Membangun Branding Penulis dengan Integritas Kerja dan Kualitas Karya: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

Branding adalah proses panjang, ia melekat dalam diri dan bukan sekadar tempelan. Branding bukan pencitraan, tetapi sebuah potensi diri yang digali dan dioptimalkan.

Beberapa waktu yang lalu, seorang penulis nasional menghubungi saya, meminta saya bergabung dengan sebuah kelompok yang akan ia buat. Ia menyebutkan nama-nama besar penulis yang bergabung di sana. Saya terkejut, semua nama-nama itu adalah guru-guru. Secara umur dan karya saya sangatlah jauh dibanding mereka, tetapi penulis nasional yang juga guru saya ini bilang, “Dik, minta tolong ya. Semua penulis-penulis itu welcome banget jika kamu bergabung. Kita butuh yang dari FLP.”

Saya berpikir sejenak, dan karena semangat ingin belajar dari orang-orang hebat, saya pun mengiyakannya. Hanya dengan modal komunikasi saya berusaha menyesuaikan kemampuan saya dengan penulis-penulis yang karyanya mendunia itu. Dalam tataran kualitas dan pengetahuan kekaryaan, jelas saya kalah jauh.

Namun, yang bisa saya bangun di sana adalah kemampuan manajemen kelompok yang baik. Membangun komunikasi dengan para senior secara lebih beretika, mencoba membantu secara keorganisasian dengan baik.

Dalam sebuah meeting terbatas, saya diminta untuk bertanggung jawab terhadap salah satu genre projek karya yang akan dibuat. “Saya percayakan ke kamu yang Dik untuk genre ini,” katanya. Betapa tersanjungnya saya, dipercaya penulis-penulis yang biasanya menjadi juri-juri karya saya secara nasional. Tentu saya tak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Pembelajaran

Ini bukan soal apa yang saya dapatkan, tetapi buah pelajaran dari padanya.

Pertama saya dipanggil di sana karena dipandang bisa bertanggung jawab secara keorganisasian, lalu diminta bertanggung jawab pada sebuah genre tulisan karena memang karya saya di genre itu sudah dibaca kualitasnya oleh mereka.

Dua modal inilah yang kemudian membuat saya ditarik di sana.

Modal ini bukan hanya untuk saya, siapapun kita yang bisa demikian, maka hal serupa juga akan bisa terjadi. Sebagai penulis, branding kualitas karya dan kemampuan berorganisasi menjadi daya jual yang akan memunculkan branding ke publik.

Kualitas karya adalah wajah seorang penulis, dan kemampuan berorganisasi adalah jalan untuk orang lain senang dengan kita, mendapatkan kepercayaan mengelola sesuatu, dan seterusnya.

Branding ini tentu tidak sebentar dalam membangunnya. Butuh proses.

Selanjutnya jika keduanya telah ada, maka perlu pemahaman bahwa pekerjaan dan karya yang kita buat adalah amanah dari Allah. Ini adalah pekerjaan kebaikan yang akan memberi tantangan. Tentulah akan ada sulitnya, akan ada hambatannya.

Mengembalikan semuanya kepada Allah, bahwa tujuan bergerak itu karena Allah. Ikhlasnya dalam bergerak itulah modal kita bertahan.

Jadi, hakikat branding itu adalah untuk membantu kita lebih ikhlas bertahan dalam memperjuangkan kebaikan. Jika branding yang kita bangun hanya untuk kepentingan penokohan kita pribadi, maka kita akan mudah patah dan berhenti dalam sebuah proses.

Maka saya sangat setuju dengan prinsip ini, kualitas Anda diukur dari sejauh mana kesetiaan Anda pada sesuatu.

Mari bangun branding untuk proses bertahan pada kebaikan.

De Daikos, 27 Februari 2025

Comments (0)
Add Comment