Rindu yang Julur: Puisi Uchie az-Zukhruf

127

1/
aku mendoakanmu dengan temali diksi yang terlahir dari rahim literasi. anakku-anakmu seolah terjerat jejaring puisi. tanpa basa-basi membasuh mimpi di lautan hari.

2/
libur membawa kita pada lembur di lembah sepi Mutiara Insani. berpagi-pagi menyimak tutur Pak Bambang, yang bertandang dari bumi lancang kuning. mereguk kalimah yang tumpah dari lisannya, lantas terpekur di lintasan pikir. rindu yang julur, perlahan susut di deru ilmu.

3/
hujan menikam jantung bumi. kita pun gigil di ruang kelas berpendingin. anakku-anakmu geletak-geletuk menyusun kayu. sesekali kening mereka bertaut. lalu kerat-kerut di wajah mungil itu seketika raib dirobek gelak tawa; berdarah setengah bangga.

4/
tak peduli pagi yang dijeblos ke jeruji siang. pun pada jamuan nan tersaji hingga jelang petang. tidak jua tentang suara-suara berisik di kepala. semua tenggelam di lapang dada kita. lantang bicara soal rasa dalam puitika. mengapung buih bual kisah inspiratif bersahaja, hingga renangi ragam cerita anak nan bijaksana.

5/
tiga hari bersama seakan bermukim di teduhnya wisma aksara. anakku-anakmu sebegitu asyik bertarung sepak bola di kepak masa, sembari menanti kita menanak karya. dari ruang kelas yang tak seberapa luas itu, hatiku-hatimu terhimpun pada halaman sebuah buku.

Batam, 23 Juli 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. aftabukhori@gmail.com mengatakan

    Masyaallah, tulisan menyentuh dengan kata kata tersusun indah, ringan namun berarti❤️😍