Bangku Taman: Puisi Pramesetya Aniendita

3

Bangku taman itu sudah tua,
catnya mengelupas, kayunya luka.
Tak lagi jadi rebutan duduk di sore cerah,
kini hanya sepi yang setia bersinggah.

Dulu, bangku itu tempat cinta tumbuh,
anak-anak berlari, mengejar pelangi semu.
Seorang ayah mengikat tali sepatu anaknya,
seorang ibu menghapus air mata tawa.

Kini bangku itu jadi altar sunyi,
tempat seorang kakek melepas letih.
Tangannya gemetar memegang termos kecil,
menanti seduhan kopi dari langit senja yang dingin.

Ia tak mengemis, tak juga berharap banyak,
hanya duduk, menatap langkah-langkah yang menjauh cepat.
Kadang senyum kecil terbit di pipi keriputnya,
saat seekor burung mampir sebentar,
seolah dunia masih bisa bersikap ramah.

Bangku itu paham betapa waktu mencuri,
bukan hanya usia, tapi juga tempat tinggal,
rasa aman, dan rasa dilihat.
Ia tahu, jadi tua di kota
kadang lebih sepi dari bulan yang pecah.

Dan hujan datang seperti kenangan,
membasahi jaket tipis dan alas kardus.
Orang-orang berlalu, tergesa membawa payungnya,
tak tahu ada seseorang yang diam-diam menyeka pipinya.

Bangku taman itu tak meminta iba,
ia hanya ingin didengar,
sebagai saksi bisu dari hidup
yang tak selalu punya rumah untuk pulang.

Bandar Lampung, 9 Mei 2026

Pramesetya Aniendita, atau yang akrab disapa Dita, merupakan 10 besar Duta Anugerah Competer Indonesia 2026. Ia kerap menjuarai lomba puisi, antara lain Juara 3 Lomba Puisi SIP Publishing bersama Nana Sastrawan (2024), Juara 2 AIS (2025), serta Juara 1 Event Senandika bersama Tuang Aksara (2026), dan berbagai kompetisi literasi lainnya. Dita juga produktif berkarya. Ia telah menelurkan 13 buku solo serta berkontribusi lebih dari 100 buku antologi. Karya-karyanya pun telah terpublikasi di berbagai media online. Yuk, kenal lebih dekat dengan Dita melalui Instagram @book.wormholic.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan