Tujuh Puluh Tujuh: Cerpen Febrio Rozalmi Putra

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

(Dorothy Law Nolte)


Cerahnya sinar mentari pagi ini seakan sejalan dengan harapan Tuti yang tugasnya mencerahkan kehidupan anak bangsa. Walaupun Tuti sudah bangun pukul empat subuh, namun ia selalu merasakan waktu begitu cepat berputar, hingga tak terasa sekarang sudah pukul setengah tujuh. Begitu juga dengan waktu pengabdiannya pada sebuah sekolah dasar swasta yang ada di ibu kota negara.
Tak terasa ia sudah hampir tiga puluh tahun mengajar di sana. Bagi Tuti menjadi seorang guru di sekolah dasar adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Ia paling suka mengajar kelas rendah seperti kelas satu, dua, atau tiga. Alasannya sederhana, ia ingin tetap muda. Ya tetap terlihat muda. Karena guru kelas rendah itu identik dengan senyum, ceria dan humoris.
Sikap Tuti yang dekat dengan siswa, suka bercanda dan pandai membaur dengan anak-anak kelas rendah, menjadikan ia guru kelas satu yang abadi. Pihak sekolah lebih merasa nyaman jika Tuti yang mengajar di kelas satu. Anak yang mula-mula malu-malu, bisa Tuti taklukan dengan keahliannya. Bahkan anak yang tidak mau sekolah atau takut sekolah atau menangis sekalipun, bisa ia buat berubah menjadi anak yang pemberani. Itulah kepiawaian Tuti sebagai guru kelas satu sekolah dasar yang tidak dimiliki oleh guru lain.
Sekolah tempat Tuti mengajar, memberikan finansial yang cukup bagi keluarganya. Selain itu, juga tidak banyak tuntutan untuk para gurunya. Hal ini yang membuat Tuti betah hingga hampir tiga puluh tahun ia di sana. Siswa yang bersekolah di sana rata-rata anak dengan ekonomi menengah ke atas. Mengapa tidak? Karena sekolah Tuti adalah sekolah swasta ternama dan dikenal dengan biaya yang mahal. Ada anak pejabat, anak pengusaha, anak artis, bahkan anak crazy rich pun juga di sana bersekolah.
Hari ini Tuti mengajarkan mata pelajaran matematika pada siswanya, dengan materi penjumlahan. Tuti menjadikan pembelajaran matematika menjadi menyenangkan. Ia mengajarkan konsep penjumlahan dengan benda-benda nyata. Misal dengan soal tiga ditambah dua sama dengan lima, ia ajak anak-anak untuk mengambil tiga buah stik es dan dua buah stik es lagi, lalu coba gabungkan semua stik es itu, jadi berapa semua stik es kita? Anak-anak terlihat begitu senang, karena semuanya melakukan aktivitas. Mari kita hitung sama-sama stik esnya! Satu, dua, tiga, empat, lima, sambil Tuti mengangkat stik esnya satu persatu. Ada lima stik es kita. Jadi tiga ditambah dua adalah lima. Anak-anak semua berteriak gembira, karena jawabannya sama dengan jawaban Tuti.
Tak sampai di situ saja, Tuti juga mengajak anak-anak untuk bermain penjumlahan. Ia menggunakan kartu angka. Ia membagi anak-anak ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama memegang kartu soal penjumlahan dan kelompok kedua memegang kartu jawaban. Tuti menghitung mundur dari tiga. Kemudian anak-anak diminta mencari pasangan kartu soal dan kartu jawaban yang sesuai. Tentu bagi anak kelas satu yang sedang masa transisi dari TK ke SD hal ini menyenangkan. Karena belajar sambil bermain.
Diakhiri pelajaran Tuti memberikan pekerjaan rumah (PR) pada siswanya. Tujuan Tuti adalah untuk merefleksi pelajaran hari ini. PR yang diberikan Tuti tidak banyak, hanya tiga soal saja. Ya tiga soal penjumlahan. Tentu siswa tidak keberatan karena hanya tiga soal saja PR mereka, ditambah lagi mereka mayoritas sudah paham dengan materi penjumlahan yang Tuti ajarkan hari ini.
Pekerjaan Rumah itu juga dikerjakan oleh Regi pada malam hari. Regi merupakan salah satu siswanya Tuti. Namun hingga Regi tertidur, PR yang hanya tiga soal itu tidak terselesaikan olehnya. Karena ia asyik bermain game pada tabletnya. Di rumah Regi sangat jarang belajar dengan orang tuanya, apalagi untuk mengerjakan PR bersama. Hal ini tentu ada alasannya. Ya ada alasan yang memang bisa kita pahami tentang keluarga Regi. Ayah dan Ibu Regi keduanya sama-sama bekerja. Ayahnya yang merupakan pejabat tinggi pada salah satu lembaga negara, sedangkan ibunya adalah seorang pengacara ternama. Hal ini yang menyebabkan Regi jarang bahkan tidak pernah belajar bersama orang tuanya. Orang tuanya pulang kerja di saat Regi sudah tertidur dan di saat Regi berangkat sekolah orang tuanya masih tidur. Ini sudah menjadi kebiasaan di keluarganya.
Pagi itu Tuti meminta semua siswanya untuk mengumpulkan PR yang ia berikan, agar diperiksa dan dikembalikan lagi pada siswanya. Regi baru tersadar jika ia belum menyelesaikan PR itu. Dengan cepat dan asal-asalan Regi menjawab tiga soal itu. Ia pun senang karena sudah selamat dari kewajiban PR yang lupa dikerjakan itu.
Ketika jam istirahat, Tuti mengoreksi PR-PR siswa itu, karena sebelum pulang PR itu akan dikembalikan lagi pada semua siswa. Tuti merasa senang, karena sejauh ini PR yang ia periksa betul semua dan mendapat nilai seratus. Ia bisa mengambil kesimpulan bahwa siswanya sudah paham dengan materi penjumlahan kemarin. Tinggal dua buku terakhir yang akan ia periksa. Ia kaget. Ia mendapatkan semua jawabannya salah. Tidak ada satu soal pun yang benar. Ia penasaran. Ketika Tuti lihat nama pada sampul buku itu, ternyata itu buku milik Regi. Tuti masih berpikir positif, mungkin Regi sedang malas mengerjakan. Ia masih tetap dengan kesimpulannya jika ia sudah berhasil menyampaikan materi penjumlahan itu, karena dari dua puluh lima anak, hanya satu yang gagal.
Tuti mengembalikan semua buku PR itu pada siswanya, tapi sebelum pulang sekolah kelas tiba-tiba ribut. Ya ribut, karena Regi diejek temannya, sebab iya mendapat nilai nol. Regi menangis, menangis bukan karena mendapat nilai nol, tapi menangis karena diejek satu kelas. Tuti mencoba menenangkan kelas yang ribut itu. Ia menjelaskan kepada semua siswa jika mengejek teman itu tidak baik. Jika ada teman kita yang belum mengerti maka kita harus bantu dia, bukan kita salahkan atau kita cemooh.
Bel pulang pun berbunyi. Regi yang dijemput supir pribadinya masih terlihat menangis meski tak sekuat tadi. Tuti berusaha menjelaskan pada supirnya. Supir itu hanya manggut-manggut saja. Karena yang ia tahu hanya antar jemput Regi saja. Malam hari Regi tidak tidur seperti biasa, ia sengaja menunggu orang tuanya datang. Ia menjelaskan pada ibunya apa yang terjadi di sekolah. Ayah dan Ibu Regi kesal dengan Tuti karena ia yakin jawaban Regi sudah benar.
Keesokan harinya Tuti dilabrak oleh orang tua Regi.
“Kenapa anak saya dapat nilai nol, Bu?” tanya Ibu Regi kesal.
“Maaf Bu, karena memang jawabannya salah,” jawab Tuti
“Ini jawaban yang benar,” sela ayah Regi dengan nada tinggi
“Tujuh ditambah tujuh memang tujuh puluh tujuh (7+7=77) jawabannya. Ibu ini bagaimana sih?” timpal ibu Regi emosi.
Tuti mencoba menjelaskan dengan sabar pada mereka. Ia mengambil tujuh buah stik es dan tujuh stik es lagi, sehingga semua stik es ada empat belas bukan tujuh puluh tujuh. Tapi orang tua Regi masih tidak puas.
“Ibu telah membatasi kebebasan pendapat anak saya. Ibu akan saya proses!” kata ibu Regi marah.
Argumen Tuti dengan orang tua Regi tak menemukan titik tengahnya. Orang tua Regi pergi begitu saja dengan wajah marah dan ancamannya. Tuti bingung. Apakah orang tuanya Regi ini ilmunya terlalu tinggi sehingga masalah yang sederhana ini dia lupa? Atau saya yang kurang update dengan ilmu yang baru? Ini yang bodoh saya atau mereka? Tanya Tuti dalam hati.
Keesokannya Tuti dipanggil oleh kepala sekolah. Ia dimintai penjelasan tentang kejadian kemarin. Tuti menjelaskan panjang lebar. Namun kepala sekolah tetap menyalahkan Tuti. Tuti dianggap telah menghalangi imajinasi anak-anak. Tak lama berselang datanglah ketua yayasan. Tuti diserang habis-habisan. Tuti dituding telah gagal dalam mengajar. Tuti tidak menghargai pendapat anak-anak. Tuti telah mencemarkan nama baik sekolah. Karena Ibu Regi sekolah pengacara, ia akan menuntut pihak sekolah jika Tuti tidak mau minta maaf.
Ayahnya yang juga pejabat negara akan memviralkan kasus ini. Tentunya bagi pihak yayasan ini adalah ancaman yang serius. Tapi Tuti tepat dengan pendiriannya jika tujuh ditambah tujuh itu adalah empat belas bukan tujuh puluh tujuh. Pertemuan itu sangat alot. Pihak yayasan dan kepala sekolah yang mencoba membujuk dan menekan Tuti untuk mengaku salah dan meminta maaf pada Regi dan orang tuanya, agar permasalahan ini segera selesai. Tapi Tuti tidak mau membenarkan apa yang nyatanya salah.
Tak disangka keesokan harinya orang tua Regi datang lagi. Tapi dia datang tidak sendirian melainkan dengan beberapa awak media yang sudah siap meliput berita. Tuti dipertemukan dengan orang tua Regi dan unsur pimpinan yayasan pada ruang pertemuan lengkap dengan awak media. Tuntutan orang tua Regi adalah agar Tuti meminta maaf kepadanya dan menyatakan kalau Tuti khilaf dan Regi yang benar. Ya benar dengan kesalahannya itu. Tuti masih kukuh dengan pendiriannya. Bagi dia kebenaran tetaplah kebenaran. Tidak bisa dibayar dengan apapun atau diancam dengan apapun juga. Ia siap menghadapi orang tua Regi meski harus ke meja hijau pengadilan sekalipun.
Pihak yayasan mulai panik karena mereka tidak mau ada kasus hukum di sekolahnya atau sekolahnya viral gegara masalah yang buruk. Tentu hal ini akan menurunkan elektabilitas sekolahnya. Yayasan mengambil sikap tegas.
“Bu Tuti, sekarang kamu boleh pilih, mengakui kesalahan dan meminta maaf pada orang tua Regi atau kamu berhenti dari sekolah ini!” ujar ketua yayasan yang sudah panik.
“Saya lebih baik berhenti dari sekolah ini dari pada saya harus membenarkan apa yang nyatanya sudah salah!” jawab Tuti tegas.
“Baik, mulai besok kamu berhenti mengajar di sekolah ini. Sesuai dengan peraturan yayasan kamu bisa mengambil uang pesangonmu, yaitu satu bulan gaji. Gaji kamu sebelumnya tujuh juta jadi kamu mendapat empat belas juta.” tutur ketua yayasan.
“Bukan! Hasilnya tujuh puluh tujuh juta!!!” jawab Tuti tegas.

Febrio Rozalmi Putra adalah alumni Universitas Negeri Padang pada Fakultas Ilmu Pendidikan. Sekarang menjadi pendidik sekolah dasar di Kota Pekanbaru dan aktif pada organisasi Forum Lingkar Pena Pekanbaru. Email: febriorozalmiputa1350@gmail.com.

Comments (0)
Add Comment