Saat video penyergapan terhadap kapal-kapal Global Sumud Flotilla oleh Zionis beredar, salah satu video yang viral adalah aksi pelucutan terhadap perempuan muda Greta Thunberg, seorang aktivis lingkungan asal Swedia. Greta terlihat menunduk saat tentara penjajah memeriksa perlengkapan di tubuhnya. Ia ditempatkan bersama ratusan aktivis dunia lainnya hingga digiring ke penjara yang biasa digunakan untuk menahan warga Palestina. Greta dibungkus tubuhnya dengan bendera penjajah, ia diseret di tanah dan dipaksa mencium bendera itu lalu diarak dalam sebuah pawai untuk mempermalukan.
Usai dideportasi ke Yunani, Greta mengungkapkan semua kekejaman penjajah Zionis kepada publik. Trump bahkan menyebut bocah perempuan berusia 22 tahun itu gila, nakal, dan perlu berobat ke dokter. Sementara Greta dalam konfrensi persnya mengatakan, tidak penting akan penyiksaan yang sudah ia alami, dia bukan pahlawan. Masih jauh lebih penting lagi persoalan genosida di Gaza yang terus terjadi.
Belajar Idealisme dari Seorang Greta
Dalam unggahan postingan beberapa warganet, Greta saat ini dipandang sebagai idola baru generasi Z yang tampil sebagai anak muda inspiratif bagi dunia.
Greta bagi pegiat aktivis lingkungan hidup bukan lagi nama baru. Ia adalah anak yang lahir dalam kondisi autis, tetapi dalam usia 18 tahun telah mampu membuat gerakan besar bernama #FridaysForFuture atau mogok sekolah demi iklim yang ia lakukan di tahun 2018 lalu.
Greta pada saat itu seorang diri bolos kuliah dalam menjalankan aksinya. Gerakan itu berlanjut ia lakukan setiap hari Jumat. Gerakan besar di Swedia itu meluas dan diikuti anak-anak yang lain bersama guru dan orang tua. Jutaan anak di dunia pun terinspirasi dari gerakan tersebut.
Greta diundang dan berpidato kritis di KTT Iklim PBB New York. Ia mengecam para pemimpin dunia dan mengajak anak-anak sekolah untuk berani memprotes pemimpin atas kebijakan lingkungan yang tidak adil bagi bumi.
Aksi heroik Greta bahkan diabadikan dalam buku cerita anak oleh penulis di negaranya yang mengisahkan perjuangan anak dalam memprotes kondisi krisis iklim dunia. Greta dianugerahi berbagai gelar doctor dari kampus-kampus dunia. Majalah Time pada tahun 2019 memberi gelar tokoh inspiratif pada perempuan bertubuh kecil itu.
Ya, Greta lahir dalam berbagai kondisi kekurangan secara fisik. Ia sakit dan berbeda dari yang lain. Namun, kondisi berbeda itulah yang akhirnya memunculkan seorang Greta dengan ide-ide dan gerakan besarnya di luar rata-rata. Ia dengan segenap kesadaran dan kepeduliannya terhadap kondisi sosial dunia bergabung bersama para aktivis dunia lainnya menembus misi Global Sumud Flotilla yang sudah dipatahkan Israel.
Greta dengan tubuh kecilnya dikenal sebagai sosok dengan idealisme tinggi dan perjuangan untuk mewujudkannya. Ia terlahir dari pasangan orang tua seniman, aktor dan penyanyi.
Soal popularitas dan validasi kemampuan, ia sudah kenyang dan tak butuh itu lagi. Saat wartawan dan menyebutnya sebagai pahlawan yang berjuang menembus Gaza, ia hanya mengatakan, “Bukan itu cerita utamanya, saya mungkin bisa menceritakan banyak hal tentang kekejaman yang saya dapatkan dari penjajah, tetapi bukan itu inti dari masalahnya. Hal yang harus kita lakukan adalan menceritakan kekejaman penjajah dan genosida itu pada dunia, seluruh dunia harus membuka telingan dan mendengar jeritan rakyat Palestina,” kata perempuan yang sudah mulai menjadi aktivis lingkungan sejak usia delapan tahun tersebut.
Greta diketahui mengidap sindrom Asperger, sebuah kondisi yang memengaruhi cara berkomunikasi seseorang.
Namun, siapa sangka kekurangan itulah yang akhirnya membuat Greta mampu berpikir dan melihat sesuatu secara jelas, hitam dan putih. Tidak ada hal yang bersifat abu-abu. Hal inilah yang membuat Greta terbuka jiwa kemanusiaan dan kepeduliannya hingga ia memutuskan bergabung dengan gerakan besar menembus Gaza pada September lalu.
Ya, dari Greta kita belajar soal idealisme. Dibangun dalam proses panjang dan tidak instan. Perjuangan sejati adalah perjuangan yang tak lagi membutuhkan validasi, tanpa mementingkan kata ‘aku’. Subjek khalayak jauh lebih penting untuk sebuah perjuangan.
De Daikos, 8 Oktober 2025