bulan putih itu berumah sunyi
mencari tuhannya
dalam bening air mata subuh
pada perjalanan umur kian menipis
teriris berbilah-bilah zikir
sambil mereka-reka peta hari esok dalam sebait puisi
yang ditulis dengan imaji setanjam taji
pada secarik usia, lalu dihanyutkan
dalam dada anak-anak tanah intan bulaeng
pada dingin angin
bulan putih itu
memeluk senja dengan dada sufi
tapi hidupnya tak pernah redup
semangatnya menyala-nyala
membakar ingatan
pada kalimah dan kalam
dalam malam yang diam
pada syair-syair bunga rampai
yang semampai, dan orang-orang
berebutan membacanya
atas nama keabadian
Sumbawa, 2024
A.Rahim Eltara, lahir di Sumbawa Nusa Tenggara Barat, 16 Oktober. Telah menerbitkan antologi tunggal: Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta (2024). Selain itu tergabung dalam 90-an antologi bersama. Penerima Anugerah Bahasa dan Sastra. Aktif dalam Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Dari Negeri Poci (DNP), dan lain-lain.