Fenomena Love Scamming dalam Perspektif Teori Komunikasi CMC: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

Di tengah berita peperangan Iran dan Israel, saya menemukan satu berita menarik yang patut dikaji. Ada berita yang bikin kita mikir, kok bisa ya? Diberitakan Kani, seorang staf media dari Presiden Prabowo mengalami kasus love scamming yang merugikan dirinya hingga puluhan juta rupiah.

Bukannya bersimpati, warganet sibuk mempertanyakan, lho kok bisa ya seorang staf media pribadi presiden mengalami kasus penipuan love scamming ini?

Apa itu Love Scamming?

Love scamming ini sebagaimana kita ketahui merupakan modus penipuan menggunakan media sosial. Berpura-pura mencari pasangan, menjalin hubungan percintaan, meminta nomor handphone, membujuk korban, mengajak berbisnis dan sejenisnya.

Pendek kata, penipuan dengan modus percintaan melalui media sosial.

Kan jadi aneh, kenapa seorang staf media pribadi, presiden pula bisa-bisanya terkena kasus yang seharusnya sudah ia kuasai penangkalannya. Staf media, setidaknya ia memahami literasi terkait keamanan digital. Bagaimana kecenderungan penggunaan media dan sejenisnya.

Namun, ini menjadi tanda tanya saat pengelola medianya malah terkena modus penipuan ini. Kok bisa ya? Mari kita bahas.

Interaksi Hyperpersonal dalam Teori CMC

Dalam perspektif komunikasi kita mengenal yang namanya teori Computer-Mediated-Communication (CMC). Salah satu aspek yang mencakup teori ini adalah komunikasi hyperpersonal.

Dalam teori ini, komunikasi menggunakan perangkat komputer digital akan menyebabkan terjadinya komunikasi yang hyper secara personal. Komunikasi terjadi secara lebih intens, dekat, terkelola secara kesan dan pada akhirnya akan lebih mudah memunculkan kekaguman.
Seorang wanita dan pria yang berkomunikasi intens menggunakan saluran media sosial cenderung akan lebih mudah mengagumi satu sama lain.

Komunikasi personal menggunakan media sosial ini memungkinkan seseorang mengelola kesan, menunjukkan hal-hal paling positif dari dirinya. Faktor kedekatan akan lebih mudah terbangun dalam bentuk emosi rasa cinta, sayang, kagum, karena intensitas yang lebih tinggi.

Saat seseorang menulis pesan chat misalnya, ia akan memiliki kesempatan memilih diksi paling memukau, tanpa mempertimbangkan ekspresi bahasa tubuh dalam komunikasi. Itulah sebabnya, komunikasi secara online ini akan menghasilkan hyperpersonal yang lebih tinggi dibanding komunikasi tatap muka.

Jadi, pesannya, jangan mengandalkan komunikasi daring untuk menjalin hubungan atau interaksi terkait hal-hal penting.

Bukan hanya hubungan personal, termasuk urusan dalam berbisnis. Manusia-manusia online adalah manusia yang sudah diatur perspektifnya oleh diri mereka sendiri. Maka kenalilah secara jujur dari interaksi komunikasi tatap muka.

De Daikos, 19 Juni 2025

Comments (0)
Add Comment