Suara adzan Zuhur baru saja mulai berkumandang di sela-sela pengeras suara masjid Ponpes yang berada tak jauh dari rumah Tono. Bagi Tono, suara itu hanyalah lalu lalang yang tak berbekas. Tanpa berpikir panjang deru mesin sepeda motor mewah yang dikendarai Tono meraung merobek dalam suasana terik panas di Kampung Ploso yang terletak diujung pulau itu. Pemuda itu menghentikan kendaraannya sembarangan. Sepeda motornya terparkir bebas di halaman rumah mewah lagi bertingkat milik keluarganya. Bagi Tono, tidak ada keinginan yang tidak bisa diwujudkan karena kekayaan yang dimiliki oleh sang ayah.
Di dalam rumah, Tumiyem sedang mengusap keringat di dahi sambil merapikan meja makan. Wanita berparas anggun dan bersahaja itu selalu mengikat jilbabnya dengan rapi. Nama “Tono” sendiri diambil dari perpaduan nama Tumiyem dan Joko. Awalnya nama itu adalah Tuko, karena tak lazim disebut diubah menjadi Tono sebagai simbol cinta mereka di masa lalu. Namun, rumah mewah itu terasa semakin gersang dari hari ke hari.
Tono masuk rumah tanpa salam, melempar kunci sepeda motornya ke sofa, lalu melangkah menuju kamarnya.
“Dari mana saja kamu, Tono?!” suara berat bernada tinggi menggelegar dari arah ruang tamu. Joko, sang ayah, berdiri dengan mata terbelalak dan tangan berkacak pinggang. “Jam segini baru pulang! Mau jadi apa kamu?! Uang saku habis terus tapi kelakuanmu makin menjadi-jadi!”
Tono hanya mendengus, memalingkan wajah tanpa rasa bersalah. “Alah, Yah, santai saja. Uang Ayah tidak akan habis cuma buat Tono sendiri.”
“Kurang ajar kau!” bentak Joko, langkahnya mendekat dengan napas memburu.
Di tengah ketegangan itu, Tumiyem segera menyela. Langkah kakinya gemetar saat mendekati suaminya. “Sudah, Pak… Sudah. Istighfar, Pak. Biar Ibu yang bicara baik-baik dengan Tono…” ucap Tumiyem lembut sambil memegang lengan Joko. Sebagai istri yang taat dan menjaga marwah suami, ia tidak pernah membantah sepatah kata pun. Ia menelan bulat-bulat amarah suaminya dan kepedihan atas tingkah laku anak tunggalnya.
Setiap hari, Tumiyem menghadapi perilaku amarah Joko yang mudah meledak dan kenakalan Tono yang makin tak terkendali. Keberadaan pondok pesantren di dekat rumah sebenarnya selalu mengetuk hatinya, namun ia tak mampu membawa kedamaian itu ke dalam rumah tangganya sendiri. Sadar atau tidak, tekanan batin yang ia pendam bertahun-tahun perlahan menggerogoti fisiknya.
Hingga pada suatu malam, Tumiyem terbaring terkulai tak berdaya di kamar. Tubuhnya digerogoti sakit yang tak pernah ia keluhkan. Wajahnya pucat, namun bibirnya tak henti berzikir. Hanya dalam hitungan hari, takdir pun menjemputnya. Tumiyem menghembuskan napas terakhir dengan tenang, meninggalkan rumah mewah nan megah yang mendadak terasa begitu hampa.
Kepergian ibunya menghantam jiwa Tono dengan sangat keras. Penyesalan terlambat datang seperti badai. Sosok lembut yang selalu membela dan mengusap kepalanya kini telah membisu terbaring di dalam kuburan. Tono pun berubah total menjadi seorang pemurung, dengan mengurungkan diri di kamar, dan enggan menyentuh segala kemewahan yang dulu sangat ia banggakan. Ayahnya pun tenggelam dalam penyesalan yang teramat dalam.
Pada suatu malam, Tono tertidur dalam lelah banjir air mata. Dalam tidurnya, ia bermimpi berada di sebuah padang yang sangat luas dan sejuk. Di sana, berdiri sosok ibunya dengan pakaian putih bersih sambil tersenyum penuh kerinduan.
Tumiyem menghampiri sambil memegang pundak Tono, lalu berbisik dengan suara yang begitu jernih
“Ngarep berkah melu Kiyai, Tono… Mau berkah, ikuti Kiyai.”
Tono tersentak bangun. Dadanya berombak cepat, peluh pun membasahi dahi. Kalimat itu terus bergema di telinganya bagai petunjuk terang di tengah kegelapan jiwa.
Keesokan harinya, tanpa ragu Tono melangkahkan kaki menuju Pondok Pesantren yang berada di dekat rumahnya. Ia meninggalkan sepeda motor mewahnya dan berjalan kaki menundukkan kepala.
Sampai di sana, ia disambut hangat oleh Sang Kiyai pimpinan pondok. Di hadapan Kiyai yang berwajah sejuk itu, Tono bersimpuh dan bersujud memohon petunjuk.
“Kiyai, saya ingin menjadi santri di sini. Saya ingin menata hidup saya kembali,” ucap Tono tulus.
Sang Kiyai tersenyum bijak, mengangkat tubuh pemuda itu. “Pintu pesantren ini selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin mencari ridho Allah, Tono. Mulailah dari awal.”
Mengingat pesan ibunya dalam mimpi, Tono betul-betul memasrahkan jiwanya untuk ngabdi dan mengikuti segala ajaran Sang Kiyai. Ia melakoni kehidupan yang berbanding terbalik dari masa lalunya:
Bangun sebelum subuh untuk membersihkan halaman pondok dan menyiapkan tempat sholat Kiyai. Belajar wudhu dan sholat dengan khusyuk dari tingkatan paling dasar. Selanjutnya Tono pun mengkaji kitab-kitab kuning siang dan malam di bawah bimbingan langsung Sang Kiyai.
Ketulusan dan kedisiplinan Tono menempa dirinya dari seorang pemuda labil dan nakal menjadi sosok yang alim, santun, dan dalam pemahaman agamanya. Keberkahan khidmat kepada Kiyai benar-benar merubah jalan hidupnya.
Tahun demi tahun berlalu. Tono tumbuh menjadi pribadi yang matang, berilmu luas, dan berakhlak mulia. Suatu hari, usai pengajian kitab di serambi pesantren, Sang Kiyai memanggil Tono.
“Tono, Kamu sekarang sudah menjadi santri yang tangguh. Ilmu dan pemahamanmu sudah mengakar kuat. Sekarang, pergilah berdakwah ke luar pondok agar ilmu yang kau dapat menjadi lebih berkah dan berguna bagi masyarakat luas. ” ujar Sang Kiyai.
Tono menunduk dalam, penuh haru, tak terasa air matanya pun jatuh membasahi pipi. Singkat cerita, dengan restu Sang Kiyai dan doa dari almarhumah ibunya, Tono melangkah keluar dari pondok pesantren.
Kini Tono memulai perjalanannya dengan menyebarkan syiar Islam dari kampung ke kampung, melintasi pelosok negeri. Tutur katanya yang lembut, tegas, dan penuh kesejukan membuat ceramahnya selalu dinantikan banyak orang. Tono pun merangkak naik menjadi tenar dan terkenal sebagai seorang kiyai kondang yang dicintai umat. Sebuah perjalanan spiritual luar biasa dari seorang pemuda kaya yang dulu tersesat, kini menjadi penuntun cahaya bagi sesama umat menggapai berkat atas keberkahan mengabdi pada Kiyai.
Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.