Cepen M.Z. Billal: Lelaki Tua dan Mimpinya

76

LELAKI TUA DAN MIMPINYA

            Lelaki tua itu mengetuk-ngetuk lengan kursi kayu yang ia duduki sambil sesekali menoleh ke arah pohon angsana yang sedang berguguran daunnya. Ia tampak kecewa tapi juga takut. Bahkan ada kesedihan yang mendalam di wajahnya.

            “Aku melihat tujuh gelembung besar aneh tergantung di pohon belakang rumahku ini. Gelembung itu tak seperti gelembung sabun yang rapuh. Tak tembus pandang. Berwarna kuning gading lebih tepatnya. Ketika aku berjalan mendekati gelembung-gelembung itu, mereka pecah satu per satu. Menyisakan tiga gelembung yang berdenyut-denyut seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Kau tahu, aku sangat ketakutan. Tapi ketika aku memberanikan diri menyentuh tiga gelembung yang tersisa itu, saat itu pula aku terbangun bersimbah keringat. Aku sangat penasaran dan bangkit dari tempat tidurku untuk melihat pohon ini dari jendela kamar. Tapi tak ada apa-apa.”

            Lelaki tua itu menjelaskan tentang mimpi aneh yang mengganggunya tiap malam kepada lelaki muda yang duduk di hadapannya. Lelaki muda itu tersenyum sembari menuang teh ke dalam cangkir kosong lelaki tua itu.

            “Anda hanya perlu istirahat yang cukup, Tuan,” kata lelaki muda itu. “Jangan terlalu dipikirkan, itu akan memperburuk kondisi kesehatan Anda. Jika nanti Anda bermimpi lagi, bangunkan saja aku. Kita akan lihat bersama gelembung-gelembung itu.”

            Mata lelaki tua itu berbinar selama beberapa detik ketika mendengar saran dari lelaki muda, namun segera meredup kembali.

            “Kau akan bosan berada di sini. Mungkin sebaiknya kau kembali ke rumah sakit merawat pasien lain,” ujarnya sambil kembali menoleh ke arah  pohon angsana yang bergoyang daun-daunnya dihembus angin pagi.

            Lelaki muda itu hanya menggeleng pelan dan tersenyum. Tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. Ia hanya mengingat alasan kenapa ia kini tinggal bersama lelaki tua itu.

            Lelaki tua itu dirawat selama seminggu di rumah sakit tempat lelaki muda itu bekerja sebagai perawat karena cedera syaraf otak yang dialaminya. Ia ditemukan dalam keadaan pingsan di bawah pohon angsana oleh tukang kebun panggilan yang biasa membantunya membersihkan halaman rumahnya. Lelaki muda itu belum mengenalnya kala itu, sampai pihak rumah sakit menugaskannya untuk menjaga lelaki tua itu selama dua bulan di rumahnya sebagai perawat pribadi. Hal tersebut dilakukan karena lelaki tua itu tak punya sanak keluarga. Ia tinggal seorang diri entah sejak kapan di rumah bertingkat dua yang halaman belakangnya cukup luas dengan beberapa pohon angsana tua yang tumbuh berjajar di ujung halaman.

Namun lelaki muda itu tak pernah menanyakan alasan kenapa lelaki tua itu memutuskan hidup seorang diri untuk waktu yang sangat lama.  Ia masih berada dalam sikap yang wajar sebagai perawat pribadinya. Menemaninya minum teh hangat tiap pagi, mengontrolnya minum obat, memberinya makanan sehat, dan membersihkan rumahnya yang berdebu, bahkan dengan sabar mendengarkan lelaki tua itu bercerita tentang mimpinya yang selalu terulang tiap kali ia tertidur. 

“Tuan, bolehkah saya melihat-lihat ke sekitar pohon angsana yang berada di sana itu?” tanya lelaki muda memecah keheningan sembari menunjuk ke arah pohon yang dimaksud. Sebuah pohon angsana paling besar, yang ia duga, paling tua di antara pohon-pohon yang berada di sana.

Lelaki tua itu tak menjawab dengan kata, ia hanya tersenyum tipis sebagai tanda mengizinkan lelaki muda.

Lelaki muda itu segera beranjak meninggalkan lelaki tua bersama secangkir teh hangat. Ia sengaja berjalan tanpa alas kaki agar lelaki tua tak menaruh curiga bahwa ia sedang berpikir tentang sesuatu yang berkaitan dengan mimpi si lelaki tua, bahwa itu artinya ia hanya sebentar menghampiri pohon-pohon angsana yang selama dua pekan ini hanya ia lihat dari kejauhan dan segera kembali untuk duduk minum teh.

Lelaki muda itu merasa tak ada yang spesial ketika berada sangat dekat dengan pohon angsana terbesar dan tertua itu. Hanya sekadar perasaan sejuk ketika berada di bawahnya. Itu pun hanya sebentar. Daun-daun gugur yang telah menumpuk seperti karpet kuning-cokelat mengganggu pandangannya. Membuatnya berpikir tidak ada yang aneh dari pohon tersebut dan memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya di teras belakang rumah.

Namun ketika ia memutar tubuhnya, berbalik membelakangi pohon angsana paling rimbun itu, pandangannya justru tertumbuk pada tiga tonggak batu  yang terbenam dalam akar-akar pohon angsana yang berada enam meter darinya. Rasa penasaran menggelitik hatinya. Akan tetapi ia tak mau tampak lebih mencurigakan lagi. Ia hanya menduga tonggak-tonggak itu bukan tonggak biasa, tetapi sebuah tanda yang sama tua dengan pohon angsana yang menaunginya.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya lelaki tua itu ketika lelaki muda telah duduk kembali di hadapannya. “Apa di sana terasa sejuk?”

“Ya, Tuan,” jawab lelaki muda itu. “Tapi tumpukkan daun-daun gugur itu cukup mengganggu. Meski udara di bawahnya terasa sejuk.”

“Kau benar, aku akan hubungi jasa tukang kebun langgananku. Aku sungguh tidak mau kenanganku ikut membusuk bersama daun-daun itu.”

Lelaki muda itu mengangguk, menyetujui ucapan lelaki tua, meski hatinya masih penasaran oleh tiga tonggak batu yang berada di sana, di bawah pohon angsana. Ia tidak berani menanyai lelaki tua perihal tiga tonggak batu  itu. Ia takut lelaki tua itu menjadi kacau perasaannya bila membahas kenangan, yang bisa saja, menyedihkan baginya.

***

Setelah satu jam menonton siaran berita di televisi, tepatnya pukul sembilan malam, lelaki tua itu mengatakan kepada lelaki muda kalau ia sudah mengantuk dan ingin segera berbaring di tempat tidurnya. Tentu saja lelaki muda itu segera membantunya berdiri dan memeganginya dengan hati-hati ketika berjalan dan menaiki sekitar dua puluh satu anak tangga menuju kamarnya.

Sesampainya di sana, direbahkan tubuh lelaki tua itu dan diselimuti. Lalu lelaki muda itu menyuruh lelaki tua meminum obat sebelum tidur untuk membantu agar lelaki tua tenang saat dalam keadaan tertidur. Namun ketika lelaki muda itu telah menyelesaikan rutinitasnya dan berdiri di muka pintu sambil mengucapkan selamat malam dan mendoakan lelaki tua mendapat mimpi yang indah, lelaki tua itu memanggilnya dengan suara serak.

“Hei, Nak. Maukah kau menemaniku tidur malam ini?” pintanya.

Lelaki muda itu tampak terkejut mendengar permintaan lelaki tua. Namun segera ia balas dengan senyuman agar lelaki tua tak bepikir bahwa ia melakukan sedikit penolakan atas permintaan yang tidak biasa.

“Tentu saja, Tuan.” Lelaki muda itu menghampiri ranjang dan segera duduk bersila di atasnya. “Apa Anda ingin sedikit mengobrol malam ini sebelum tidur?”

 Lelaki tua itu mengedikkan kepalanya sambil memiringkan tubuhnya menghadap lelaki muda.

“Kenapa kau tidak pernah bertanya penyebab aku tinggal sendiri? Kenapa kau tidak penasaran seperti orang-orang?” tanya lelaki tua itu tiba-tiba dengan pertanyaan yang membuat tenggorokan lelaki muda mendadak seperti pantai yang surut drastis airnya.

Tulisan Terkait

Lelaki muda itu berdeham kecil, berusaha melonggarkan rekat kuat di saluran napasnya. Ia tatap mata lelaki tua itu dan tersenyum lagi.

“Saya bukan tidak penasaran, Tuan. Tapi saya menghargai keputusan Anda untuk memilih jadi penyendiri. Manusiawi jika orang-orang ingin mengetahui alasan kuat Anda untuk tetap seperti itu,” ujar lelaki muda itu, berhenti sejenak menarik napas. “Namun saya selalu berpikir bahwa Anda memiliki keluarga yang pasti sangat merindukan Anda saat ini.”

Tiba-tiba saja kedua mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Wajahnya jadi sangat murung. Lalu berganti posisi tidur menghadap ke langit-langit kamar.

“Kau benar,” lirihnya. “Aku memiliki keluarga yang merindukanku. Terlebih aku, sangat merindukan mereka.” Lelaki tua itu melempar pandangan ke arah jendela kamar.

“Tuan temui saja mereka, kalian pasti sangat bahagia bila berkumpul bersama,” balas lelaki muda itu, berusaha menekan pertanyaan-pertanyaan yang muncul seperti tunas-tunas pohon angsana di kepalanya

“Ya, Nak. Aku memang akan menemui mereka segera. Memeluk mereka, mencium mereka, dan minum teh bersama,” sahutnya. “Dan aku sangat bersyukur kau mau mengurusku selama beberapa waktu ini. Kau penyabar tanpa perlu bertanya macam-macam seperti psikolog yang sedang meneliti kejiwaanku.”

“Tentu saja, Tuan. Sebab itu memang tugasku,” balas lelaki muda tersenyum untuk kesekian kalinya.

“Tapi, maukah kau memenuhi permintaan terakhirku sebelum aku pergi menemui keluargaku?” Lelaki tua menatap lelaki muda lekat-lekat. Matanya masih berkaca-kaca.

“Apa itu, Tuan. Semoga saya bisa membantu Anda.”

“Aku minta kepadamu untuk menjaga rumah ini dan pohon-pohon di belakang rumah,” katanya serak. “Sampai aku nanti kembali lagi ke sini.”

Lelaki muda belum menyetujui permintaan lelaki tua. Ia masih berpikir menimbang-nimbang. Ia ingin menjawab ya namun itu cukup berat bila diucapkan. Tapi ia tak mau membuat lelaki tua kecewa. Dengan sekali helaan napas akhirnya ia mengangguk setuju.

“Jika hanya itu, sesekali saya akan mampir ke rumah Anda dan membersihkannya. Tentu saja, dengan bantuan tukang kebun langgananmu, aku akan merawat pohon-pohon angsanamu.” Lelaki muda itu tertawa kecil untuk menghibur lelaki tua.

“Terima kasih,” kata lelaki tua itu tersenyum tenang. “Aku benar-benar ingin tidur sekarang. Kuharap kau masih di sini sampai aku tertidur pulas.”

Lelaki muda itu mengangguk dan membalas senyumannya lalu meraih sebuah buku cerita tipis di atas meja lampu tidur. Sambil sesekali menoleh ke arah lelaki tua yang berangsur masuk ke alam mimpinya.

Selama hampir dua jam setengah berada di dalam kamar lelaki tua, dan merasa yakin kalau lelaki tua sudah benar-benar nyaman dalam tidurnya, lelaki muda itu merapikan selimut yang menutupi tubuh lelaki tua. Kemudian ia segera beranjak. Turun dari ranjang dengan pelan-pelan, berusaha tidak membuat suara yang mengganggu tidur lelaki tua itu.

Namun ketika ia melihat jam dinding menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh lima menit, ia merasa ada sesuatu yang terjadi di luar. Suara-suara kecil dari halaman belakang rumah mengusik pendengarannya. Apakah itu pencuri, pikirnya. Hal itu lantas membuatnya sangat penasaran. Meski lumayan gugup ia memberanikan diri melangkah menuju ke arah jendela. Dan dengan sekali helaan napas panjang ia menyibak tirai gorden jendela kamar tersebut.

Lelaki muda itu sangat terkejut dan langsung membekap mulutnya dengan telapak tangan kanan. Seakan tidak yakin dengan apa yang ia lihat di halaman belakang rumah yang penuh sorot cahaya lampu taman melalui jendela kamar di lantai dua tempatnya berdiri saat itu, dikucek-kucek matanya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang rabun. Sebab yang ia lihat di halaman itu bukan pencuri. Melainkan lelaki tua yang sedang berjalan ke arah pohon angsana yang di bawahnya terdapat tiga tonggak batu.

Lelaki muda itu melemparkan pandangan ke arah tempat tidur, ia merasa ada yang tidak beres, tapi lelaki tua yang tadi berbincang kepadanya sebelum tidur masih berada di tempat tidur. Kemudian ia berpaling kembali ke luar jendela. Lelaki tua yang berada di luar berjalan tanpa tertatih. Normal seakan ia tidak sedang sakit. Lalu berhenti ketika telah sampai di pohon angsana yang terdapat tiga tonggak batu.

Jantung lelaki muda itu berdegup kencang. Ia sebenarnya takut dan ingin mengakhiri penglihatannya. Namun rasa penasaran membuat ia merasa perlu untuk memastikan pikirannya. Kembali ia fokus pada lelaki tua yang berada di halaman.

Lelaki tua itu bersimpuh dan menengadahkan wajahnya ke atas pohon, yang detik berikutnya muncul tujuh sulur cahaya kuning gading menjulur ke bawah lalu menggembung. Menjadi tujuh gelembung besar. Lelaki tua itu kemudian bangkit dari simpuhnya. Ia menyentuh satu per satu gelembung-gelembung itu dan memeluknya. Sejenak tak ada yang terjadi pada gelembung-gelembung itu. Namun akhirnya keluarlah tiga sosok dari tiga gelembung. Seorang wanita berambut panjang, seorang anak perempuan dengan rambut dikepang, dan seorang anak laki-laki yang memegang sesuatu seperti boneka kelinci. Semuanya mengenakan pakaian putih terang seakan ada puluhan lampu kecil yang menghiasi pakaian mereka. Lelaki tua itu menyambut ketiga sosok itu dengan merentangkan kedua tangannya lalu mendekap mereka ke dalam pelukannya. Bersatu menjadi segumpal besar cahaya putih terang.

 Kemudian tak lama setelah itu muncul satu sulur cahaya kuning gading lagi dari dahan pohon yang otomatis langsung menggembung seperti kuncup bunga yang digantung terbalik. Lelaki tua itu melepaskan pelukannya dan menghampiri gelembung itu. Tampak bahagia seakan ia mendapat sesuatu yang telah lama ia nantikan. Wanita berambut panjang, anak perempuan berkepang, dan anak lelaki yang memegang sesuatu seperti boneka kelinci itu kemudian membimbing lelaki tua itu untuk masuk ke dalam gelembung kuning gading itu. Setelah tubuh lelaki tua itu terbungkus sempurna dalam gelembung, ketiga sosok itu pun kemudian masuk kembali ke dalam gelembungnya masing-masing. Setelah itu, gelembung yang kini berjumlah delapan itu berubah menjadi sulur cahaya lagi. Perlahan naik ke atas dan hilang masuk ke dalam dahan-dahan pohon angsana.

Jantung lelaki muda yang masih berdiri di muka jendela kamar lantai dua itu berdebar semakin kencang seakan segera melompat ke luar. Kakinya gemetar. Pikirannya campur aduk antara rasa takut dan hujan pertanyaan. Sampai suara dari dalam kamar mengejutkannya.

“Apa kau sekarang percaya, Nak?” lirih lelaki tua yang terbaring di ranjang sambil tersenyum sesaat kepada lelaki muda itu dan segera menutup matanya lagi.

Lelaki muda itu tak dapat berkata-kata. Ia hanya memandang nanar lelaki tua yang sedang tertidur itu.

***

  • M.Z. Billal,lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Karyanya termakhtub dalam beberapa kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020)), Antologi Sebuah Usaha Memeluk Kedamaian (2021) dan telah tersebar di berbagai media. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:

redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan