Hari ini saya menyaksikan sebuah pelajaran kehidupan yang berharga. Sepasang suami istri yang kehidupannya sangat ideal. Keduanya berstatus ASN, rumah tangga bahagia, memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, punya kendaraan bagus, punya kebun sawit, dan suaminya pun setia.
Mereka pasangan yang ideal di pandang mata. Usianya masih muda dan keduanya tampil sebagai anak kebanggaan di keluarganya.
Namun, takdir Allah tentu saja berbeda dari yang disangkakan. Saat malam hari, sang suami mengalami kecelakaan tunggal bersama anaknya. Lelaki itu meninggal dunia seketika, dan anaknya kritis di rumah sakit. Seketika kebahagiaan keluarga itu sirna, dari posisi pasangan yang paling dibanggakan di keluarganya, berubah menjadi keluarga yang selanjutnya paling dikasihani. Istrinya harus menanggung kehidupan kedua anaknya yang masih kecil, meskipun secara ekonomi sudah cukup matang.
Pada akhirnya manusia akan sendiri. Allah SWT akan memisahkan manusia dari segala sesuatu yang mereka cintai. Apapun itu, harta, pasangan, suasana kehidupan, semua yang dicintai dan membahagiakan di dunia ini pada akhirnya akan diambil kembali oleh Allah SWT. Hanya saja cara dan waktunya yang berbeda-beda.
Ada pula manusia yang diuji di dunia ini dengan ujian dijauhkan dari segala nikmat dunia di saat orang lain sedang menikmatinya. Nikmat harta, nikmat anak, nikmat pasangan, nikmat jabatan, popularitas, ada yang sudah sejak awal mereka dijauhkan dari nikmat-nikmat itu. Mereka sedih setiap waktu, tetapi ternyata kesedihan itu pula yang membuat mereka itu lebih bersyukur. Bukankah ada orang-orang yang terkejut dengan nikmat yang diambil tiba-tiba, lalu mereka kufur setelah ketiadaan nikmat itu
Sebenarnya Allah memberi waktu kita untuk bersyukur dengan segala yang kita miliki. Jika kita mempunya banyak nikmat di dunia ini, maka itu ujian sekaligus jebakan apakah kita akan lalai atau tidak.
Setiap orang pada akhirnya akan sendiri. Sendiri menghadap Tuhannya tanpa nikmat-nikmat dunia yang sebelumnya ada padanya.
Seperti kita terbang ke atas, semuanya akan ditinggal. Pandangan dan pendengaran pun pada akhirnya akan hilang, demikianlah nikmat hidup.
__Wallahu a’lam.
De Daikos, 28 April 2025__