Melawan Penindasan Kaum Kapitalis, Membicarakan Novel Mansur Abdullah “Suria Tanjung Penaga”: oleh Husnu Abadi

21

Nadim Festival di Batam berlangsung pada 4-6 April 2026 dan mayoritas peserta datang dari Malaysia, Singapura dan Brunei. Hanya sekitar 22 dari Indonesia dimana peserta seluruhnya 107 orang. Saya sempat berkenalan dengan seorang pengarang berusia emas dari Malaysia, bernama Muhammad Mansur Abdullah. Ternyata usianya telah 81 tahun, semangatnya cukup tinggi untuk mengikuti acara Nadim Festival ini. Ia datang bersama isterinya. Agaknya acara sastra dipandang sebagai acara untuk memelihara kesegaran dan kebugaran bagi mereka yang berusia emas. Saya menerima hadiah sebuah buku novel berjudul Suria Tanjung Penaga, dan saya pun memberikan padanya 2 buah antologi puisi, berjudul Lautan Taj Mahal dan Lautan Rempang.

Mansur Abdullah dilahirkan di Kampung Sungai Durian, Telok Anson, Perak pada 21 Februari 1945. Sekolahnya dimulai dari Sekolah Melayu, Anglo Cinese School (ACS), Governement English School (GES) Telok Anson dan Sekolah Dato Abdul Razak (SDAR) Tanjung Malim. Setelah menamatkan di USM Penang untuk Sarjana Muda Kesusasteraan Kelas Kedua Atas, kemudian menjadi pensyarah pada Sekolah Menengah Sultan Abu Bakar Kuantan dan pada 1980 menjadi pensyarat UTM Kuala Lumpur. Melanjutkan kuliah ke Indiana University Bloomington, USA (memperoleh gelar MSc dan Ed.S) , dan kemudian La Salle University, Lousiana, USA sehingga memperoleh gelar Ph.D. di tahun 2000.

Mulai menulis puisi sejak 1961 semasa pelajar di Tanjung Malim, dan kemudian berkembang dengan menulis drama radio, cerpen, novel. Hingga kini (Tahun 2023) telah menerbitkan 6 buku kumpulan puisi, 8 buah kumpulan cerpen dan 16 buah novel serta 20 seri drama TV Opah. Pernah berkhidmat sebagai Guru Besar (Kepala Sekolah Rendah), kemudian menjadi pensyarah di sebuah university, dengan jabatan profesor madya, profesor dan kemudian profesor emeritus tahun 2021.

Dalam bidang penulisan telah menerima berbagaipenghargaan antara lain: Hadiah Utusan Public Bank dalam genre puisi dan cerpen pada Tahun 1985, 1986, 1987; Tahun 2007 memenangi Hadiah Sastra Negara genre cerpen; Tahun 2021 kumpulan puisi Lampu Suluh Nurani memenangi Sayembara Menulis Kumpulan Puisi DPMP/PPAP 2021; Tahun 1984 menerima anugerah Tokoh Budaya Pahang; Tahun 1986 anugerah Tokoh Penulis Berbakat Perak; Tahun 2011 sebagai Tokoh Penulisan UTM; Tahun 2012 sebagai Tokoh Penerbitan UTM; Tahun 2012 sebagai tokoh Pengarang Prolifik; Tahun 2015 sebagai Tokoh Karyawan Sepanjang Hayat Perak; Tahun 2015 sebagai Tkoh Sastrawan Negeri Pahang; 2021 sebagai Tokoh Karyawan Prolifik Pahang; Tahun 2022 sebagai Tokoh Penyajak Pahang. Dalam organisasi kepengarangan masih menjadi Presiden DPMP, AJK Gapena.

Novel Suria Tanjung Penaga diterbitkan oleh DPMP (Dewan Persuratan Melayu Pahang) dengan ketebalan 340 halaman, dan terbagi dalam 30 bab. Setiap Bab hanya bertandakan angka belaka tanpa ada judul tertentu. Secara ringkasnya, novel ini bercerita tentang perjuangan masyarakat pantai/pesisir membebaskan diri dari belenggu seorang taoke yang kebetulan beretnis Cina bernama Boon Tat. “Mereka cap Taukeh Boon Tat parasit yang menghisap darah kaum nelayan di situ. Sudah berpuluh tahun dia memeras kaum nelayan di Kampung Tanjung Penaga. Dulu ayahnya Cuma peraih ikan yang tinggal menumpang di sebuah gubuk kecil di hujung tanjung. Tetapi sekarang dia punya wang berpuluh ribu di bank. Semua itu adalah hasil dari usahanya memeras keringat orang kampung” (h.38).. Umumnya masyarakat nelayan itu miskin dan sangat tergantung pada pemodal perseorangan yang bersedia membantu kaum nelayan dengan ikatan yang ketat yaitu bekerja sebagai nelayan yang diusahakan oleh sang pemodal (taoke). Hasil penangkapan ikan para nelayan itu harus dijual ke pasar oleh taoke, dan nelayan hanya dapat upah dari sang taoke setelah dipotong pinjaman yang ada.Pinjaman yang diberikan pun dipotong oleh taokeh dengan tambahan bunga yang sangat berat bagi warga nelayan. Disamping itu taoke ini mempunyai jaringan ekonomi yang lain antara lain restoran dan toko serba ada, tempat dimana para nelayan digiring untuk berbelanja di sana.

Novel ini mengambil lokasi di sebuah desa nelayan di Tanjung Penaga, sekitar 15 km dari pekan Pontian, Johor. Para tokoh yang dikemukakan dalam novel ini dapat dikelompokkan dalam berbagai peran, dan dapat dituliskan sebagai berikut :

A. Kelompok Perlawanan terhadap Penindasan Pemodal yang terdiri dari:

YB Azman Kasim, ahli Dewan Undangan Negeri (DUN)/anggota DPRD dari distrik Kukup (yang meliputi kampung Pontian), yang berperan sebagai motivator/inspirator bagi kemajuan warga tempatan. Selain itu Azman juga berperan sebagai aspirator yang ia perjuangkan sebagai anggota DUN kepada kerajaan negeri, terutama yang berkenaan dengan memajukan usaha Koperasi Nelayan serta memajukan organisasi belia.

Encik Ali Husin, Tuan Pegawai Daerah, merupakan penggerak kepada perubahan, yang juga kuat bekerja dan suka bergaul dengan warga kampung

M. Yusof, Ismail, Kamaliah, Ishak adalah anak-anak muda yang sadar akan masa depannya yang harus lebih cerah dan lebih mandiri dan lepas dari ketergantungan ekonomi pada hanya satu pihak, dan menggerakkan Koperasi Nelayan Kampung Tanjung Penaga .dan menubuhkan Persatuan Belia Serangkai
Tok Penghulu Manan, menjadi orang perantaraan pihak kerajaan dengan masyarakat kampung, sekaligus sebagai juru cakap orang-orang kampung.

Pak Lajis (adalah Tok Siak) bersama Tok Seman, Pak Junid, Pak Nayan, merupakan sejumlah warga yang berumur, tetapi mengamati dan memahami aspirasi perubahan warga kampung yang menginginkan perubahan. Lajis (ayah dari M. Yusof) juga sebagai AJK Persatuan Nelayan kampung ini.

Haji Saleh, imam masjid, yang ikut bergabung dalam aspirasi orang dewasa dan orang muda bagi perubahan menuju kesejahteraan masa depan warga.

Berita Lainnya

B. Kelompok Pemodal/Kapitalis yang memonopoli perekonomian kampung

Taoke Boon Tat, yang telah puluhan tahun merupakan raja kecil, penguasa ekonomi warga nelayan Tanjung Penaga. Ia melanjutkan usaha ayahnya bernama Boong Seong, yang telah lama meninggal dunia. Taoke ini mulai risau karena munculnya Koperasi Nelayan serta Persatuan Belia Serangkai. Taoke ini dengan licik dan penuh tipu muslihat berupaya untuk mensabotase usaha Koperasi Nelayan yang jelas-jelas secara perlahan menggerus kejayaan usaha Taoke, baik kedai harian maupun usaha perikanan yang selama ia kuasai dan monopoli.

Kaki kangan Taoke, antara lain Jantan Rongak, Man Tikus, Sugip, ketiga pemuda warga kampung ini, tidak bisa lepas dari cengkeraman Takoe, dan tak bisa lunas hutang-hutangnya, sehingga mau tak mau bersedia menjadi kaki tangan Taoke dalam upaya menghalangi dan mensabotase kemajuan yang terus menerus dicapai oleh Koperasi Nelayan Tanjung Penaga.

Adu domba ataupun sabotase yang dijalankan oleh Taoke itu, dengan pelaksana dilapangan 3 orang kaki tangannya itu, sempat juga menimbulkan masalah internal baik bagi pengurus Koperasi, maupun bagi kalangan tokoh-tokoh kampung, karena adanya surat kaleng, yang memang ditujukan untuk menimbulkan perpecahan dan saling buruk sangka antara internal mereka. Adu domba itu misalnya antara Ismail dengan Kamaliah (soal hubungan asmara/muda mudi, lebih lanjut untuk ke perkawinan) , antara kedua orang tuanya (Pak Junid, bapak dari Kamaliah dengan Pak Seman , bapak dari Ismail). Sabotase berupa dimasukkannya beras buruk dan berkutu dalam Koperasi menimbulkan protes daripada ibu-ibu yang merasa ditipu oleh koperasi. Untung saja, semua beras yang buruk itu segera mendapat penggantian dari pengurus koperasi. Namun masalah juga belum segera selesai. Siapa yang melakukannya usaha sabotase dan siapa yang membuat surat layang/kaleng itu ???

Sebelumnya, di awal kisah, Yusof sebagai pendiri Koperasi Nelayan dan Persatuan Nelayan, berhasil memajukan pertubuhan itu. Rekan-rekannya juga memperoleh kemajuan dalam mengurus pertubuhan itu, antara lain melalui pendidikan dan pelatihan. Mereka itu antara lain Ismail, Ishak dan Kamaliah. Yusof jatuh hati dengan Kamaliah, begitu juga sebaliknya. Namun, karena Yusof menerima tugas sebagai prajurit kerajaan, dan harus mengalami pendidikan di luar kota (Port Dickson) dalam waktu yang cukup lama , maka tuhas-tugas organisasi diserahkan kepada Ismail. Nantinya, perobahan sikap dan pandangan Yusof terjadi, setelah kemajuan koperasi dan Persatuan Belia itu. Selama ini tulang punggung Koperasi dan Persatuan Belia ada pada Ismail dan Kamaliah serta dibantu beberapa rekan-rekan mereka.

Penulis novel ini, menjadikan tokoh Yusof sebagai seorang tentera yang tidak egois. Kalau ia jadi mengawini Kamaliah, maka koperasi dan persatuan belia akan kehilangan tenaga pengurus yang mahir dan jujur. Hal ini akan dikhawatirkan membawa kemunduran yang nyata bagi koperasi dan persatuan belia. Disamping itu, orang tua dari Kamaliah pastilah akan tinggal berdua saja tanpa lagi ada yang menemaninya sehari-hari. Pertimbangan yang demikian inilah yang menyebabkan Yusof akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan percintaan itu dengan Kamaliah. Bahkan dengan pendekatan yang sangat santun dan ikhlas ia berhasil meyakinkan pada Kamaliah dan Ismail, bahwa keputusannya itu telah dipikirkannya masak-masak dan hatinyapun telah ditundukkan sehingga ikhlas se-ikhlasnya. Bagaimanapun, Ismail yang selama ini telah melaksanakan amanah Yusuf, juga telah melakukannya dengan jujur dan selurus-lurusnya, menjaga dan memajukan koperasi dengan sekuat tenaga, termasuk menjaga hatinya untuk tidak jatuh cinta pada Kamaliah.

Upaya yang dilakukan oleh pemuka masyarakat Tanjung Penaga akhirnya berbuah hasilnya, mereka yang berkhianat sebagai kaki tangan Taoke telah berhasil disadarkan dengan sebaik-baiknya dengan sesopan-sopannya. Mereka semua, bersedia untuk keluar dan mengundurkan diri dan memisahkan diri dari jaringan kekuasaan Taoke Boon Tat, dan siap bergabung dengan suara dan aspirasi tokoh-tokoh masyarakat Tanjung Penaga. Apalagi masalah hutang-hutangnya pada Taoke akan diambil alih oleh koperasi. Bahkan mereka juga berhasil mengajak 3 orang kaki tangan itu, untuk juga mengajak semua nelayan yang masih tersisa sebagai pekerja pada Taoke Boon Tat, untuk bergabung pada Koperasi Nelayan, pada Persatuan Nelayan Serangkai. Mau tak mau bayang-bayang kebangkrutan sudah terlihat jelas oleh Taoke Boong Tat.

Novel ini menghidangkan alur cerita yang mengalir begitu saja, dari satu bab ke lain bab, dengan sedikit banyak memunculkan kejutan, seperti bagaimana mereka (Tokoh masyarakat) menjebak 3 pengkhianat tadi dan menggiringnya untuk berpindah pikiran dan sikap, terutama sikapnya pada Taoku Boong Tat. Juga terlihat dari kepandaian penulis novel ini, merubah hati dari Yusof, untuk mementingkan kepentingan rakyat kampungnya, dengan melepas cintanya pada Kamaliah, agar tetap berbakti dan mengabdi pada kampungnya. Bila Yusof egois, tentu saja Kamaliah akan jadi isterinya dan harus meninggalkan kampungnya, koperasinya, persatuan belia kampungnya dan orang tuanya.

Perlawanan terhadap penindasan ekonomi yang dilakukan oleh kapitalis Boong Tat, berkat bersatu padunya, dan amanahnya para pengurus usaha koperasi dan persatuan nelayan kampung itu. Tidak bisa dibayangkan kalau menejemen koperasi diberikan pada mereka yang tidak cakap dan tidak amanah alias penuh perilaku rasyuah dan korup. Warga nelayan kampung Tanjung Penaga akhirnya bisa bebas dari cengkeraman kapitalis Taoke Boong Tat, bahkan kemudian menyebabkan Taoke itu harus mencari peruntungannya di tempat lain. Rantai penjajahan ekonomi yang selama ini ditebar oleh Taoke, akhirnya berhasil diputuskan. Usaha Koperasi sebagai soko guru ekonomi rakyat, benar-benar dapat diwujudkan oleh rakyat Tanjung Penaga, tak lepas dari peran yang tak kecil dari anggota parlemen, pemerintahan negeri, tokoh masyarakat secara keseluruhannya. Usaha bersama warga nelayan dalam berkoperasi memang berhasil membawa ekonomi kampung menjadi mandiri dan berkemajuan. Boleh jadi doktrin yang dikumandangkan oleh Mahathir Mohammad dalam bukunya Dilema Melayu, setengah abad yang lepas, telah memperlihatkan titik hasilnya lewat perjuangan warga nelayan di Tanjung Penaga. “Kalau Melayu hendak bermartabat, maka ia harus bangkit dalam bidang ekonomi, tak ada pilihan lain “ demikian kira-kira nasehat Mahathir.

Tema pejuangan kaum Melayu dalam bidang ekonomi, juga penah muncul dalam novel Interlok karya Abdullah Hussain, penerima anugerah Sastrawan Negara Tahun 1971, dimana buku ini pernah menjadi bacaan wajib Tingkatan 5 di Malaysia. Interlok merupakan novel yang merentasi 3 generasi dari zaman sebelum Merdeka sampai tahun 1950. Novel ini sebetulnya bercerita soal pertumbuhan bangsa Malaysia yang terdiri dari 3 ras: Malayu, Cina dan India. Namun novel ini perjuangan kaum Melayu untuk naik taraf ekonomi dugambarkan melalui keluarga Seman dan watak Manikam (India). Abdullah Hussain menunjukkan bahwa menaikkan taraf ekonomi ditengah persaingan 3 ras itu bukanlah pekerjaan yang senang dan mudah. Dan ternyata ruh dan jiwa novel Interlok itu masih terasa hidupnya sampai saat ini, saat ketika novel Suria diluncurkan oleh Mansur Abdullah.

 

Husnu Abadi adalah Penasehat Utama Persatuan Penulis Satupena Provinsi Riau, pensyarah, Associated Professor pada Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, penerima Anugerah PPBHI Z. Asikin Kusumahatmadja (2014), Anugerah Sastrawan SAGANG (2015), Anugerah Makrifat Mardjani (APHTN , 2022), Anugerah Penghargaan 40 Tahun Berkarya dari Badan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (2025).

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan