Duri dalam Diri
– Di Midai
Di hari yang serba sunyi ini
ajal terkurung di ruangan
yang hampa.
Satu membakar
sesama lain sekelebat khayalan
liar yang enggan jinak sesaat
apabila ia rasa gelisah.
Ada dua ranting menjulang
di dekat jendela.
Raih ia terus!
Patahkan segala ingatan ini.
Di hari yang serba suka ini
ajal ingin semuanya
selalu fana.
Penyair Bucin
– Utk Fiqih Ahmad A.
Penyair terlahir dari rahim hangat
buku yang ia anggap sebagai ibu
kandungnya sendiri.
Penyair terlahir dengan rasa cinta,
rindu, dan penuh emosi, saat malam
merekah dalam gelap dan sunyi.
Saat ia pertama kali bisa menulis
ia pun iseng merayu pacarnya
dengan sepenggal sajak Sapardi.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”
Ditambahnya, “Dengan chat yang
tak sempat dibalas olehmu sebelum
rasa rindu membebani isi ponselku.”
Gadis Kecilku
Ketika senja menyisir rambutnya
yang seindah bulan lalu buru-buru
berpamitan, gadis kecilku
baru saja terbit dari ufuk maghrib
bersamaan dengan hujan.
Ia girang menghitung rintik hujan
satu persatu meresap
ke dalam kelopak matanya
yang telah kusediakan kolam.
Bila gadis kecilku merasa puas,
aku bisa pulang ke haribaan
subuh dengan tentram.

Salman Al Farisi kelahiran 29 Oktober 2005 di Natuna, Kepulauan Riau. Merupakan seorang penggiat sastra yang kini bermukim di Yogyakarta. Tulisannya telah dimuat di berbagai media daring.