

Oleh: Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria
Panasnya udara mulai terasa saat matahari berada tepat di atas langit kota Seloka. Di bawah naungan atap PT Kirana Jaya Nusantara, mesin-mesin pendingin udara (AC) menghembuskan hawa dingin yang sejuk, sementara operasional perusahaan berputar seperti sedia ada. Haji Hardi seorang sosok pimpinan berwajah teduh yang menyimpan rapat-rapat samudera keilmuan dan kealimannya terus menjalankan roda usaha dengan kebijakan dan kebijaksanaan. Beliau memimpin bagaikan seorang gembala tanpa harus memaksa bahkan penuh kelembutan, kerelaan, kesesuaian dan keahliannya masing-masing bidang pekerjaan.
Namun, di sudut lorong yang berdebu terdapat seorang karyawan bernama Andi yang sedang berjuang menafkahi keluarga dengan bekerja mengantarkan surat ke alamat tujuan. Selama dua dekade, langkah kakinya sangat akrab dengan derap mesin motor yang membelah debu jalanan, menembus teriknya panas yang menusuk kulit dan hujan yang membasahi pakaian, demi menyampaikan pucuk-pucuk surat perusahaan. Sepanjang jalan, matanya kerap melirik ke balik kaca bening ruang berpendingin udara. Di sana seorang karyawan dengan nama Kirman, sang petugas customer service, duduk tenang mengulas senyum, menyambut setiap tamu yang datang sambil menikmati dinginnya udara AC yang memanjakan.
Ternyata rasa iri hati terus menggerogoti Andi. Ia merasa ada ketimpangan dan ketidakadilan di perusahaan Kirana Jaya Nusantara itu.
Pada suatu sore dalam ruang rapat yang hening, Andi tak lagi sanggup membendung gelombang iri hati di dadanya. Ia berdiri mengacungkan tangan, lalu bersuara lantang dalam sidang rapat.
“Izin pimpinan. Setelah bekerja selama 20 tahun di sini, saya merasakan ada ketidakadilan yang telah terjadi. Pekerjaan saya sebagai pengantar surat selalu memaksa saya mengarungi kejamnya jalanan dan berpanas-panasan di luar. Sementara Kirman begitu enaknya bersemayam di dalam ruangan yang dingin dan teduh. Maka mulai hari ini, saya menuntut agar posisi kami ditukar!”
Haji Hardi, sang ulama yang menyembunyikan kealimannya di balik kemeja sederhana seorang pengusaha, hanya mengelus dada dan menarik napas dalam-dalam. Matanya yang jernih menatap Andi dengan kedalaman telaga hikmah.
Dengan suara lembut bagaikan bisikan angin malam, beliau menjawab, “Baiklah. Jika itu yang menjadi beban di hatimu, mulai besok kau, Andi, bertukar posisi menjadi customer service. Dan kau, Kirman, bertugaslah mengantarkan surat-surat perusahaan.”
Keesokan harinya, fajar menyingsing membawa babak baru. Andi melangkah bangga memasuki ruangan ber-AC, duduk di kursi empuk yang selama ini diidam-idamkannya. Namun, kebanggaan itu seketika luluh layaknya es disiram air panas. Begitu jam kerja dimulai, gelombang pelanggan berdatangan bagai air bah mengalir deras. Lembar demi lembar keluhan, benang kusut masalah teknis, hingga emosi para tamu tertumpah di hadapannya.
Andi terpaku mati rasa. Tangannya gemetar, pikirannya membeku bagai benang kusut yang tak tahu di mana ujung pangkalnya. Ia tak tahu dari mana harus memulai, tak paham alur sistem, dan tak memiliki ketenangan jiwa untuk menenangkan amarah warga yang menuntut solusi. Keluhan demi keluhan tak kunjung menemukan muara.
Sementara itu di jalanan, Kirman menunggangi sepeda motor. Dengan ketelitian dan penguasaannya atas peta kota serta kerapian administrasi, seluruh pucuk surat perusahaan berhasil diantarkan ke alamat tujuan tanpa celah dan tanpa ada yang tercecer sedikit pun. Kirman menyelesaikan seluruh beban tugasnya secara sempurna, meski peluh membasahi dahinya.
Hari berbilang hari, kekacauan di ruang depan semakin tak terbendung. Suasana berubah menjadi lautan kericuhan. Pelanggan yang kecewa karena tak terlayani dengan baik mulai memalingkan wajah, pergi meninggalkan perusahaan dan berpindah ke pesaing. Omset PT Kirana Jaya Nusantara anjlok secara drastis, mengancam urat nadi kehidupan perusahaan.
Melihat bahtera usahanya mulai oleng dihantam gelombang kekacauan, Haji Hardi kembali memanggil seluruh karyawan dalam rapat darurat. Suasana ruang rapat mencekam, dibalut ketegangan yang membumbung tinggi.
Haji Hardi menatap Andi dengan pandangan bijak, lalu bersuara lembut namun merasuk hingga ke relung kalbu, “Bagaimana, Andi sang customer service? Kemarin kau menyuarakan bahwa tidak ada keadilan di perusahaan ini. Namun nyatanya, ketika pekerjaan sudah ditukar, kita justru menuai badai kerugian dan pelanggan kehilangan kepercayaan.”
Andi menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahnya merah padam dibakar rasa malu dan penyesalan yang mendalam. Air matanya menetes tiada henti sehingga membasahi wajah dan pipinya sedikit demi sedikit.
“Ampunkan hamba, Pimpinan…” bisik Andi dengan suara bergetar. “Saya telah dibutakan oleh rasa iri hingga tak mampu melihat hakikat pekerjaan. Saya memohon maaf sebesar-besarnya. Izinkan saya kembali memegang stang motor dan mengantarkan surat-surat seperti semula, dan kembalikanlah Kirman ke tempat yang semestinya.”
Haji Hardi tersenyum tipis, mengangguk penuh pemakluman. Kirman pun kembali menyambut pelanggan dengan keahlian jiwanya, sementara Andi kembali membelah jalanan dengan rasa syukur yang baru. Roda perusahaan pun kembali berputar normal, mengalirkan keberkahan sebagaimana sedia kala.
Maka sesungguhnya keadilan bukan berarti kesamaan, melainkan kesesuaian (proposional). Keadilan yang sejati bukan terletak pada sama ratanya tempat atau fasilitas kerja, melainkan pada penempatan seseorang sesuai dengan bakat, keahlian, dan kapasitas jiwanya (place the right man on the right place).
Kemudian “Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau” Manusia kerap terjebak melihat kemudahan dan kenyamanan tugas orang lain dari luar tanpa memahami rumitnya beban dan tanggung jawab yang dipikul di dalamnya. Ketahuilah setiap pekerjaan memiliki ujiannya masing-masing.
Sebagai penutup, perlunya kerelaan dan keikhlasan dalam pekerjaan. Keberkahan suatu rezeki dan kelancaran sebuah usaha lahir dari kerelaan menjalankan tugas sesuai keahlian. Ketika seseorang memaksakan diri memikul beban yang bukan takarannya, bukan hanya dirinya yang runtuh, melainkan juga tatanan di sekitarnya. Wallahu’alam.
Bengkalis, 27 September 2026