

Hari-hari pada bulan November 2026 ini, banyak tokoh budayawan Melayu Riau yang perlu diingat. Pertama Tenas Effendy, yang lahir pada tanggal 9 November 1936, di Pelalawan. Penulis ratusan buku yang berisi muatan tentang Tunjuk Ajar Melayu, dan wafat pada 28 Februari 2015. Kedua, Sutardji Calzoum Bahri, yang melangsungkan perkawinan pada 10 November 1982, atau telah 44 tahun usia perkawinan, dilahirkan 24 Juni 1941 di Rengat. Penyair ini terkenal setelah mempublis puisi-puisinya yang berbasiskan mantra dan kemudian digelari sebagai Presiden Penyair Indonesia. Ketiga, Umar Usaman Hamidy seorang dosen yang banyak menulis dan meneliti tentang kesusastraan dan kebudayaan Melayu, dilahirkan pada 17 November 1943 di Rantau Kuantan, Kuantan Singingi. Telah menulis puluhan buku tentang sastra dan kebudayaan Melayu dan selalu menjadi rujukan banyak peneliti bila kajian itu berbasis kebudayaan Melayu.
Ketika usia UU Hamidy 70 tahun, sebuah panitia penerbitan buku yang dipimpin oleh Muchtar Ahmad, berhasil menerbitkan kumpulan artikel, yang ditulis untuk menghormati beliau. Awalnya UU Hamidy menolak untuk dihormati dengan cara penerbitan buku, sebab menurut beliau, hal itu tidak dia perlukan. Namun kemudian, UU Hamidy menyerah dan pasrah ketika Muchtar Ahmad tidak lagi memberikan waktu padanya untuk melakukan sanggahan. Argumentasi panitia sangat jelas, ….Bung memang tak perlu buku itu dan kami juga tidak akan jadi terkenal oleh buku itu. Yang memerlukannya adalah masyarakat, terutama masyarakat Melayu dengan generasi mudanya. Jika buku itu tidak disusun atau tidak diterbitkan, Bung tidak akan disesalkan orang.
Apa kata UU Hamidy mendengar serangan Muchtar Ahmad? “Dulu kalian selalu suka mendengar kata-kata saya, tahu-tahu sekarang kalian pulalah yang paling sengit membantah perkataan saya. Kalian sudah bekerjasama menjerat leher saya. Sehingga saya tidak berdaya lagi untuk berkata”.

Karya UU Hamidy
Beliau adalah dosen pada Prodi Bahasa Sastra Indonesia, FKIP UNRI, disamping juga mengajar pada Universitas Islam Riau dan Universitas Lancang Kuning. Menamatkan S1 pada IKIP Malang dan kemudian melanjutkan studi ke Universiti Malaya di Kuala Lumpur dan pulang ke Riau (1980) dengan memperoleh gelar MA. Selama pengabdiannya sebagai dosen (pensiun 1 Desember 2008), UU Hamidy tekun melakukan penelitian dan menuliskannya serta menerbitkannya dalam bentuk buku. Hasil karyanya dalam bentuk buku berjumlah sekitar 57 buku dan masih banyak lagi naskah yang belum diterbitkan. Adapun sebagian diantara naskah yang telah diterbitkan : Bahasa Melayu Riau (BPKD,1973); Anzib Lamnyong Gudang Karya Sastra Aceh (PPIIS Aceh,1974); Pernan Cerita Rakyat Aceh (LP3ES, 1977); Kebijakan Mempergunakan Hikayat Aceh (Almaarif, 1981); Riau Sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu (Bumi Pustaka, 1981); Sikap Orang Melayu terhadap Tradisinya di Riau (Bumi Pustaka, 1981); Pengarang Melayu di Riau dan Abdullah Munsyi (Pusat Pembinaan Bahasa, 1981); Membaca Kehidupan Orang Melayu (BumiPustaka, 1986), Rimba Kepungan Sialang (Balai Pustaka, 1987); Kasin Niro Penyadap Enau ( Balai Pustaka, 1987); Sikap dan Pandangan Hidup Ulama di Riau (UIR Press, 1988); Masyarakat Terasing Daerah Riau di Gerbang Abad XXI (Zamrad, 1991); Pengislaman Masyarakat Sakai (UIR Press,:1992); Dimensi Bahasa dalam Budaya Melayu (DBP Kualalumpur, 1992); Gurindam 12 Raja Ali Haji (Sastra Leo, 1997); Islam dan Masyarakat Melayu di Riau (UIR Press, 1999); Dunia Melayu dalam Novel Bulang Cahaya (Sagang, 2010); Perangkap Demokrasi dan Bunga Kehidupan: Tiga Sisi Kehidupan Melayu (Bilik Kreatif, 2013).
Dari judul-judul karya tulis yang ditulis oleh UU Hamidy maka mereka yang melakukan kajian bahasa dan kebudayaan Melayu Riau mau tak mau akan memerlukan karya tulis ini. Bahkan sejumlah pensyarah dari Malaysia maupun dari daerah di luar Riau memerlukan untuk membacanya.
Seorang penulis terkemuka tentang sastra dan kebudayaan, Hasan Junus, menulis tentang kajian yang dilakukan UU Hamidy yang berkenaan dengan Dukun di Rantau Kuantan, dengan mengatakan bahwa sisi yang sangat menarik dari hasil penelitian tentang dukun di Rantau Kuantan ialah tentang pengaruh ajaran Syiah dalam mengatasi pengobatan. Kita dapat menemukan nama Ali secara sangat luas dengan keagungannya yang monolitik, kharismatik dan sakral. Bagaimana maksudnya Apothesis terhadap Ali ini mungkin akan merupakan kajian tersendiri yang berdelau. Dukun Melayu Rantau Kuantan dihidangkan secara apik dan rapi dengan menggunakan metodologi sederhana yang tidak menyiarkan bau sok lagak preudo ilmu. Saya hampir-hampir mau mengatakan bahwa penghidangannya nyaris mendekati sempadan populer sehingga enak dicerna.
Memang seperti dinyatakan oleh Hasan Junus itu, soal metodologi penelitian yang dilakukan oleh UU, banyak diperdebatkan. Termasuk ketika Muchtar Ahmad ikut mengusulkan agar kenaikan jabatan menjadi guru besar bagi UU , dimana menurut penilaian anggota senat yang ada, belum bisa menerima metode penelitian seperti yang dilakukan oleh UU . Sehingga akhirnya Muchtar Ahmad menyatakan bahwa yang jelas, hasil karya yang telah ditorehkan oleh pak UU sudah sangat banyak, dibandingkan dengan karya guru besar anggota senat itu.
Seorang gurubesar bahasa dan sastra Indonesia pada Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjung Pinang Prof. Dr. Abdul Malik menyatakan bahwa UU Hamidy memusatkan perhatiannya pada bidang bahasa, sasra dan budaya, Indonesia khususnya dan Melayu umumnya. Di antara karya buku awalnya yang paling penting dan menarik perhatian banyak kalangan adalah Riau sebagai Pusat bahasa dan Kebudayaan Melayu (Bumi Pustaka, 1983). Seperti judulnya, buku ini menyajikan fakta dan membahas bahwa Riau lah yang menjadi tapak mula pembinaan dan pengembangan bahasa dan kebudayaan Melayusecara ilmiah dan modern di rantau ini. Kesemuanya itu dimulai dari dedikasi Raja Ali Haji yang diikuti oleh generasi berikutnya yang disebut oleh UU Hamidy dengan ungkapan “dan kawan-kawan:” Yang dimaksudkan beliau tentulah yang kita kenal sebagai generasi anak dan cucu Raja Ali Haji.
Setelah kajian pak UU soal Raja Ali Haji, maka semakin banyak dan menjadi-jadilah para pakar tertarik dan jatuh hati untuk mengkaji karya-karya Raja Ali Haji dan para penulis Kesultanan Riau Lingga yang lain. Buku Pak UU ini telah membuka mata pikir dan mata hati para ilmuwan dari pelbagai disiplin ilmu untuk mengapresiasi jasa-jasa Raja Ali Haji dalam pembinaan dan pengembangan bahasa dan kebudayaan di rantau ini. Selepas itu, karya-karya UU Hamidy selalu menjadi rujukan para peneliti dan penulis dalam dan luar negeri.
Dalam pandangan Shamsudin Othman, seorang pensyarah pada Universiti Putera Malaysia, memberikan kesaksian bahwa konsistensi UU Hamidy dalam mempertahankan pandangannya berkenaan dengan letak dan posisi kebudayaan Melayu di era pembangunan bangsa dan negara. Pandangannya tentang kebudayaan Melayu akhirnya terwujud dalam visi misi Daerah Riau yang mana meletakkan kebudayaan Melayu dalam kerangka besar pembangunan bangsa di daerah Riau, seperti hal itu dicanangkan dalam Pola Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Riau masa provinsi ini dipimin oleh Saleh Djasit (1998-2003)..
“Nama UU Hamidy bukanlah nama asing dalam dunia persuratan Melayu antara bangsa. Hubungannya yang rapat dengan rakan-rakan budayawan dunia khususnya Malaysia, Singapura dan Brunei, menyebabkaan pemikirannya sering ditanggapi oleh Usman Awang, Baha Zain, Taib Osman, Masruri SN, Suratman Markasan, Jamal Tukimin, Muslim Burmat atau rakan senegara sendiri seperti Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bahri, Putu Wijata, Gunawan Muhammad dan lain-lain.

UU Hamidy dan Penyair Muda
Sekitar Tahun 1980-1990 merupakan lahirnya satu generasi muda di Pekanbaru yang mengambil kegiatan di bidang sastra, baik penulisan/pembacaan puisi ataupun drama. Namun mass media di Pekanbaru sangat sedikit antara lain koran Genta, Canang, Koran dari luar Riau seperti Jakarta, Padang, Medan beredar di Pekanbaru. Oleh karena itu, penulis-penulis muda ini berlomba-lomba menulis untuk media yang terbit di luar Pekanbaru. Misalnya saja Harian Haluan, Singgalang dari Padang; Waspada, Sinar Indonesia Baru, Analisa dari Medan, serta lainnya koran dan majalah dari Jakarta seperti Pelita, Kompas, Sinar Harapan, Panji Masyarakat, Terbit.
Awalnya banyak yang dimulai pemuatannya dari rubrik remaja, dan setelah mengalami masa pematangan di level ini, nantinya bermigrasi ke level yang lebih dewasa. Selain itu, timbul kesadaran baru yaitu menerbitkan buku puisi. Menerbitkan buku puisi secara cetak biasa, merupakan suatu yang mewah menurut pemahaman anak-anak muda masa itu.. Pada tahun 1980, saya bersama Fakhrunnas MA Jabbar dan Syafrudin Saleh menggagas penerbitan Antologi Puisi Pekanbaru. Teknis percetakan buku adalah dengan teknis stensilan. Diketik di kertas sheet dan harus mempergunakan mesin ketik panjang dan kemudian mencari mesin stensil (dengan menyediakan tinta stensil + kertas sekian rim), dan kemudian dikemas akhir (penjilidan). APP 1980 ternyata mampu menghimpun19 nama penulis muda yang kesemuanya amat bergelora. Diantara 19 nama itu tercantumlah nama Armawi KH, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Tien Marni, Dasri Al Mubari, Wise Marwin, Temul Amsal, Syafrudin Saleh Sei Gergaji, Zulkifli MZ, Abdurrahman Sam, Zoel Beroes, Frans VH, Izhar, Ita Oktavia, Terbitnya antologi puisi ini menggembirakan penyair yang waktu itu dikategorikan senior seperti Ibrahim Sattah, Ediruslan Pe Amanriza, Idrus Tintin, UU Hamidy, Wunulde Syafinal. Tak salah kalau Ibrahim Sattah berkata sewaktu acara diskusi antologi ini yang berlangsung di Aula Mahasiswa UIR bahwa walaupun antologi puisi ini diinisiasi oleh anak-anak muda namun beberapa puisi yang ada sudah cukup matang sebagai sebuah puisi, contohnya adalah puisi Armawi KH yang berjudul KEMARAU.
Setelah terbitnya APP 1980 ini, maka nantinya berlomba-lomba para penulis muda mencoba menerbitkan buku puisinya masing-masing, dengan tehnik cetak yang lebih bagus (dan bukan lagi stensilan). Perkembangan anak-anak muda dalam berkarya, mendapat perhatian yang istimewa dari UU Hamidy. Seperti yang saya tulis dalam artikel berjudul UU Hamidy dan Penyair Muda 1980 dalam buku Gelanggang Budaya Melayu, 70 Tahun UU Hamidy sebagai berikut:
Kreativitas penulis-penulis muda Riau dalam penulisan sastra, nantinya direkam dan dianalisis oleh Pak UU Hamidy dalam bukunya. Hal ini terlihat dalam bukunya Bahasa Melayu dan Kreatifitas Sastra di Riau (Unri Press, 1994). Dalam buku ini ada Bab IX yang secara khusus membicarakan penyair muda Riau di bawah judul Antologi Sederhana Puisi Penyair Muda Daerah Riau (dimuat dari halaman 153 sampai dengan halaman 176). Tentu saja tulisan oleh seorang dosen yang sangat produktif baik menulis di media massa, penelitian sastra budaya dan penerbitan buku-buku, membawa dampak psikologis yang besar bagi para penulis muda. Pada masa itu seorang dosen yang bergelar MA belumlah banyak dan juga tidak semua dosen bergelar master mempunyai kreatifitas dan produktif menulis. Tradisi Pak UU atau mungkin lebih tepat kalau dikategorikan sebagai suatu komitmen seorang akademisi untuk selalu membicarakan dan menulis kritik atas karya- anak-anak muda terus berlaku pada masa-masa selanjutnya yaitu selepas tahun 1990-an.
Selamat ulang tahun ke 83 Pak UU Hamidy.