Awal dan Akhir: Cerpen Dani Pitri

103

Suara bising yang memekakkan telingaku, serta rasa basah yang ada di tubuhku membuatku merinding. Aku, Jan Naim bersama calon suamiku, Aditya Febian. Kami sedang melangsungkan acara Barodak adat Sumbawa. Setelah kemarin Barodak, hari ini aku melangsungkan resepsi pernikahan. Kami telah melalui perjalanan panjang dan berliku sebelum akhirnya memutuskan untuk menggelar acara pernikahan. Dan hari ini, aku telah resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang sangat amat ku cintai.

Aku, Jan Naim adalah gadis sederhana yang hidup di kota, tepatnya kota sumbawa. Tidak sengaja, aku bertemu dengan Aditya Febian. Seorang pria berhati lembut yang memiliki paras yang menawan. Dan jangan lupakan tingkah lucunya.

Awal mula aku bertemu dengannya yaitu di toko tempatku bekerja. Saat pertama kali dia datang ke toko tempat aku bekerja, aku melayaninya dengan ramah seolah-olah dia adalah Raja. Sebenarnya aku merasa heran, karena aku merasa dia terus melirikku secara diam-diam.

Hari kedua dia datang pun begitu, dia melirikku terus-menerus. Saat aku bertanya kepadanya apakah ada yang salah, dia hanya menjawab tidak ada. Waktu itu, aku berinisiatif memperkenalkan diri, karena kupikir dia ingin berteman denganku.

Aku mengulurkan tanganku kepadanya. “Boleh kenalan? Jika boleh, perkenalkan namaku Jan Naim. Kamu bisa memanggilku Naim.” Aku berbicara sambil tersenyum secara tidak sadar, sampai-sampai mataku membentuk bulan sabit.

Entah karena gugup atau apa, dia terdiam beberapa saat sambil menatapku. Saat aku terbatuk untuk menyadarkannya, barulah dia menjabat tanganku dan memperkenalkan dirinya juga.

“…..Boleh, perkenalkan namaku Aditya Febian. Kamu bisa memanggilku Febian.” Ucapnya dengan gugup.

Aku hampir tertawa melihatnya yang begitu gugup dihadapanku. Dia seperti melihat binatang buas, pikirku.

Setelah perkenalan singkat, kami mulai berbicara hal-hal kecil. Seperti saling menanyakan tempat tinggal, makanan yang kita sukai, musik, bahkan aku sampai tidak sadar bahwa sudah hampir 2 jam kita berbicara.

Di sela-sela pembicaraan, dia meminta nomorku. Tentu saja aku memberikannya, karena menurutku dia lucu dan asik. Dan siapa tau kita dapat mengobrol lagi.

Usai hari itu, kami jadi sering bertemu karena dia sering mengajakku keluar jalan-jalan setelah aku selesai bekerja. Hari ini, tepatnya tanggal 1 Januari adalah hari ulang tahunku. Dia mengajakku keluar untuk merayakan nya. Kita berencana untuk makan di kafe dekat rumahku, karena kafe dekat rumahku adalah tempat ideal untuk merayakan hari istimewa.

Aku, Aditya Febian dengan perasaan gugup memasuki kafe, tempat kami akan bertemu untuk merayakan hari ulang tahunnya yang ke 20. Di tangan kiriku terdapat sebuah kue ulang tahun, sedangkan di tangan kananku terdapat sebuket mawar yang begitu harum dan indah.

Aku menelisik seluruh area dalam kafe dan aku melihat seorang wanita yang sedang duduk di kursi dengan memakai gaun biru berlengan panjang serta terpasang jilbab di kepalanya. Saat aku mendekat, hendak mengagetkannya, tiba-tiba dia berbalik dan langsung berkata.

“Tidak akan terulang lagi,” ucapnya.

“Hahaha, kamu tidak tertipu kali ini.” Ucapku sambil tertawa terbahak-bahak. Ya, ini bukan pertama kalinya. Hampir di setiap pertemuanku dengannya, aku selalu mengagetkannya. Karena wajahnya saat terkejut begitu lucu, sehingga aku tidak tahan untuk tidak mengulang perilakuku tersebut berulang kali.

Usai tertawa, aku mendudukkan bokongku di kursi di depannya, sambil meletakkan kue ulang tahun di atas meja. Dan aku mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

Usai kami merayakan serta menghabiskan kue yang ku bawa. Aku mengambil bunga mawar yang ku letakkan di kursi sampingku dan memberikannya ke hadapan Jan Naim, Sambil berucap.

“Jan Naim, aku sudah menyukaimu dari awal kita bertemu. Hatiku bergetar setiap aku memandangmu. Dengan ini, aku memberanikan diriku untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu. Jan Naim, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Ucapku seraya menatap matanya dengan begitu lembut. Aku berpikir bahwa dia tidak akan menolak ku, sampai dia berkata.

“Maaf, aku tidak bisa menerimanya.”

Aku terkejut. Aku tidak menyangka dia akan langsung menolak ku. Kupikir dia akan memikirkannya. Aku bertanya kepadanya kenapa dia menolak untuk berpacaran denganku.

“Di dalam islam ada larangan bahwa tidak boleh berpacaran.” Ucapnya dengan tegas.

Aku tertegun. Aku tidak menyangka dia akan menjawabku dengan begitu tegas. Aku mengangguk mengerti, dan langsung mengucapkan Istigfar. Karena aku sempat terlena oleh cinta dan hampir melakukan hal yang dilarangan-Nya.

Lalu aku berkata kepadanya, “bisakah kamu menungguku 3 tahun lagi? Karena aku ingin merantau dan menghasilkan uang agar bisa meminangmu.” Aku melihatnya mengangguk sambil tersenyum.

“Aku akan menunggumu, mau berapa lama pun itu.”

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Patah: Puisi Dwian98

Usai pertemuan hari itu, Aku berpamitan kepada kedua orang tuaku untuk merantau ke luar kota. Dan meninggalkan seorang perempuan yang akan senantiasa menungguku.

Hari demi hari berlalu dan tahun demi tahun berlalu. Aku, Jan Naim yang telah ditinggalkan selama hampir 4 tahun, setia menunggu kepulangannya. Karena aku percaya bahwa dia akan kembali lagi dan melamarku.

Saat hampir menginjak tahun ke lima, Aku hampir menyerah. Aku menangis dalam pelukan ibuku dengan kencang. Ibu bertanya, kenapa aku bersedih. Sebenarnya aku tidak memberitahu kedua orang tuaku bahwa aku sedang menunggu kepulangan laki-laki yang aku cintai. Dan hari ini, aku memberanikan diri untuk menceritakannya.

Setelah menceritakan nya, Ibuku menghiburku dengan lembut dan sabar.

“Ingat Nak, jika seseorang mempercayaimu dan kamu mempercayainya. Dia berusaha keras dan kamu menunggu nya. Percayalah bahwa Tuhan akan mempertemukan kalian berdua.” Ucap ibuku dengan tenang.

Entah karena omongan ibuku atau apa, Aku kembali tenang dan tidak menangis lagi. Mulai hari itu, aku senantiasa menunggunya dengan sabar dan sambil bercerita bersama ibu tentang pernikahan supaya aku siap jikalau dia kembali.

Hari ini, aku sedang duduk di teras bersama ibuku sambil memakan keripik singkong. Di sela-sela itu, aku bertanya kepada ibuku tentang proses pernikahan orang Sumbawa. Di hari lain, aku pernah bertanya mengenai Bajajak, Bakatoan, Basaputis, serta Nyorong. Hari ini, aku ingin bertanya tentang Barodak.

“Bu, aku banyak mendengar dari teman-temanku yang sudah menikah dan mereka menceritakan tentang salah satu proses pernikahan adat Sumbawa, kalau tidak salah namanya Barodak. Barodak itu, apa Bu?” Ucapku dengan nada penasaran.

“Nak, Barodak itu adalah tahap akhir sebelum proses menikah. Barodak itu, kegiatan memakaikan lulur kepada kedua mempelai yang akan menikah. Lulur ini biasanya terbuat dari buah binang atau belimbing wuluh, daun sirih, beras yang digiling dan diramu menjadi satu. Selain itu, ada tanaman pancar yang ditumbuk halus, lalu dipasang di kuku dan telapak tangan kedua calon mempelai. Bubuk ini akan meninggalkan warna merah dan dianalogikan sebagai perjuangan untuk menyejahterakan keluarga meski harus menumpahkan air mata bahkan darah.” Ucap ibuku dengan tenang.

Aku mengangguk dengan antusias mendengar tentang Barodak yang diceritakan oleh ibuku. Sungguh, Sumbawa memiliki proses pernikahan yang menarik yang membuat hatiku bergetar dan tidak sabar ingin mencobanya.

Di tanggal 1 Januari, tepat memasuki tahun keenam aku menunggu kepulangannya. Aku pergi ke kafe tempat dia mengajakku berpacaran waktu itu, aku di sini, di kursi yang sama, memakai baju yang sama, serta kue yang sama pula. Aku menatap kue ulang tahun di depanku dan tanpa sadar berucap.

“Tahun ini, aku merayakannya sendiri lagi.” Ucapku dengan nada sedih.

Saat hendak memotong kue, aku dikagetkan dengan suara seseorang yang memanggil namaku dengan keras dan suara tersebut begitu familiar di telingaku. Aku langsung berbalik dan melihat seseorang berdiri tidak jauh dariku.

Aku berdiri, air mataku mengalir, dan aku langsung berlari dan memeluknya dengan erat dan dia membalas pelukanku dengan tak kalah eratnya.

Hening beberapa saat, yang kudengar hanya suara detak jantung, yang entah milik siapa.

“Aku pulang, terima kasih telah menunggu.” Ucapnya.

“Ya, terima kasih karena telah kembali.” Ucapku, dengan nada bergetar.

Setelah acara berpelukan tersebut, dia menarikku ke arah tempat dudukku barusan. Dan dia langsung mendudukkanku di kursi.

Dia berjongkok di depanku, meletakkan siku kaki kirinya di lantai, sedangkan kaki kirinya tertekuk. Dia mengambil sebuah kotak dari dalam saku celananya dan mengadahkan kepalanya serta kotak tersebut ke arahku. Dia membukanya dan terlihatlah 1 buah cincin yang berkilau di dalamnya. Hatiku bergetar, entah ini karena gugup atau gembira.

“Jan Naim, hari ini aku akan mengulangnya dengan benar. Wanita yang telah membuat hari-hariku cerah, yang membuat malam yang begitu dingin menjadi hangat, matahariku, Maukah kamu menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku?” Ucapnya sambil tersenyum.

“Ya, aku mau.” Ucapku dengan nada bergetar dan tanpa sadar air mataku turun kembali.

Dia memasangkan cincin di jari manisku dan aku langsung memeluknya kembali.

Aku tersenyum begitu mengingat-ingat hari-hari yang kulalui tersebut. Aku menatap ke seseorang yang sedang menonton TV dengan hikmat. Aku berjinjit-jinjit di belakangnya dan hendak mengagetkannya. Tetapi sebelum tanganku sampai ke pundaknya, dia memegang kedua tanganku dan dia berbalik untuk melihatku. Kami bertatapan beberapa detik, sebelum gelak tawa kami terdengar.

Inilah akhir dari kisahku.

Selasa, 11 Februari 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan