Puisi-puisi Erlyna Setyorini

48

Di Ujung Rindu yang Memanggil Pulang

Di bawah langit asing yang tak lagi sama,
Kucari gema suaramu di antara bising kota. Teringat pekik tegasmu saat aku kecil dahulu. Teriakan yang kini kurindu, pengingat nakalku

Engkau memarahiku dengan lisan yang tajam, namun mendekapku dengan kasih yang paling dalam. Di setiap omelan, terselip doa yang tak pernah lekang
Di setiap nasehat, terukir bekal agar aku tak hilang arah saat pulang

Ibu, meja makanku kini terasa hambar dan sunyi. Tak ada aroma masakanmu yang memeluk hati. Di sini, beban hidup terasa menghimpit pundak, ingin rasanya aku berlari, kembali ke pelukanmu yang sejuk

Ingin kurebahkan lelahku di pangkuanmu yang teduh, mengadukan segala perih, hingga air mataku luruh. Bermanja sejenak, melupakan dunia yang begitu keras, menghirup wangi doa-doamu agar jiwaku kembali selaras

Namun, jarak dan keadaan adalah jeruji yang nyata, memaksaku tetap bertahan, meski rindu kian meronta. Meski ragaku tertahan di tanah perantauan ini, cintaku padamu melampaui batas bumi dan sunyi

Ibu, dengarlah bisik angin yang kubawa
Aku menyayangimu, selamanya dalam jiwa
Doaku untukmu takkan pernah putus mengalir, hingga tiba saatnya, aku pulang dan rindu ini berakhir

Menunggu Kabar di Ujung Senja

Di ambang pintu kau titipkan sebuah pamit Tanpa tahu, itu adalah awal dari rindu yang menjepit. Kau pergi mengejar mimpi ke kota seberang, namun hingga kini wajahmu tak kunjung pulang

Jika gerimis mulai jatuh menyentuh bumi, hatiku perih menyusuri kenangan yang semi. Tentang satu payung yang memeluk kita berdua, tempat kita bertukar tawa dan canda

Tulisan Terkait

Kini, hujan hanyalah rintik yang menyayat Mengingatkan pada janji yang kian berkarat. Apalagi saat senja mulai membasuh langit, rinduku memuncak, terasa sesak dan pahit

Aku teringat saat kau meminta hatiku Dengan kata manis yang membuatku terpaku. Namun sekarang, hanya hening yang kau beri, meninggalkanku yang menunggu dalam sepi

Kekasih, di mana kau simpan suaramu?
Datanglah, meski hanya untuk sekejap waktu

Kepulangan Sang Malaikat Kecil (Fajri Maulan Sunantyo)

Tiga minggu sudah sunyi itu bertamu, namun bising tawamu masih mengetuk pintu. Sebelas tahun… singkat sekali langkahmu, meninggalkan kami yang masih kaku membeku.

Tak ada sakit, tak ada tanda yang kau beri, hanya senyum terakhir yang kau bawa pergi. Engkau adalah doa yang berjalan, anak sholeh yang tak pernah memberi beban

Kini tiap sudut ruang menjadi saksi, Gema tangismu, manjamu, masih terasa di sini Hati mana yang tak hancur berkeping-keping, melihat duniamu yang mendadak hening?

Namun kami sadar, engkau hanyalah titipan, sebuah permata yang dipinjamkan Tuhan. Jika Allah telah rindu dan memanggilmu pulang, siapakah kami untuk menghalangi jalan terang?

Pergilah, Nak, ke taman surga yang abadi Tempat suci bagi jiwa yang tak bernoda sama sekali. Kami lepas kepergianmu dengan ikhlas yang paling dalam, meski rindu ini akan tetap terjaga di setiap malam

Namamu abadi di denyut nadi, Wajahmu kekal di dalam hati. Sebab kami tahu, di sana kau jauh lebih bahagia, Karena Allah lebih menyayangimu melebihi segalanya.

Erlyna Setyorini adalah seorang penulis berusia 41 tahun yang telah memupuk kecintaan pada dunia bacaan, khususnya cerpen dan novel, sejak masa kecil. Ia merupakan penulis dari buku solo berjudul “SEBUAH RASA DI ANTARA KATA” yang saat ini masih tersedia di salah satu platform belanja daring.Ia termasuk peserta yang lolos 36 besar Anugerah COMPETER 2026, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per Januari 2026 mendatang. Melalui dedikasinya dalam menulis, Erlyna bercita-cita untuk terus melahirkan karya-karya solo selanjutnya hingga mampu menembus jajaran rak di toko buku ternama di seluruh Indonesia. Erlyna bisa disapa melalui Instagram @rlynasr_21 dan Email rlynasr@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan