Antitesis: oleh Nyoto

54

Ilmu filsafat dipahami sebagai ilmu dengan taraf berpikir yang tinggi dan logis dalam mencari suatu kebenaran (thruth). Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran hakiki yang didasari oleh metode ilmiah yang jelas dan tentu saja logis untuk ditelaah. Namun, tidak banyak orang suka untuk membuka wawasan berpikir menuju ruang filosofis yang serba “membingungkan.” Dalam kebingungan yang dimaksud sesungguhnya tidak ada sesuatu yang dianggap bingung, yang ada sebenarnya adalah ketidaktahuan.

Kita mengenal empat kuadran tentang “tahu” yang dikenal sebagai Johari”s windows, yaitu Tahu akan ketahuannya (Kuadran 1); Tahu akan ketidaktahuannya (kuadran 2); Tidak tahu akan ketahuannya (kuadran 3); Tidak tahu akan ketidaktahuannya (kuadran 4). Manusia berpikir harus beranjak dari rasa keingintahuan yang meliputi dirinya yang penuh dengan rasa penasaran. Jika itu tidak ada dalam dirinya, maka dapat dipastikan dalam diri manusia tersebut tidak memiliki motivasi untuk berpikir lebih jauh tentang ilmu pengetahuan.

Mengenai yang tahu akan ketidaktahuannnya (kuadran 2), tentu berpotensi untuk menambah rasa ingin tahunya, membuka jendela berpikirnya lebar-lebar dalam mencoba untuk mencari tahu terhadap sesuatu yang dia tidak tahu. Dalam perjalanan berpikir manusia, sesuangguhnya manusia acap kali menggunakan logika sebagai sandaran. Logika yang dimaksudkan adalah logika berpikir yang bermuara pada ilmu logika. Menurut William Alston (1921-2009), logika merupakan ilmu yang mempelajari tentang berpikir, terutama usaha dalam menemukan cara untuk membedakan pemikiran yang valid dengan yang tidak valid. Sedangan Jujun S. Suriasumantri (2019), logika berarti cara penarikan kesimpulan yang benar. Secara lebih luas, logika dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara benar.

Beranjak dari dua definisi ilmu logika tersebut, sederhananya aktivitas manusia kesehari-hari menjalankan prosedur logika berpikir. Namun, ada kecendrungan dalam proses menjalankan logika, terkadang digunakan logika yang terbalik dalam penyelesaian masalah. Sebagai contoh kasus, seorang ibu melihat anaknya mengendap-ngendap mengisap rokok di belakang rumah. Mengapa mengendap-ngendap? Karena anak tersebut masih belum dikategorikan sebagai ”orang yang dianggap boleh merokok”. Namun suatu hari anak tersebut ketahuan lalu menghindar. Esok lusa perbuatan itu diulangi dan menjadi suatu kebiasaan. Demikian dan seterusnya. Secara normatif; ibunya melarang anak tersebut untuk tidak merokok dan seharusnya selesai dalam proses sosial interaksi tersebut. Namun, hal ini dalam proses berpikir tidak menyentuh substansi sosial. Untuk itu maka perlu implementasi logika berpikir anti tesis. Jika sang ibu menjalankan prosedur anti tesis seperti menyuruh anaknya secara frontal untuk mengisap rokok, secara psikologis anak tersebut akan takut merokok. Contoh berikutnya adalah Ketika seorang anak nakal bermain panjat pohon dan oleh ibunya dilarang untuk tidak memanjat, maka cara ampuh untuk menyuruhnya turun adalah dengan pernyataan antitesis, yakni menyuruh anaknya untuk memanjat lebih tinggi lagi tetapi dengan mimik yang antagonis (mengancam).

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Fenomena-fenomena sederhana terhadap munculnya filsafat antitesis mengajari kita bahwa untuk menyelesikan suatu masalah tidak selalu dengan cara normatif. Sebagian orang mengatakan bahwa berpikir biasa-biasa akan menghasilkan hal yang biasa, tetapi jika berpikir secara frontal maka hasilnya akan luar biasa. Ini logis sebab menurut cara berpikir filsafat adalah proses berpikir yang mendalam, mendasar (radikal), kritis, rasional, dan sistematis untuk mencari hakikat kebenaran. Metode ini tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, melainkan menganalisis akar masalah, menggunakan akal budi secara logis, serta menyeluruh (universal) untuk menghadapi informasi atau permasalahan. Proses berpikir ini merujuk pada logika yaiyu mencari tahu akan suatu kebenaran atau suatu kesalahan. Dalam menjalankan prosedur logika ada etika yang diperankan oleh sang peneliti. Etika yang dimaksud adalah mempertimbangkan bahwa hal ikhwal yang dilakukan apakah sudah memenuhi standar baik atau buruk dalam norma sosial, termasuk norma dalam menjalankan prosedur penelitian.

Antitesis dalam filsafat khususnya dialektika Hegel (1770-1831),merupakan gagasan tandingan yang bersebrangan dengan pandangan awal yang disebut tesis. Ini berfungsi sebagai momen negasi untuk menantang status quo, memicu pertentangan ideologis, dan memicu sintesis baru demi mencapai kebenaran atau pemahaman yang lebih tinggi. Dialektika Hegel memandang sejarah dan pemikiran manusia bergerak melalui tiga tahap yakni tesis, antitesis, dan sintesis. Antitesis adalah kekuatan historis atau perkembangan baru yang menentang tesis (keadaan saat ini). Kontradiksi ini bukan kehancuran, melainkan proses kemajuan untuk mencapai sintesis Jika kaum buruh dan proletar dianggap tesis dimasanya, maka kaum borjuis para pemilik modal dianggap sebagai antitesis. Pada sisi lain Ketika terjadi kolaborasi perdagangan bebas dan kapitalis liberalis, saat itu muncul sintesis. Mahasiswa belajar keras dengan harapan menjadi pintar adalah suatu harapan yang disebut tesis, tetapi ternyata untuk menjadi pintar tidak semata-mata dengan belajar saja tetapi dipengaruhi oleh sejumlah informasi yang diterima (faktor lingkungan dan lainnya), ini adalah antitesis. Tan Malaka dalam karyanya Madilog, ia menjelaskan dialektika melalui pergerakan, di mana tidak ada kebenaran absolut dan selalu ada pertentangan (antitesis) yang melahirkan perubahan.

Pertanyaan mendasarnya: Apakah filsafat antitesis lebih koheren terhadap cara pikir manusia untuk mendapatkan sesuatu yang lebih? Jika merujuk pada teori, filosofis dan fenomena yang terjadi, jelas filsafat antitesis adalah jawaban yang perlu diuji untuk menjawab filsafat tesis pada awal mencari kebenaran.

Dalam konteks perekonomian, penggunaan uang kartal yang dianggap sebagai alat tukar resmi telah jauh berkurang digantikan oleh transaksi elektronik seperti Qris, Mobil Banking dan sebagainya. Uang kartal dianggap tesis, yaitu suatu transaksi yang dianggap semestinya, sementara antitesisnya adalah penggunaan transaksi elektronik. Pengguaan transaksi elektronik dilakukan karena dianggap lebih simpel, mudah, cepat, dan rendah risiko. Maka dari itu pemikiran filsafat antitesis dianggap sebagai suatu dogma yang dianggap berkeinginan menemukan suatu kemajuan yang hakiki. Itulah kemjuan berpikir manusia yang luar biasa.*

Penulis adalah akademisi tinggal di Pekanbaru.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan