Novelis Wanita Singapura, Anie Din dan Belasan Sastrawan Riau Bahas Jejak Tradisi dalam Puisi Nusantara

3

PEKANBARU – TIRASTIMES: Kekayaan sastra klasik Melayu menjadi pokok pembahasan dalam Bincang Sastra yang digelar Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting di Ruang Ismail Suko, Perpustakaan Wilayah Soeman H.S. Provinsi Riau, Kamis (17/9).

Mengusung tema “Akar Puisi Nusantara: Karmina, Pantun, Syair dan Talibun”, kegiatan ini menghadirkan sastrawan Singapura, Rohani Din yang akrab disapa Bunda Anie Din, sebagai narasumber utama.

Diskusi tersebut menjadi ruang pertemuan sastrawan, seniman, budayawan, pengelola komunitas literasi, dan pegiat sastra untuk menggali keterkaitan antara tradisi sastra Melayu dengan perkembangan puisi Nusantara masa kini.

Bunda Anie Din tidak tampil sendirian. Sebanyak 12 sastrawan dan pegiat budaya turut memberikan tanggapan serta memperkaya pembahasan. Mereka adalah Husnu Abadi, Aris Abeba, Fakhrunnas MA Jabbar, Dheni Kurnia, Kazzaini Ks, Mosthamir Thalib, Bambang Kariyawan, Murparsaulian, Hening Wicara, Hang Kafrawi, Furqon Elwe, dan Siska Armiza.

Sejumlah sastrawan dan penggerak komunitas juga hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Syafruddin Saleh Sei Gergaji, Jasman Jaiman, Eko Ragil, Muhammad Asqalani Eneste dan Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau, Tutin Apriyani yang akrab disapa Nenny.

Hadir pula pimpinan dan perwakilan berbagai komunitas literasi dan kebudayaan, seperti Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kota Pekanbaru, FTBM Riau, Forum Lingkar Pena (FLP), Riau Sastra, TBM Cahaya Rumah, Green Radioline, Tirastimes, dan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).

Sastra Klasik sebagai Fondasi

Founder KSB Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, yang memprakarsai acara ini mengatakan, kegiatan Bincang Sastra tersebut terselenggara berkat dukungan dan fasilitasi penuh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau.

Menurut Kunni, kegiatan ini juga tidak terlepas dari partisipasi para sastrawan, seniman, budayawan, dan pimpinan komunitas yang hadir serta berkontribusi dalam diskusi.

“Kami berharap kegiatan Bincang Sastra ini menjadi salah satu upaya memperkuat gerakan literasi di Riau,” ujar Kunni.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau. Kepala Bidang Pelayanan Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi, Zulkarnain, S.T., M.T., yang mewakili kepala dinas, menyambut baik pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang interaksi dan pengembangan literasi masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara kegiatan ini, Rumah Sunting, sehingga turut memaksimalkan keberadaan perpustakaan kita sebagai pusat kegiatan masyarakat, termasuk diskusi-diskusi seperti ini,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bunda Anie Din serta para sastrawan dan seniman Riau.

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Kebudayaan Riau, yakni Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Hj. Jahrona, S.Sos., M.M., Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, S.S., M.Hum., serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau, Kristanto Januardi, S.S., M.M.

Menulis dengan Berpijak pada Tradisi

Dalam pemaparannya, Bunda Anie Din menguraikan posisi karmina, pantun, syair, dan talibun sebagai bagian penting dari akar sastra dan puisi Nusantara.
Sastrawan asal Singapura yang juga dikenal melalui novel Perempuan yang Dipapah Takdir itu menekankan pentingnya penguasaan sastra klasik bagi siapa pun yang ingin mengembangkan kemampuan menulis.

Menurut Anie Din, pemahaman terhadap bentuk-bentuk sastra lama dapat membantu seseorang mengembangkan kreativitas dalam menulis puisi, cerpen, maupun novel.

“Percayalah, sesiapa yang menguasai sastra klasik semacam pantun, karmina atau pantun kilat, syair dan talibun, ia akan sangat mudah untuk menulis puisi, cerpen ataupun novel. Tulislah, jangan tak tulis,” ungkapnya.

Selain membahas bentuk dan akar sastra klasik, Bunda Anie Din juga berbagi pandangan mengenai perkembangan sastra Melayu, khususnya kondisi kesusastraan Melayu di Singapura saat ini.

Sementara itu, ke-12 penanggap secara bergantian menyampaikan gagasan dan pemikiran mereka mengenai perjalanan sastra Melayu Nusantara hingga perkembangan puisi modern.

Diwarnai Pembacaan Syair dan Puisi

Bincang Sastra Rumah Sunting tidak hanya berlangsung dalam bentuk diskusi. Kegiatan diawali dengan pembacaan syair oleh Wulandari dari KSB Rumah Sunting.

Suasana sastra kemudian semakin hidup melalui pembacaan puisi berantai oleh TBM Rumah Baca pada pertengahan acara.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan puisi bersama oleh Community Pena Terbang (Competer).

Melalui pertemuan tersebut, Rumah Sunting berupaya menjadikan perpustakaan sebagai ruang bertemunya gagasan, tradisi, dan kreativitas sastra, sekaligus memperkuat jejaring literasi di Riau dan kawasan Melayu Nusantara. (NN/NS/BK)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan