Lelaki itu percaya bahwa setiap kantong plastik hitam yang dilemparkan manusia ke dalam bak truk kompresornya adalah draf rahasia yang gagal disembunyikan dari peradaban kota. Di bawah pendar lampu merkuri yang pucat di sudut taman arteri Megapolitan, ia berdiri membungkuk memandangi gunungan sisa konsumsi urban yang baunya asam menyengat. Angin subuh bertiup kencang, membawa aroma pekat gas metana bercampur debu jalanan yang kaku. Di balik sarung tangan karetnya yang mulai berlubang dimakan usia, jemarinya yang legam meraba sebuah benda keras bersudut lancip yang menyembul di antara tumpukan kemasan kosmetik bekas dan sisa kertas struk belanjaan harian.
Bagi para pengawas kebersihan dinas kota yang menghitung produktivitas dari draf data pelacakan GPS, pilihannya menjeda lembur sapu di tepi aspal dianggap sebagai bentuk kebebalan yang telat punah. Namun, bagi kuli sapu jalanan paruh baya seperti dirinya, sela-sela waktu menunggu bak truk penuh adalah satu-satunya ruang sunyi yang sanggup meredam bisingnya deru klakson kendaraan yang saban hari merenggut ketenangan kepalanya.
“Kita tidak bisa lagi menunda pembaruan sistem absensi pemantau gerak berbasis satelit itu esok Senin, Sen,” suara Samiran, sesama petugas penyapu dari arah parit pembuangan, memutus fokus pandangan matanya sejenak. Lelaki tua itu sibuk membersihkan sisa lumpur hitam yang menempel di ujung sapu lidi besarnya. “Asosiasi pengelola kebersihan lingkungan mitra kota sudah memasang draf sensor pemantau baru di setiap gagang sapu. Sekarang kalau kita tidak mencapai target draf luas sapuan zonasi harian yang tertera di aplikasi gawai, upah kemitraan kita akan dipotong otomatis oleh peladen pusat. Mereka ingin segalanya serbacepat, higienis, dan seragam, tanpa pernah menghitung berapa kali lutut kita linu menahan kaku.”
Lelaki itu tidak segera menyahut keluhan kawannya. Sepasang matanya tetap menatap kaku ke arah benda bersudut lancip yang baru saja ditariknya keluar dari dalam kantong sampah. Sebuah buku harian dengan sampul kulit tiruan berwarna merah pudar yang sudut-sudutnya telah koyak. Ketika ia membuka lembaran kertas di dalamnya dengan gerakan tangan yang lambat, sejenis aroma asam parfum murah yang mulai menguap hampa berselisih tipis dengan anyir bau pelumas mesin, melepaskan uap ingatan visual yang ganjil menembus rongga hidungnya.
Halaman-halaman buku itu tidak berisi angka-angka register kepatuhan pajak atau tabel target kuartalan perkantoran; ia dipenuhi oleh guratan larik tulisan tangan perempuan yang kaku, meliuk landai menceritakan tentang runtuhnya sisa kesabaran seorang manusia kelas pekerja di menara hulu kota.
Di dalam draf catatan sunyi itu, sang pemilik buku melukiskan bagaimana sepasang pundaknya yang ringkih dipaksa menahan beratnya dikte target dari bos di bawah kepungan layar monitor yang menyala 24 jam seminggu, tentang Senin pagi yang selalu datang menjelma menjadi hukuman jeratan yang memicu burnout gawat darurat, dan tentang ketakutan menghadapi esok hari kerja lagi yang terus mengintai di balik draf slip gaji yang habis diperas biaya sewa bedeng kontrakan kota. Catatan itu berhenti secara mendadak pada halaman pertengahan bulan ini, meninggalkan sebaris kalimat terakhir yang ditulis dengan tekanan pensil yang teramat dalam hingga merobek serat kertas: kita semua hanya sekrup yang dipaksa berputar sampai aus dan diganti tanpa upacara penutupan.
Breeesss…
Bunyi semprotan angin dari katup hidrolik truk kompresor sampah yang bergerak merapat ke tepi trotoar mendadak meruntuhkan seluruh jalinan kalimat sunyi itu dari kepala sang penyapu. Kepulan asap diesel tebal menguar pekat, mengunci ruangan udara malam yang pengap dengan sisa karbon yang kaku.
Ia membuka kelopak matanya yang perih akibat kurang tidur semalaman, menghirup tajamnya bau kimia sisa pembakaran yang mengendap pekat di langit-langit jalan arteri Megapolitan. Di atas layar gawai yang diselipkan di ikat pinggangnya, draf pengingat batas waktu absensi digital dinas kota masih berkedip merah kaku, menuntutnya untuk segera menyelesaikan pembersihan sektor taman sebelum fajar memecah kabut polusi. Tidak ada ruang toleransi bagi kedamaian jiwa di dalam ekosistem industri penataan kota modern yang didukung penuh oleh kekuatan modal pariwisata; manusia kelas pekerja bawah dipaksa bergerak taktis menjadi mesin pembersih jejak kemandulan peradaban mereka sendiri tanpa pernah diberi ruang untuk bersuara membela haknya.
“Ayo lempar buku rusak itu ke dalam bak gilingan, Sam. Truknya sudah mau jalan menuju tempat pembuangan akhir hulu,” Samiran berteriak sembari mengayunkan bak sampah plastiknya dengan gerakan tangan yang lambat dan berjarak.
Lelaki itu menatap buku harian merah di genggamannya sekali lagi. Di dalam layar gilingan besi truk di hadapannya, bilah-bilah baja raksasa bergerak berputar tak bermata, siap melumat seluruh sisa kertas, limbah plastik, dan memori manusia menjadi gumpalan limbah homogen yang seragam dan kehilangan seluruh nyawa aslinya yang jujur.
Namun, alih-alih melempar catatan duka perempuan asing itu ke dalam rahim mesin pemusnah, ia memilih menutup kembali sampul kulit pudar tersebut dengan ketepatan insting yang dingin. Dengan gerakan tangan yang taktis, ia menyisipkan buku harian misterius itu ke dalam saku jubah seragam kerjanya yang lusuh, tepat bersandingan dengan sebilah pensil tukang tumpul milik kakeknya dan draf potongan kartu kemitraan kebersihan miliknya sendiri yang menolak kompromi keterlambatan sekecil apa pun.
Ia menyimpan draf luka dari manusia kalah di menara hulu itu di kedalaman dadanya, menjadikannya sebilah jimat pelindung diri rahasia dari ketakutan menghadapi esok hari kerja lagi. Ia tahu, esok subuh sirine cerobong pabrik dan alarm aplikasi gawai akan kembali meraung kencang untuk memanggilnya masuk ke dalam barisan pengulangan rutinitas mekanis zaman yang tak pernah kenal rasa belas kasihan. Namun malam ini, di bawah sunyinya pusat kota yang gersang, jiwanya menolak untuk ikut menyerah kalah dan membatu menjadi sekrup mati yang kehilangan kemerdekaan berpikir. Ia meraih kembali gagang sapu lidinya, melangkah tegap menembus kepekatan kabut fajar yang mulai turun mengunci pesisir aspal, membiarkan tubuhnya kembali bekerja menantang bisingnya dunia kota dengan rahasia yang tetap terjaga utuh di dalam saku seragamnya yang penuh sisa karbon.
Banjarnegara, Juli 2026

Dwi Scativana Isnaeni adalah asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan. Email: dwi.scativana23@gmail.com