Masih Adakah Cinta: Puisi Tien Marni

115

Ketika petang itu tiba
Hujan rinai nyanyikan
lagu-lagu purba
Semilir angin membelai dedaunan pohon cemara
Ukiran kita didaging pohon palem masih basah
Janji yang kita jalin bersama
Kita titipkan padanya
Burung-bernyanyi tentang kebun bunga
Rumah mungil tempat bercanda dihari tua
Buku harian yang kau titipkan
Masih ada
Bila dan dimana kita kan berkisah tetang masa remaja
Ketika kau mengirimkan surat cinta pertama
Saputangan wangi merah muda dadaku berdebar
Surat itu masih kusimpan
Dari tepian mandi yang dipisahkan adat
Disungai berbatu airnya
nan biru
Kau lambaikan tangan dari hulu
Kau hanyutkan sekuntum bunga yang belum kukenal namanya
Mengangguk-angguk dibibir
Air yang lembut
Dia hilir menghampiriku
Kuraih dengan senyum bergetar
Bunga ungu yang lembut masih kuingat
Burung layang-layang terbang
Dengan tubuh ringan
Gerimis petang, pelangi lingkari langit dihadapan
Saksikan kita saling pandang dari kejauhan
Dengan penuh harap
Entah pabila dan dimana
Kita saling pandang
Sungai dihadapan terus mengalir entah kemana
Kini kita kembali kepetang yang sama setelah tiga puluh tahun terpisah
Ketika kita tak mampu lagi bertanya
MASIH ADAKAH CINTA.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Pasar Reshuffle: Catatan Cak AT

Pekanbaru, 23 November 1996
(dipetik dari Majalah Sastra Horizon, edisi XXXII/4/1996)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan