Bandara malam ini seperti ruang tunggu takdir. Lampu-lampunya menyala tanpa empati, menyinari wajahmu yang tenang, sementara di dadaku ada riuh yang tak sempat bersuara.
Aku berjalan tidak jauh di belakangmu, mendengarkan waktu berputar perlahan dari roda koper yang kau tarik. Setiap satu suaranya adalah satu kenangan.
Langkahmu lalu terhenti. Sejurus kemudian, kau menoleh ke arahku, menatapku dengan cara yang masih sama seperti hari kemarin.
“Kita sudahi sampai di sini,” katamu pelan, seolah takut kata-katamu melukai udara.
Aku mengangguk. Tidak ada perlawanan, hanya penerimaan yang terlambat.
“Aku tahu,” jawabku, meski sebenarnya hatiku baru saja mengerti.
Di sekeliling kami, orang-orang berjalan dengan tujuan. Hanya aku yang kehilangan arah, berdiri di antara ingin menahan dan harus merelakan.
Papan keberangkatan berkedip, menyebut namamu dan kota yang akan menjadi tujuanmu, kota tempat ibumu dahulu melahirkanmu.
“Maaf,” ucapmu.
Aku tersenyum tipis.
“Kamu tidak salah.”
Karena memang tidak ada yang salah pada cinta yang tumbuh dengan tulus. Hanya saja, hidup sering kali datang membawa pilihan yang tidak ramah pada perasaan.
“Kamu akan baik-baik saja,” ucapmu. Suaramu bergetar, meski kau berusaha menyembunyikannya.
“Aku akan belajar,” jawabku. “Meski tanpa kamu.”
Kerongkonganku terasa pahit. Sebisa mungkin aku menyembunyikan tangis yang nyaris saja bersuara.
Kau mendekat, cukup dekat hingga aku bisa menghafal kembali wajahmu sebagai bekal rindu.
Tidak ada pelukan. Karena kita tahu, pelukan hanya akan membuat perpisahan ini kehilangan keberanian.
Untuk waktu yang terasa begitu lama, kita hanya saling berhadapan tanpa percakapan. Aku menunduk dalam. Air mata diam-diam jatuh di ujung jilbabku.
Hingga pengumuman terakhir terdengar, seperti doa yang tidak sempat diaminkan.
“Aku pamit,” ucapmu lirih, namun terasa begitu pedih.
Suaraku menghilang, tak sanggup lagi memberi jawaban.
Kau melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Pergi membawa hidupmu ke tempat yang jauh, sementara aku tetap di sini, memeluk bayanganmu yang tertinggal di lantai bandara.
Aku tidak memanggil namamu. Aku memilih diam, karena cinta yang paling tulus tahu kapan harus melepaskan.
Aku menatap punggungmu hingga kau menjadi jarak, lalu berubah menjadi ingatan.
Tiba-tiba seorang ibu paruh baya menghampiriku dan bertanya,
“Sedang menunggu siapa, Mbak?”
Dengan lirih aku menjawab,
“Seseorang yang baru saja berlalu.”
Bandara kembali ramai. Dunia berjalan seperti tidak ada yang patah.
Hanya aku yang tertinggal, mengerti terlalu terlambat bahwa kehilangan paling kejam adalah ketika seseorang pergi tanpa harus salah, dan aku tidak punya apa pun untuk dibenci selain rindu.
Kubu Raya, 2026
Aisyah Muhammad, seorang perempuan kelahiran 1992 yang berdomisili di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ia adalah penikmat senja dan hujan, dua hal yang mengajarkannya bahwa keindahan sering hadir dalam bentuk yang sederhana. Hobinya membaca dan menulis. Baginya menulis adalah cara mengabadikan waktu, merawat kenangan, dan menyampaikan doa melalui rangkaian kata. Setiap karya lahir dari keyakinan bahwa tulisan yang tulus akan selalu menemukan rumah di hati pembacanya. Ia bisa dihubungi di Fb Aisyah Muhammad.