Memantau perkembangan detik-detik gencatan senjata yang Insyaallah akan terjadi di Gaza pada 19 Januari 2025, saya memantau media sosial. Air mata saya meleleh. Entah haru, entah apalah. Konten-konten yang disajikan langsung oleh para influencer yang ada di Gaza membuat pikiran saya berkecamuk. Kesedihan, haru, dan berbagai luapan rasa saya rasakan.
Di tengah reruntuhan bangunan itu anak-anak berbincang kepada seorang wartawan yang memberikan pertanyaan pada mereka.
“Aku benar-benar menjadikan hari Minggu itu sebagai mimpi.”
“Aku rindu belajar, aku rindu sekolah.”
“Kami sudah lelah berperang, kami ingin kembali ke Barat. Kami rindu mendapatkan pendidikan.”
Anak-anak itu bermain. Melempar-lempar batu, dalam balutan noda darah di wajahnya. Pakain kotor, tetapi mereka tersenyum. Mereka tidak menyangka setelah perang 15 bulan akhirnya mereka memiliki harapan pada hari Minggu pagi pukul 8.30 waktu Gaza. Saat kesepakatan gencatan senjata itu terjadi antara Hamas dan Israel melalui mediator AS, Qatar, dan Mesir. Para pemuda di Gaza tak hent-hentinya berterima kasih kepada pejuang-pejuang mereka.
Hamas, sebagai simbol kekuatan perjuangan di tanah para Nabi tersebut. Anak-anak muda mengatakan, salam hormat kami untuk Brigadir Izzudin Al Qosam, sayap militer milik Partai Hamas yang memegang kekuasaan di Palestina.
Beberapa hari sebelum gencatan terjadi, pihak penjajah kembali melakukan serangan. Sebanyak 102 orang rakyat Palestina syahid menjelang gencatan itu dilaksanakan. Di satu sisi, para menteri di kabinet Israel menangis saat mereka terpaksa harus menandatangani persetujuan gencatan senjata. Masyarakat penjajah sendiri melakukan demonstrasi di negaranya dan sempat bentrok dengan tentara mereka sendiri. Bidden dengan tegas telah menyatakan kesepakatan gencatan senjata yang akan berlangsung selama beberapa tahap, sedangkan Netanyahu dengan keras kepalanya masih mengatakan, jika fase kedua atau ketiga gagal dalam gencatan senjata tersebut, maka pihaknya masih berkesempatan untuk menyerang kembali Gaza.
Gencatan Senjata dan Ujian Ummat Islam Dunia
Di tengah rasa bahagia warga Gaza, berbagai bentuk ungkapan kegembiraan dilakukan. Namun, sebenarnya yang berhenti sejenak adalah mereka, bukan kita. Ujian kita sekarang justu semakin kuat. Seorang anggota parlemen muda asal DPRD Jakarta Hasan JR menyebutkan, pihaknya mendorong pemerintah Indonesia untuk meminta izin kepada Mesir untuk Indonesia membuka pusat kesehatan yang ditujukan bagi 120.000 warga Palestina yang saat ini mengalami luka-luka. Artinya, gencatan senjata adalah recovery.
Tugas besar kita membebaskan Al Aqsha masih panjang. Justru saat gencatan senjata dimulai, pertanyaan untuk kita, masihkah kita akan konsisten dengan boycott? Masihkah kita akan terus berdonasi? Masihkah kita akan terus berkomitmen mendukung dalam hal literasi?
Muhammad Hussein dalam saluran channel YouTube nya mengatakan, saat ini yang beristirahat adalah warga Gaza, bukan kita. Kita justru saatnya membantu secara nyata pemulihan Palestina.
Dibutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun untuk pemulihan Gaza dengan biaya milyaran hingga trilyunan dollar Amerika.
Jadi, kita memang tidak akan berhenti, kita akan terus berjuang sampai Palestina merdeka dan Al Aqsha bebas dari penjajah.
Hari Minggu itu adalah mimpi kami, ya, ini hanyalah perhentian sejenak untuk berjuang lebih jauh lagi di masa akan datang. Selalu siaga dengan sikap pengkhianat Israel. Gencatan senjata dimulai sehari sebelum pelantikan Trump. Bagaimana kebijakan Trump di masa akan datang terhadap keberpihakannya pada Israel, tentu akan berbeda lagi cerita politiknya. Apapun itu, kita hanya berjuang, kita terus jadi pejuang dengan apapun cara dan kontribusinya. Allah bersama kita.
Lubuk Batu Jaya, 19 Januari 2025