Orang-Orang yang Tak Butuh Dinomorsatukan
_Catatan Nafi’ah al-Ma’rab Jelang Upgrading FLP Riau_
Sejak tahun 2000 saya telah mulai berorganisasi di tingkat sekolah, kampus, hingga masyarakat saat ini. Saya bertemu dengan beragam karakter manusia dalam berorganisasi. Namun, jujur saja, saya paling nyaman dengan orang-orang yang tak butuh dinomorsatukan, orang-orang belakang layar, dan orang-orang yang siap bekerja walaupun tidak dilihat oleh orang lain.
Sebaliknya, saya tidak nyaman dengan mereka yang inginnya selalu tampil di depan, tidak mau diposisikan di belakang, selalu dan selalu ingin dinomorsatukan.
Kenapa saya senang dengan mereka yang tak butuh dinomorsatukan? Selain sebagai indikasi ikhlas, orang-orang seperti inilah yang biasanya setia dan akan lama bertahan dalam sebuah organisasi. Mereka yang punya obsesi pribadi tidak karena Allah biasanya akan kecewa dan berhenti di jalan ketika apa yang mereka inginkan tidak tercapai. Pun demikian dalam memilih pemimpin. Pemimpin yang baik akan terlahir dari seorang yang bisa dipimpin dengan baik.
Orang-orang belakang layar biasanya adalah bawahan yang baik dan efektif dalam bekerja.
Kehebatan seseorang tidak diukur dari seringnya seseorang itu tampil di hadapan publik. Mereka yang hebat justru adalah mereka yang mengonsep, mendesain, merancang, mengatur, walaupun itu dari balik layar.
Jika dalam sebuah acara misalnya, saya senang berkumpul dengan tim konsumsi, tim suruh-suruh yang biasanya mendapat instruksi dari pimpinan. Mereka lah pekerja yang sesungguhnya, tetap melakukan sesuatu tanpa punya keinginan ini dan itu.
Saya nyaman bersama mereka, nyaman berbincang dan tertawa tanpa beban.
Kita hebat semestinya dalam penilaian orang lain, bukan dari keinginan kita yang terlihat ingin tampil hebat. Tugas kita hanyalah fokus bekerja sesuai arahan, sesuai aturan, dan komunikasi yang baik. Maka jika memang kita intan, pada saatnya kita yang akan diminta untuk maju, bukan kita yang ingin maju.
Orang-orang yang tak butuh dinomorsatukan itu biasanya orang-orang yang taat arahan, koordinasi jika melakukan sesuatu, dan dia tidak akan kecewa jika ide-idenya tidak diterima. Itulah kedewasaan seseorang dalam berorganisasi, dewasa secara pemikiran, dan cerdas secara emosional. Dia punya gagasan, dia akan usulkan. Namun, jika tidak diterima, ia pun tetap taat pemimpinnya. Jika gagasannya benar-benar bagus dan ia memang seorang yang berkualitas, pada masanya ia akan dicari, ia akan diminta untuk menjadi yang nomor satu.
Saya diamanahkan sebagai koordinator kaderisasi sebuah organisasi literasi secara nasional. Maka tugas saya adalah memastikan kaderisasi orang-orang yang akan meneruskan organisasi ini adalah orang-orang terbaik yang siap bertahan, memiliki dedikasi dan kompetensi, ikhlas dalam bekerja, dan bisa mengikuti arahan pemimpin.
Orang-orang seperti ini dibutuhkan untuk menjaga usia FLP bisa bertahan lama. Tumbuh selama 28 tahun bukanlah pekerjaan mudah bagi sebuah organisasi literasi, maka tidak ada pilihan selain benar-benar menjaga kualitas kaderisasi anggotanya.
_De Daikos, 16 Mei 2025_