

PEKANBARU – TIRASTIMES Sastrawan dan novelis Singapura, Rohanie Din yang akrab disapa Anie Din, berbagi pengalaman dan motivasi menulis di hadapan ratusan guru, siswa, dan undangan di Islamic School Riau Global Terpadu (IRGT) atau Sekolah Global Riau, Jumat (18/9).
Kehadiran Anie Din dalam kegiatan bertajuk ‘Bicara Bunda: Merangkai Kata, Menyalakan Imajinasi Bersama Bunda Anie Din’ tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menumbuhkan minat baca, kecintaan terhadap sastra, serta kemampuan literasi di kalangan generasi muda.
Kegiatan yang mengusung tema A Literary Session with Bunda Anie Din itu diikuti para guru dan siswa IRGT School tingkat Grades 5–9, baik secara langsung maupun daring.
Tampak hadir sastrawan Dr. (Can) Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom., Ketua Wanita Penulis Indonesia (WPI) Wilayah Riau, Hj. Tutin Apriyani, S.E. yang akrab disapa Nenny, serta dua aktivis LPIP, Rysma Widiarti dan dr. Evi Kamelia, Sp.A.
Pimpinan IRGT, Drs. Jasman Jaiman, M.Ed., dalam sambutannya mengatakan, pihak sekolah sengaja mengundang Anie Din untuk memberikan motivasi kepada guru dan siswa agar lebih tertarik menekuni dunia tulis-menulis.
Menurut Jasman yang lulusan S2 Matematika di Inggeris ini, Anie Din memiliki pengalaman panjang dalam menulis dan menerbitkan berbagai karya, mulai dari novel, kumpulan cerpen, puisi hingga cerita anak. Pengalamannya juga meliputi berbagai kegiatan sastra di kawasan Asia Tenggara dan rumpun Melayu.
Menulis dari Laci hingga Menjadi Novel.
Dalam pemaparannya, Anie Din mengisahkan perjalanan awalnya memasuki dunia tulis-menulis. Ia mengaku pernah menulis berbagai catatan di atas kertas yang kemudian disimpan di dalam laci.
“Dulu, Bunda hanya menulis di halaman-halaman kertas dan menyimpannya di laci. Setelah 27 tahun dan diumur 40 tahun lebih, tulisan-tulisan itu Bunda coba rangkai hingga menjadi sebuah novel,” kenangnya.
Selain menulis novel, Anie Din juga aktif menghasilkan puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai majalah dan surat kabar di Singapura.
Ia mengungkapkan, pada masa lalu sebuah puisi yang dimuat di surat kabar dapat memperoleh honorarium sekitar 60 dolar Singapura (sekarang setara Rp. 749 ribu). Namun, menurutnya, perkembangan era digital turut mengubah sistem penghargaan terhadap karya sastra di media massa.
Anie Din juga mengingatkan para peserta agar tidak mudah menyerah ketika karya mereka ditolak penerbit atau media massa. Ia menceritakan pengalamannya ketika sebuah novel yang dikirimkan kepada penerbit dinyatakan tidak layak terbit. Beberapa waktu kemudian, atas dorongan teman-temannya, ia mengikuti sayembara penulisan novel di Singapura.
“Alhamdulillah, novel Bunda keluar sebagai pemenang pertama. Bunda mendapat hadiah SGD10.000 ( sekarang setara 139 juta). Kemudian novel itu diterbitkan dan menghasilkan royalti. Novel tersebut bahkan laris terjual dan dicetak hingga empat kali, dengan jumlah sekitar 4.000 eksemplar setiap cetakan,” tuturnya.
Sastra sebagai Jendela Jiwa
Dalam kegiatan tersebut, Anie Din juga menyampaikan pandangannya tentang pentingnya sastra dalam kehidupan manusia.
“Sastra adalah jendela jiwa, yang membuka kita kepada dunia yang lebih manusiawi,” ujarnya. Tulislah setiap hari biarpun satu kata. Begitu Anie Din memotivasi peserta, apapun ditulis, kadang- kadang Bunda pun tak mengerti apa yang ditulis itu.

Pesan itu menjadi salah satu gagasan utama dalam kegiatan literasi yang mengangkat tiga fokus pembahasan, yakni sastra dan kehidupan, inspirasi bagi generasi muda, serta pembangunan karakter melalui literasi.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak memahami bahwa membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas akademis, melainkan juga sarana mengenali diri, memahami lingkungan, serta mengembangkan kreativitas dan imajinasi.
Sesi tanya jawab berlangsung antusias. Sejumlah siswa dan guru mengajukan pertanyaan seputar proses kreatif, pengalaman menulis, serta karya-karya Anie Din.
Sastrawan Fakhrunnas MA Jabbar juga sempat menanyakan pengalaman Anie Din dalam memperoleh penghasilan dari karya sastra. Namun, Anie Din tidak mengungkapkan secara terbuka nilai penghasilan yang diperolehnya. Bunda menulis saja, tanpa memikirkan apakah buku ini nantinya bisa diterbitkan. Yang penting menulis setiap hari, itulah tekad Anie Din yang biasa dipanggil Bunda Anie.
Pada kesempatan itu, Fakhrunnas turut berbagi pengalaman ketika karya-karyanya dimuat di sekitar seratus majalah dan surat kabar. Honorarium dari tulisan-tulisan tersebut, katanya, pernah membantu membiayai kuliahnya selama beberapa semester.
Fakhrunnas yang telah menerbitkan 16 buku, terdiri atas biografi, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan cerita anak, juga menyumbangkan sejumlah buku untuk perpustakaan sekolah, di antaranya Air Mata Batu, buku puisi yang pernah meraih penghargaan sebagai salah satu dari lima buku puisi terbaik di Indonesia.
Sementara itu, Ketua WPI Riau, Hj. Tutin Apriyani, mengaku mendapatkan motivasi dari pengalaman Anie Din.
“Acara ini cukup menarik. Pengalaman menulis Bunda benar-benar dapat memotivasi diri untuk menulis,” ujar Nenny yang tengah mempersiapkan penerbitan buku perdananya, Catatan Lepas Seorang Pramugari.
Sehari sebelumnya, Anie Din juga tampil dalam acara Bincang Sastra: Pantun, Syair, Talibun dan Karmina di Perpustakaan Soeman Hs, Pekanbaru. Kegiatan tersebut digelar Komunitas Sastra Rumah Sunting pimpinan Kunni Masrohanti bersama Alang Khatulistiwa dan dihadiri puluhan sastrawan serta peminat sastra.(NN/NS/Fir)