Orang-Orang yang Terlambat: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

Tidak semua hal yang terlambat itu buruk, bisa jadi terlambat akan membuatmu lebih bernilai di mata orang lain.

Saya menempuh studi S2 bisa dibilang terlambat, baru di usia 37 tahun kepikiran untuk melanjutkan. Itupun dengan santainya memilih jurusan tidak linear.

Saat mengambil keputusan terlambat ini, entah kenapa saya gembira. Baru kali ini saya kuliah sampai nggak mau selesai-selesai kelasnya. Selalu senang saat dosen mengajar, duduk selalu di depan, nanya sampe dosennya yang membatasi, dan sering ngobrol dengan dosen seperti dengan sahabat dan orang tua.

Saya ngobrol sampai ngakak-ngakak dengan seorang dosen yang katanya pernah gabung di FLP Bandung. Dia curcol masa kuliahnya, dan ujung-ujungnya saya langsung dapat tanda tangan ACC.

Dosen yang lain ngajak diskusi serius soal nulis puisi, sambil dia menunjukkan buku puisinya yang sudah pernah terbit.

Dosen pembimbing curcol juga soal dia di kampus, soal dia ngelola prodi, susahnya birokrasi de-el-el. Sampai ujung-ujungnya beliau yang langsung menelpon ke redaksi sebuah jurnal untuk membantu publish artikel saya.

Saat kelas teori saya sudah habis, saya masih ingin ikut belajar dengan dosen-dosen di prodi saya itu.

Saya lihat jadwal dan saya list dosen-dosen yang menurut saya ilmunya mumpuni. Saya WA mereka dan minta izin untuk ikut kuliahnya.

Sebagian tertawa dan bilang saya berbeda. Saat di kelas pun saya diperkenalkan dengan junior-junior.

Ujung-ujungnya di kelas itu, dosen diskusinya dengan saya. Di situ saya merasa bersalah karena merusak kesempatan junior untuk mendapatkan nilai plus dalam diskusi.

Ya, maklum jika di fisipol itu kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan sudah menjadi 50% nilai kuliahmu.

Di sebuah kelas politik, seorang dosen muda malah bertanya lebih akrab. Saya tinggal di mana, masuk dapil mana, gabung di partai A ya, lalu dia curcol tentang pekerjaannya. Haha, ini anti tesis waktu kuliah S1 dulu.

Ada lagi dosen yang selalu promo saya penulis. Ini gara-gara sering saya sambangi dan beri buku-buku saya. Beliau memang suka baca novel. Jadi sangat senang dengan mahasiswa yang menulis.

Saat saya memutuskan ambil tema politik, dia protes. Kenapa kamu ambil politik Sugiarti? Kamu penulis, kenapa tidak ambil media saja.

Hahaha, itu terus dia sampaikan di mana-mana. Sampai mahasiswa-mahasiswa pada ngadu.

Dosen yang paling pintar, smart, dan bijaksana selalu bilang selepas saya ngomong tentang analisis kepenulisan, ‘dengarkan ini pendapat praktisi kepenulisan.’

Bayangkan betapa senangnya saya diendors langsung sama dosen pintar, hahaha.

Ya, terlambat memang seru ya. Andai saja saya kuliah pada usia fresh graduate mungkin lain cerita.

Saya perhatikan sikap dosen sangat berbeda ya dengan orang-orang yang sudah agak berumur dengan yang masih baru tamat kuliah. Yang sudah terlambat ini sudah bisa diajak curcol ya.

Jangan sedih ya jika kamu melakukan hal-hal yang terlambat, karena kadang yang terlambat itu malah lebih matang dan mantap.

Hasil survey di Amerika menyebutkan sebanyak 25% orang Amerika bergelar sebagai pengusaha di usia 55 hingga 56 tahun, sebanyak 17,5% pada tahun 2020 orang Amerika meraih gelar doctoral dengan usia mencapai 60 tahun.

Jadi tidak ada keterlambatan yang buruk bukan? Allah tidak memberikan sesuatu kepada kita melainkan pada waktu yang paling tepat.

Salam Sukses

De Daikos, 24 Oktober 2024

Comments (0)
Add Comment