Tidak bisa dijadikan nasi lagi.

Menurut Saidah memang begitu
Dalam pikiran Marsudi, sesuatu yang sudah terlanjur itu masih bisa diperbaiki. Tapi Marsudi tak sanggup menyampaikannya. Mulutnya begitu berat untuk mengungkapkannya. Rasa kaku. Bukan itu saja. Dunia ini terasa mau berputar kencang setiap kali ia ingin menyampaikan ganjalan perasaannya itu.

“Set….,” hampir meloncat ucapan makian itu dari mulut Marsudi. Tapi secepatnya ia mendekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dalam hatinya astagfirullah.

Marsudi melangkah cepat memasuki kamar. Ia buka almari pakaian dalam kamar itu. Sebuah map kertas berwarna kuning di bawah lipatan bajunya dia tarik. Kini map itu sudah di tangannya.

Setelah menutup almari, Marsudi duduk di ujung tempat tidur. Kemudian map kertas berwarna kuning itu dibukanya perlahan. Marsudi menatap sebuah surat tulisan tangan dalam map itu. Lalu dibaca dengan sangat perlahan. Seakan baru pertama kali ia membacanya.

Surat itu sudah lama. Seingat Marsudi sudah hampir 15 tahun. Terlihat kertas surat sudah terlihat tidak seputih dulu lagi. Beberapa tepi kertasnya nampak bekas pegangan tangan. Lusuh.

Bibir Marsudi bergerak-gerak saat mengeja kata-kata yang tertulis pada surat itu. Gerakan bibirnya itu diikuti gerakan telunjuknya ketika menunjuk dan mengeja kata-kata yang tertulis pada surat.

Tiba-tiba terdengar kriut daun pintu kamar dibuka. Marsudi hampir terperanjat. Kaget. Dadanya terasa bergelombang karena denyut napasnya yang turun naik tak beraturan.

“Bang,” sapa Saidah pada Marsudi ketika melangkah masuk kamar.

Marsudi masih memegang dadanya saat Saidah memasuki kamar. Ia coba memenangkan diri.

“Sudahlah, Bang! Jangan dibaca lagi,” pinta Saidah saat menarik map kertas kuning itu dari tangan Marsudi, lalu diletakkannya di bawah lipatan baju dalam almari.

Marsudi tercengang.

“Ikhlaskan sajalah ya, Bang!” pinta Saidah.

Saidah keluar dari kamar. Ia tak ingin berlama-lama. Apalagi saat itu Marsudi menatapnya dengan pandangan kekesalan.

Saidah merasa bersalah. Merasa berdosa pada suaminya. Meski ia sudah beberapa kali minta maaf pada Marsudi, akan tetapi rasa berdosa itu tetap berbekas dalam hatinya. Tidak bisa hilang begitu saja. Apalagi lupa sama sekali.

Dari awal Saidah sudah menduga bahwa permintaannya itu akan menggangu perasaan Marsudi. Lagi pula, suaminya itu agak keberatan membuat Surat Wasiat itu. Namun karena Saidah terus mendesak, akhirnya Surat Wasiat itu dibuat dan mereka teken juga.

“Ini untuk kebagian kita juga nanti,” ucap Saidah begitu Surat Wasiat itu sudah selesai dan semua nama-nama pada surat itu sudah membubuhkan tandatangan.

Marsudi tidak merespon ucapan Saidah. Ia memberikan Surat Wasiat itu pada Saidah. Tak lama kemudian, Saidah meletakkannya di bawah lipatan baju dalam almari mereka. Marsudi memperhatikannya.

Beberapa saat setelah Surat Wasiat itu tersimpan, Marsudi keluar dari kamar. Ia menuju teras rumah dan duduk di kursi di teras itu. Ia mengingat kembali isi penting dari Surat Wasia itu.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin,” ucap Marsudi sendirian. Tak lama kemudian terdengar suara klepak. Meja di teras rumah sudah terlempar dari teras karena dilemparkan oleh Marsudi.

“Abang! Abang!” Saudah datang seraya berteriak keras.

Peristiwa itu terjadi 15 tahun yang lalu. Ketika itu usia Marsudi baru memasuki 40 tahun. Menurut pikiran Saidah, suaminya sudah melupakannya. Memang sebelum Marsudi membungkam mulut seperti sekarang ini, tak pernah ia menyebut-nyebut Surat Wasiat itu. Saidah tak pernah juga melihat Marsudi membuka Surat Wasiat itu.

Mengenang keadaan Marsudi selama 15 tahun itu, Saidah terpikir pula, jangan-jangan suaminya itu sering membuka Surat Wasiat itu ketika ia sedang keluar rumah. Bisa jadi. Jika tidak, mana mungkin Surat Wasiat itu terlhat agak lusuh. Kertasnya tidak rapi dan mulai kekuningan.
Mungkin ya. Marsudi membuka dan membaca Surat Wasiat itu ketika Saidah tidak di rumah atau saat Saidah sedang di dapur memasak.
Saidah tak habis pikir juga. Kenapa suaminya mempermasalahkan Surat Wasiat yang dibuat 15 tahun yang lalu? Bukankah semua sudah selesai.

Saidah buru-buru masuk kamar. Ia ingin membaca kembali Surat Wasiat itu. Ada rasa curiganya pada isi surat. Saat itu suaminya sedang duduk di bangku halaman depan.

“Ya, Allah… ! Ya, Allah… !” jerit Saidah begitu selesai membaca Surat Wasiat itu, “pantutlah suamiku seperti itu…” lanjut Saidah.

Saidah berlari ke luar kamar. Ia menuju halaman depan. Ingin menemui suaminya yang seingatnya tadi duduk di bangku halaman depan rumah mereka. Surat Wasiat dalam map kertas kuning itu di tangannya dalam keadaan tergulung.

“Bang….Abang….!” Saidah memanggil Marsudi begitu ia tiba di teras rumah.

Marsudi menoleh sebentar, kemudian ia kembali menatap seekor burung yang hinggap di dahan pohon mangga. Burung itu sejak tadi mengalihkan pikiran Marsudi. Beban pikiran yang mengendap dalam pikirannya serasa terbang dibawa tiupan angin. Perasaan Marsudi terasa lega.

“Maaf Saidah, Bang. Maafkan! Saidah tidak menyangka begini,” kata Saidah begitu berdiri di samping Marsudi.

Saidah membuka Surat Wasiat itu di depan Marsudi, tapi Marsudi mengalihkan pandangannya ke burung yang bertengger di dahan pohon mempelam itu.

“Bang! Abang!” suara Saidah terdengar tinggi. Ia berbuat begitu karena Marsudi tidak peduli kehadirannya di tempat itu.

Marsudi menoleh Saidah, “Apa?” tanya Marsudi.
Saidah kaget.

Sudah lebih 15 hari ia tidak pernah mendengar suara suaminya. Barulah tadi. Walaupun yang diucapkan Marsudi tadi hanya sebuah kata, tapi bagi Saidah rasanya seperti beribu-ribu kalimat.

“Abang…” ucap Saidah seraya memeluk Marsudi.

Marsudi mematung. Ia merasa seperti entah berada di mana. Nikmat sekali.

“Seperti inikah nikmatnya di surga sana?” tanya hati Marsudi dalam dekapan istrinya.

Seingat Marsudi sudah lama sekali dekapan itu tidak dirasakannya.

Saidah terus memeluk Marsudi. Ia tak sampai hati untuk melepaskan dekapannya itu Sebab ia merasakan juga seperti ada aliran kasih sayang begitu deras mengalir dari dada Marsudi ke dalam sanubarinya. Begitu hangat dan rasa menggelegar.

“Saidah…!” ucap Marsudi di telinga Saidah.

Saidah mendengarkan ucapan Marsudi itu bagai sebuah nyanyian maha indah. Keindahannya bukan hanya sampai di telinga, tapi berlabuh ke dalam lubuk hati Saidah.

Saidah menatap mata Marsudi. Marsudi membalasnya. Tak lama kemudian, kedua mata suami istri itu tertuju pada Surat Wasiat di tangan Saidah.
Saidah membuka Surat Wasiat itu. Mata Marsudi juga tertuju pada barisan-barisan kalimat yang tertulis.

“Bagaimana, Saidah?” tanya Marsudi.

“Kita batalkan saja, Bang,” jawab Saidah meyakinkan.

“Benar, Saidah?” tanya Marsudi seakan tidak percaya.

“Benar, Bang. Sungguh! Saidah tak ingin Surat ini bikin rumah tangga kita jadi tidak harmonis.”

“Jadi…?”

“Kita bakar. Mana korek api?”

Marsudi menyalakan korek api. Tak lama kemudian Saidah menaruh ujung kertas surat itu pada api korek yang sedang menyala.

“Sesuai dengan janji kita kemarin, orang lain tak boleh tahu isi surat ini. Kecuali jika ada saksi yang ikut menandatanganinya.” ucap Saidah saat membakar Surat Wasiat itu.

Bengkalis, Oktober 2022

Comments (0)
Add Comment